Smartphone VS Buku (Belajar Membaca (lagi))

Sedari awal benda ini diciptakan untuk memudahkan dan membuat kepraktisan para penggunanya. Semua hal bisa dilakukan dengan benda itu.

Kita bisa membuat percakapan dengan siapapun dari jarak manapun tanpa saling bertatap muka secara langsung. Itu artinya benda ini mampu menghemat waktu dan tenaga.

Dengan jaringan internet, aplikasi yang diberikan dari benda ini bermacam-macam, dari bisa ber-chit chat ria dengan teman-teman yang dikenal ataupun tidak, mendapat hiburan, belanja tanpa harus capek, sampai mendapatkan informasi apapun dari artikel-artikel yang ada atau yang ditemukan baik yang bersifat positif, negatif, atau provokatif di media sosial. Bahkan kita bisa membaca berita dari belahan dunia dan cerita dari berbagai genre melalui benda ini tanpa harus beranjak dan membawa buku yang tebal dan berat. Semuanya nampak sangat mudah dan praktis.

Namun bagi saya kepraktisan dan kemudahan itu seperti telah menghilangkan banyak hal nyata dan original. Yup, benda yang disebut smartphone atau telepon pintar ini seperti mampu memberikan segalanya dan mampu menghilangkan yang ada menjadi tidak ada, atau sebaliknya.

Di setiap kegiatan, benda ini selalu menemani dan tak pernah tertinggal. Jika sehari, ups sehari terlalu lama, barangkali jika sejam tak membukanya akan terasa seperti ada yang hilang. Benda ini seperti menjadi candu. Saya selalu menyadari kemudahan dan kepraktisan ini tidak terlalu baik ketika tak bisa memisahkan diri dari benda ini dalam waktu yang tak terlalu lama. Seperti yang kita ketahui bahwa benda ini dan seisinya memiliki efek-efek yang tidak terlalu baik untuk beberapa anggota tubuh, secara fisik ataupun psikis.

Namun terlepas dari semua itu, yang membuat saya merasa bersalah adalah ketika selalu mengabaikan buku yang selalu berada berdekatan dan sejajar dengan smartphone. Belakangan saya selalu memilih smartphone daripada buku. Sehari, seminggu, sebulan, dua bulan buku hanya menjadi pajangan di meja atau hanya dibawa kemana-mana tapi tak dibuka selembar pun.

Kegelisahan semakin kuat, otak semakin kosong, emosi – emosi dan kepekaan mulai terkikis. Pelan-pelan saya mencoba membuka buku, namun saya tak mendapatkan apapun dari tulisan yang sudah saya baca. Saya hanya membaca barisan kata, namun tak memahami isinya. Itu membuat saya lagi-lagi lebih tertarik pada smartphone, dengan rasa bersalah atau tidak. Hingga akhirnya saya mengingat seseorang mengatakan bahwa:

Untuk suka membaca adalah sejauh mana kita memaksa diri untuk membuka dan membaca buku. Sama halnya menikmati apa yang ada dalam smartphone, kita juga harus menikmati membaca dan bacaan yang ada di dalamnya, membayangkan dan merasakan apa yang kita baca, seperti kita masuk ke alam cerita atau bacaan yang kita baca.”

Untuk berpindah dari smartphone ke buku, atau setidaknya berlaku adil pada diri sendiri adalah memaksa diri untuk membuka dan membaca buku (lagi). Terkadang, membaca (terutama membaca buku), bukan hal yang mudah.

Membaca butuh ketelitian. Kita harus paham struktur teks dan pesan. Kita juga harus melihat dari banyak sisi, itu membantu daya analisis kita dalam membaca.”

Dan membuka smartphone nampak lebih menarik dan simpel dibandingkan dengan membuka dan membaca buku.

Sesungguhnya tak ada yang salah dengan smartphone. Buku dan smartphone memiliki fungsi yang hampir sama. Dua-duanya mampu memberikan banyak hal dan informasi, meskipun smartphone jauh lebih variatif dibandingkan buku. Membuka buku dan membaca dengan baik serta menggunakan smartphone dengan bijak barangkali mampu mengembalikan kebaikan dan keseimbangan yang nyata terasa secara fisik atau psikis.

Kapan terakhir kali kamu baca buku? ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *