The Head Hunter (2019)

Dengan judul The Head Hunter, dan tanpa melihat trailer filmnya terlebih dulu, saya berpikir jenis metafor apa yang akan disuguhkan dalam film ini. Namun ternyata saya berpikir terlalu dalam. Pada kenyataannya, pada saat menonton film ini tak ada metafor apapun dalam The Head Hunter atau Pemburu Kepala. Makna judul film ini benar-benar pemburu kepala, yakni seseorang yang memburu kepala.

The Head Hunter merupakan film horor fantasi Amerika. Film ini disutradarai oleh Jordan Downey dan ditulis oleh Kevin Stewart dan Jordan Downey.

Christopher Rygh dan Cora Kaufman adalah dua aktor yang bermain dalam film ini, walaupun pada dasarnya hanya Christopher Rygh yang bermain dalam film ini.  The Head Hunter rilis di Amerika Serikat pada 5 April 2019.

Berlokasi di tengah hutan dan bersalju, seorang laki-laki pejuang (yang diperankan oleh Christopher Rygh) mengumpulkan kepala monster. Dengan memakai pakaian pejuang Inggris, ia mengumpulkan kepala monster dan memajangnya di dinding kayu rumahnya.

Tujuannya mengumpulkan kepala monster hanya satu, ia ingin melindungi makhluk yang ada di hutan dari serangan monster jahat atau gaib. Namun salah satu kepala monster hilang dan telah membunuh putrinya (yang diperankan oleh Cora Kaufman) bertahun-tahun lalu.

Dengan diselimuti rasa ingin membalas dendam, laki-laki itu semakin semangat memburu kepala monster, terutama monster yang membunuh putrinya. Dan ketika kesempatan kedua datang untuk membunuh mosnter tersebut, ia justru menemukan hal yang lebih mengerikan dari yang ia bayanngkan.

Cerita The Head Hunters hanya berpusat pada satu tokoh. Bersalju, hutan, dingin, kuda, dan panah adalah elemen-elemen yang menjadi bagian utama sepanjang film ini. Perpaduan unsur horor dan fantasi merupakan ide cerita yang diangkat oleh film ini.

The Head Hunter barangkali film yang paling sedikit memiliki dialog sepanjang saya menonton banyak film. Dalam film yang berdurasi selama kurang lebih satu jam sebelas menit ini hanya menampilkan kata-kata dan baris kalimat yang bisa dihitung dengan hitungan jari yang keluar dari satu-satunya tokoh utama film ini. Salah satunya adalah: “Jakke is dead”, “A revenge is upon us”, “Don’t touch her”, dan “A body is mine.”

Meskipun begitu, unsur horor gotiknya cukup terasa dari beberapa adegan yang dihadirkan oleh The Head Hunter.

Nilai: ∗∗∗/5

The White Chamber (2019)

Sebuah ruang putih berbentuk kotak, penuh misteri, jebakan yang mematikan, dan melarikan diri dari dalam ruang tersebut adalah hal yang tak mungkin dilakukan bagi seseorang yang berada di dalamnya.

The White Chamber merupakan film drama fiksi ilmiah Inggris. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Paul Raschid.

The White Chamber dibintangi oleh Shauna Macdonald, Oded Fehr, Amrita Acharia, Sharon Maugan, Nicholas Farrell, dan Candis Nergaard. Film ini rilis di Amerika Serikat pada 29 Maret 2019.

Dalam masa perang saudara yang sedang terjadi di Inggris menjadikan seorang perempuan, Dr Ellen Chrystler (Shauna Macdonald), mendapati dirinya dikurung dalam sebuah ruangan kotak putih dalam keadaan kepala berdarah dan tak ingat apa-apa, bahkan dirinya sendiri. Satu hal yang ia ingat adalah bahwa ia seorang admin girl.

Ruang tersebut merupakan ruang interogasi yang dilakukan terhadap Chrystler untuk menggali informasi lebih dalam yang dilakukan oleh seseorang yang hanya terdengar suaranya yang disamarkan.

Ruang putih itu bisa juga dibilang sebagai ruang penyiksaan. Ketika Chrystler tak menjawab pertanyaan yang diajukan, ruangan itu biasa menjadi ruangan yang sangat panas, sangat dingin, dapat mengalirkan sengatan listrik yang tinggi, bahkan hal yang lebih buruk lagi bisa terjadi di ruang ini.

Alasan apa yang melatarbelakangi interogasi semacam itu? Hal itu yang dijadikan misteri dalam film yang berdurasi selama kurang lebih satu jam dua puluh sembilan menit ini.

Ide cerita yang diangkat dalam film ini adalah tentang deklarasi perang dan ruang putih yang mematikan tersebut dijadikan sebagai alat yang dianggap efektif menggali sebuah informasi.

Alur cerita The White Chamber maju mundur. Teka-teki cerita dan adegan interogasi yang berujung dengan penyiksaan yang dihadirkan dalam film ini membawa penonton penasaran dengan akhir ceritanya walaupun diakhiri dengan akhir cerita yang biasa saja atau bisa dibilang tidak terlalu jelas.

Penyiksaan yang dilakukan terhadap “tahanan” yang ada dalam ruang putih itu cukup intens hingga salah seorang anggota baru, Ruth (Amrita Acharia), mengatakan:

What I’ve seen over the last 5 days has dismantled every principle I’ve live my life by. These tests, no one no thing deserves this. He’s right. We are monsters. Revenge. You were driven by revenge.”

 

Nilai: ∗∗/5

The Russian Bride (2019)

Alih-alih mencari dan mendapatkan kebahagiaan dengan menikah dengan seorang laki-laki Amerika yang kaya raya, seorang wanita Rusia dan anaknya justru tinggal dengan laki-laki psikopat.

The Russian Bride merupakan film horor thriller Amerika. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Michael S. Ojeda. The Russian Bride dibintangi oleh Oksana Orlan, Corbin Bernsen, Kristina Pimenova, Lisa Goodman, Michael Robert Brandon, dan beberapa pemain pendukung lainnya.

Film yang berdurasi selama kurang lebih satu jam empat puluh satu menit ini rilis di Amerika Serikat pada 19 Maret 2019. Sedangkan rilis di Rusia pada 16 Mei 2019.

The Russian Bride mengisahkan seorang wanita Rusia, Nina (Oksana Orlan), dan anak perempuannya, Dashinka atau Dasha (Kristina Pimenova) yang datang dari Livny, Rusia, ke Amerika untuk bertemu dengan Karl Frederick (Corbin Bernsen), seorang laki-laki yang tak lagi muda berusia 63 tahun.

Karl “mengundang” Nina datang ke Amerika karena ia tertarik pada Nina dan Dasha di media online dating. Nina yang sedang memiliki masalah dengan mantan suaminya pun dengan suka cita menyambut “undangan” tersebut mekipun ia harus meninggalkan keluarganya di Rusia.

Melihat rumah Karl yang seperti istana membuat Dasha sangat terkagum-kagum. Ditambah lagi dengan perlakuan Karl yang sangat baik padanya dan Nina. Bahkan sikap aneh sopir Karl, Hagen (Michael Robert Brandon), yang terlihat sangat pendiam dan asisten rumah Karl, Maria (Lisa Goodman), yang nampak jutek tak membuat mereka merasa ada yang aneh dengan Karl atau pun rumah tersebut.

Namun setelah Nina dan Karl menikah, hal yang tak biasa muncul di rumah besar tersebut. Dasha melihat penampakan hantu menurut pandangan matanya dan Nina mulai mengenal siapa Karl dan kebiasaan yang ia lakukan.

Dan Nina mulai mencari tahu siapa Karl dan apa yang ia inginkan darinya dan Dasha setelah ia melihat tulisan “run” dia kaca dapur yang juga diikuti dengan beberapa kejadian janggal,

Siapa Karl, kenapa sikap Hagen begitu aneh dan tertutup, dan Maria nampak tak menyukai Nina dan Dasha? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang menarik penonton menonton film ini hingga akhir cerita.

Rangkaian cerita The Russian Bride cukup menarik menurut saya. Adegan demi adegan seperti misteri yang bisa dinikmati oleh penonton hingga pengungkapan karakter Karl, Maria, dan Hagen.

Bagi saya, film horor thriller ini cukup manyajikan adegan pembunuhan dan kekerasan yang cukup sadis.

Melihat judul film ini, The Russian Bride, dua bahasa digunakan dalam film ini, Bahasa Inggris dan Rusia tentunya yakni bahasa yang digunakan dalan percakapan Nina dan Dasha.

Bagi kamu yang suka film horor thriller, saya rasa film ini bisa jadi rekomendasi film yang layak untuk ditonton.

Nilai: ∗∗∗/5

Paparazzi (2004)

Apa lah artinya aktor, aktris, atau selebriti tanpa para pencari berita atau pun paparazzi yang membesarkan nama mereka. Namun apa jadinya jika para paparazzi yang terlalu agresif mengekspos hidup seorang aktor tanpa kenal waktu dan tempat hingga mengambil ruang privasi si aktor, bahkan membuat nyawa melayang?

Alih-alih menjadikan si aktor terkenal karena prestasi, namun para paparazzi malah membuat nama baik aktor sangat buruk karena pemberitaan yang sengaja dibuat salah. Hal tersebut yang dialami oleh aktor Hollywood Bo Laramie yang sedang daun dalam film Paparazzi.

Paparazzi merupakan film drama, aksi, kriminal Amerika. Film yang berdurasi kurang lebih selama satu jam dua puluh empat menit ini disutradarai oleh Paul Abascal dan ditulis oleh Forry Smith.

Cole Hauser, Robin Tunney, Dennis Farina, Daniel Baldwin, Tom Hollander, Kevin Cage, Tom Sizemore, dan Blake Michael Bryan adalah para aktor yang mengisi bagian penting cerita film ini.

Paparazzi rilis di Amerika Serikat pada 3 September 2004.

Film ini mengisahkan seorang aktor Hollywood, Bo Laramie (Cole Hauser), yang sedang naik daun. Pada saat peluncuran film terbarunya, puluhan sorot mata kamera menuju padanya. Para pemburu berita termasuk Paparazzi  sangat antusias mengambil gambarnya dan mewawancarainya.

Setelah namanya terus menanjak, banyak hal baru yang Bo dan istrinya, Abby Laramie (Robin Tunney), pelajari. Salah satunya adalah sorotan kamera yang selalu mengikuti kemanapun mereka pergi dan dimanapun mereka berada.

Masalah muncul ketika Bo sedang memberi dukungan pada anaknya, Zach Laramie (Blake Michael Bryan), yang sedang bertanding sepak bola. Seorang paparazzi, Wendell Stokes (Daniel Baldwin), sengaja mengambil gambar Zach dari balik pohon. Mengetahui hal tersebut, Bo mendatangi Wendell dan menyatakan ketidaksetujuannya karena sudah mengambil ruang privasinya bersama istri dan anaknya yang masih kecil.

Bukan meminta maaf, Wendell justru membuat Bo sangat marah hingga memukulnya. Sialnya, di dalam mobil telah ada tiga teman paparazzi Wendell; Leonard Clark (Tom Hollander), Kevin Rosner (Kevin Cage), dan Rex Harper (Tom Sizemore), yang sudah menyorot mata kamera mereka dan merekam apa yang telah dilakukan Bo pada Wendell.

Dari kejadian itu, nama baik Bo Laramie terus diuji dengan pemberitaan miring dan palsu yang dibuat oleh keempat paparazzi tersebut atas pembalasan dendam mereka karena pemukulan itu. Bukan hanya kehidupan pribadi dan keluarganya yang terusik, bahkan para paparazzi itu hampir merenggut nyawa mereka, terlebih lagi anak Bo, Zach.

