Paddleton (2019)

Mengangkat kisah tentang persahabatan, film Paddleton mengangkat kisah persahabatan yang tak biasa.

Paddleton merupakan film drama komedi Amerika. Film Netflix ini disutradarai oleh Alex Lehmann, dan ditulis oleh Mark Duplass dan Alex Lehmann. Mark Duplass dan Ray Romano adalah dua aktor yang menjadi pemain utama film Paddleton.

Paddleton rilis premier di Sundance Film Festival pada 1 Februari 2019 dan rilis di Amerika Serikat pada 22 Februari 2019.

Didiagnosa mengidap kanker perut, Michael (Mark Duplass), dan tetangganya, Andy (Ray Romano) memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan ke luar kota sekaligus menebus obat yang dibutuhkan oleh Michael dan sedikit bersenang-senang.

Michael dan Andy tinggal bertetangga di sebuah apartemen sekaligus berteman baik. Tiap sore hari mereka selalu bermain Paddleton dan malam hari mereka menonton film Kungfu yang berjudul Death Punch di TV.

Ketika mendengar diagnosa dokter Hagen (Christine Woods) tentang penyakit Michael, Andy sangat khawatir dan mempercayai itu. Apapun yang bisa Andy lakukan untuk sahabatnya, akan ia lakukan semampunya.

Mengangkat kisah persahabatan muda mudi itu sudah biasa. Tapi mengangkat kisah tentang persahabatan dua orang yang sudah dewasa dalam sebuah film masih sangat jarang sepengetahuan saya. Hal itu lah yang disajikan dalam film Paddleton.

Perpaduan drama dan komedi tersaji dalam film ini. Secara ide cerita, Paddleton cukup menarik. Sayangnya jalinan cerita film ini cukup membosankan bagi saya.

Meskipun begitu, film ini mampu menggiring penonton untuk menyaksikan cerita hingga akhir demi memenuhi rasa penasaran tentang keadaan Michael dan penyakitnya, juga tanya besar di kepala saya apakah mereka pasangan gay atau bukan. Hal tersebut adalah satu-satunya alasan bagi penonton mengapa harus menonton film ini sampai selesai.

Nilai: ∗∗/5

 

The Music Box (2018)

The music Box merupakan film horor thriller Inggris. Film ini disutradarai oleh John Real dan ditulis oleh Adriana Marzagalli dan John Real.

The music Box dibintangi oleh Rachel Daigh, Cearl Pepper, Antonio Lujak, Melissa Leone, Antonella Salvucci, dan Fiona Whitelaw.

Film yang berdurasi kurang lebih selama satu jam dua puluh tiga menit ini rilis di Amerika Serikat pada 15 September 2018.

The Music Box mengisahkan seorang anak kecil 6 tahun, Sophie (Cearl Pepper), yang trauma atas kematian kedua orangtuanya. Dan hanya kotak musik tua yang ia temukan di tempat tinggal barunya lah yang membuatnya merasa nyaman.

Tak memiliki kedua orangtua lagi, Sophie tinggal bersama bibinya, Annabelle Spear (Rachel Daigh). Annabelle dan Sophie menempati rumah yang pernah ditinggali oleh Mrs. Nills (Fiona Whitelaw) yang mana anak perempuannya meninggal karena kotak musik yang ada di dalam rumah tersebut.

Karena trauma, Sophie tak pernah mengeluarkan suaranya sejak itu. Dan sikapnya pada Annabelle sedikit dingin dan menjaga jarak darinya karena ia tak pernah bertemu Annabelle sebelumnya.

Pada saat menemukan sebuah kotak musik, Sophie seperti memiliki seorang teman. Beberapa kali Annabelle memergokinya menunjuk sesuatu yang tak nampak mata dan tertawa sendiri seperti sedang bercanda dengan seseorang.

Annabelle khawatir dengan keadaan Sophie yang nampak semakin tak normal. Lalu diam-diam ia mengubur kotak musik itu, dan Sophie sangat marah padanya.

Keresahan Annabelle tentang keadaan Sophie yang tak bisa ia kendalikan diutarakan kepada psikolog Sophie, Dr. Loris (Antonio Lujak), yang menangani traumatis Sophie sejak awal. Menanggapi hal tersebut, Loris mengatakan:

Sophie’s behavior is normal. Creating an imaginary friend is a way for her to feel less lonely.”

Namun kata-kata Loris terbantahkan sendiri pada saat sesi wawancara rutinnya dengan Sophie.

Melalui rekaman kamera, nampak seorang anak gadis 10 tahun yang Sophie anggap sebagai  temannya muncul di belakang Loris. Gadis itu bernama Lania (Melissa Leone).

Tak lama setelah itu dan beberapa hal aneh terjadi, Annabelle dan Loris mencari tahu tentang kotak musik dan buku tua yang berjudul Theory of Possessed Object berasal.

Saya harus bilang bahwa rangkaian cerita The Music Box hampir sama dengan film-film horor misteri yang pernah ada. Barangkali yang sedikit berbeda dari film ini adalah tak ada adegan pembunuhan dengan adegan kekerasan yang berdarah-darah, sadis, atau menegangkan. Namun beberapa kali penampakan Lania dan latar suara menyeramkan cukup menghasilkan jumpscare bagi saya.

Keseluruhan Cerita The Music Box cukup sederhana, terang, dan jelas. Antara satu elemen dengan elemen lainnya saling berhubungan.

Bagi kamu pecinta film horor ringan, film ini bisa jadi film horor yang bisa ditonton.

Nilai: ∗∗∗/5

I’m Not Here (2019)

Siapa yang bisa lepas dari ingatan masa lalu? Baik dengan ingatan masa lalu yang baik ataupun buruk. Hampir semua manusia tak bisa lepas dari hal tersebut. Dan keduanya akan berdampak pada kehidupan seseorang di masa sekarang.

Barisan kalimat di atas mengacu pada film I’m Not Here. Film ini mengisahkan seorang laki-laki paruh baya, Steve (J. K Simmons), yang menghabiskan masa tuanya dengan berjuang melawan ingatan-ingatan masa lalunya yang tragis untuk bisa menerimanya di masa tuanya.

Steve yang berusia 60 tahun hidup seorang diri, mengurung diri dan nyaris bunuh diri. Beberapa tagihan tak bisa ia bayar, dan panggilan telepon tak pernah ia layani dengan mengatakan: “I’m not here”.

Sepanjang hari ia hanya mengingat masa lalunya dari usianya masih kecil hingga dewasa.

Steve kecil (Iain Armitage) harus melihat dan melewati masa-masa dimana orangtuanya bercerai, juga menyaksikan apa yang tak seharusnya anak kecil lihat dan rasakan.

Ketika Steve (Sebastian Stan) beranjak dewasa, ia menikah dengan gadis yang ia cintai, Karen (Maika Monroe), dan memiliki seorang anak yang lucu dan pintar, Trevor (Jeremy Maguire). Namun pernikahan selalu diisi dengan pertengkaran karena Steve beberapa kali dipecat dari pekerjaannya dan sering menghabiskan minuman keras berbotol-botol. Hal itu yang selalu memicu emosi Karen.

Ingatan-ingatan itu tak bisa lepas dari kepala Steve hingga membuatnya ingin membunuh dirinya sendiri dengan pistol yang diletakkan tepat di samping kepalanya.

Alur cerita I’m Not Here maju mundur. Cerita seperti dibagi ke dalam tiga bagian; masa anak-anak, dewasa, dan tua.

Jalinan cerita film ini cukup sederhana dengan permasalahan yang tak berat menurut saya, jika dihubungkan dengan aksi Steve di masa tuanya.

Bila melihat masalah-masalah yang disuguhkan dalam cerita ini terasa biasa saja, dan akan nampak kontras dengan sikap Steve yang terlalu berlebihan secara emosional yang begitu nampak sangat bersedih dan tertekan secara mental. Akan tetapi, bila melihat akhir cerita film ini, penonton akan tahu tipe cerita seperti apa film ini.

I’m Not Here disutradarai oleh Michelle Schumacher dan ditulis oleh Tony Cummings dan Michelle Schumacher. Film drama ini dibintangi oleh J.K. Simmons, Sebastian Stan, Maika Monroe, Mandy Moore, Iain Armitage, Maxgreenfield, dan beberapa pemain pendukung lainnya.

Film yang berdurasi selama kurang lebih satu jam dua puluh satu menit ini rilis premier di Raindance Film Festival pada 21 September 2017, dan rilis di Amerika Serikat pada 8 Maret 2019.

Dari segi cerita, I’m Not Here memiliki jalinan cerita yang biasa saja menurut saya. Namun dalam beberapa bagian adegan cerita, emosional karakter Steve, baik pada masa Steve kecil, dewasa, dan menua, cukup terasa bagi saya.

Oleh karena cerita ini sangat berhubungan kuat dengan waktu, inti cerita yang bisa saya ambil dari cerita film ini adalah cara kita berpikir tentang waktu bahwa,

Waktu bukan musuh yang seperti kita pikirkan. Dan satu-satunya hal yang dapat membunuh hal-hal buruk di masa lalu yang ada dalam pikiran adalah dengan melupakan hal-hal buruk tersebut dan mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan untuk orang lain ataupun diri sendiri di masa kapanpun.

The point is,

The way you think and how you control your mind.”

nilai: ∗∗∗/5

Mary Poppins Returns (2019)

Mary Poppins Returns merupakan sekuel film dari Mary Poppins pada tahun 1964. Film yang bergenre keluarga dan fantasi ini diangkat dari buku seri Mary Poppins yang ditulis PL. Travers.

Mary Poppins Returns disutradarai oleh Rob Marshall, dan ditulis oleh David Magee, Rob Marshall, dan John Deluca. Film yang berdurasi selama kurang lebih dua jam sepuluh menit ini dibintangi oleh Emily Blunt, Ben Whishaw, Emily Mortimer, Pixie Davies, Nathanael Saleh, Joel Dawson, Julie Walters, Lin-Manuel Miranda, Meryl Strip, dan masih banyak lagi.

Mary Poppins rilis di Dolby Teater pada 29 November 2018 dan rilis di Amerika Serikat pada 29 November 2018.

Biasanya, ketika orangtua sedang mendapatkan suatu masalah, anak akan merasa sedih atau terkena imbasnya. Namun tidak dengan Anabel (Pixie Davies), John (Nathanael Saleh), dan Georgie (Joel Dawson).

Ketiga anak tersebut adalah anak dari Michael Banks (Ben Whishaw) yang sedang terjerat masalah yang berhubungan dengan pinjaman uang. Dalam mengurus ketiga anaknya, Michael dibantu oleh saudara perempuannya, Jane Banks (Emily Mortimer), dan Ellen (Julie Walters), yang bekerja di rumahnya.

Pada saat Michael dan Jane sedang mencari sebuah sertifikat bersama Jane, Michael menemukan sebuah layang-layang usang lalu membuangnya. Layang-layang tersebut terbang bersamaan dengan angin kencang. Anabel, John, Georgie melihat layang-layang, dan Georgie mengejarnya.

Angin yang semakin kencang menggulung tubuh kecil Georgie ke atas, dan seketika turun dari langit bersamaan dengan layang-layang yang terbang, Mary Poppins muncul. Anabel, John, dan Georgie tentu tak mengenal siapa Mary Poppins.

Namun yang pasti Mary Poppins datang untuk mengurus ketiga anak tersebut dan membantu menyelesaikan masalah yang sedang dialami Michael.

Apakah mereka berhasil menyelesaikan masalah? Pertanyaan itu bukan pertanyaan yang harus ditanyakan untuk film tipikal film produksi Disney. Akhir cerita sudah pasti mudah ditebak.

Ok, kita ganti pertanyaannya, keseruan-keseruan apa yang karakter-karakter utama lewati dalam menyelesaikan konflik yang ada?

Rangkaian cerita Mary Poppins cukup sederhana. Film ini sangat cocok ditonton untuk anak-anak dan seluruh keluarga. Penuh dengan fantasi dan imajinasi, kepolosan dan alami anak-anak disuguhkan dalam cerita film ini. Unsur animasi juga disajikan di dalamnya.

Musik dan nyanyian melengkapi cerita dengan kata-kata baik yang dibungkus dalam nyanyian dan dan sedikit gerakan tari. Bagian itu mengambil durasi 5 sampai 10 menit. Dan bagi saya yang tak terlalu suka film musikal, hal tersebut tak terlalu menarik perhatian saya.

Nilai: ∗∗∗/5

Captain Marvel (2019)

Barangkali salah satu film Marvel yang ditunggu-tunggu tahun ini adalah film Captain Marvel. Saya bukan pecinta film Marvel, akan tetapi alasan yang menarik saya untuk menonton film ini adalah karakter utama wanita dalam Captain Marvel, yep Brie Larson, peraih penghargaan Academy Awards untuk akttak terbaik tahun 2015.

Captain Marvel merupakan film laga, petualangan, aksi-ilmiah Amerika. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Anna Boden dan Ryan Fleck. Captain Marvel dibintangi oleh Brie Larson, Samuel L. Jackson, Jude Law, Ben Mendelsohn, Lashana Lynch, Annette Bening, Gemma Chan, dan masih banyak lagi.

Captain Marvel rilis di Amerika Serikat dan seluruh dunia (termasuk Indonesia) pada 8 Maret 2019, hari ini pada saat tulisan ini dipublikasikan.

Captain Marvel mengisahkan seorang pilot angkatan udara wanita, Carol Danvers (Brie Larson), yang memiliki kekuatan listrik akan tetapi ia sendiri tak ingat siapa dirinya sebelum menjadi ras alien.

Tinggal diperadaban Kree, Carol Danvers yang sedang belajar melatih fokus dan emosionalnya dalam mengendalikan kekuatannya dilatih oleh Yon-Rogg (Jude Law) yang memanggilnya Vers.

Tempat mereka tinggal diserang oleh makhluk alien lainnya, Talos (Ben Mendelsohn), dan anak buahnya. Mereka berhasil mengalahkan Vers dan membawanya ke tempat mereka untuk dipaksa mengingat semua hal tentang Dr. Lawson. Karena dari ingatan tersebut Talos ingin mendapatkan mesin kecepatan cahaya.

Berusaha keras melawan ‘jeratan’ Talos, Vers berhasil melepaskan diri hingga membuatnya dan Talos juga anak buahnya turun ke bumi atau mereka sebut planet C-53.

Pendaratan Vers di suatu tempat membuat polisi dan S.H.I.E.L.D turun tangan karena membuat tempat tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah. Salah satu agen S.H.I.E.L.D, Nicholas Fury atau Fury (Samuel Jackson) menangani kasus tersebut.

Alur cerita Captain Marvel maju mundur. Rangkaian cerita film ini tipikal film Marvel. Tidak terlalu ringan tidak juga terlalu berat. Tidak bagus sekali atau tidak jelek jjuga. Ada kejutan di pertengahan cerita yang membuat film ini memiliki plot twist.

Mengenai visual efek, untuk ukuran film Marvel tak perlu diragukan lagi. Satu ikon menggemaskan mengisi cerita film ini. Yaitu Goose si kucing lucu nan menggemaskan.

Layakkah film ini  untuk ditonton? Tentu layak. Karena banyak keseruan, kelucuan, dan aksi-aski laga yang cukup menghibur penonton.

Dan, bagi saya sebagai seorang perempuan, selalu menyenangkan menyaksikan film superhero perempuan yang berani dan tangguh (nggak pake seksi alias menonjolkan salah satu bagian tubuhnya). Secara psikologis, karakter tersebut mampu memberikan kekuatan dan ketangguhannya. 😁😂🤣

Berbeda dari karakter-karakter di film sebelumnya, Room (2015) dan Basmati Blues (2017), menyaksikan Brie Larson bermain dalam film laga ini cukup menyenangkan meskipun khas Brie Larson masih melekat dalam karakter Carol Danvers atau Vers.

Nilai: ∗∗∗∗/5

 

Level 16 (2019)

Pada umumnya asrama, baik asrama untuk anak-anak yatim piatu atau pun asrama untuk anak-anak yang ingin belajar secara khusus, adalah tempat dimana anak dilatih menjadi pribadi yang lebih baik secara akademik dan perilaku oleh para pengajar profesional dengan cara yang baik dan wajar. Namun hal itu tidak demikian yang terjadi di sekolah asrama The Vestalis Academy dalam film Level 16.

Level 16 merupakan film drama misteri fiksi-ilmiah Kanada. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Danishka Esterhazy. Level 16 rilis di Kanada pada 1 Maret 2019.

Film yang memiliki durasi selama kurang lebih satu jama empat puluh dua menit ini dibintangi oleh Katie Douglas, Celina Martin, Sara Canning, Peter Outerbridge, Amalia Williamsom, Joelle Farrow, Josette Halpert, Kiana Madeira, Kayleigh Shikanai, Alexis Whelan, dan masih banyak lagi pemain pendukung lainnya.

Level 16 mengisahkan seorang gadis enam belas tahun, Vivien Leigh (Katie Douglas), yang berada di sebuah asrama sekolah yang bernama The Vestalis Academy bersama banyak anak perempuan lainnya. Diantaranya adalah Sophia (Celina Martin), Rita (Amalia Williamsom), Veronica (Joelle Farrow), Olivia (Josette Halpert), Clara (Kiana Madeira), Greta (Kayleigh Shikanai), dan Ava (Alexis Whelan).

Asrama tempat mereka tinggal memiliki aturan yang sangat ketat. Segalanya diatur, dari berkumpul di satu ruangan, minum vitamin, hingga membersihkan wajah.

Di setiap sudut, selain toilet, dipasangi kamera untuk mengawasi dan mengatur semua sistem yang ada. Apabila salah satu dari mereka tidak menjalankan atau melewatkan sedikitpun waktu yang sudah diterapkan, maka ia harus menjalankan hukuman.

Bukan hanya itu, peraturan lainnya adalah anak-anak remaja perempuan ini harus selalu patuh, sopan, bersih, tidak boleh marah, dan tidak boleh melakukan kontak mata dengan tutor mereka, Miss Brixil (Sara Canning), pada saat ia sedang berbicara. Semua perilaku itu menentukan mereka untuk dapat naik level.

Di jam-jam tertentu mereka harus minum vitamin untuk membuat mereka tetap sehat, bersih, dan tidak terserang penyakit apapun demi menjaga tubuh dan kulit mereka tetap bagus dan cantik.

Vivien berteman baik dengan Sophia pada saat mereka masih kecil. Namun suatu kejadian memisahkan mereka karena Vivien kecil (Sarah DaSilva) harus dihukum atas ulah Sophia kecil (Lori Phun) yang meminta bantuan pada saat giliran Vivien harus membersihkan wajahnya.

Pada saat remaja, Vivien dan Sophia bertemu kembali di level 16 atau level terakhir. Level terberat, dimana anak-anak remaja ini harus mampu menjalani aturan-aturan yang mencakup 7 kebaikan dan 7 kejahatan. Ketika mereka lulus, mereka dijanjikan akan bertemu dengan keluarga baru yang akan mengadopsi mereka.

Sophia senang karena bisa bertemu dengan Vivien lagi. Tapi tidak dengan Vivien. Ia masih marah dengan apa yang Sophia lakukan padanya. Namun Sophia tetap berusaha mendekati Vivien. Sophia ingin menyampaikan sesuatu yang ia ketahui dan hal-hal janggal yang dilakukan oleh Miss Brixil dan Dr. Miro (Peter Outerbridge) sejak ia tak menelan vitamin dari level 13.

Menonton cerita awal film Level 19, saya pikir jalan cerita film ini akan mirip dengan film The Giver (2014), trilogi Maze Runner: The Death Cure (2018) , atau trilogi Divergent, namun perkiraan saya salah besar.

Sang penulis skenario yang juga menyutradarai film ini memberi akhir cerita yang tak bisa penonton tebak. Konsep dan ide cerita Level 16 bisa dibilang sangat menarik. Teka-teki tentang akan dijadikan apa dan untuk apa mereka dilatih dalam menjalankan 7 kebaikan dan menjauhi 7 keburukan membuat tanda tanya besar di pikiran penonton.

Level 16 bisa menjadi rekomendasi film untuk remaja dengan jalan cerita yang cukup menarik untuk ditonton. Porsi dialog dan adegan dalam film ini tidak berlebihan, sangat pas menurut saya.

Nilai: ∗∗∗∗∗/5

Isn’t It Romantic (2019)

Apa jadinya bila aktris lucu bertubuh tambun Rebel Wilson dan aktor ganteng Liam Hemsworth yang sama-sama berasal dari Australia ini bermain di satu film? Apakah akan jadi film yang lucu dan keren atau kah akan jadi film dengan cerita yang biasa-biasa saja? Jawabannya tentu dengan menonton film yang dibintangi oleh mereka berdua di film Isn’t It Romantic.

Tapi, sebelum menonton filmnya, silakan baca ulasan singkat yang saya tulis tentang film Isn’t It Romantic.

Isn’t It Romatic merupakan film drama komedi romantis Amerika. Film yang berdurasi kurang lebih selama satu jam dua puluh sembilan menit ini disutradarai oleh Todd Strauss-Schulson dan ditulis oleh Erin Cardillo dan Dana Fox. Selain Rebel Wilson dan Liam Hemsworth, film ini juga dibintangi oleh Adam Devine dan Priyanka Chopra, dan beberapa aktor pendukung lainnya.

Isn’t It Romantic rilis di Amerika Serikat pada 13 Februari 2019 dan rilis di Netflix pada 28 Februari 2019.

Isn’t It Romantic diawali dengan lagu Pretty Woman dan filmnya. Cantik, langsing, kisah cinta yang berakhir happy ending selalu menjadi mimpi Natalie (Rebel Wilson) yang memiliki bentuk tubuh yang tak pernah ia miliki. Ibunya mengatakan bahwa cinta tidak selalu berlangsung dan berakhir seperti kisah dalam dongeng-dongeng.

Perkataan itu melekat dalam pikiran Natalie hingga dewasa. Ia tak percaya adanya kisah cinta yang romantis meskipun ia merasakan suatu perasaan yang berbeda pada teman kerjanya, Josh (Adam Devine).

Meskipun pada suatu kejadian lucu dan sedikit menyakitkan yang membuatnya berada di tempat yang “berbeda”, pada saat seorang laki-laki tampan, Blake (Liam Hemsworth), jatuh cinta dan mencintainya dengan mengatakan:

When you meet your soulmate, he will make you calm. I feel very calm right now.”

Barisan kalimat itu tetap tak membuatnya tersanjung walaupun ia senang diperlakukan dan dilayani dengan sangat baik oleh Blake seperti seorang putri yang cantik jelita.

Berada di tempat yang bukan semestinya membuat Natalie mencari tahu siapa dirinya dan perasaannya.

Jalan cerita Isn’t It Romantic sama seperti tipikal film drama komedi romantis kebanyakan. Aksi lucu dan akting natural Rebel Wilson tak perlu diragukan. Yang saya pikir Liam Hemsworth akan berakting cool dalam film komedi ini, ternyata perkiraan saya salah.

Yang membuat sedikit berbeda dari film drama komedi romantis lainnya barangkali adanya suguhan nyanyian dan tarian yang dilakukan oleh para pemain yang membuat film ini lebih ceria. Dan salah satu lagu favorit saya di tahun 2000-an yang berjudul A Thousand Miles yang dinyanyikan oleh Vanessa Carlton menjadi  lagu latar musik film ini.

Terlepas dari kisah komedi romansa yang disajikan dalam film ini, mencintai diri sendiri jauh lebih penting sebelum mencintai orang lain. Hal itu berkaitan dengan bentuk tubuh yang menjadi stereotip kebanyakan masyarakat tentang perempuan bertubuh gemuk yang selalu dipandang sebelah mata terutama dalam masalah percintaan.

You can search the entire universe and never find a being more worthy of love more than yourself.”

Nilai: ∗∗∗/5

Bad Seeds (2018)

Bad Seeds merupakan film drama komedi Perancis. Judul asli film ini adalah Mauvaises Herbes. Film Bad Seeds disutradarai dan ditulis oleh Kheiron yang juga menjadi bintang utama dalam film ini.

Selain Kheiron, beberapa aktor menjadi pemain pendukung dalam film ini. Mereka adalah, Catherine Deneuve, André Dussollier, Louison Blivet, Adil Dehbi, Hakou Benosmane, Youssouf Wague, Ouassima Zrouki, Joseph Jovanovic, Ayment Wardane, dan lain-lain.

Bad Seeds mengisahkan tentang mantan anak jalanan yang bernama Waël yang hidup sebatang kara sejak perang meluluh-lantahkan kotanya dan para tentara yang telah membunuh keluarganya.

Waël kecil (Ayment Wardane) hidup di jalanan seorang diri dengan meminta-minta untuk bertahan hidup. Meskipun badannya kecil namun ia tak pernah kehabisan akal meskipun tak ada satu orang pun di jalan yang memberinya uang. Ya walaupun ujung-ujungnya ide yang muncul di kepalanya adalah akal bulus.

Hal itu terbawa hingga Waël dewasa (Kheiron). Ia bersama ibu adopsinya, Monique (Catherine Deneuve), yang juga menjadi partnert in crime menipu dan mencuri barang orang lain. Aksi mereka selalu berhasil ketika Waël berpura-pura mencuri tas Monique pada saat seseorang berjalan ke arah Monique, pada saat si target mengejar Waël, Monique beraksi mengambil barang milik si target.

