Don’t Ask Me Who Am I and What I Want To Be

Aku masih berlari kencang, sekencang-kencangnya, sejauh mungkin. Namun dia masih saja mengikutiku. Dia masih mengintai kemanapun aku pergi. Aku mulai kelelahan, istirahat, lalu menyeka butiran keringat di keningku. Kuatur napas pelan-pelan dan teratur.

Selama beberapa detik aku memejamkan mata.

“Who are you and what do you want to be?” Suara itu memekikkan telingaku.

Aku menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku. Dan menutup rapat kedua mataku. Hingga suara itu tak lagi terdengar.

Aku bersembunyi di sudut ruangan, berharap tak ada yang akan menemukanku.

“Hey, who are you and what do you want to be?” Suara itu terdengar sangat sinis.

Aku tak memedulikannya.

“Who are you and what do you want to be?” Suara itu kemudian membentakku.

Aku sangat ketakutan. Bibirku bergetar dan tanganku gemetaran merengkuh tubuhku yang merasakan hal sama. Bola mataku sesegera dipenuhi oleh cairan bening yang akan meluap dan tak mampu menahannya berada di kubangan itu. Tubuhku berguncang karena isakan tangis yang yang tak mampu kubendung. Segala pahit, perih, letih tumpah bersama aliran itu.

“Aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Aku hanya ingin menjadi seorang yang lebih baik dan bahagia.” Kataku pelan, penuh penekanan, dengan napas yang berat, dan wajah yang masih basah.

“Tidakkah kau ingin menggapai mimpi-mimpimu?”

Aku menarik panjang napas, lalu menghembuskannya. Kulakukan berulang kali sampai jantungku berdetak seperti semestinya, sampai jiwaku menemukan titik tenang.

“Hidup ini terlalu singkat. Mungkin lebih singkat daripada sebuah mimpi. Aku hanya ingin menikmati dan mensyukuri segala hal di sisa hidupku.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *