Level 16 (2019)

Pada umumnya asrama, baik asrama untuk anak-anak yatim piatu atau pun asrama untuk anak-anak yang ingin belajar secara khusus, adalah tempat dimana anak dilatih menjadi pribadi yang lebih baik secara akademik dan perilaku oleh para pengajar profesional dengan cara yang baik dan wajar. Namun hal itu tidak demikian yang terjadi di sekolah asrama The Vestalis Academy dalam film Level 16.

Level 16 merupakan film drama misteri fiksi-ilmiah Kanada. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Danishka Esterhazy. Level 16 rilis di Kanada pada 1 Maret 2019.

Film yang memiliki durasi selama kurang lebih satu jama empat puluh dua menit ini dibintangi oleh Katie Douglas, Celina Martin, Sara Canning, Peter Outerbridge, Amalia Williamsom, Joelle Farrow, Josette Halpert, Kiana Madeira, Kayleigh Shikanai, Alexis Whelan, dan masih banyak lagi pemain pendukung lainnya.

Level 16 mengisahkan seorang gadis enam belas tahun, Vivien Leigh (Katie Douglas), yang berada di sebuah asrama sekolah yang bernama The Vestalis Academy bersama banyak anak perempuan lainnya. Diantaranya adalah Sophia (Celina Martin), Rita (Amalia Williamsom), Veronica (Joelle Farrow), Olivia (Josette Halpert), Clara (Kiana Madeira), Greta (Kayleigh Shikanai), dan Ava (Alexis Whelan).

Asrama tempat mereka tinggal memiliki aturan yang sangat ketat. Segalanya diatur, dari berkumpul di satu ruangan, minum vitamin, hingga membersihkan wajah.

Di setiap sudut, selain toilet, dipasangi kamera untuk mengawasi dan mengatur semua sistem yang ada. Apabila salah satu dari mereka tidak menjalankan atau melewatkan sedikitpun waktu yang sudah diterapkan, maka ia harus menjalankan hukuman.

Bukan hanya itu, peraturan lainnya adalah anak-anak remaja perempuan ini harus selalu patuh, sopan, bersih, tidak boleh marah, dan tidak boleh melakukan kontak mata dengan tutor mereka, Miss Brixil (Sara Canning), pada saat ia sedang berbicara. Semua perilaku itu menentukan mereka untuk dapat naik level.

Di jam-jam tertentu mereka harus minum vitamin untuk membuat mereka tetap sehat, bersih, dan tidak terserang penyakit apapun demi menjaga tubuh dan kulit mereka tetap bagus dan cantik.

Vivien berteman baik dengan Sophia pada saat mereka masih kecil. Namun suatu kejadian memisahkan mereka karena Vivien kecil (Sarah DaSilva) harus dihukum atas ulah Sophia kecil (Lori Phun) yang meminta bantuan pada saat giliran Vivien harus membersihkan wajahnya.

Pada saat remaja, Vivien dan Sophia bertemu kembali di level 16 atau level terakhir. Level terberat, dimana anak-anak remaja ini harus mampu menjalani aturan-aturan yang mencakup 7 kebaikan dan 7 kejahatan. Ketika mereka lulus, mereka dijanjikan akan bertemu dengan keluarga baru yang akan mengadopsi mereka.

Sophia senang karena bisa bertemu dengan Vivien lagi. Tapi tidak dengan Vivien. Ia masih marah dengan apa yang Sophia lakukan padanya. Namun Sophia tetap berusaha mendekati Vivien. Sophia ingin menyampaikan sesuatu yang ia ketahui dan hal-hal janggal yang dilakukan oleh Miss Brixil dan Dr. Miro (Peter Outerbridge) sejak ia tak menelan vitamin dari level 13.

Menonton cerita awal film Level 19, saya pikir jalan cerita film ini akan mirip dengan film The Giver (2014), trilogi Maze Runner: The Death Cure (2018) , atau trilogi Divergent, namun perkiraan saya salah besar.

Sang penulis skenario yang juga menyutradarai film ini memberi akhir cerita yang tak bisa penonton tebak. Konsep dan ide cerita Level 16 bisa dibilang sangat menarik. Teka-teki tentang akan dijadikan apa dan untuk apa mereka dilatih dalam menjalankan 7 kebaikan dan menjauhi 7 keburukan membuat tanda tanya besar di pikiran penonton.

Level 16 bisa menjadi rekomendasi film untuk remaja dengan jalan cerita yang cukup menarik untuk ditonton. Porsi dialog dan adegan dalam film ini tidak berlebihan, sangat pas menurut saya.

Nilai: ∗∗∗∗∗/5

Isn’t It Romantic (2019)

Apa jadinya bila aktris lucu bertubuh tambun Rebel Wilson dan aktor ganteng Liam Hemsworth yang sama-sama berasal dari Australia ini bermain di satu film? Apakah akan jadi film yang lucu dan keren atau kah akan jadi film dengan cerita yang biasa-biasa saja? Jawabannya tentu dengan menonton film yang dibintangi oleh mereka berdua di film Isn’t It Romantic.

Tapi, sebelum menonton filmnya, silakan baca ulasan singkat yang saya tulis tentang film Isn’t It Romantic.

Isn’t It Romatic merupakan film drama komedi romantis Amerika. Film yang berdurasi kurang lebih selama satu jam dua puluh sembilan menit ini disutradarai oleh Todd Strauss-Schulson dan ditulis oleh Erin Cardillo dan Dana Fox. Selain Rebel Wilson dan Liam Hemsworth, film ini juga dibintangi oleh Adam Devine dan Priyanka Chopra, dan beberapa aktor pendukung lainnya.

Isn’t It Romantic rilis di Amerika Serikat pada 13 Februari 2019 dan rilis di Netflix pada 28 Februari 2019.

Isn’t It Romantic diawali dengan lagu Pretty Woman dan filmnya. Cantik, langsing, kisah cinta yang berakhir happy ending selalu menjadi mimpi Natalie (Rebel Wilson) yang memiliki bentuk tubuh yang tak pernah ia miliki. Ibunya mengatakan bahwa cinta tidak selalu berlangsung dan berakhir seperti kisah dalam dongeng-dongeng.

Perkataan itu melekat dalam pikiran Natalie hingga dewasa. Ia tak percaya adanya kisah cinta yang romantis meskipun ia merasakan suatu perasaan yang berbeda pada teman kerjanya, Josh (Adam Devine).

Meskipun pada suatu kejadian lucu dan sedikit menyakitkan yang membuatnya berada di tempat yang “berbeda”, pada saat seorang laki-laki tampan, Blake (Liam Hemsworth), jatuh cinta dan mencintainya dengan mengatakan:

When you meet your soulmate, he will make you calm. I feel very calm right now.”

Barisan kalimat itu tetap tak membuatnya tersanjung walaupun ia senang diperlakukan dan dilayani dengan sangat baik oleh Blake seperti seorang putri yang cantik jelita.

Berada di tempat yang bukan semestinya membuat Natalie mencari tahu siapa dirinya dan perasaannya.

Jalan cerita Isn’t It Romantic sama seperti tipikal film drama komedi romantis kebanyakan. Aksi lucu dan akting natural Rebel Wilson tak perlu diragukan. Yang saya pikir Liam Hemsworth akan berakting cool dalam film komedi ini, ternyata perkiraan saya salah.

Yang membuat sedikit berbeda dari film drama komedi romantis lainnya barangkali adanya suguhan nyanyian dan tarian yang dilakukan oleh para pemain yang membuat film ini lebih ceria. Dan salah satu lagu favorit saya di tahun 2000-an yang berjudul A Thousand Miles yang dinyanyikan oleh Vanessa Carlton menjadi  lagu latar musik film ini.

Terlepas dari kisah komedi romansa yang disajikan dalam film ini, mencintai diri sendiri jauh lebih penting sebelum mencintai orang lain. Hal itu berkaitan dengan bentuk tubuh yang menjadi stereotip kebanyakan masyarakat tentang perempuan bertubuh gemuk yang selalu dipandang sebelah mata terutama dalam masalah percintaan.

You can search the entire universe and never find a being more worthy of love more than yourself.”

Nilai: ∗∗∗/5

Bad Seeds (2018)

Bad Seeds merupakan film drama komedi Perancis. Judul asli film ini adalah Mauvaises Herbes. Film Bad Seeds disutradarai dan ditulis oleh Kheiron yang juga menjadi bintang utama dalam film ini.

Selain Kheiron, beberapa aktor menjadi pemain pendukung dalam film ini. Mereka adalah, Catherine Deneuve, André Dussollier, Louison Blivet, Adil Dehbi, Hakou Benosmane, Youssouf Wague, Ouassima Zrouki, Joseph Jovanovic, Ayment Wardane, dan lain-lain.

Bad Seeds mengisahkan tentang mantan anak jalanan yang bernama Waël yang hidup sebatang kara sejak perang meluluh-lantahkan kotanya dan para tentara yang telah membunuh keluarganya.

Waël kecil (Ayment Wardane) hidup di jalanan seorang diri dengan meminta-minta untuk bertahan hidup. Meskipun badannya kecil namun ia tak pernah kehabisan akal meskipun tak ada satu orang pun di jalan yang memberinya uang. Ya walaupun ujung-ujungnya ide yang muncul di kepalanya adalah akal bulus.

Hal itu terbawa hingga Waël dewasa (Kheiron). Ia bersama ibu adopsinya, Monique (Catherine Deneuve), yang juga menjadi partnert in crime menipu dan mencuri barang orang lain. Aksi mereka selalu berhasil ketika Waël berpura-pura mencuri tas Monique pada saat seseorang berjalan ke arah Monique, pada saat si target mengejar Waël, Monique beraksi mengambil barang milik si target.

Namun satu hari aksinya gagal ketika seorang laki-laki tua, Victor (André Dussollier), berjalan menuju Monique dan ia mengenali Monique sedangkan Waël tak tahu tentang itu dan tetap menjalankan aksinya. Victor berhasil mengejar Waël dan aksi mereka tertangkap basah oleh Victor.

Untuk lepas dari tuntutan karena telah menipu Victor, Victor memberi “hukuman” pada Waël untuk bersedia menjadi guru pengganti dari enam anak bermasalah; Shana (Louison Blivet), Fabrice (Adil Dehbi), Karim (Hakou Benosmane), Ludo (Youssouf Wague), Nadia (Ouassima Zrouki), dan Jimmy (Joseph Jovanovic), di sekolah milik Victor. Sedangkan Monique diminta menjadi sekretaris Victor tanpa dibayar sepeserpun.

Di sekolah tersebut, menjadi seorang guru pengganti telah merubah perilaku Waël menjadi jauh lebih baik dan bermakna bagi orang lain, serta menggunakan otaknya yang cerdas dengan cara yang baik. Bukan hanya ia yang merubah perilakunya menjadi lebih baik, akan tetapi anak-anak yang ia ajarkan dengan caranya.

Ada beberapa film yang memiliki judul yang hampir sama bahkan sama persis meskipun dengan jalan cerita yang jauh berbeda. Dan itu hal yang biasa untuk penulis atau pun sutradara memilih judul film yang akan digunakan. Sama hal nya dengan film ini yang memiliki judul yang hampir sama dengan film Amerika The Bad Seed (2018), akan tetapi keduanya memiliki judul yang hampir sama dan dari sisi apa pun film ini jauh berbeda.

Alur cerita Bad Seeds maju mundur. Ide dan isu cerita yang diangkat oleh film ini sebenarnya sangat umum yaitu tentang anak-anak yang bermasalah yang butuh seseorang yang bisa mengubah hidup mereka menjadi lebih baik dan bermakna. Akan tetapi film ini menjadi sangat menarik untuk ditonton karena dikemas dengan sangat apik.

Banyak sisi-sisi menarik yang disuguhkan ke dalam cerita film ini meskipun hanya sepersekian detik saja sebagai bentuk pesan yang ingin disampaikan oleh film ini.

Lucu, sedikit sedih, terharu, gemas, menyenangkan, dan hal-hal baik saya rasakan pada saat menonton Bad Seeds.

Barisan kalimat sederhana yang diucapkan oleh Waël pada saat ia menggambar sebuah kepala binatang dengan satu sisi mirip kelinci dan sisi lainnya mirip bebek barangkali menjadi salah satu bagian dari inti cerita film ini. Nadia yang selalu merasa benar dan tak ingin dikalahkan menyebut gambar tersebut adalah kelinci sedangkan lima teman yang lainnya melihat gambar itu adalah bebek. Dengan bijak Waël mengatakan pada mereka,

Ini bukan tentang fakta, tapi tentang intepretasi dan cara pandang.”

Layakkah film ini untuk ditonton? Tentu sangat layak.

Nilai: ∗∗∗∗∗/5

Vox Lux (2018)

Vox Lux merupakan film drama musikal Amerika. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Brady Corbet. Cerita Vox Lux diangkat dari cerita Brady Corbet dan Mona Fastvold. Vox Lux dibintangi oleh Natalie Portman, Jude Law, Raffey Cassidy, Stacy Martin, dan beberapa pemain lainnya.

Vox Lux rilis premier di Venice International Film Festival yang ke-75 pada 4 September 2018, di Toronto International Film Festival pada 7 September 2018, di New Orleans Film Festival pada 23 Oktober 2018, di Amerika Serikat pada 7 Desember 2018, dan di Kuwait pada 20 Desember 2018.

Film yang berdurasi selama kurang lebih satu jam lima puluh empat menit ini mengisahkan seorang penyanyi Celeste Montgomery yang mengalami masa-masa ups and downs menjadi artis terkenal.

Di tahun 2000-2001, seorang remaja 14 tahun, Celeste Montgomery (Raffey Cassidy), yang tidak pernah diduga menjadi terkenal setelah bernyayi bersama kakaknya Eleanor Montgomery atau Ellie (Stacy Martin) yang mengiringinya dengan piano.

Berawal dari pembunuhan masal yang dilakukan oleh pemuda yang bernama Cullen di sekolah Celeste. Dalam kejadian tersebut, Cullen menembak guru dan beberapa teman Celeste. Meskipun terluka secara fisik dan psikis, Celeste selamat dari tragedi tersebut.

Setelah benar-benar pulih, Celeste menyanyikan lagu yang ia ciptakan sendiri berdasarkan pengalamannya dengan iringan piano Ellie. Tanpa diduga, penampilannya membawa Celeste menjadi penyanyi terkenal. Bersama Ellie dan Manajernya (Jude Law), Celeste melakukan rekaman, membuat video, dan terus dilatih menjadi seorang bintang besar.

Karir Celeste terus melejit meskipun ia harus kehilangan masa remaja dan kepolosannya. Pada usia 31 tahun, Celeste (Natalie Portman), bersama Ellie dan manajernya, mempersiapkan konser besar Celeste.

Namun sayangnya beberapa hari menjelang konsernya, terjadi penembakan yang dilakukan para teroris yang menggunakan ikonografi Ellie. Tentunya hal itu menjatuhkan nama baiknya.

Ellie sangat amat tertekan sehari sebelum konser, akan tetapi anak remaja Celeste, Albertine atau Alby (Raffey Cassidy), menjadi kekuatannya. Yep, aktris Raffey Cassidy memerankan dua karakter dalam film ini.

Bukan hanya dialog para karakter yang menceritakan jalannya cerita Vox Lux, namun narasi dalam beberapa adegan yang dibawakan oleh Willem Dafoe menjadi bagian penting dalam cerita ini.

Jalinan cerita Vox Lux sangat sederhana dan bisa dibilang sedikit membosankan menurut saya. Dengan dibagi ke dalam tiga adegan, hanya bagian final yang cukup menarik bagi saya. Salah satunya adalah yel yel yang diucapkan oleh Celeste dan para penarinya di belakang panggung menjelang detik-detik konser Celeste dimulai. Begini bunyinya:

Who’s the badass bitch in this room? You are!

Who’s the sickest band on the planet? We are!

Who makes this possible? We do.

Are we gonna be good? No.

Are we gonna be great? No

Are we gonna be amazing? No

Then what are we gonna be? Phenomenal!

Nilai: ∗∗∗/5

Destroyer (2018)

Bukan Nicole Kidman namanya bila aktingnya biasa biasa saja atau monoton. Karakter dan penampilan Nicole Kidman dalam film Destroyer cukup berbeda dari film-film sebelumnya. Jangan harap akan melihat Nicole Kidman tampil cantik atau pun menawan dalam film ini. Karena penampilan seperti itu tak akan ada dalam karakter yang ia mainkan dalam film Destroyer. Meskipun begitu, ia bermain sangat apik dalam film ini. Tak heran bila karena karakter yang Nicole Kidman mainkan mendapatkan nominasi sebagai aktris terbaik di ajang penghargaan Golden Globe Awards ke-76.

Destroyer merupakan film drama action Amerika. Film yang berdurasi selama kurang lebih dua jam ini disutradarai oleh Karyn Kusama dan ditulis oleh Phil Hay dan Matt Manfredi. Destroyer dibintangi oleh Nicole Kidman, Sebastian Stan, Jade Pettyjohn, Toby Kebbell, Tatianan Maslany, dan beberapa pemain pendukung lainnya.

Destroyer rilis premier di Festival Film Telluride pada 31 Agustus 2018 dan rilis di Amerika Serikat pada 25 Desember 2018.

Destroyer mengisahkan seorang detektif LAPD wanita, Erin Bell (Nicole Kidman), yang melakukan tugasnya dengan menyamar untuk menghancurkan sekelompok gengster yang hendak melakukan perampokan bank.

Penyamaran Bell hampir berhasil, namun sayangnya berakhir tragis hingga membuatnya seperti kehilangan orang-orang yang ia sayangi di masa lalunya dan berlanjut di masa kini.

Dengan kekuatan fisik dan psikis yang masih membekas di ingatannya, Erin Bell menghadapi sendiri masalah dari masa lalunya yang belum tuntas.

Alur cerita Destroyer maju mundur. Jalinan cerita film ini sama seperti film-film action pada umumnya yang dibumbui dengan baku hantam dan baku tembak. Selain karakter Nicole Kidman yang memerankan Erin Bell, ide cerita yang diangkat dalam film ini tak ada yang menarik bagi saya.

Nilai: ∗∗∗/5

Trading Paint (2019)

Trading Paint merupakan film action, drama, sport Amerika. Film ini disutradarai oleh Karzan Karden dan ditulis oleh Gary Gerani dan Craig R. Welch.

Trading Paint dibintangi oleh John Travolta, Shania Twain, Toby Sebastian, Rosabell Laurenti Sellers, Michael Madsen, dan beberapa pemain pendukung lainnya. Film yang berdurasi selama kurang lebih satu jam dua puluh tujuh menit ini rilis di Amerika pada 22 Februari 2019.

Trading Paint mengisahkan seorang pembalap mobil veteran, Cam Munroe (John Travolta), yang telah pensiun menjadi pembalap. Cam memiliki seorang anak laki-laki, Sam Munroe (Toby Sebastian), yang juga seorang pembalap.

Meskipun tak lagi menjadi pembalap,  Cam menjalankan bisnis di bidang balapan yang mana ia memanajeri pertarungan anaknya di lapangan.

Ketika bisnis mereka tak berjalan lancar, Sam yang telah memiliki seorang istri, Cindy (Rosabell Laurenti Sellers), dan seorang bayi membutuhkan cukup uang untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Mendapat tawaran menarik dari Bob Linsky (Michael Madsen), Sam meninggalkan Cam. Hal tersebut menjadi konflik antara anak dan ayah.

Tak ada penghasilan yang bisa diandalkan dari bisnisnya, Cam turun kembali ke area balapan. Secara otomatis, anak dan bapak menjadi rival di lapangan.

Rangkaian cerita Trading Paint sangat ringan. Cerita tentang konflik keluarga, ego, kemarahan, kebencian, dan keseimbangan kompetisi disuguhkan dalam film ini dengan sangat sederhana.

Film bertema balapan bukan tipikal film yang saya minati. Namun yang menarik saya untuk menonton film ini adalah karena salah satu penyanyi favorit saya, Shania Twain bermain dalam film ini. Trading Paint merupakan film pertama Shania Twain. Mendapat karakter yang tak terlalu rumit, Shania Twain berakting cukup baik dan natural. Ia berperan sebagai Becca, kekasih Cam Munroe.

Bagi kamu yang suka film dengan cerita yang sederhana atau bertemakan olahraga (balapan), film ini bisa jadi rekomendasi film yang layak buat ditonton.

Nilai: ∗∗∗/5

Ben Is Back (2018)

Senyum khas The Pretty “Julia Roberts” Woman menjadi adegan pembuka film Ben Is Back.

Ben Is Back merupakan film drama Amerika. Film ini disutradarai dan ditulis Peter Hedges. Ben Is Back dibintangi oleh Julia Roberts, Lucas Hedges, Courtney B. Vance, Kathryn Newton, Mia Fawler,  Jakari Fraser, beberapa pendukung lainnya.

Film yang berdurasi selama kurang lebih satu jam empat puluh tiga menit ini rilis premier di Toronto International Film Festival pada 8 September 2018,  rilis di Spanyol pada 5 Desember 2018, dan rilis di Amerika pada 7 Desember 2018.

Ben Is Back mengisahkan seorang ibu, Holly Burns (Julia Roberts), yang berjuang melepaskan anaknya, Ben Burns (Lucas Hedges), dari kecanduan narkoba sepulangnya Ben dari tempat rehabilitasi pada malam natal.

Malam itu, Holly tak menyangka bahwa Ben yang sedang berada di tempat rehabilitasi pulang. Dengan perasaan percaya tak percaya, Holly yang baru pulang dari gereja bersama tiga anaknya yang lain, Ivy Burns (Kathryn Newton), Lacey Burns-Beeby (Mia Fawler), dan Liam Burns-Beeby (Jakari Fraser), memeluk Ben penuh suka cita.

Kepulangan Ben ke rumah karena ia mendapat sponsor yang menyatakan bahwa ia telah bersih dari narkoba selama 77 hari.

Tidak serta-merta bahagia dengan kepulangan Ben, Holly harus tetap meyakinkan bahwa Ben benar-benar bersih dengan mengawasinya selama 24 jam.

Kemana pun Ben pergi, Holly ikut. Bahkan ketika mereka pulang ke rumah, Holly harus memeriksa seluruh badan Ben bahwa ia tidak menyelipkan atau menyembunyikan barang haram tersebut. Apa yang dilakukan Holly membuat Ben merasa sedikit risih meskipun ibunya sendiri yang memeriksanya.

Ben: “This is humiliating, Mom.”

Holly: “No, this is love.”

Kata-kata Holly sangat sederhana akan tetapi terdengar sangat kuat dan masuk akal.

Sehari Ben di rumah, semua nya berjalan normal. Pada malam hari, tepatnya di hari natal, mereka sekeluarga pergi ke gereja. Ben nampak sangat terharu mendengar kidung natal yang dinyanyikan oleh paduan suara gereja yang salah satunya adalah adiknya, Ivy. Ben menangis tersedu meresapi tiap isi lantunan lagu tersebut.

Pada saat mereka pulang, anjing kesayangan mereka, Ponce, hilang. Ben tiba-tiba merasa bersalah atas hilangnya Ponce. Ia merasa bahwa hilangnya Ponce berhubungan dengan kepulangannya ke rumah.

Neal Beeby (Courtney B. Vance), ayah tiri Ben, berniat untuk menghubungi polisi untuk menemukan Ponce. Akan tetapi hal itu dicegah oleh Holly yang memilih untuk mencarinya bersama Ben yang sudah pergi terlebih dahulu mencari Ponce.

Malam natal yang seharusnya menjadi malam istimewa berkumpul bersama keluarga, justru menjadi malam yang berat bagi Holly, juga Ben dalam bentuk yang berbeda.

Jalinan cerita dan konflik Ben Is Back sangat sederhana. Meskipun begitu, jalan ceritanya terus bergerak dan tidak membosankan menurut saya.

Dengan akting Julia Roberts yang tak perlu diragukan lagi, penonton dibawa merasakan perjuangan, kepedulian, kekuatan, kekecewaan, dan putus asa nya menghadapi anak yang sedang dalam tahap lepas dari kecanduan.

Narkoba, gereja, dan tuhan menjadi kombinasi bagian cerita yang diangkat dalam film ini. Dan untuk lepas dari rasa candu, perjuangan bukan hanya berlaku untuk orang terdekat yang harus membantu, akan tetapi bagi si pecandu itu sendiri.

Nilai: ∗∗∗/5

Instant Family (2018)

Tanpa hamil, merasakan ngidam, dan sesuatu yang berhubungan dengan hormonal selama kehamilan, pasangan suami istri, Pete dan Ellie, bisa langsung punya tiga anak sekaligus dalam satu waktu dalam film Instant Family.

Instant Family merupakan film drama komedi Amerika. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Sean Anders, yang mana film ini diangkat berdasarkan pengalamannya sendiri. Dalam menulis skenario film ini Sean Anders dibantu oleh John Morris.

Film yang berdurasi kurang lebih selama satu jam lima puluh delapan menit ini dibintangi oleh Mark Wahlberg, Rose Bryne, Isabela Moner, Gustavo Quiros, Julianna Gamiz, Octavia Spencer, Tig Notaro, dan masih banyak pemain pendukung lainnya. Instant Family rilis di Amerika pada 16 November 2018.

Karena ejekan keluarga, Peter Wagner atau Pete (Mark Wahlberg) dan Ellinore Wagner atau Ellie (Rose Byrne) mendatangi tempat kursus untuk menjadi orangtua asuh yang dipandu oleh Karen (Octavia Spencer) dan Sharon (Tig Notaro).

Bersama pasangan lainnya, baik pasangan normal atau pun sesama jenis, masing-masing pasangan mengutarakan apa yang mereka inginkan untuk mengadopsi anak, anak seperti apa yang mereka inginkan, dan semua hal yang berhubungan menjadi orangtua.

Kemudian mereka mendatangi sebuah taman dimana di tempat itu terdapat banyak anak yang tersedia untuk diadopsi, dari anak-anak hingga remaja. Tak menemukan satu pun anak yang cocok dimata mereka, mata Pete tertuju kepada kumpulan anak-anak remaja dengan gaya mereka yang nampak menyebalkan tapi justru menarik perhatian Pete.

Pada saat Pete hendak mendekati para remaja tersebut, Ellie tidak menyetujuinya karena mereka pembuat masalah, pecandu obat-obattan, dan hal-hal negatif lainnya tentang remaja dimata Ellie. Lalu seorang gadis remaja 15 tahun, Lizzy Viara (Isabela Moner), yang mendengar argumentasi Pete dan Ellie mendatangi mereka dengan mengatakan bantahannya tentang remaja dengan lugas.

Mendengar apa yang dikatakan oleh Lizzy, Pete dan Ellie langsung jatuh hati dan ingin mencobanya menjadikan Lizzy sebagai anak asuh mereka. Dan ketika mereka tahu bahwa Lizzy memiliki dua orang adik, Juan (Gustavo Quiroz) dan Lita (Julianna Gamuz), hal itu tidak menjadi masalah bagi Pete dan Ellie karena niat mereka yang mulia.

Pete dan Ellie sangat bersemangat menjemput Lizzy, Juan, dan Lita. Tak ada yang aneh dari sikap dan perilaku mereka di awal pertemuan. Pete dan Ellie sangat menikmati rasanya menjadi orangtua. Hingga rasa dan sensasi yang sebenarnya muncul ketika Lita, Juan, dan Lizzy menunjukkan perilaku natural mereka sebagai seorang anak tanpa orangtua, karena ibu mereka berada di penjara atas kasus kecanduan narkoba.

Dari satu masalah ke masalah lain harus Pete dan Ellie hadapi.

Rangkaian cerita Instant Family sangat sederhana akan tetapi cukup menarik. Kejadian-kejadian yang terjadi dalam kisah ini sangat mengacu kepada apa yang terjadi di dunia nyata, sangat realistis.

Beberapa adegan tersaji sangat umum dan natural seperti layaknya yang terjadi pada setiap orangtua atau pasangan yang baru menjadi orangtua. Dan beberapa adegan terasa sangat emosional meski tanpa kata. Rasa haru, sedih, bahagia, dan lucu menjadi suguhan rasa yang bisa dinikmati bagi penonton.

Menyimpulkan keseluruhan cerita, pada intinya film ini menunjukkan bagaimana seorang pasangan membangun sebuah keluarga yang mana untuk menjadi orangtua harus mengenal seorang anak lebih dalam dan lebih dekat baik secara emosional maupun tindakan. Dan pastinya harus siap secara mental.

Apakah Pete dan Ellie berhasil menjadi orangtua, mampu melewati masalah-masalah yang dimunculkan oleh Lizzy, Juan, dan Lita dengan baik dan bijaksana, dan mengadopsi anak-anak itu? Jawabannya adalah dengan menonton keseluruhan film ini. 😁

Layakkah film ini untuk ditonton? Tentu layak.

Bagi kamu (terutama pasangan yang ingin memiliki anak atau akan dan sedang memiliki anak) yang suka film dengan genre drama komedi, Instant Family bisa menjadi tontonan yang patut buat ditonton.

Nilai: ∗∗∗∗∗/5

Handle with Care (Sentuh dengan Hati-hati)

Terkadang kau harus menjadi ibu yang buruk demi menjadi ibu yang baik.”

Kalimat tersebut tertulis di cover depan buku terjemahan Handle with Care yang ditulis oleh Jodi Picoult.

Handle with Care terbit pada tahun 2009 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan pada tahun 2014 oleh Gramedia Pustaka Utama. Handle with Care diterjemahkan dengan judul Sentuh dengan Hati-hati. Buku ini diterjemahkan oleh Ariyantri Eddy Tamam.

Sentuh dengan Hati-hati menceritakan tentang kisah nyata sebuah keluarga dengan salah satu anggota keluarga yang mengidap Osteogenesis Imperfecta atau OI tipe III. OI adalah sebuah penyakit tulang rapuh atau sejenis gangguan struktur tulang.

Dalam penulisan kisah ini, Jodi Picoult melakukan riset pada para orangtua yang memiliki anak pengidap OI. Bahkan ia mengikuti konvensi tentang penyakit ini. Dalam kisah yang ditulis, sang penulis menyamarkan nama-nama akan tetapi peristiwa yang nyaris sama.

Buku dengan tebal 637 halaman ini mengisahkan bagaimana seorang ibu Charlotte O’Keefe, ayah Sean O’Keefe, dan kakak Amelia O’Keefe yang hidup dengan penuh kehati-hatian bersama salah satu anggota keluarga mereka yang mengidap OI, Willow O’Keefe. Bagaimana kekuatan itu lebih daripada sekadar ukuran stamina fisik bagi mereka.

Rangkaian cerita Sentuh dengan Hati-hati dibuat tidak seperti cerita dengan bentuk bab per bab. Akan tetapi dibuat dengan cerita pengalaman masing-masing karakter tentang apa yang mereka alami pada saat bersama Willow, seperti sebuah diary. Namun meskipun demikian, struktur umum layaknya sebuah cerita novel tetap ada dalam buku ini. Pembaca dibawa merasakan pada tiap peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh yang ada dalam cerita ini.

Dari segi cerita dengan ketebalan halaman yang lumayan banyak memang terasa membosankan dengan konflik yang terbilang biasa saja. Namun menjadi sedikit menarik untuk dibaca karena di dalamnya terdapat banyak istilah kedokteran dan istilah lainnya yang bisa menambah wawasan saya. Seperti kata:

  • Pamidromate = Obat untuk mengobati kadar kalsium darah yang tinggi dan masalah tulang tertentu.
  • Spica = Bintang yang paling terang pada rasi bintang Virgo
  • Skoliosis = Kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang.
  • Lysistrata = Sebuah karya dari Aristophanes yang mengisahkan kaum perempuan yang membawa semangat feminisme ditengah ancaman perang Athena dan Sparta.
  • Fibrotis sistik = Penyakit genetika yang menyebabkan lendir-lendir di dalam tubuh menjadi kental dan lengket sehingga menyumbat berbagai saluran, terutama saluran pernapasan dan pencernaan.
  • Sonogram = Rekaman atau gambar yang dihasilkan dari pemeriksaan ultrasonik.
  • Fraktur = Setiap retak atau patah pada tulang yang utuh atau terputusnya kontinuitas tulang.
  • Resutisasi = Tindakan untuk menghidupkan kembali atau memulihkan kembali kesadaran seseorang.
  • Faktur Fremur = Patah, retak, atau cedera himpitan tulang paha.
  • Tibia = Satu dari dua tulang yang lebih besar dan lebih kuat yang berada di bawah lutut pada vertebrata, yang menghubungkan lutut dengan tulang pergelangan kaki.
  • Kompresi vertebra = Patah tulang pada tulang belakang.
  • Fibula = Sebuah tulang lutut yang terletak di bagian lateral dari tibia, dan tulang Fibula terhubung dengan tibia di bagian atas dan bawah.
  • Ulna = Tulang panjang di bagian lengan medial lengan bawah. Terletak sejajar dengan tulang pengumpil.
  • Klavikula = Tulang panjang yang dimodifikasi memiliki dua kurva.
  • Scapula = Tulang belikat. Tulang yang menghubungkan tulang lengan atas dan tulang selangka.
  • Sternum = Tulang dada. Tulang tipis berbentuk pisau yang terletak di sepanjang garis tengah tubuh manusia.
  • DIC (Koagulasi Intravaskular Diseminata) = Nama sebuah penyakit.
  • Amniosentesis = Tes untuk mengetahui kelainan genetik pada bayi dengan memeriksa cairan ketuban atau cairan amnio.
  • Endokardium = Lapisan terdalam dari jaringan jantung yang melapisi rongga dan katup jantung.
  • Abdomen = Istilah yang digunakan untuk menyebut bagian dari tubuh yang berada di antara thorax atau dada dan pelvis di hewan mamalia dan vertebrata.
  •  Hidronefrosis = Pembengkakan ginjal yang disebabkan oleh akumulasi urin dalam ginjal.
  • Echogenic Bowel = Jenis ultrasound markers yang juga berpeluang muncul pada pemeriksaan USG.
  • Gestational Trophoblastic Neoplasia = istilah kolektif untuk penyakit trofoblas gestasional yang menyerang secara lokal atau bermetastasis.
  • Tranduser = Suatu alat yang dapat mengubah suatu bentuk energi ke bentuk energi lainnya.
  • Fetus = Mamalia yang berkembang setelah fase embrio dan sebelum kelahiran.
  • Wormian = Tulang kecil yang terbentuk dalam jahitan dari pusat terisolasi osifikasi antara komponen utama dari kubah tengkorak.
  • Torso = Batang tubuh atau merupakan bagian dari tubuh manusia beserta anggota badan yang terpasang.
  • Prognosis = Ramalan tentang peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang berhubungan dengan penyakit atau penyembuhan setelah operasi.

Bukan hanya itu, beberapa resep masakan menjadi bagian dalam cerita Sentuh dengan Hati-hati. Bebeberapa kutipan pun cukup menarik untuk dibaca dan diresapi maknanya. Diantaranya adalah:

Dan apakah kau mendapatkan yang kau inginkan dari hidup? 

Aku dapat. 

Dan apa yang kau inginkan? 

Menyebut diriku yang tercinta, untuk merasa diriku dicintai di dunia ini.” – Raymond Carver, Late Fragment –

 

Banyak benda akan patah, termasuk hati. Pelajaran tentang kehidupan bukan menghasilkan kebijakan, akan tetapi parut dan kalus.” – Wallace Stegner, The Spectator Bird –

Nilai: ∗∗∗∗/5

The Prodigy (2019)

Lahirnya seorang bayi atau anak selalu menjadi harapan dan hal yang ditunggu-tunggu bagi para orangtua. Sama halnya seperti pasangan John Blume dan Sarah Blume yang telah menanti kelahiran anak pertama mereka, Miles Blume. Tidak seperti anak-anak yang lain, Miles memiliki salah satu fisik dan perilaku berbeda setelah beberapa bulan ia lahir.

The Prodidy merupakan film horor thriller Amerika. Film yang sedang tayang di bioskop Indonesia ini (waktu ketika tulisan ini dipublikasikan) disutradarai oleh Nicholas McCarthy dan ditulis oleh Jeff Buhler.

The Prodigy dibintangi oleh Taylor Schilling, Jackson Robert Scott, Peter Mooney, Paul Fauteux, Paula Boudreau, Colm Feore, dan beberapa pemain pendukung lainnya. Film yang berdurasi kurang lebih selama satu jam tiga puluh dua menit ini rilis di Amerika Serikat pada 8 Februari 2019.

Kelahiran Miles merupakan hal yang paling membahagiakan bagi Sarah (Taylor Schilling) dan John (Peter Mooney). Meskipun Miles lahir dengan warna mata yang berbeda (satu berwarna biru yang satu berwarna cokelat yang disebut dengan heterokromia), hal itu tidak menghapus kebahagiaan mereka. Ditambah lagi dengan pertumbuhan Miles yang sangat cepat. Ia sudah bisa berbicara sebelum waktunya dan memiliki otak yang cerdas. Tidak menganggap hal itu sebuah keanehan, Sarah justru berpikir bahwa Miles adalah anak spesial.

Untuk meyakinkan dan mencari tahu hal tersebut, Sarah membawa Miles kepada seorang dokter psikologi, Dr. Elaine Strasser (Paula Boudreau). Berdasarkan tes yang dilakukan pada Miles, Elaine mengatakan bahwa Miles memang tidak seperti anak-anak pada umumnya.

Setelah pemeriksaan tersebut, perilaku Miles masih nampak seperti anak-anak pada umumnya. Namun ketika usia Miles menginjak delapan tahun, ia mulai menunjukkan perilaku aneh dan cenderung mengerikan dan membahayakan orang lain.

Pertama, pada saat Sarah dan John pergi, Miles yang saat itu dijaga oleh seorang baby sitter, Zoe (Elisa Moolecherry), menunjukkan perilaku yang tak wajar. Pada saat mereka bermain petak umpet, Miles sengaja memecahkan kaca bohlam dan benda yang terbuat dari kaca lalu menaruhnya di anak tangga ruang bawah tanah yang mana ia tahu bahwa Zoe akan melewatinya. Pada keesokan harinya, Miles sengaja memukul temannya hingga membuat tulang kepalanya retak. Ketika ia ditanya tentang kejadian-kejadian itu, Miles selalu mengatakan bahwa ia tidak mengingat apapun.

Dari kejadian tersebut, Sarah membawa Miles ke Elaine serta memberikan rekaman igauan Miles pada saat ia tidur dengan bahasa lain yang tak mereka mengerti. Untuk mencari tahu lebih jauh, Elaine menghubungi koleganya yang seorang ahli Rebirth dan Reinkarnasi, Arthur Jacobson (Colm Feore).

Arthur mengatakan bahwa bahasa yang digunakan Miles adalah bahasa Hongaria. Yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa inggris adalah “I’ll cut your eyes out and watch you die, whore.” Arthur juga mengatakan bahwa Miles telah dimasuki seseorang yang sedang berreinkarnasi. Parahnya orang tersebut adalah orang sangat berbahaya.

Mengetahui semua penjelasan tersebut, Sarah tidak mempercayai itu. Begitu juga dengan John. Bahkan mereka sedikit berdebat dan saling menyalahkan atas perilaku dan keanehan Miles.

When I leave my body, bad things happen.”

Ujar Miles kepada Sarah sambil terisak ketika hal-hal buruk terjadi.

Kekhawatiran dan ketakutan orangtua, terutama seorang ibu terasa dalam cerita ini. Meskipun rasa dilema menghantui mereka dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada Miles, akan tetapi Sarah dan John adalah orangtua yang berusaha menjadi orangtua yang baik bagi anaknya.

Melihat judul The Prodigy mengingatkan saya pada film Prodigy (2017). Namun ketika melihat cerita yang disajikan oleh film ini, keduanya memiliki jalan dan rangkaian cerita yang jauh berbeda.

The Prodigy (2019) menyajikan konsep cerita yang menggabungkan hal supernatural, reinkarnasi, dan hipnotis, sedangkan cerita film Prodigy (2017) sangat psikologikal. Namun kedua film ini cukup menarik bagi saya.

Beberapa adegan dalam The Prodigy mampu memberikan efek jumpscare pada saat menonton film ini. Film ini menyuguhkan cerita dengan plot twist. Dengan cerita yang terus mengalir dan hampir sama dengan jalinan cerita film horor yang pernah ada, saya berusaha menebak akhir ceritanya. Tapi ternyata tak sesuai dengan perkiraan saya.

Akting Jack Robert Scott sangat memukau dalam memainkan karakter Miles. Dua kepribadian sebagai anak kecil dengan kealamiannya dan menjadi orang lain yang sudah dewasa dan sangat jahat dimainkan dengan sangat baik dan sempurna olehnya.

Layakkah film ini untuk ditonton? Tentu sangat layak.

Nilai: ∗∗∗∗/5