Menonton Paparazzi cukup membuat saya terbawa emosi melihat ulah keempat paparazzi yang tak henti mengganggu Bo dan keluarga kecilnya dalam keadaan apapun. Rangkaian cerita film ini sesungguhnya cukup sederhana namun sangat menarik untuk ditonton.

Penyelesaian masalah yang ada dalam film ini diselesaikan dengan epik oleh karakter Bo Laramie dalam membalaskan dendamnya pada keempat Paparazzi itu.

Paparazzi memang film lama. Namun bagi kamu yang belum menonton film ini, Paparazzi bisa jadi rekomendasi film yang layak tonton. Oleh film ini kamu akan dibawa pada perasaan kesal, “gemas”, geregetan, juga kasihan ketika menonton tiap adegannya.

Nilai: ∗∗∗∗/5

The Kid Who Would Be King (2019)

The Kid Who Would Be King merupakan film anak, petualangan, fantasi, keluarga  Inggris. Film yang berdurasi kurang lebih dua jam ini disutradarai dan ditulis oleh Joe Cornish. Louis Ashbourne Serkis, Dean Chaumoo, Tom Taylor, Rhianna Dorris, Rebecca Ferguson, Angus Imrie, Patrick Stewart adalah para aktor yang bermain dalam film ini.

The Kid Who Would Be King rilis di Amerika Serikat pada 25 Januari 2019 dan rilis di Inggris pada 15 Februari 2019.

The Kid Who Would Be King meyajikan cerita tentang persahabatan, keluarga, dongeng kepahlawanan dan sejarah kerajaan Inggris.

Cerita The Kid Who Would Be King dimulai dengan dongeng kisah King Arthur dan pedangnya yang ada dalam buku King Arthur The Knight of the Round Table. Buku tersebut adalah buku yang selalu dibacakan untuk Alexander Elliot atau Alex (Louis Ashbourne Serkis) oleh ibunya pada saat ia masih kecil.

Dan kisah dalam buku tersebut menjadi nyata ketika ia menemukan sebuah sebuah pedang pada saat ia dikejar oleh senior di sekolahnya, Lance (Tom Taylor) dan Kaye (Rhianna Dorris), yang merundung sahabat Alex, Bedders (Dean Chaumoo). Alex berlari ke suatu gedung dan terjatuh dari atas gedung tersebut. Ketika terbangun, di sekitar tempat tersebut terdapat sebuah pedang yang tertancap dan dengan sangat mudah Alex mampu mencabutnya layaknya seperti pada saat King Arthur mencabut pedang.

Dengan tercabutnya pedang itu, Alex tak pernah tahu bahwa masalah akan mengintainya dan kehidupan seperti apa yang akan ia temukan.

Alur cerita The Kid Who Would Be King maju. Jalinan cerita film ini tipikal film petualangan pahlawan anak, sederhana, imajinatif, dan patriotik. Namun hal yang menarik  dari kisah ini adalah cerita film ini menggabungkan dunia nyata dan fantasi atau imajinasi. Persahabatan dan jiwa kepahlawanan membela negara diangkat dalam film ini.

Film The Kid Who Would Be King bisa dijadikan rekomendasi film yang dapat ditonton oleh anak-anak dan seluruh keluarga.

Beberapa pesan moral dan barisan kata yang bagus juga mengisi film ini. Salah satu barisan kata tersebut adalah:

There a wise old soul within every child. And a foolish child involved in every old soul.”

Nilai: ∗∗∗/5

 

 

Paddleton (2019)

Mengangkat kisah tentang persahabatan, film Paddleton mengangkat kisah persahabatan yang tak biasa.

Paddleton merupakan film drama komedi Amerika. Film Netflix ini disutradarai oleh Alex Lehmann, dan ditulis oleh Mark Duplass dan Alex Lehmann. Mark Duplass dan Ray Romano adalah dua aktor yang menjadi pemain utama film Paddleton.

Paddleton rilis premier di Sundance Film Festival pada 1 Februari 2019 dan rilis di Amerika Serikat pada 22 Februari 2019.

Didiagnosa mengidap kanker perut, Michael (Mark Duplass), dan tetangganya, Andy (Ray Romano) memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan ke luar kota sekaligus menebus obat yang dibutuhkan oleh Michael dan sedikit bersenang-senang.

Michael dan Andy tinggal bertetangga di sebuah apartemen sekaligus berteman baik. Tiap sore hari mereka selalu bermain Paddleton dan malam hari mereka menonton film Kungfu yang berjudul Death Punch di TV.

Ketika mendengar diagnosa dokter Hagen (Christine Woods) tentang penyakit Michael, Andy sangat khawatir dan mempercayai itu. Apapun yang bisa Andy lakukan untuk sahabatnya, akan ia lakukan semampunya.

Mengangkat kisah persahabatan muda mudi itu sudah biasa. Tapi mengangkat kisah tentang persahabatan dua orang yang sudah dewasa dalam sebuah film masih sangat jarang sepengetahuan saya. Hal itu lah yang disajikan dalam film Paddleton.

Perpaduan drama dan komedi tersaji dalam film ini. Secara ide cerita, Paddleton cukup menarik. Sayangnya jalinan cerita film ini cukup membosankan bagi saya.

Meskipun begitu, film ini mampu menggiring penonton untuk menyaksikan cerita hingga akhir demi memenuhi rasa penasaran tentang keadaan Michael dan penyakitnya, juga tanya besar di kepala saya apakah mereka pasangan gay atau bukan. Hal tersebut adalah satu-satunya alasan bagi penonton mengapa harus menonton film ini sampai selesai.

Nilai: ∗∗/5

 

The Music Box (2018)

The music Box merupakan film horor thriller Inggris. Film ini disutradarai oleh John Real dan ditulis oleh Adriana Marzagalli dan John Real.

The music Box dibintangi oleh Rachel Daigh, Cearl Pepper, Antonio Lujak, Melissa Leone, Antonella Salvucci, dan Fiona Whitelaw.

Film yang berdurasi kurang lebih selama satu jam dua puluh tiga menit ini rilis di Amerika Serikat pada 15 September 2018.

The Music Box mengisahkan seorang anak kecil 6 tahun, Sophie (Cearl Pepper), yang trauma atas kematian kedua orangtuanya. Dan hanya kotak musik tua yang ia temukan di tempat tinggal barunya lah yang membuatnya merasa nyaman.

Tak memiliki kedua orangtua lagi, Sophie tinggal bersama bibinya, Annabelle Spear (Rachel Daigh). Annabelle dan Sophie menempati rumah yang pernah ditinggali oleh Mrs. Nills (Fiona Whitelaw) yang mana anak perempuannya meninggal karena kotak musik yang ada di dalam rumah tersebut.

Karena trauma, Sophie tak pernah mengeluarkan suaranya sejak itu. Dan sikapnya pada Annabelle sedikit dingin dan menjaga jarak darinya karena ia tak pernah bertemu Annabelle sebelumnya.

Pada saat menemukan sebuah kotak musik, Sophie seperti memiliki seorang teman. Beberapa kali Annabelle memergokinya menunjuk sesuatu yang tak nampak mata dan tertawa sendiri seperti sedang bercanda dengan seseorang.

Annabelle khawatir dengan keadaan Sophie yang nampak semakin tak normal. Lalu diam-diam ia mengubur kotak musik itu, dan Sophie sangat marah padanya.

Keresahan Annabelle tentang keadaan Sophie yang tak bisa ia kendalikan diutarakan kepada psikolog Sophie, Dr. Loris (Antonio Lujak), yang menangani traumatis Sophie sejak awal. Menanggapi hal tersebut, Loris mengatakan:

Sophie’s behavior is normal. Creating an imaginary friend is a way for her to feel less lonely.”

Namun kata-kata Loris terbantahkan sendiri pada saat sesi wawancara rutinnya dengan Sophie.

Melalui rekaman kamera, nampak seorang anak gadis 10 tahun yang Sophie anggap sebagai  temannya muncul di belakang Loris. Gadis itu bernama Lania (Melissa Leone).

Tak lama setelah itu dan beberapa hal aneh terjadi, Annabelle dan Loris mencari tahu tentang kotak musik dan buku tua yang berjudul Theory of Possessed Object berasal.

Saya harus bilang bahwa rangkaian cerita The Music Box hampir sama dengan film-film horor misteri yang pernah ada. Barangkali yang sedikit berbeda dari film ini adalah tak ada adegan pembunuhan dengan adegan kekerasan yang berdarah-darah, sadis, atau menegangkan. Namun beberapa kali penampakan Lania dan latar suara menyeramkan cukup menghasilkan jumpscare bagi saya.

Keseluruhan Cerita The Music Box cukup sederhana, terang, dan jelas. Antara satu elemen dengan elemen lainnya saling berhubungan.

Bagi kamu pecinta film horor ringan, film ini bisa jadi film horor yang bisa ditonton.

Nilai: ∗∗∗/5

I’m Not Here (2019)

Siapa yang bisa lepas dari ingatan masa lalu? Baik dengan ingatan masa lalu yang baik ataupun buruk. Hampir semua manusia tak bisa lepas dari hal tersebut. Dan keduanya akan berdampak pada kehidupan seseorang di masa sekarang.

Barisan kalimat di atas mengacu pada film I’m Not Here. Film ini mengisahkan seorang laki-laki paruh baya, Steve (J. K Simmons), yang menghabiskan masa tuanya dengan berjuang melawan ingatan-ingatan masa lalunya yang tragis untuk bisa menerimanya di masa tuanya.

Steve yang berusia 60 tahun hidup seorang diri, mengurung diri dan nyaris bunuh diri. Beberapa tagihan tak bisa ia bayar, dan panggilan telepon tak pernah ia layani dengan mengatakan: “I’m not here”.

Sepanjang hari ia hanya mengingat masa lalunya dari usianya masih kecil hingga dewasa.

Steve kecil (Iain Armitage) harus melihat dan melewati masa-masa dimana orangtuanya bercerai, juga menyaksikan apa yang tak seharusnya anak kecil lihat dan rasakan.

Ketika Steve (Sebastian Stan) beranjak dewasa, ia menikah dengan gadis yang ia cintai, Karen (Maika Monroe), dan memiliki seorang anak yang lucu dan pintar, Trevor (Jeremy Maguire). Namun pernikahan selalu diisi dengan pertengkaran karena Steve beberapa kali dipecat dari pekerjaannya dan sering menghabiskan minuman keras berbotol-botol. Hal itu yang selalu memicu emosi Karen.

Ingatan-ingatan itu tak bisa lepas dari kepala Steve hingga membuatnya ingin membunuh dirinya sendiri dengan pistol yang diletakkan tepat di samping kepalanya.

Alur cerita I’m Not Here maju mundur. Cerita seperti dibagi ke dalam tiga bagian; masa anak-anak, dewasa, dan tua.

Jalinan cerita film ini cukup sederhana dengan permasalahan yang tak berat menurut saya, jika dihubungkan dengan aksi Steve di masa tuanya.

Bila melihat masalah-masalah yang disuguhkan dalam cerita ini terasa biasa saja, dan akan nampak kontras dengan sikap Steve yang terlalu berlebihan secara emosional yang begitu nampak sangat bersedih dan tertekan secara mental. Akan tetapi, bila melihat akhir cerita film ini, penonton akan tahu tipe cerita seperti apa film ini.

I’m Not Here disutradarai oleh Michelle Schumacher dan ditulis oleh Tony Cummings dan Michelle Schumacher. Film drama ini dibintangi oleh J.K. Simmons, Sebastian Stan, Maika Monroe, Mandy Moore, Iain Armitage, Maxgreenfield, dan beberapa pemain pendukung lainnya.

Film yang berdurasi selama kurang lebih satu jam dua puluh satu menit ini rilis premier di Raindance Film Festival pada 21 September 2017, dan rilis di Amerika Serikat pada 8 Maret 2019.

Dari segi cerita, I’m Not Here memiliki jalinan cerita yang biasa saja menurut saya. Namun dalam beberapa bagian adegan cerita, emosional karakter Steve, baik pada masa Steve kecil, dewasa, dan menua, cukup terasa bagi saya.

Oleh karena cerita ini sangat berhubungan kuat dengan waktu, inti cerita yang bisa saya ambil dari cerita film ini adalah cara kita berpikir tentang waktu bahwa,

Waktu bukan musuh yang seperti kita pikirkan. Dan satu-satunya hal yang dapat membunuh hal-hal buruk di masa lalu yang ada dalam pikiran adalah dengan melupakan hal-hal buruk tersebut dan mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan untuk orang lain ataupun diri sendiri di masa kapanpun.

The point is,

The way you think and how you control your mind.”

nilai: ∗∗∗/5

Mary Poppins Returns (2019)

Mary Poppins Returns merupakan sekuel film dari Mary Poppins pada tahun 1964. Film yang bergenre keluarga dan fantasi ini diangkat dari buku seri Mary Poppins yang ditulis PL. Travers.

Mary Poppins Returns disutradarai oleh Rob Marshall, dan ditulis oleh David Magee, Rob Marshall, dan John Deluca. Film yang berdurasi selama kurang lebih dua jam sepuluh menit ini dibintangi oleh Emily Blunt, Ben Whishaw, Emily Mortimer, Pixie Davies, Nathanael Saleh, Joel Dawson, Julie Walters, Lin-Manuel Miranda, Meryl Strip, dan masih banyak lagi.

Mary Poppins rilis di Dolby Teater pada 29 November 2018 dan rilis di Amerika Serikat pada 29 November 2018.

Biasanya, ketika orangtua sedang mendapatkan suatu masalah, anak akan merasa sedih atau terkena imbasnya. Namun tidak dengan Anabel (Pixie Davies), John (Nathanael Saleh), dan Georgie (Joel Dawson).

Ketiga anak tersebut adalah anak dari Michael Banks (Ben Whishaw) yang sedang terjerat masalah yang berhubungan dengan pinjaman uang. Dalam mengurus ketiga anaknya, Michael dibantu oleh saudara perempuannya, Jane Banks (Emily Mortimer), dan Ellen (Julie Walters), yang bekerja di rumahnya.

Pada saat Michael dan Jane sedang mencari sebuah sertifikat bersama Jane, Michael menemukan sebuah layang-layang usang lalu membuangnya. Layang-layang tersebut terbang bersamaan dengan angin kencang. Anabel, John, Georgie melihat layang-layang, dan Georgie mengejarnya.

Angin yang semakin kencang menggulung tubuh kecil Georgie ke atas, dan seketika turun dari langit bersamaan dengan layang-layang yang terbang, Mary Poppins muncul. Anabel, John, dan Georgie tentu tak mengenal siapa Mary Poppins.

Namun yang pasti Mary Poppins datang untuk mengurus ketiga anak tersebut dan membantu menyelesaikan masalah yang sedang dialami Michael.

Apakah mereka berhasil menyelesaikan masalah? Pertanyaan itu bukan pertanyaan yang harus ditanyakan untuk film tipikal film produksi Disney. Akhir cerita sudah pasti mudah ditebak.

Ok, kita ganti pertanyaannya, keseruan-keseruan apa yang karakter-karakter utama lewati dalam menyelesaikan konflik yang ada?

Rangkaian cerita Mary Poppins cukup sederhana. Film ini sangat cocok ditonton untuk anak-anak dan seluruh keluarga. Penuh dengan fantasi dan imajinasi, kepolosan dan alami anak-anak disuguhkan dalam cerita film ini. Unsur animasi juga disajikan di dalamnya.

Musik dan nyanyian melengkapi cerita dengan kata-kata baik yang dibungkus dalam nyanyian dan dan sedikit gerakan tari. Bagian itu mengambil durasi 5 sampai 10 menit. Dan bagi saya yang tak terlalu suka film musikal, hal tersebut tak terlalu menarik perhatian saya.

Nilai: ∗∗∗/5

Captain Marvel (2019)

Barangkali salah satu film Marvel yang ditunggu-tunggu tahun ini adalah film Captain Marvel. Saya bukan pecinta film Marvel, akan tetapi alasan yang menarik saya untuk menonton film ini adalah karakter utama wanita dalam Captain Marvel, yep Brie Larson, peraih penghargaan Academy Awards untuk akttak terbaik tahun 2015.

Captain Marvel merupakan film laga, petualangan, aksi-ilmiah Amerika. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Anna Boden dan Ryan Fleck. Captain Marvel dibintangi oleh Brie Larson, Samuel L. Jackson, Jude Law, Ben Mendelsohn, Lashana Lynch, Annette Bening, Gemma Chan, dan masih banyak lagi.

Captain Marvel rilis di Amerika Serikat dan seluruh dunia (termasuk Indonesia) pada 8 Maret 2019, hari ini pada saat tulisan ini dipublikasikan.

Captain Marvel mengisahkan seorang pilot angkatan udara wanita, Carol Danvers (Brie Larson), yang memiliki kekuatan listrik akan tetapi ia sendiri tak ingat siapa dirinya sebelum menjadi ras alien.

Tinggal diperadaban Kree, Carol Danvers yang sedang belajar melatih fokus dan emosionalnya dalam mengendalikan kekuatannya dilatih oleh Yon-Rogg (Jude Law) yang memanggilnya Vers.

Tempat mereka tinggal diserang oleh makhluk alien lainnya, Talos (Ben Mendelsohn), dan anak buahnya. Mereka berhasil mengalahkan Vers dan membawanya ke tempat mereka untuk dipaksa mengingat semua hal tentang Dr. Lawson. Karena dari ingatan tersebut Talos ingin mendapatkan mesin kecepatan cahaya.

Berusaha keras melawan ‘jeratan’ Talos, Vers berhasil melepaskan diri hingga membuatnya dan Talos juga anak buahnya turun ke bumi atau mereka sebut planet C-53.

Pendaratan Vers di suatu tempat membuat polisi dan S.H.I.E.L.D turun tangan karena membuat tempat tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah. Salah satu agen S.H.I.E.L.D, Nicholas Fury atau Fury (Samuel Jackson) menangani kasus tersebut.

Alur cerita Captain Marvel maju mundur. Rangkaian cerita film ini tipikal film Marvel. Tidak terlalu ringan tidak juga terlalu berat. Tidak bagus sekali atau tidak jelek jjuga. Ada kejutan di pertengahan cerita yang membuat film ini memiliki plot twist.

Mengenai visual efek, untuk ukuran film Marvel tak perlu diragukan lagi. Satu ikon menggemaskan mengisi cerita film ini. Yaitu Goose si kucing lucu nan menggemaskan.

Layakkah film ini  untuk ditonton? Tentu layak. Karena banyak keseruan, kelucuan, dan aksi-aski laga yang cukup menghibur penonton.

Dan, bagi saya sebagai seorang perempuan, selalu menyenangkan menyaksikan film superhero perempuan yang berani dan tangguh (nggak pake seksi alias menonjolkan salah satu bagian tubuhnya). Secara psikologis, karakter tersebut mampu memberikan kekuatan dan ketangguhannya. 😁😂🤣

Berbeda dari karakter-karakter di film sebelumnya, Room (2015) dan Basmati Blues (2017), menyaksikan Brie Larson bermain dalam film laga ini cukup menyenangkan meskipun khas Brie Larson masih melekat dalam karakter Carol Danvers atau Vers.

Nilai: ∗∗∗∗/5