Namun satu hari aksinya gagal ketika seorang laki-laki tua, Victor (André Dussollier), berjalan menuju Monique dan ia mengenali Monique sedangkan Waël tak tahu tentang itu dan tetap menjalankan aksinya. Victor berhasil mengejar Waël dan aksi mereka tertangkap basah oleh Victor.

Untuk lepas dari tuntutan karena telah menipu Victor, Victor memberi “hukuman” pada Waël untuk bersedia menjadi guru pengganti dari enam anak bermasalah; Shana (Louison Blivet), Fabrice (Adil Dehbi), Karim (Hakou Benosmane), Ludo (Youssouf Wague), Nadia (Ouassima Zrouki), dan Jimmy (Joseph Jovanovic), di sekolah milik Victor. Sedangkan Monique diminta menjadi sekretaris Victor tanpa dibayar sepeserpun.

Di sekolah tersebut, menjadi seorang guru pengganti telah merubah perilaku Waël menjadi jauh lebih baik dan bermakna bagi orang lain, serta menggunakan otaknya yang cerdas dengan cara yang baik. Bukan hanya ia yang merubah perilakunya menjadi lebih baik, akan tetapi anak-anak yang ia ajarkan dengan caranya.

Ada beberapa film yang memiliki judul yang hampir sama bahkan sama persis meskipun dengan jalan cerita yang jauh berbeda. Dan itu hal yang biasa untuk penulis atau pun sutradara memilih judul film yang akan digunakan. Sama hal nya dengan film ini yang memiliki judul yang hampir sama dengan film Amerika The Bad Seed (2018), akan tetapi keduanya memiliki judul yang hampir sama dan dari sisi apa pun film ini jauh berbeda.

Alur cerita Bad Seeds maju mundur. Ide dan isu cerita yang diangkat oleh film ini sebenarnya sangat umum yaitu tentang anak-anak yang bermasalah yang butuh seseorang yang bisa mengubah hidup mereka menjadi lebih baik dan bermakna. Akan tetapi film ini menjadi sangat menarik untuk ditonton karena dikemas dengan sangat apik.

Banyak sisi-sisi menarik yang disuguhkan ke dalam cerita film ini meskipun hanya sepersekian detik saja sebagai bentuk pesan yang ingin disampaikan oleh film ini.

Lucu, sedikit sedih, terharu, gemas, menyenangkan, dan hal-hal baik saya rasakan pada saat menonton Bad Seeds.

Barisan kalimat sederhana yang diucapkan oleh Waël pada saat ia menggambar sebuah kepala binatang dengan satu sisi mirip kelinci dan sisi lainnya mirip bebek barangkali menjadi salah satu bagian dari inti cerita film ini. Nadia yang selalu merasa benar dan tak ingin dikalahkan menyebut gambar tersebut adalah kelinci sedangkan lima teman yang lainnya melihat gambar itu adalah bebek. Dengan bijak Waël mengatakan pada mereka,

Ini bukan tentang fakta, tapi tentang intepretasi dan cara pandang.”

Layakkah film ini untuk ditonton? Tentu sangat layak.

Nilai: ∗∗∗∗∗/5

Vox Lux (2018)

Vox Lux merupakan film drama musikal Amerika. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Brady Corbet. Cerita Vox Lux diangkat dari cerita Brady Corbet dan Mona Fastvold. Vox Lux dibintangi oleh Natalie Portman, Jude Law, Raffey Cassidy, Stacy Martin, dan beberapa pemain lainnya.

Vox Lux rilis premier di Venice International Film Festival yang ke-75 pada 4 September 2018, di Toronto International Film Festival pada 7 September 2018, di New Orleans Film Festival pada 23 Oktober 2018, di Amerika Serikat pada 7 Desember 2018, dan di Kuwait pada 20 Desember 2018.

Film yang berdurasi selama kurang lebih satu jam lima puluh empat menit ini mengisahkan seorang penyanyi Celeste Montgomery yang mengalami masa-masa ups and downs menjadi artis terkenal.

Di tahun 2000-2001, seorang remaja 14 tahun, Celeste Montgomery (Raffey Cassidy), yang tidak pernah diduga menjadi terkenal setelah bernyayi bersama kakaknya Eleanor Montgomery atau Ellie (Stacy Martin) yang mengiringinya dengan piano.

Berawal dari pembunuhan masal yang dilakukan oleh pemuda yang bernama Cullen di sekolah Celeste. Dalam kejadian tersebut, Cullen menembak guru dan beberapa teman Celeste. Meskipun terluka secara fisik dan psikis, Celeste selamat dari tragedi tersebut.

Setelah benar-benar pulih, Celeste menyanyikan lagu yang ia ciptakan sendiri berdasarkan pengalamannya dengan iringan piano Ellie. Tanpa diduga, penampilannya membawa Celeste menjadi penyanyi terkenal. Bersama Ellie dan Manajernya (Jude Law), Celeste melakukan rekaman, membuat video, dan terus dilatih menjadi seorang bintang besar.

Karir Celeste terus melejit meskipun ia harus kehilangan masa remaja dan kepolosannya. Pada usia 31 tahun, Celeste (Natalie Portman), bersama Ellie dan manajernya, mempersiapkan konser besar Celeste.

Namun sayangnya beberapa hari menjelang konsernya, terjadi penembakan yang dilakukan para teroris yang menggunakan ikonografi Ellie. Tentunya hal itu menjatuhkan nama baiknya.

Ellie sangat amat tertekan sehari sebelum konser, akan tetapi anak remaja Celeste, Albertine atau Alby (Raffey Cassidy), menjadi kekuatannya. Yep, aktris Raffey Cassidy memerankan dua karakter dalam film ini.

Bukan hanya dialog para karakter yang menceritakan jalannya cerita Vox Lux, namun narasi dalam beberapa adegan yang dibawakan oleh Willem Dafoe menjadi bagian penting dalam cerita ini.

Jalinan cerita Vox Lux sangat sederhana dan bisa dibilang sedikit membosankan menurut saya. Dengan dibagi ke dalam tiga adegan, hanya bagian final yang cukup menarik bagi saya. Salah satunya adalah yel yel yang diucapkan oleh Celeste dan para penarinya di belakang panggung menjelang detik-detik konser Celeste dimulai. Begini bunyinya:

Who’s the badass bitch in this room? You are!

Who’s the sickest band on the planet? We are!

Who makes this possible? We do.

Are we gonna be good? No.

Are we gonna be great? No

Are we gonna be amazing? No

Then what are we gonna be? Phenomenal!

Nilai: ∗∗∗/5

Destroyer (2018)

Bukan Nicole Kidman namanya bila aktingnya biasa biasa saja atau monoton. Karakter dan penampilan Nicole Kidman dalam film Destroyer cukup berbeda dari film-film sebelumnya. Jangan harap akan melihat Nicole Kidman tampil cantik atau pun menawan dalam film ini. Karena penampilan seperti itu tak akan ada dalam karakter yang ia mainkan dalam film Destroyer. Meskipun begitu, ia bermain sangat apik dalam film ini. Tak heran bila karena karakter yang Nicole Kidman mainkan mendapatkan nominasi sebagai aktris terbaik di ajang penghargaan Golden Globe Awards ke-76.

Destroyer merupakan film drama action Amerika. Film yang berdurasi selama kurang lebih dua jam ini disutradarai oleh Karyn Kusama dan ditulis oleh Phil Hay dan Matt Manfredi. Destroyer dibintangi oleh Nicole Kidman, Sebastian Stan, Jade Pettyjohn, Toby Kebbell, Tatianan Maslany, dan beberapa pemain pendukung lainnya.

Destroyer rilis premier di Festival Film Telluride pada 31 Agustus 2018 dan rilis di Amerika Serikat pada 25 Desember 2018.

Destroyer mengisahkan seorang detektif LAPD wanita, Erin Bell (Nicole Kidman), yang melakukan tugasnya dengan menyamar untuk menghancurkan sekelompok gengster yang hendak melakukan perampokan bank.

Penyamaran Bell hampir berhasil, namun sayangnya berakhir tragis hingga membuatnya seperti kehilangan orang-orang yang ia sayangi di masa lalunya dan berlanjut di masa kini.

Dengan kekuatan fisik dan psikis yang masih membekas di ingatannya, Erin Bell menghadapi sendiri masalah dari masa lalunya yang belum tuntas.

Alur cerita Destroyer maju mundur. Jalinan cerita film ini sama seperti film-film action pada umumnya yang dibumbui dengan baku hantam dan baku tembak. Selain karakter Nicole Kidman yang memerankan Erin Bell, ide cerita yang diangkat dalam film ini tak ada yang menarik bagi saya.

Nilai: ∗∗∗/5