Perspektif

Ketika melakukan perjalanan lumayan jauh, jalan pulang yang menyenangkan selalu menjadi idaman para pengguna jalan. Sore itu, saya pulang dari rumah seorang teman pada waktu dan memilih jalan yang tepat. Dengan mengendarai sepeda motor, saya lebih memilih pulang melewati jalan perkampungan daripada melewati jalan raya yang macet, sangat berpolusi, dan jebakan lubang yang menganga.

Meskipun masih banyak jalan di perkampungan  yang tidak beraspal (hanya cor-an), tapi di beberapa jalan masih menyuguhkan pemandangan sawah yang tak pernah saya lihat di perkotaan, dan pastinya jarak tempuh yang lebih cepat karena saya tak bertemu dengan macet dan lampu lalulintas.

Di sepanjang perjalanan saya seolah disajikan pemandangan langit sore yang menawan. Di sisi kanan jalan terdapat hamparan sawah nan hijau dan di sisi kiri saya juga terdapat hamparan sawah yang baru dibajak, beberapa pohon kelapa, dan langit senja yang menghiasi hamparan lahan kosong itu. Saya sangat menikmati dan mengagumi keindahan langit senja tanpa halangan mata apapun.

Di atas motor, sambil fokus pada jalan, mata saya sesekali melirik ke langit itu. Sang senja memikat mata saya. Tak ingin hanya melihat sesekali dan sebentar, akhirnya saya menepi, menghentikan motor, menikmatinya beberapa menit, lalu mengambil gambar sang senja.

 

Saya meneruskan perjalanan pulang. Melaju cepat ketika perjalanan sudah memasuki rumah penduduk. Sang senja mulai tak terlihat jelas. Terkadang dia masih muncul tapi tak sesempurna sebelumnya. Ketika saya kembali memandang sang senja, dalam hati saya bertanya “mengapa dia tak lagi semenawan seperti sebelumnya?” Saya masih melaju dengan cepat mendahului beberapa kendaraan yang berada di depan saya. Warna oranye semakin jelas dalam bulatan, seolah menantang saya karena saya terus melaju motor dengan cepat. Kami seperti akan bertemu di satu titik.

Semakin terang cahaya itu di depan mata, akhirnya saya mendapat jawaban dari pertanyaan yang masih berseliweran di kepala saya. Pikiran saya kembali pada saat saya pertama kali melihat sang senja. Saya memposisikan diri saya di awal perjalanan dan di perjalanan yang sedang saya lalui. Jawabannya adalah waktu dan posisi di mana saya berada ketika memandang sang senja yang menawan kemudian menjadi biasa saja.

Di atas ladang dan sawah nan luas, saya melihat sang senja begitu menawan karena tak terhalang oleh apapun ketika melihatnya, juga waktu yang terus berjalan seperti menggiring matahari ke bawah. Sama halnya ketika saya melihat senja di pantai, balkon, gedung, atau tempat yang tinggi. Sedangkan sang senja yang nampak biasa-biasa saja, itu karena mulai terhalang oleh pohon-pohon, rumah-rumah penduduk, dan bangunan-bangunan lainnya dan waktu yang terus berjalan.

Sang senja semakin hilang dari pandangan ketika perjalanan mendekati rumah.

Dari sebuah pandangan atas satu objek yang sama mampu menafsirkan sifat dan pandangan yang berbeda. Tak ada yang benar-benar indah, baik, buruk, benar, salah, besar, atau kecil hingga kita mampu melihat segalanya dengan sebuah sudut pandang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *