In Time (2011)

In Time merupakan film laga, fiksi-ilmiah, thriller Amerika. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Andrew Niccol. In Time memiliki durasi cerita selama kurang lebih satu jam empat puluh sembilan menit. Film ini dibintangi oleh Justin Timberlake dan Amanda Seyfried sebagai pemain utamanya. In Time rilis di Amerika pada 28 Oktober 2011 dan rilis di Indonesia pada 4 November 2017.

Ceritanya, di masa depan, fisik manusia akan terhenti pada usia 25 tahun. Orang-orang tak akan menua. Namun mulai usia tersebut terpasang di tangan mereka seperti jam digital yang terus bergerak sesuai waktu yang sudah mereka punya. Jadi, mereka akan mati jika waktu yang ada di tangan mereka sudah menunjukkan angka 00:00:00. Oleh sebab itu mengapa film ini diberi judul  In Time. Semua orang berjuang untuk mendapatkan waktu lebih banyak untuk memiliki hidup yang lebih panjang.

Bisa dengan cara bekerja, mencuri waktu dari orang lain, atau meminjam ke bank waktu dengan bunga yang tak tentu hitungannya. Waktu sangat berharga bagi setiap orang. Karena semua transaksi dilakukan dengan menggunakan waktu, bukan uang. Gaji dibayar pakai waktu. Naik bis bayarnya pakai waktu. Minum kopi atau makan di restoran atau kafe bayarnya pakai waktu. Menginap di hotel dan membayar tol bayarnya pakai waktu. Pokoknya semua transaksi dibayar dengan waktu. Ada pula orang yang tidak bekerja dan kerjanya mencuri waktu. Menyedot waktu orang-orang supaya habis waktunya dan membuat waktunya terus bertambah hingga ia bisa hidup lebih lama. Waktu yang dimiliki seseorang juga bisa tergantung pada status sosial. Semakin tinggi status sosialnya semakin banyak waktu yang dimiliki. Yah seperti di kehidupan nyata.

Konflik dimulai dari seorang pemuda bernama Will Salas (Justin Timberlake) yang tinggal di populasi kelas rendah yang tentunya miskin waktu. Ia harus bekerja pontang panting untuk mendapatkan banyak waktu untuk menambah waktu di denyut tangannya dan kelangsungan hidup ibunya, Rachel Salas (Olivia Wilde) agar mereka bisa terus bersama.

Yang menarik adalah fisik Will Salas dan ibunya setara, sama-sama masih muda. Karena dalam cerita ini penampilan fisik akan berhenti di usia 25 tahun. Anak dan ibu tersebut saling support satu sama lain untuk mendapatkan waktu yang lebih banyak. Walaupun pada akhirnya sang ibu meninggal karena kehabisan waktu. Setiap hari pembayaran bis atau apapun tarif waktunya bisa naik dengan sangat cepat. Will terlambat untuk menolong ibunya karena itu bukan situasi yang ia duga.

Pada suatu kesempatan Will menolong seseorang yang memiliki sangat amat banyak waktu. Seperti mendapat rejeki nomplok buat Will, pemuda itu mentransfer hampir semua waktunya pada Will ketika Will sedang tidur. Sang pemuda bercerita bahwa ia bosan hidup dalam keabadian yang tiada habisnya. Cukup ironis, ketika semua orang menginginkan keabadian alias ingin hidup selamanya, tapi si pemuda tersebut malah ingin mengakhiri hidupnya. Dan dalam sekejap Will menjadi seorang yang kaya waktu. Ia memberikan sedikit waktunya pada sahabatnya, Borel (Johnny Galecki). Namun sayangnya waktu itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Ia menghabiskan waktunya dengan membeli banyak minuman hingga waktunya habis.

Alih-alih Will senang dengan kekayaan waktu yang ia miliki, justru ia menjadi buronan Timekeeper gara-gara hibah waktu yang ia dapatkan. Konflik semakin runcing ketika ia datang ke tempat kasino dan bertemu dengan seorang wanita bernama Sylvia Weis (Amanda Seyfried) anak dari seorang pengusaha pemilik kerajaan waktu. Will mengincar waktu dari mereka. Namun sebelum mendapatkan waktu yang diinginkan, Timekeeper keburu menemukan jejak Will.

Will menyandera Sylvia untuk meminta tebusan waktu pada ayahnya. Bisa ditebak, Will dan Sylvia akhirnya jatuh cinta.  Mereka berdua memiliki misi yang sama, yaitu menginginkan semua orang memiliki banyak waktu demi kelangsungan hidup yang lebih lama, tidak mati sia-sia karena kehabisan waktu.

Kata-kata “Time is money” barangkali kata-kata yang semua orang sering dengar. Kurang lebih cerita ini menggambarkan kata-kata itu. Saya sangat salut dengan penulis ide cerita ini dengan idenya yang brilian mengemas alur ceritanya. Kok bisa kepikiran ya membuat konsep cerita seperti itu.

Walaupun cerita film ini seperti tak masuk akal, namun jika dihubungkan dengan dunia nyata yang saat ini terjadi, nampaknya film ini hampir memiliki kesamaan. Bedanya, di dunia nyata setiap orang di beberapa tempat harus bertransaksi menggunakan kartu, sedangkan di film ini segalanya menggunakan waktu. Bisa jadi untuk beberapa tahun ke depan tak akan ada lagi transaksi yang menggunakan uang, tapi semua dilakukan dengan kartu. Jika melihat pada status sosial, mereka yang memiliki status sosial tinggi akan mampu bertahan hidup lebih lama, sedangkan mereka yang berstatus sosial rendah harus bekerja lebih keras untuk bertahan hidup, kecuali mendapat keberuntungan seperti Will Salas 🙂

Layakkah film ini untuk ditonton? Pastinya sangat layak.

Nilai: 4.5/5

The Nanny Diaries (2007)

Bagi yang pernah nonton Captain America, The Avenger, dan Iron Man pasti tahu Black Widow/Natasha Romanof, salah satu super hero perempuan Marvel. Pemeran tokoh tersebut adalah Scarlett Johansson. Sebelum ia memainkan tokoh superhero perempuan film tersebut, Scarlett sudah bermain film sejak usianya 10 tahun. Ketika remaja ia bermain film Home Alone 3 (film yang sering saya tonton di TV namun saya tak tahu bahwa si pemeran kakak Alex adalah Scarlett Johansson). Hampir semua film Scarlett sudah saya tonton. Salah satunya adalah film The Nanny Diaries.

The Nanny Diaries merupakan film Amerika bergenre drama komedi romansa. Film ini dingkat dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Emma McLaughlin dan Nicola Kraus pada tahun 2002. Film The Nanny Diaries disutradarai dan ditulis oleh Shari Springer Berman dan Rober Pulcini. Film yang berdurasi selama satu jam empat puluh lima menit ini rilis di Amerika pada 24 Agustus 2007.

Film ini mengisahkan tentang seorang wanita berusia 21 tahun bernama Annie Braddock (Scarlett Johansson), yang baru lulus kuliah Antroplogi dan harus mencari dan mendapatkan pekerjaan. Ibunya seorang perawat yang ingin anaknya memiliki pekerjaan dan masa depan yang lebih baik daripadanya karena ia tahu Annie adalah anak yang cerdas, lebih cerdas daripadanya.

Masalah bermula pada saat Annie melakukan wawancara di salah satu perusahaan, sang interviewer menanyakan, “siapa Annie Braddock?” Pertanyaan itu terdengar sangat sepele untuk dijawab, Annie menganggap itu adalah pertanyaan yang mudah untuk dijawab.

Namun pada kenyataannya, tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Annie. Dalam sekejap ia kabur dan hilang dari ruangan itu. Annie harus mencari tahu siapa dan ingin menjadi apa Annie Braddock. Alih-alih mendapat kesempatan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya, kehidupan justru membawanya pada kesempatan menjadi seorang Nanny (pengasuh).

Tanpa sepengetahuan ibunya, Annie nekad melakoni pekerjaan itu. Masalah dimulai lagi ketika seorang anak, Grayer (hampir 6 tahun), yang diasuh Annie adalah anak yang nakal dan sang ibu, Mrs. X, adalah ibu-ibu sosialita yang sibuk dengan urusannya sendiri.

Perlu beberapa waktu untuk membuat Grayer menerimanya. Sampai akhirnya ia sangat dekat dan membuat Grayer mengatakan “I love you best.” Kata-kata itu bukan membuat Annie senang justru ia malah merasa pekerjaan itu 3x lebih berat ketika melihat sepasang mata innocent dan tulus itu.

Masalah terus muncul ketika Annie mengetahui ayah Grayer, Mr. X, pegawai pemerintahan yang memiliki kedudukan tinggi, selingkuh dengan teman kerjanya. Karena peraturan pekerjaan ini juga Annie harus merelakan perasaannya pada seorang laki-laki tampan yang ia sebut Mr. Harvard (Chris Evans). Ya walaupun pada akhirnya mereka bersama. Meskipun kekasih dan sahabatnya Lynette (Alicia Keys) menyarankan untuk meninggalkan rumah itu, tapi Annie masih sangat berat melakukannya karena ia sangat menyayangi Grayer.

Well, intinya film ini tentang mencari jati diri bagi Annie Braddock dan ‘kecemplung’ dalam situasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya namun banyak memberi pelajaran bagi dirinya juga orang sekitarnya, termasuk Mrs. X. Apa yang sudah Mrs. X lakukan pada Grayer menunjukkan pada Grayer bahwa kebahagiaan tak bisa dibeli.

Grayer:”Nanny, We’re going to the beach. When I grow up, I want enough money to build a real castle.

Annie:”Just remember, Grove, that money can’t buy love.

Grayer:”But mommy pays you money and I love you.”

Selain itu, di akhir cerita, kata-kata Annie (pada kamera tersembunyi) juga menyadarkan Mrs. X betapa egois dirinya yang hanya memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri,

Annie:”I’m the one who’s been raising your son. Grayer is not an accessory. His mother didn’t order him from a catalogue.”

Saya pikir kata-kata sarkastik tersebut bukan hanya ditujukan untuk Mrs. X saja, tapi untuk para orangtua yang hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri tanpa memikirkan anak yang membutuhkan perhatian yang sesungguhnya dari orangtua.

Melihat aktris-aktris cantik dan ganteng juga bocah menggemaskan, Nicholas Art, yang aktingnya sangat natural, saya rasa film ini sangat menghibur dan layak untuk ditonton, terutama bagi para orangtua dan yang akan menjadi orangtua. Jalan ceritanya pun sangat ringan dan mudah dipahami.

Nilai: 5/5

The Circle (2017)

The Circle merupakan film drama, fiksi-ilmiah, thriller Amerika. Film original Netflix ini diangkat dari buku dengan judul yang sama yang ditulis oleh Dave Egger tahun 2013. Film yang berdurasi kurang lebih satu jam lima puluh menit ini disutradarai dan ditulis oleh James Ponsoldt. The Circle rilis premier di Tribeca Film Festival pada 26 April 2017, rilis di Amerika pada 28 April 2017, sedangkan rilis di Indonesia pada 3 Mei 2017.

The Circle mengisahkan tentang seorang wanita muda, Mae Holland (Emma Watson) yang menginginkan pekerjaan yang lebih baik karena kondisi ayahnya yang sakit dan ibunya yang harus membantu segala yang dibutuhkan ayahnya. Impiannya mendapat pekerjaan baru di salah satu perusahaan IT terbaik di dunia, Circle.

Berkat sahabatnya, Annie, dan melalui beberapa proses ia berhasil bekerja di perusahaan tersebut. Tentunya ia sangat senang bahwa impiannya menjadi nyata. Semua kebutuhan dapat terpenuhi dari perusahaan tersebut. Namun dibalik semua itu banyak hal-hal yang terrenggut dari kehidupan pribadinya.

Bekerja di Circle semuanya menjadi serba mudah. Seperti tak ada yang bisa ditutup-tutupi dan di sembunyikan. Semua orang bisa tahu apa yang kita lakukan dengan menggunakan teknologi yang sudah merekam profil diri ke dalam sistem. Awalnya, semua nampak berjalan lancar dan sesuai dengan harapan. Mae mampu berinteraksi dengan klien dan semua orang melalui jaringan internet dengan baik. Karirnya terus menanjak. Nampak seperti tak ada kendala ketika semua informasi bisa dikendalikan oleh internet. Semua nampak terhubung satu sama lain dengan sangat baik. Sampai akhirnya di satu titik ia mendapati situasi yang membahayakan dirinya sendiri.

Berawal dari salah satu pendiri Circle, Mr. Aemon Bailey (Tom Hanks), mengenalkan produk baru kamera kecil sekali tanpa kabel dan bisa diletakkan di manapun hingga mampu memonitori segala peristiwa. Dari pemandangan indah sampai penjahat atau teroris yang tak akan bisa bersembunyi dari mata kamera kecil tersebut. Circle memiliki motto “Sharing is caring.” Yang artinya bahwa setiap peristiwa yang dibagikan pada seluruh dunia adalah suatu kepedulian bagi sesamanya, hal baik ataupun buruk. Mereka bisa melihat dan mendengar semua yang terjadi. Dan Eamon menyebut itu SeeChange. Pikirnya “Untuk tahu dan melihat segalanya yang terjadi adalah sesuatu yang lebih baik.”

Ketika kamera itu mulai dipasang, tak ada satupun yang luput dari ‘pandangan’ kamera. Kamera ini berfungsi dengan sangat baik, dari menemukan pencuri hingga menolong nyawa seseorang. Namun ada sesuatu yang baik tentunya ada juga sesuatu yang buruk. Hal baik tak selalu menjadi baik.

Suatu siang, Mae melakukan video call dengan ibunya dan ia melihat karya teman baiknya, Mercer (Ellar Coltrane), kandil cantik yang terbuat dari tanduk rusa yang menggantung di ruang tamunya. Niat Mae baik mempublikasikan itu ke media sosial supaya banyak orang yang tahu dan tertarik untuk membelinya. Namun apa yang Mae lakukan tak berbuah manis. Berharap banyak orang akan tertarik membeli karya Mercer, namun justru beberapa orang membuat demo karena menganggap Mercer sebagai pembunuh rusa. Mercer sangat marah atas apa yang dilakukan Mae. Ia sama sekali tak online atau menggunakan jaringan internet apapun namun justru orang-orang yang menuduhnya tahu hal itu dari internet.

Tiap kali hatinya gundah, Mae selalu melakukan Kayak di teluk. Malam itu, tempat penyewa Kayak sudah tutup, dan Mae menerobos pintu masuk untuk menaiki Kayak tanpa memakai jaket pelampung. Di tengah teluk, ombak dan angin bertiup kencang lalu Mae terjatuh. Pertolongan melalui helikopter datang. Di sekitar Teluk tersebut telah terpasang kamera SeeChange. Mae terselematkan dan menjadi saksi juga membagi pengalamannya pada semua orang yang berada di Circle.

Atas kejadian yang menimpa Mae, di atas panggung ia mengatakan beberapa hal:

Secrets are lies. Secrets are what make crimes possible. We behave worse when we’re not accountable.”

Knowledge is a basic human right. Access to all possible human experience is a basic human right.”

Dengan berbagi kejadian yang menimpanya, Mae menjadi orang pertama yang memakai “modified SeeChange”, aplikasi baru yang dibuat Circle. Setiap detik gerak gerik dan kehidupannya, bahkan kehidupan ayah ibunya, akan dilihat oleh siapapun. Tak ada lagi rahasia tentang kehidupannya. Itu membuat ayah ibunya tak nyaman, hingga memutuskan untuk tak menghubungi Mae dalam beberapa waktu.

Sejak saat itu privasi Mae milik publik. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Keluarga dan sahabatnya ‘menghilang’, dan yang lebih parah adalah Mercer, tewas. Tewas karena ide Mae yang didukung penuh oleh Eamon dan perusahaan tersebut. Sistem itu disebut SoulSearch. Mae pikir bahwa idenya dengan sistem canggih yang dibuat oleh para pendiri Circle bisa mengubah dunia menjadi lebih baik untuk kehidupan masa depan kemanusiaan. Tapi justru itu malah mengambil semua yang ia punya sebelumnya. Seperti menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Ketika hal terburuk terjadi atas tewasnya Mercer, Mae sangat terpukul dan meninggalkan Circle untuk beberapa waktu.

Di saat ia offline dan ‘sendiri’, ia kembali menghubungi sahabatnya Annie, yang telah pergi meninggalkannya. Kemudian akhirnya mereka bisa berkomunikasi berdua tanpa dunia mengetahuinya. Annie tahu bahwa Mae sangat sedih atas kematian Mercer. Mae masih berpikir bahwa teknologi memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan. Namun Annie bilang:

Technology didn’t exactly help the situation.”

Mae masih percaya bahwa teknologi bisa merubah kehidupan manusia menjadi lebih baik. Ia berpikir kematian Marcer semata karena alat dan sistem yang buruk, bukan karena Circle. Dan ia memutuskan kembali ke Circle untuk memperbaiki semua kejadian buruk yang sudah terjadi.

Melihat kemajuan teknologi saat ini, saya pikir film ini sangat layak untuk ditonton. Ide cerita dan konflik film ini ringan. Menggunakan teknologi yang terhubung dengan internet atau tidak memang tak terlalu buruk untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Banyak manfaat yang kita dapatkan dari kegiatan tersebut. Dengan alat dan sistem yang ada, kita tak akan merasa sendiri dan segalanya bisa dimudahkan. Namun jika kita tidak menggunakan itu dengan bijaksana, maka “online” bisa memberikan banyak masalah, membahayakan hidup kita sendiri, kebebasan dan privasi terenggut, bahkan kehilangan banyak hal berharga yang tak bisa hanya sekadar disimpan dalam memori teknologi. Jangan sampai teknologi mengendalikan hidup kita, apalagi sampai bergantung padanya.

Nilai: 4.5/5

The Others (2001)

Film The Others merupakan film bergenre horor misteri. Entah sudah berapa kali saya menonton film The Others.  Banyak hal yang bisa saya gali dalam film ini. Baru saya membaca informasi di Wikipedia ternyata film ini juga mendapat banyak penghargaan.

Pertama kali menonton film ini saya dibuat ternganga-nganga (bingung deh bahasanya apa :)) dengan jalan akhir ceritanya. Jalan cerita yang tak pernah saya duga seperti film-film horor lainnya.

Continue reading “The Others (2001)”

Matilda (1996)

Film Matilda diangkat dari novel karya Roald Dahl dengan judul yang sama, yang sekarang masih dimainkan di teater di Inggris (pada saat tulisan ini ditulis). Matilda adalah salah satu film favorit saya dan salah satu film anak-anak terbaik menurut saya. Film ini menginspirasi saya untuk gemar membaca 😊.

Matilda merupakan film anak-anak bergenre komedi, keluarga, dan fantasi. Namun bagi saya film ini bukan hanya sekadar film komedi, keluarga, dan fantasi. Banyak satir-satir atau sindiran yang terdapat pada film ini.

Berkisah tentang seorang anak kecil bernama Matilda Wormwood (Mara Wilson) yang terlahir spesial tapi tidak disukai oleh ayahnya, Harry Wormwood (Danny DeVito, juga merangkap sebagai narator dan sutradara film ini) seorang penjual mobil bekas yang licik, ibunya, Mrs. Wormwood (Rhea Perlman), bermain bingo (semacam judi), juga saudara laki-lakinya, Michael Aleck (Brian Levinson).

Karena sering ditinggal sendiri di rumahnya, pada usia 2 tahun Matilda belajar melakukan sesuatu apa yang orang dewasa lakukan. Hal itu membuatnya sangat mandiri. Ia melakukan semuanya sendiri. Ketika usianya 4 tahun ia meminta pada ayahnya untuk dibelikan buku, dan ayahnya menjawab:

There’s nothing you can get from a book that you can’t get from a television faster.”

Bagi saya kata-kata itu adalah sindiran kuat. Di zaman yang sudah sangat canggih sekarang ini, orang-orang akan lebih memilih gadget dibanding buku. Gadget nampak lebih banyak memberi kesenangan daripada buku. Beberapa orangtua akan lebih memilih gadget untuk ‘mendiamkan’ dan ‘menenangkan’ anak-anak mereka daripada memberikan buku .

Sejak momen itu Matilda merasa bahwa ia berbeda dengan keluarganya dan melihat bahwa apa yang ia butuhkan harus ia sendiri yang melakukannya tanpa bantuan keluarganya. Dari buku kuning, ia mencari alamat perpustakaan umum. Ia berangkat sendiri ke tempat itu dan mencari buku anak-anak.

Setiap hari ketika semua keluarganya pergi untuk aktifitas masing-masing, Matilda ke perpustakaan yang berjarak 10 blok dari rumahnya.

Di usia yang masih sangat muda, hampir semua buku anak-anak dari perpustakaan ia ‘lahap’ habis dan mulai penasaran dengan bacaan lainnya.  Pikirannya yang masih muda terus bertumbuh dengan membaca banyak bacaan seolah para penulis memberi pupuk ke dalam pikirannya. Buku-buku tersebut seperti memberi harapan dan pesan yang menyenangkan bahwa: “You are not alone.

Memasuki usia 6 tahun, Matilda minta disekolahkan oleh ayahnya. Namun Harry menganggap Matilda masih berusia 4 tahun. Di sini juga terdapat sindiran bahwa ada di kehidupan nyata masih ada orangtua yang lupa dengan usia anaknya sendiri karena terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Di usia itu juga, Matilda sudah mampu menghitung matematika dengan cepat tanpa menggunakan kalkulator. Ketika Harry menyuruh Michael menghitung keuntungan yang akan didapat dari hasil menjual mobil bekas, dengan cepat Matilda tahu hasilnya tanpa menghitung. Alih-alih bangga dengan apa yang dilakukan Matilda, Harry malah menyalahkan Matilda karena ia lebih pintar darinya dan Michael. Harry mengatakan hal yang buruk pada Matilda dan menghukumnya. Dan perbuatan itu membuat Matilda melakukan hal yang sama pada ayahnya dengan mengerjai Harry dengan menukar pewarna rambutnya dengan zat lain ketika semuanya tidur.

Pada satu malam, ketika semua anggota keluarga sedang santai sambil menonton TV, Matilda tidak mengikuti apa yang keluarganya lakukan. Ia asik membaca buku. Itu membuat Harry marah dan memaksa Matilda untuk menonton acara TV tersebut dengan memegang kepalanya ke arah TV. Matilda tidak menyukainya, dalam keadaan emosi ia memicingkan kuat matanya dan tiba-tiba TV itu meledak.

Matilda akhirnya sekolah di tempat yang dipimpin oleh kepala sekolah yang sangat sangat sangar, kejam, kaku, dan tidak suka dengan anak-anak, Ms. Trunchbull (Pam Parris). Ia tak segan-segan menghukum anak-anak yang melakukan seuatu yang tidak sesuai dengan aturan yang ia buat seperti melempar mereka atau memasukkan ke dalam choky (ruangan gelap dan kecil dengan pintu tajam).

Namun Matilda beruntung diajar oleh guru yang sangat baik dan penyayang anak-anak, Ms. Honey (Embeth Davidtz). Meskipun Matilda telat masuk sekolah dasar, namun ia sama sekali tidak tertinggal pelajaran karena ia sudah membaca banyak buku. Bahkan ia lebih pintar dari teman-temannya. Itu membuat Ms. Honey terkagum-kagum pada Matilda. Itu karena semua buku sudah ia baca.

Matilda sangat menyukai gurunya, Ms Honey yang sangat baik hati dan peduli padanya. Begitupun Ms. Honey sangat takjub dengan kecerdasan Matilda. Hingga suatu malam Ms. Honey datang ke rumah Matilda untuk membicarakan tentang kecerdasan otak Matilda. Tentu orangtua Matilda tidak menyambut dengan baik kedatanganya dan tidak peduli dengan kecerdasan Matilda. Mereka tidak akan mengizinkan Matilda sekolah lebih tinggi sampai ke Perguruan Tinggi. Bagi mereka anak perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi menghabiskan waktu dan uang untuk belajar yang ujung-ujungnya hanya menjadi pengangguran atau karyawan sales. well, ini juga sindiran lagi 😅. Ms. Honey yang baik dan lembut tidak ingin berargumen lebih jauh dengan ayah ibu Matilda. Ia tahu bahwa ia tidak akan menemukan titik temu dan kecocokkan dari pembicaraan itu. Lalu ia pulang dan meninggalkan sebuah buku di meja untuk Matilda.

Dalam keadaan yang sangat emosional Matilda memiliki pikiran yang kuat melakukan segala sesuatu dengan matanya. Ia bisa melakukan semuanya bisa bergerak dengan gerakan matanya. Kadang ia berhasil melakukannya, kadang tidak. Menyadari memiliki kekuatan tersebut, ia melatihnya dengan emosional yang ia miliki. Sejak ia berhasil melakukannya dengan baik, pergerakan mata dan tangannya  menjadi kekuatannya. Ia mampu menyelesaikan masalah Ms. Honey dengan Ms. Trunchbull yang terjadi selama ini bahwa ia adalah bibi Ms. Honey. Ms. Trunchbull mengambil rumah dan isinya juga membunuh ayahnya. Matilda memiliki ide ‘gila’ untuk mengambil semua milik Ms. Honey dari Ms. Trunchbull.

Film Matilda baik sekali ditonton untuk anak-anak dan keluarga. Dilihat dari “kacamata” anak-anak, cerita Matilda sesungguhnya sangat ringan, lucu, dan menyenangkan. Namun jika dilihat dari “kacamata” saya, meskipun cerita ini sederhana dan hanya fiktif tapi banyak sekali pesan dan sindiran yang disampaikan dalam film ini. Bahwa terkadang orang dewasa selalu merasa dirinya benar dan kuat hingga meremehkan anak-anak. Bahwa ada beberapa orangtua yang menganggap bahwa pendidikan tinggi itu tidak penting. Bahwa orangtuapun bisa melakukan banyak kesalahan dan tak mengerti banyak hal. Bahwa ketika orang dewasa yang telah menjadi orangtua dan memiliki anak, mereka harus siap dengan perbedaan karakter masing-masing anak. Satu kalimat yang saya suka dalam film ini ketika Ms Honey menceritakan kisah hidupnya dan mengapa ia menceritakannya pada Matilda, lalu berkata:

You were born into a family that doesn’t always appreciate you, but one day things are gonna be different”

 

Sebagai sutradara dan pemeran karakter villian, Danny DeVito sangat baik mengeksekusi film ini.

Dengan jalan cerita yang ringan, film ini layak untuk ditonton segala usia. Beberapa adegan memang tidak masuk akal, tapi semua itu cukup menghibur.

Nilai: 5/5

What Maisie Knew (2012)

Film What Maisie Knew diangkat berdasarkan novel yang ditulis oleh Henry James dengan judul yang sama pada tahun 1897. What Maisie Knew disutradarai oleh Scott McGehee dan David Siegel. Sedangkan yang menulis naskah film ini adalah caroll Cartwright dan Nancy Doyne. Film yang bergenre drama ini rilis premier di Toronton Internationa Film Festival pada tahun 2012. Sedangkan rilis di Amerika pada 3 Mei 2013.

Film yang berdurasi kurang lebih satu jam tiga puluh sembilan menit ini mengisahkan tentang seorang gadis kecil berusia 6 tahun, Maisie Elizabet Beale (Onata Aprile) yang sangat peka dan selalu mengamati perilaku kedua orangtuanya yang selalu bertengkar sampai akhirnya bercerai.

Maisie selalu memperhatikan ibunya, Susanna (Julianne Moore) yang berperilaku tak layaknya seorang ibu. Ia seorang vokalis rock band yang kadang harus pergi tur meninggalkan Maisie. Ayah Maisie, Beale (Steve Coogan) adalah seorang pebisnis yang sering ke luar negeri. Maisie memiliki seoarang baby sitter cantik, Margo (Joanna Vanderham) yang selalu setia menemaninya. Setelah orangtua Maisie bercerai, ibunya, Susanna menikah dengan laki-laki yang lebih muda darinya, Lincoln (Alexander Skarsgard), seorang bartender. Sedangkan ayahnya, Beale tanpa diduga menikah dengan baby sitter Maisie, Margo. Orangtua Maisie membagi waktu mereka bersama Maisie tiap 10 hari. Susanna sering pergi tur dengan bandnya, jadi Maisie lebih sering bersama Lincoln dan beberapa kali Maisie harus ikut ke tempat di mana Lincoln bekerja. Begitu pula dengan Beale yang sering ke luar negeri untuk berbisnis tanpa Margo, sehingga Maisie lebih sering bersama Margo. Dengan keadaan tersebut, secara otomatis Maisie lebih dekat dan memiliki ikatan emosional lebih kuat pada Margo dan Lincoln yang sangat menyayanginya daripada orangtua kandungnya yang acuh tak acuh.

Sudut pandang pada film ini adalah Maisie, seorang anak kecil berusia 6 tahun. Itu artinya semua berpusat pada pandangan atau bagaimana cara Maisie melihat dan mendengar segala sesuatu. Bahwa Maisie diam-diam paham dengan keadaan dan masalah orang dewasa. Ia tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan dari orantuanya. Dan pada akhirnya anak-anak hanya akan dekat pada orang-orang peduli yang sangat mengasihi mereka dengan setulus hati meskipun mereka bukan siapa-siapanya si anak.

Melalui karakter Maisie, yang saya bisa simpulkan tentang film adalah bahwa anak-anak akan tetap menjadi anak-anak yang nampak baik-baik saja selama mereka mendapatkan kasih sayang dari orang dewasa, siapapun mereka, dan menerima jalan apapun yang diberikan orangtua mereka, baik ataupun buruk. Dan apa yang dilakukan oleh Susanna pada Maisie adalah apa yang ia dapatkan dari orangtua yang juga tak peduli padanya ketika ia kecil. Adegan itu ditampilkan pada akhir film ketika Susanna tiba-tiba datang menemui Maisie yang sedang berada di rumah pantai bersama Margo dan Lincoln. Ia mengajak Maisie untuk ikut tur esok hari, sedangkan Maisie sudah mengatur jadwal bahwa ia akan naik perahu di pantai di hari yang sama. Maisie lebih memilih naik perahu bersama Margo dan Lincoln karena ia sudah menginginkan sejak lama. Susanna marah dan menaikkan intonasi suaranya hingga Maisie nampak ketakutan. Susanna merendahkan suaranya dan berkata:

Susanna: “A long time ago I was just like you. I was   just like you ………………………….

“You know your mother is, right”

Maisie: “You.”

Dari pertama sampai akhir, cerita film ini sangat datar dan bisa dibilang membosankan. Tak ada konflik yang tajam yang bikin greget. Namun bagi para orangtua dan yang akan menjadi orangtua, film ini sangat amat layak ditonton. Di setiap adegan yang disajikan film ini memiliki banyak makna yang tersirat. Banyak orangtua tak menyadari bahwa anak-anak adalah pengamat yang paling kritis terhadap tindak tanduk mereka, dan itu akan terus tersimpan dalam pikiran mereka, dan bisa mereka tiru sampai dewasa. Ketika para orangtua tidak melakukan apa yang harus anak dapatkan; perhatian dan kasih sayang yang sepantasnya, orangtua akan tetap meminta pengakuan bahwa mereka adalah orangtua mereka, dan anak akan selalu mengakui mereka sebagai orangtua.

Onata Aprile sangat baik memainkan perannya sebagai Maisie. Peran utama dalam film ini memang anak-anak, tapi film ini diperuntukkan bukan untuk anak-anak melainkan untuk para orangtua yang memiliki anak.

Nilai: 4/5

 

The Book of Henry (2017)

The Book of Henry dibintangi oleh Jaeden Lieberher, Naomi Watts, Jacob Tremblay dan Maddie Ziegler. Film ini disutradarai oleh Colin Trevorrow dan ditulis oleh Gregg Hurwitz. The Book of Henry rilis di Los Angeles Film Festival (LAFF) pada 14 Juni 2017 dan rilis di Amerika pada 16 Juni 2017.

Dari judulnya jelas bahwa film ini menceritakan tentang buku si Henry (11 tahun). Meski umurnya masih sangat muda tapi ia adalah anak yang sangat jenius dan menyebut dirinya dewasa sebelum waktunya.

Kisah film ini tentang Henry (jaeden Lieberher), adiknya, Peter (Jacob Tremblay), ibunya, Susan (Naomi Watts) seorang single parents, tetangga perempuannya juga teman sekelasnya Christina (Maddie Ziegler) yang hidup dengan ayah tirinya, Glenn Sickleman.

Henry bukan hanya jenius, tapi ia juga sangat peka dengan lingkungan sekitarnya. Ia tidak akan bisa diam bila melihat seseorang (terutama perempuan) tersakiti. Di satu momen dan momen lainnya, ia memperhatikan Christina nampak selalu tidak bahagia. Sejak saat itu ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.

Di satu malam Henry tak bisa tidur. Jendela kamarnya berhadapan dengan jendela kamar Christina dan Glenn. Dari situ ia tahu apa yang terjadi pada Christina, bahwa ia diperlakukan tidak baik dan kasar oleh ayah tirinya.

Henry mengadukan semua perlakuan Glenn pada salah satu konsular sekolah, namun tak ada yang bisa ia perbuat karena Glenn adalah seorang komisaris polisi dan anggota dewan yang terhormat. Luka lebam, kelelahan, dan penurunan performa di kelas yang ditunjukkan oleh Christina tak cukup bukti untuk mengadili Glenn.

Henry menelepon pekerja sosial namun hal itu tetap tidak berhasil. Jadi ia memutuskan menyelesaikan semuanya sendiri. Ia merancang strategi untuk membunuh Glenn dengan sangat detil, merekamnya di tape recorder dan menulis di bukunya.

Gambar. Henry berada di tempat istimewanya dengan segala rencana yang sudah ia buat

Pada suatu malam Henry tiba-tiba kejang dan seluruh tubuhnya terguncang. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit. Selama 3-4 bulan terakhir ia mengalami sakit kepala luar biasa tapi ia tak menunjukkan pada ibu dan adiknya.

