Winchester (2018)

Winchester merupakan film biografi, horor, fantasi. Film ini diangkat  berdasarkan kejadian yang sebenarnya yang terjadi San Jose dan San Fransisco, California, Amerika Utara pada 1906. Winchester rilis di Amerika pada 2 Februari 2018. Film ini disutradarai oleh The Spierig Brothers; Michael Spierig dan Peter Spierig, dan ditulis oleh Tom Vaughan dan The Spierig Brothers.

Winchester mengisahkan tentang sebuah perusahaan Winchester Repeating Arms Company yang merupakan perusahaan milik keluarga The Winchester yang dikelola oleh Sarah Winchester Hellen Mirren). Sarah memiliki sensitivitas dan cita rasa seni yang tinggi dalam membangun bangunan perusahaan yang nampak seperti rumah tersebut. Bangunan dengan tata letak yang unik, besar, dan mewah tersebut terdiri dari 100 ruang.

Beberapa tahun lalu, perusahaan itu menjalankan bisnis senapan. Sampai akhirnya suatu tragedi terjadi hingga Sarah merasa bahwa ia dan keluarganya terkena sebuah kutukan karena hal yang menyangkut dengan bisnis tersebut. Sarah mempercayai bahwa dalam bangunan itu terdapat roh-roh yang urusannya belum selesai di dunia.

Setiap bangunan dalam rumah itu dibangun dengan konsep yang artistik dan rumit dirancang oleh Sarah sendiri. Bangunan itu dibangun siang dan malam oleh para pekerja. Rancangan-rancangan yang Sarah buat selalu melibatkan roh-roh yang ia percaya ada di salah satu ruang tersebut sebagai panduannya dan sesuai dengan apa yang roh-roh itu inginkan.

Atas perilaku aneh Sarah, Arthur Gates (Tyler Coppin), seorang kepala penegak hukum yang juga menginginkan posisi Sarah di perusahaan itu datang ke rumah seorang psikolog, Dr. Eric A. Price (Jason Clarke), untuk meninjau keadaan kejiwaan Sarah. Apakah ia masih pantas menjadi pimpinan perusahaan tersebut atau tidak. Atas permintaan Sarah pula, ia hanya ingin dinilai oleh Dr. Price. Awalnya Dr. Price tak ingin melakukan hal itu, karena ia tak percaya dengan hantu, roh, makhlus halus atau sejenisnya. Namun Arthur Gates menawarkan harga tinggi pada Dr. Price.

Dr. Price yang tak percaya hantu, malah disuguhkan dengan kejadian-kejadian yang menakutkan di hari pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah besar itu. Seperti: kertas yang berhamburan, benda yang bergerak sendiri tanpa ada angin, kaca yang berkali-kali bergerak sendiri di depan matanya dengan menunjukkan ke arah bangku kosong yang ada di kamarnya, dan penampakan wajah menyeramkan di depan dan di balik kaca tersebut. Belum apa-apa ia sudah dibikin gila dengan hal-hal yang berhubungan dengan hantu.

Sebagai seorang psikolog, Dr. Price meyakini bahwa:

Something we only need is a help to see reality and illusion. It’s about taking control. About not letting fear control you. Because fear in the end is only your mind.”

Cerita Winchester cukup menarik bagi saya. Film ini menyatukan sisi kejiwaan (realita) dan roh (Ilusi). Dr. Price yang tak percaya dengan hal yang berhubungan dengan hantu dan roh-roh, sedangkan Sarah sangat mempercayai kebedaraan “mereka.” Ketika dihadapkan dengan hal-hal diluar nalar yang tak bisa dihindari, Dr. Price meyakinkan dirinya dengan teori-teori logis yang ia miliki (dunia kedokteran), sedangkan Sarah percaya dengan sensitivitasnya yang tinggi atas makhluk kasat mata yang berada di sekitarnya (dunia spiritual). Dalam argumentasinya, Sarah mengatakan:

Condition can be cured, but curse not.”

Konflik dalam film ini adalah pembalasan dendam seorang prajurit, Ben Block (Eamon Farren). Ia tewas ditembak oleh beberapa tentara ketika ia ingin membalaskan dendam kematian 2 saudaranya yang tewas dipenggal. Arwahnya tak damai dan masih penasaran sebelum ia membalas dendam pada salah satu dari keluarga Winchester, meskipun tak lagi berbisnis di bidang persenjataan. Ia menginginkan keponakan Sarah, Marrion Marriot (Sarah Snook), dan anaknya Henry Marriot (Finn Sciluna-O’Prey). Henry yang masih murni dan polos selalu menjadi incaran Ben untuk merenggut nyawanya. Meskipun bibinya seorang yang percaya dengan hal berhubungan dengan makhluk halus, Marriot tak percaya itu. Ia berjuang menghilangkan rasa takutnya demi menyelematkan Henry yang sering kemasukan roh Ben dengan mengatakan pada dirinya:

I will never let fear control me.”

Menonton Winchester di menit awal sudah terasa mencekam dan mengagetkan bagi saya. Namun di bagian tengah dan akhir cerita tak terasa menyeramkan, akan tetapi lebih kepada penyelesaian masalah utama dalam cerita Winchester.

Di akhir cerita dituliskan kejadian-kejadian selanjutnya yang terjadi setelah tahun 1906.

Nilai: 4/5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *