Turtles Can Fly (2005)

Turtles Can Fly merupakan film drama perang pada rezim Saddam Husein. Film ini adalah film pertama yang dibuat di Iraq setelah jatuhnya Saddam Husein. Namun yang membuat film ini adalah orang Iran yang juga bersuku Kurdi.  Mengisahkan tentang kepiluan anak-anak pengungsi yang tinggal di perbatasan Iraq – Turki. Seorang anak laki-laki 13 tahun yang dipanggil Satelite (Soran Ebrahim) memimpin para pengungsi terutama anak-anak. Ia dianggap memiliki beberapa kemampuan, diantaranya: memperbaiki dan memasang antena untuk mendapatkan berita, ia juga mampu berbicara bahasa Inggris walau hanya sedikit. Ia memiliki 2 sahabat yang sangat setia, Pashow dan Shirkooh. Meskipun Pashow hanya memiliki 1 kaki (benar-benar cacat) dan menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan, namun ia adalah anak laki-laki yang kuat dan cekatan. Satelite jatuh cinta pada gadis yatim piatu Agrin (Avaz Latif), yang memiliki saudara laki-laki  Hengov (Hiresh Feysal Rahman), dan anak kecil buta yang selalu mereka gendong, Riga (Abdol Rahman Karim). Continue reading “Turtles Can Fly (2005)”

Instruction Not Included/No Se Aceptan Devoluciones (2013)

Instruction Not Included merupakan film drama komedi Spanyol (Meksiko). Judul original film ini adalah adalah No Se Aceptan devoluciones. Film ini disutradarai oleh Eugenio Derbez yang juga menjadi bintang utama dalam film ini. Lokasi syuting film ini diambil di Acapulco dan Los Angeles. Oleh sebab itu, film ini memakai 2 bahasa.

Instruction Not Included mengisahkan seorang laki-laki playboy, Valentin Bravo (Euginio Derbez), yang suka bergonta-ganti wanita untuk ia pacari. Saking banyaknya wanita yang ia pacari, ia tak ingat nama-nama dan wajah mereka. Masalah muncul ketika seorang wanita, Julie (Jessica Lindsey), datang pada Valentin dengan membawa bayi perempuan dan memberikan bayi itu padanya dengan mengatakan bahwa bayi itu adalah anaknya. Lalu ia langsung pergi tanpa menjelaskan lebih banyak kata pada Valentin.

Valentin yang masih suka bermain-main tentu saja tak ingin merawat bayi tersebut. Ia tak ingin kehilangan kebebasan dan kesenangannya demi merawat bayi. Valentin dan 2 temannya mencari cara supaya ia bisa mengembalikan bayi tersebut dengan mencari informasi tentang keberadaan Julie dari kotak besar yang Julie berikan pada Valentin sewaktu memberikan bayi itu. Dengan informasi dari selembar foto Julie, Valentin membawa bayi itu ke Los Angeles. Perjalanan menuju L.A tidak mudah bagi Valentin dengan membawa bayi. Dari kendala di jalan (karena ia memilih tidak naik pesawat), sampai ia tak mampu berbahasa Inggris, bahasa yang ia benci.

Kesempatan tak terduga datang menghampiri Valentin pada saat ia datang ke salah satu apartemen seorang pencari bakat (Frank) yang sedang mencari stuntman untuk projek filmnya. Laki-laki itu sedang mencari seorang stuntman yang bisa lompat dari lantai 13. Pada saat Frank sibuk menelepon, Valentin harus melompat dari lantai 10 gedung itu karena melihat bayi yang ia bawa merangkak ke kolam renang. Dari aksi itulah, Valentin mendapat pekerjaan sebagai stuntman untuk membiayai hidupnya dan si bayi di Los Angeles.

Sampai bayi itu, Maggie (Loreto Peralta), usianya sudah 7 tahun dan menjadi anak yang periang dan cerdas, Valentin masih belum menemukan Julie. Maggie memiliki kemampuan 2 bahasa, Bahasa Inggris dan Spanyol. Kemampuan bahasa Maggie menjadi mediator komunikasi bagi Valentin dan kru film dimana ia bekerja.

Tidak seperti niat awalnya mengembalikan Maggie pada ibunya, Valentin justru tidak ingin kehilangan Maggie.  Mengasuh dan bersamanya dari bayi hingga usia 7 tahun membuat Valentin sangat menyanyangi dan memanjakannya. Bahkan ia berbohong pada Maggie dengan menulis surat seolah-olah surat itu dari Julie, serta mencari sosok yang mirip dengan ibunya sesuai dengan (satu-satunya) foto yang Valentin miliki. Namun ketika Valentin mendapat panggilan telepon dan ia adalah ibunya Maggie, Valentin sangat bersedih. Ia tak ingin berpisah dengan Maggie.

Julie yang telah ‘membuang’ Maggie, tiba-tiba datang meminta Maggie untuk tinggal  bersamanya. Julie mengambil langkah hukum. Valentin terus-terussan diuji hidupnya atas usahanya bisa hidup bersama Maggie selamanya.

Straight to the review, rangkaian cerita film ini sangat menarik. Ada lucunya, sedihnya, juga sedikit sindiran pada situasi yang sedang terjadi di dunia. Salah satu bentuk satir adalah:

  • Beberapa hal terjadi di Meksiko, tentang korupsi, politik, macet, jalan berlubang, tim sepak bola nasional dan lain sebagainya.
  • Pada adegan Maggie membaca surat, isi surat tersebut menyindir keberadaan Al-Qaeeda dan pemanasan global.

Selain sindiran terdapat salah satu guyonan menarik ketika Valentin tak ingin merawat Maggie, temannya mengatakan “Telepon saja Angelina Jolie, mungkin dia mau mengadopsinya.”

Hal-hal menarik dalam film ini adalah:

  • Ketika Maggie membaca surat-surat yang ditulis oleh Valentin untuk Maggie. Adegan ini sangat kreatif, imajinatif, dan mengandung cerita anak-anak yang populer juga menunjukkan sedikit unsur satir. Setiap isi surat yang dibacakan Maggie selalu digambarkan dengan boneka-boneka seperti menonton pertunjukkan anak-anak atau story telling bergambar.
  • Meskipun Valentin dan Maggie adalah ayah dan anak perempuan, kadang mereka sangat kompak dan memakai baju yang sama.
  • Di 1:35:56, muncul sosok Johnny Depp sebagai saksi untuk Valentin di pengadilan.
  • Bahasa Spanyol (Meksiko) dan bahasa Inggris adalah bahasa yang Loreto Peralta (Maggie) gunakan dalam kehidupan nyatanya.
  • Akhir cerita ini tak bisa ditebak dan tak terduga.

Nilai: 4,5/5

 

After School Horror 2 (2017)

After School Horror 2 merupakan film horor yang dimainkan oleh para bintang remaja Indonesia. Film ini dikisahkan berlokasi di SMA Kharisma. Menceritakan tentang salah satu anak SMA tersebuat, Putra, yang jatuh cinta pada Eva. Tapi Eva tidak menyukai Putra. Karena kesal dengan Putra yang terus-terussan ‘mengejar’ cintanya, ia menantang Putra untuk uji nyali di gudang sekolah dengan menggambar wajah Sumarni. Sumarni adalah penghuni gudang yang hidup tahun 1950an yang akan selalu menghantui manusia yang berani masuk ke gudang itu dengan menggambar wajahnya. Tak pernah ada satupun yang selamat dari cengkeraman Sumarni bila ada orang yang berani masuk ke dalam gudang. Karena cintanya dengan Eva, Putra menyanggupi tantangan tersebut.

Dari awal Putra sudah diperingati oleh kedua sahabatnya, juga sepasang kekasih, Rangga (Randy Martin) dan Sandra (Cassandra Lee), namun ia tak menghiraukannya. Ia tetap maju dan meminta foto Sumarni dan media boneka pada seorang temannya.  Pada malam harinya Putra melakukan aksi tersebut. Eva memasang CCTV di dalam gudang dan meminta salah satu temannya untuk menakuti Putra. Namun sebelum temannya beraksi, putra sudah dicekik oleh arwah Sumarni sampai tak sadarkan diri. Rangga dan Sandra datang menyusul Putra untuk menghentikan aksi bodohnya, namun mereka terlambat. Sejak kejadian malam itu, bukan hanya putra yang selalu dihantui arwah Sumarni, tapi juga Sandra, Eva, dan dua teman dekatnya.

Jalan cerita film ini sangat tipikal film horor remaja pada umumnya yang mengisahkan seorang hantu gentayangan karena suatu peristiwa di masa lampau dan ‘dibumbui’ dengan penampakan-penampakan wajah si hantu dengan wajah dan backsound yang menyeramkan. That’s it. Saya tak mendapat pesan apa atau hal menarik apa yang ingin disampaikan oleh penulis atau sutradara dalam film ini untuk penonton.

Bagi para penggemar pasangan remaja Cassandra Lee dan Randy Martin, film ini bisa jadi referensi tontonan horor sederhana dengan sedikit menguji adrenalin karena penampakan-penampakan hantu yang bikin kaget. Namun bagi saya, menonton film ini karena tak ada pilihan lain. Saya dan teman saya yang ingin hang out, hanya punya waktu 2 jam, teman saya ingin menonton film horor, datang ke bioskop, film inilah yang sedang diputar di dalam teater. 🙂

Nilai: 2.5/5

August Rush (2007)

August Rush mengisahkan tentang seorang anak, Evan Taylor (Freddie Highmore), yang suka sekali mendengarkan irama musik dari bunyi benda-benda yang ada di sekelilingnya. Dari angin, udara, cahaya, bahkan hingar bingar kota mampu menghasilkan suara musik ke telinga dan jiwanya. Musik bertumbuh dalam dirinya.

Evan yakin bahwa hal tersebut didapat dari ‘darah’ orangtuanya yang tak pernah ia temui sejak lahir. Ia percaya pada musik seperti halnya orang-orang percaya pada dongeng. Ia juga percaya bahwa dengan musik, orangtuanya bisa menemukannya. Tak peduli teman-teman satu kamarnya mem-bully-nya dan menyebutnya aneh, bahkan ketika salah satu keluarga ingin mengadopsinya, Evan tetap yakin ia akan bertemu dengan keluarga yang sebenarnya.

Plot di awal cerita maju mundur. Mundur untuk menceritakan masa lalu orangtua Evan dan bagaimana Evan bisa tak bersama mereka. Namun di tengah cerita plotnya berjalan normal.

August Rush adalah nama beken yang digunakan Evan ketika ia berada di atas panggung dengan musiknya. Nama itu ditemukan ketika Evan dan Wizard (kepala penyanyi anak-anak jalanan yang menguasai hasil kerja mereka) sedang duduk di pinggir jalan dan melihat sebuah truk lewat dengan poster bertuliskan August Rush.

Selama beberapa waktu, Evan hidup dengan Wizard juga anak jalanan lainnya. Ia diasuh oleh Wizard sekaligus dimanfaatkan karena bakat musiknya yang tak biasa seperti anak-anak yang lain.

Perjalanan pencarian orangtuanya, membuat Evan mendapatkan banyak pengalaman tentang musik yang sebenarnya dan teknik bagaiman memainkan musik dengan irama yang menarik. Evan berhasil menjadi komposer berbakat dengan nama August Rush. Bukan hanya Evan yang mencari orangtuanya, tapi Ibu Evan, Lyla Novacek (Kerri Russell) pun mencari Evan ketika ia tahu bahwa anaknya tidak meninggal. Sementara itu, ayah Evan, Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyer), mencari Lyla, perempuan yang selalu ada di pikirannya. Ia tidak mencari Evan karena ia tak tahu bahwa Lyla mengandung dan melahirkan anaknya.

Meskipun jalan cerita dan ending-nya sudah bisa ditebak, tapi adegan ending film ini sangat indah dan menawan dengan iringan musik yang dimainkan August Rush. Emosional penonton (saya) seperti terbawa suasana hati Evan, Lyla, dan Louis. August Rush adalah salah satu film terbaik yang pernah saya tonton dan bisa jadi rekomendasi film drama yang harus ditonton. Film ini juga masuk nominasi di beberapa ajang penghargaan. Beberapa pesan tersirat disampaikan oleh para tokoh melalui film ini mengenai impian, harapan, dan apa yang kita yakini. Kata-kata Evan di menit (awal) 01:18:

All you have to do is open yourself. All I have to do is listen.”

(1:46:45, di menit terakhir).”, itu seperti highlight dari keseluruhan isi film tersebut.

Nilai: 3.5/5

The Book Thief (2013)

The Book Thief mengisahkan secuil cerita pada masa perang dunia II. The Book Thief diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Markus Zusak.

Berlatar waktu Perang Dunia II, di Jerman 1938, The Book Thief menceritakan tentang soerang gadis muda Liesel Meminger (Sophie Nelisse) yang harus berpisah dengan ibunya yang komunis yang sedang dalam bahaya. Kemudian ia dikirim kepada seorang pasangan yang tak memiliki anak, Hans Hubermann (Geofrey Rush) dan Rosa Hubermann (Emily Watson). Hans laki-laki yang baik, sedangkan istrinya, Rosa, agak cerewet dan tidak terlalu menyukai Liesel. Butuh beberapa waktu bagi Liesel tinggal dan memiliki orangtua baru, juga lingkungan dan teman-teman baru.

Di hari pertama Liesel sekolah, ia ditemani oleh tetangganya sekaligus teman barunya, Rudy, menuju ke sekolah. Di kelas, Liesel diminta menulis namanya di papan tulis, tapi ia hanya menulis huruf x. Liesel tak bisa baca tulis. Hans, ayah angkat Liesel mengajari Liesel dengan kesabaran, sampai Liesel mampu membaca dan sangat mencintai buku.

Rudy dan Liesel menjadi teman baik. Mereka menjadi anggota pergerakan Hitler Youth. Pada saat upacara acara tersebut, buku-buku dibakar. Liesel yang baru saja bisa membaca tak suka dengan hal tersebut. Setelah api mati, ia mengambil buku yang tidak terbakar dengan diam-diam. Namun seseorang, Ilsa Hermann, seorang istri mayor melihat apa yang dilakukan Liesel.

Suatu hari, Liesel diminta oleh ibunya mengantarkan laundry milik Ilsa yang dikerjakan oleh ibunya. Liesel ketakutan karena Ilsa mengetahui tindakannya. Namun ternyata Ilsa tidak mengatakan apapun, ia malah mengajak Liesel ke perpustakaan miliknya dan membiarkannya membaca buku-buku yang ada di dalamnya. Cinta terhadap buku membuat Liesel mencuri buku-buku di perpustakaan tersebut. Karena hanya itu pelipur laranya di saat sepi, sedih, dan dalam keadaan perang dengan dentuman bom yang bisa kapanpun mendarat di tempat yang tak seorangpun tahu.

Masa-masa perang tak ada yang banyak dilakukan. Musik (Arkodeon yang dimainkan Hans), puisi, membaca, dan menulis bisa menjadi penghibur bagi Liesel. Pada saat suasana mencekam dan bom meledak di mana-mana, Liesel dan para tetangganya bersembunyi di ruang bawah. Untuk menghilangkan rasa takut, Liesel bercerita dari buku yang pernah ia baca di depan orang-orang sekelilingnya. Mereka menyukai itu. Kata-kata Liesel seperti menguatkan mereka dan seperti memberi sebuah harapan bahwa akan ada kehidupan yang lebih baik.

Bagi pencinta sastra atau yang sudah belajar sastra, atau senang dengan literasi, Film The Book Thief sangat menarik untuk ditonton. Dalam The Book Thief ada beberapa adegan yang  menurut saya sangat menarik. Diantaranya pada saat Liesel menamatkan buku pertamanya lalu Hans mengajak Liesel ke ruang bawah tanah dan di dindingnya banyak kosakata yang Hans sebut dengan kamus. Di dinding itu, Liesel boleh menulis tiap kata baru yang ia temukan di buku lalu menulis supaya ia bisa mengingatnya.

Kata-kata WRITE 2 atau 3 kali tersebut dalam film ini. Seperti meminta pada penonton “menulislah”, apapun itu.

Buku The Invisible Man by H.G Wells juga hal menarik bagi saya, karena sewaktu kuliah dulu saya tak sempat menamatkan buku itu. Liesel membacakan buku itu pada Max (anak teman Hans) yang sedang sakit dan bersembunyi di ruang bawah tanah.

Beberapa kata menarik diucapkan dalam dialog ini:

Memory is the scribe of the soul. Do you know who said that? A man called Aristotle. (Ingatan adalah juru tulis jiwa. Kau tahu siapa yang mengatakan itu? Seorang laki-laki yang bernama Aristole).”

In my religion, we’re taught that every living thing, every leaf, every bird, is only alive because of consists the secret word for life. That difference between us and a lamp of clay. A word. Words are alive, Liesel. (Dalam agamaku, kami diajarkan bahwa setiap benda hidup, setiap daun, setiap burung, hanya hidup karena mengandung kata rahasia untuk hidup. Itulah bedanya antara kami dan segumpal tanah. Sebuah kata. Kata-kata itu hidup, Liesel).”

All I have learned is that life make no promises. (Yang kupelajari adalah hidup tak membuat janji).”

Nilai: 5/5

The Mimic (2017)

Selain Train To Busan, The Mimic adalah K-Movie kedua yang saya tonton. Adegan awalpun hampir sama. Jika di Train To Busan seseorang menabrak seekor rusa, di The Mimic seseorang menabrak seekor anjing. Namun  jalan cerita The Mimic dan Train To Busan sangat jauh berbeda. The Mimic bergenre horor, drama, fantasi. The Mimic menceritakan tentang legenda harimau Jangsan yang hidup di dalam sebuah gua.

Makhluk ini mampu menirukan suara-suara manusia untuk menarik mangsanya masuk ke dalam gua tersebut. Terdapat sebuah keluarga yang baru pindah ke tempat yang tak jauh dari gua tersebut. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami, Min Ho, istri, Hee yeon, seorang anak kecil, Joon Hee, juga seorang nenek yang mengalami sedikit gangguan kejiwaan dan ingatan. Mereka memulai hidup baru karena Hee yeon tidak bisa menerima tentang anak lelakinya yang sudah menghilang selama 5 tahun tapi tak juga ditemukan. Beberapa hari tinggal di rumah itu terjadi beberapa kejanggalan. Mulai dari 2 anak yang hilang di gua tersebut sampai munculnya seorang gadis kecil dengan pakaian lusuh dan luka di punggungnya. Hee Yeon yang baik hati mengajak anak itu ke rumahnya, membersihkan tubuhnya, dan memberikan baju juga tempat tidur yang layaknya. Gadis itu menyebut namanya sama seperti anak perempuan Hee Yeon, Joon Hee. Dengan kedatangan gadis ini, keanehan-keanehan dimulai.

Jalan cerita film ini sangat lambat untuk film yang bergenre horor. Adegan-adegan menegangkan dan menyeramkan baru disajikan setelah 1 jam film ini berjalan. Meski begitu, sepanjang menonton The Mimic saya dibuat penasaran dengan akhir cerita seperti apa.

Bagi para pecinta film horor dan K-Movie, The Mimic bisa jadi referensi film horor yang layak untuk ditonton.

Nilai: 3.5/5

Danur: I Can See Ghosts (2017)

Danur rilis bulan Maret 2017. Film ini diangkat dari novel yang ditulis oleh Risa Saraswati berdasarkan pengalaman pribadinya. Film bergenre horor ini menceritakan seorang anak kecil (Risa) yang selalu kesepian, tinggal bersama ibunya dan beberapa asisten rumah tangga di rumah yang besar dan pohon besar angker di dekat rumah tersebut. Ibunya bekerja dan selalu pulang malam, sedangkan ayahnya diceritakan sedang bekerja di luar negeri. Pada ulang tahun Risa yang ke-8, Risa memohon permohonan bahwa ia menginginkan seorang teman. Doa itu langsung terkabul. William, Jahnsen, dan Peter datang menemui Risa. Mereka bukan teman manusia biasa, melainkan hantu. Continue reading “Danur: I Can See Ghosts (2017)”

Dear Zindagi (2016)

Dear Zindagi dibintangi oleh aktris muda India Alia Bhatt dan aktor kawakan penuh karisma Shahruk Khan. Film bergenre drama komedi romansa ini disutradarai dan ditulis oleh Gauri Shinde. Dear Zindagi rilis di Amerika pada 23 November 2016 , yaitu dua hari sebelum rilis di banyak negara. Sedangkan rilis di Indonesia, film ini pada 30 November 2016.

Sesuai dengan judulnya Dear Zindagi yang artinya Wahai Kehidupan, rangkaian cerita film ini mengisahkan masalah-masalah kehidupan yang umum dialami oleh manusia yang diceritakan melalui tokoh Kaira.

Film Bollywood berdurasi dua jam tiga puluh menit ini menceritakan tentang seorang wanita muda yang berprofesi sebagai sinematografer, Kaira (Alia Bhatt). Beberapa kali menjalin asmara dengan beberapa pria namun selalu gagal.

Hidup dan pekerjaan menjadi sedikit terganggu karena jalinan percintaan Kaira yang buruk. Kaira yang idealis dalam melakukan pekerjaan mendapat kesempatan bekerja ke Goa, juga rumah orangtuanya. Pulangnya ia ke rumah bukannya membuatnya senang karena kumpul bersama keluarga, namun justru membuatnya tambah pusing karena selalu membicarakan masalah pernikahan.

Kaira mengambil pekerjaan yang ditawari oleh kolega ayahnya di sebuah restoran. Di tempat yang sama, tanpa sengaja ia melihat papan yang bertuliskan “National Covention For Mental Health Awareness”, yang mana acara tersebut berbarengan dengan projek yang sedang ia buat. Karena satu dan lain hal, Kaira harus menghentikan pekerjaannya dan harus menunggu kapan ia harus mulai lagi. Sambil menunggu, Kaira tak sengaja mendengarkan sesi tanya jawab dari acara seminar tersebut yang menurutnya sangat menarik ketika seseorang bertanya tentang ‘gila’. Pertanyaan itu dijawab oleh salah satu narasumber Dr. Jehangir Khan (Shahruk Khan). Dengan gaya Dr. Khan yang menarik dalam menjawab pertanyaan tersebut Kaira tertarik dengan topik tersebut lalu masuk ke dalam ruangan.

Keesokan harinya ia datang ke tempat kerja Dr. Khan untuk menceritakan pergolakan batinnya. Kaira menceritakan semua kisah hidupnya dari kisah cintanya dengan laki-laki yang ia cintai, Raghuvendra, sampai masa kecilnya yang buruk karena orangtuanya harus meninggalkannya di rumah nenek kakeknya. Jug (panggilan Dr. Khan) bukan hanya seorang yang mampu menyelesaikan permasalahan orang lain, tapi ia juga mampu memperbaiki sepeda anak kecil yang selalu datang padanya setiap kali sepedanya rusak.

Dengan cara pikir Jug yang tidak biasa dalam ‘menyembuhkan’ Kaira, ia berhasil membuat Kaira melihat hidup ini dengan sudat pandang yang baru.

What is your fear, Kaira? It’s back in one piece. I believe broken things can be put back together.”

Kata Jug ketika menunjuk ke benda kecil berkostum besi pasukan perang.

Don’t let the past blackmail your present to ruin your beautiful future.

Kata-kata Jug yang akhirnya membuat Kaira berani melangkah ke depan dan mengucapkan “selamat tinggal” pada masa lalu dan mengucapkan “hai” pada hidup yang baru.

Nilai: 4/5

Beyond Skyline (2017)

Alasan utama saya menonton Beyond Skyline  karena Iko Uwais dan Yayan Ruhian menjadi salah satu pemain dalam film garapan sutradara Liam O’Donell ini. Beyond Skyline merupakan sekuel film yang rilis tahun 2010. Film ini bergenre science-fiction, dan pastinya banyak menggunakan efek CGI (Computer Generated Imagery). Film ini menceritakan pejuang detektif bernama Mark (Frank Dillo) yang berusaha untuk menyelamatkan anak laki-lakinya Trent (Johnny Westen) yang diculik oleh alien jahat. Di film ini, Iko Uwais berperan sebagai Sua, seorang pemimpin kelompok gerakan bawah tanah yang menyusun strategi untuk melawan para alien, dan Yayan Ruhian sebagai seorang polisi. Sua membantu Mark menyelamatkan anaknya dan mengalahkan alien tersebut yang sudah memporak-porandakan bumi.  Continue reading “Beyond Skyline (2017)”

Lion (2016)

Film Lion dibintangi oleh Dev Patel, Nicole Kidman, Rooney Mara, dan the cute boy Sunny Pawar. Kisah Lion diangkat berdasarkan kisah nyata yang ditulis Saroo Brierley dalam buku yang berjudul A Long Way Home. Film yang berdurasi satu jam lima puluh delapan menit ini disutradarai oleh Garth Gavis dan ditulis oleh Luke Davies. Lion rilis di Amerika pada 6 Januari 2017.

Di Khandwa, India 1986, hidup seorang anak kecil bernama Saroo (Sunny Pawar) dan Guddu, kakaknya yang bekerja mengambil batu koral di area kereta api demi mendapatkan uang untuk membeli susu untuk adik, ibunya juga diri mereka sendiri. Suatu malam ketika Guddu pergi bekerja, Saroo ingin ikut dengannya. Meskipun Guddu melarangnya, Saroo yang pintar dan menujukkan bahwa dirinya kuat bekerja tetap ingin ikut, dan akhirnya Guddu mengabulkan permintaan Saroo.

Konflik dimulai ketika Saroo terpisah dengan kakaknya di stasiun kereta api yang sangat sepi dan ia menaiki suatu kereka hingga membawanya ke stasiun lain.Malam itu Saroo tak bisa menahan kantuknya, membuat Guddu harus meninggalkannya di stasiun, dengan memberi pesan jangan pergi kemanapun sebelum ia datang. Ketika Saroo bangun, tak ada seorangpun  di stasiun tersebut lalu ia menaiki satu kereta tak berpenumpang dan tertidur.

Tiba di pemberhentian kereta, dalam padatnya penumpang yang lalu lalang Saroo berharap bertemu dengan kakaknya. Tetap ia tak menemukan Guddu. Saroo kecil tinggal di jalan dimanapun yang ia bisa tinggali. Dari hidup dengan anak-anak jalanan yang selalu kena razia sampai ada seseorang yang berpura-pura baik ingin menjaganya tapi ternyata ingin menjualnya.

Pada saat Saroo sangat kelaparan, ia duduk di depan kafe, mengambil sendok yang ia temukan di jalan kemudian ia menirukan semua yang dilakukan oleh seorang laki yang sedang minum di kafe tersebut tak jauh di depannya. Itu adalah adegan yang paling lucu dan menggemaskan melihat akting Sunny Pawar, menurut saya. Laki-laki itu mengetahui tingkah Saroo yang lucu, lalu mendekatinya dan membawanya ke kantor polisi.

Susahnya berkomunikasi dengan Saroo adalah ia hanya bisa bahasa Hindi, dan tak bisa bahasa Bengali, bahasa yang digunakan di tempat dimana Saroo berada saat itu. Pihak kepolisian membawanya ke penampungan anak-anak terlantar. Pengurus tempat tersebut sudah mempublikasikan Saroo di surat kabar di Kalkuta, namun selama berhari-hari tak seorangpun yang datang menjemputnya. Dengan begitu Saroo dinyatakan bahwa ia tak memiliki siapa-siapa dan boleh diadopsi. Di tempat itu Saroo belajar banyak hal termasuk bahasa inggris.

Pasangan dari Australia John dan Sue (Nicole Kidman) ingin mengadopsi dan merawat Saroo. Saroo kecil terus beradaptasi dengan hidupnya, sampai dewasa usianya menginjak 25 tahun Saroo (Dev Patel) harus kuliah di Melbourne. Ingatan muncul perlahan tentang dari mana ia berasal ketika ia bertemu dengan teman-teman kuliahnya yang berasal dari Kalkuta. Dari situ ia tak bisa melepaskan ingatan-ingatan masa kecil, kakak, dan ibu kandungnya.

Keadaan Saroo terus mengkhawatirkan memikirkan keluarga kandungnya. Itu membuat kekasihnya, Lucy (Rooney Mara) dan Sue sedih. Didukung oleh kekasihnya dan Google Earth (saran dari salah satu teman kuliahnya), juga ingatan-ingatan masa kecilnya yang tak henti mengiang-ngiang di pikirannya, ia berhasil menemukan ibu dan adik perempuannya yang sudah dewasa, sedangkan Guddu sudah meninggal dunia.

Ada satu adegan yang menurut saya sangat emosional, menyentuh, mengungkapkan alasan yang sangat tulus dan mulia ketika Saroo akhirnya mendatangi Sue yang saat itu sangat amat sedih dengan kondisi Mantosh (anak adopsi John dan Sue yang lain) untuk minta maaf karena ia bukan anak adopsi yang baik dan menyesal karena Sue tak bisa memiliki anak kandung. Namun Saroo salah, Sue bisa memiliki anak tapi mereka memilih tidak memiliki anak dan menginginkan Saroo dan Mantosh untuk mereka pelihara. Alasannya adalah:

The world has enough people in it. Have a child couldn’t guarantee it will make anything better. But to take a child that’s suffering like you boys were, give you a change in the world. That’s something. (Dunia sudah memiliki cukup banyak orang. Memiliki anak tidak menjamin akan membuat semuanya menjadi lebih baik. Namun mengadopsi anak yang menderita seperti kalian, untuk memberi kalian kesempatan itu adalah hal yang jauh lebih baik.)”

Dari awal sampai hampir akhir cerita saya penasaran kenapa film ini diberi judul Lion sementara ceritanya tak ada sama sekali hubungannya dengan Lion atau singa. Di akhir cerita, baru dijelaskan bahwa Saroo kecil salah mengucap namanya. Nama yang sebenarnya adalah Sheru, yang dalam bahasa India artinya Lion. Saroo kecil juga salah menyebut nama kotanya Ganestlay, itu sebabnya orang-orang tak  bisa menemukannya. Yang benar adalah Ganesh Talai.

John, Sue, Saroo, juga ibu kandungnya masih hidup ketika kisah ini difilmkan. Ditulis bahwa Saroo Brierley berhasil kembali ke Ganash Talai pada tanggal 12 Februari 2012. Dia hilang selama lebih dari 25 tahun. Di malam yang sama, ketika Saroo masuk ke dalam kereta kosong kemudian terpisah, kakaknya Guddu tewas tertabrak kereta yang tak jauh dari peron tersebut.

Rangkaian cerita film ini sesungguhnya biasa saja. Menjadi menarik untuk ditonton karena kisah ini diangkat dari kisah nyata dan tentunya si aktor cilik India nan menggemaskan yang berakting sangat natural yang menjadi perhatian di hollywood hampir sepanjang tahun 2017.

Nilai: 4/5