Menurut analisa dokter terdapat tumor di kepalanya dan harus dioperasi. Setelah operasi, Henry hanya bertahan hidup selama beberapa hari. Ia tahu bahwa ia tak akan berada di dunia lagi. Dan itu benar-benar terjadi, Henry meninggal dunia, tentunya hal itu sangat mengguncang hati Susan dan Peter.

Satu hari sebelum meninggal, Henry menitip pesan pada Peter bahwa ia harus memberikan buku dan semua yang sudah Henry kerjakan pada ibunya, Susan.

Apakah Susan akan melakukan semua rencana yang secara detil ditulis dan direkam oleh Henry? Dan bagaimana nasib Christina? Hal itu yang akan menjadi bagian kisah menarik dari cerita The Book of Henry.

Gambar. Peter terlelap di pundak Henry pada saat Henry sejak bicara dengan ibunya. Buku tak lepas dari tangan Henry

Rangkaian cerita The Book of Henry sederhana. Namun, dari awal cerita saya sangat suka dengan kata-kata Henry. Digambarkan usianya yang baru 11 tahun tapi tapi kata-katanya sangat dalam, bermakna, dan pemikirannya dewasa sekali.

Dalam beberapa film, Jacob Tremblay melakukan trik sulap, dan ia selalu melakukan itu dengan gaya yang menggemaskan. Hal yang sama ia lakukan dalam salah satu bagian cerita film ini.

Sedangkan Maddie Ziegler menunjukkan bakat sesungguhnya yaitu menari balet dalam acara sekolah  yang menjadi bagian akhir cerita film ini.

Gambar. Christina (Maddie Ziegler) menampilkan bakatnya pada acara sekolah

Salah satu kalimat yang sangat saya suka adalah ketika ia berbicara pada ibunya sebelum tidur tentang kekerasan terhadap seorang perempuan yang dilakukan oleh pasangannya yang terjadi di mini market dan ia tidak bisa melakukan apapun karena ibunya melarangnya. Di akhir percakapan pada adegan itu:

Henry: “Violent isn’t the worst thing in the world.

Susan: ” What is then?

Henry: “Apathy.”

Pada dasarnya film ini merupakan film keluarga. Ide cerita film ini sangat ringan. Jadi, tentunya, film ini layak ditonton oleh seluruh keluarga.

Nilai: 4/5

Like Stars On Earth

Diary klub membaca anak; menonton film Like Stars on Earth.

Sabtu, 27 Februari 2016. Sabtu ini kegiatan Reading Club tidak hanya diikuti oleh anak-anak Reading Club tapi juga anak-anak yang lain.

Semua bergabung dalam kegiatan ini karena saya memutuskan untuk memutarkan sebuah film yang sangat bagus dan menarik untuk anak-anak dan guru (barangkali juga orangtua) tonton. Meskipun kegiatan ini menonton film, tapi anak-anak akan tetap membaca, membaca teks terjemahan film berbahasa India ini untuk tahu isi cerita di dalamnya. film itu berjudul Like Stars On Earth. Dibintangi oleh mega star bollywood Aamir Khan, salah satu aktor favorit saya, yang juga memproduseri film ini.

Film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki berusia 8 tahun (Ishaan Nandkishore Awasthi) yang mengidap penyakit disleksia. Pada awalnya kedua orangtua Ishaan, terutama ayahnya, tidak mengetahui tentang kelainan yang dimiliki oleh anaknya. Ia tidak suka membaca dan menulis. Kedua hal itu seperti selalu menghantuinya. Karena ia tak mampu membaca dan menulis kalimat-kalimat dengan benar seperti teman-teman yang  lainnya. Hasil ujian dan pekerjaannya di sekolah tak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan. Ia selalu gagal dan menjadi bahan tertawaan teman-temannya serta amarah guru-gurunya. Berbeda dengan kakaknya yang selalu mendapatkan prestasi terbaik di sekolahnya. Mesku begitu, Ishaan sangat mahir melukis. Ia memiliki kepekaan seni yang tinggi daripada anak pada umumnya. Itu tidak pernah disadari oleh orang sekitarnya bahkan orangtuanya sendiri. Sampai akhirnya orangtuanya sangat marah dan kecewa dengan hasil belajar Ishaan di sekolah, hingga ayahnya memutuskan untuk memasukkannya ke sekolah asrama. Ishaan mengalami kesedihan yang mendalam. Ia sangat tidak bahagia dengan kehidupannya di sekolah asrama. Namun, kehidupan Ishaan mulai berubah ketika datang seorang guru seni pengganti yaitu Ram Shankar Nikumb (Aamir Khan). Ia juga mengajar di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus. Cara ia mengajar berbeda dengan guru-guru lainnya. Ia begitu baik, perhatian, dan berusaha dekat dengan semua anak. Diperhatikannya Ishaan tidak bahagia tiap kali ia mengajar. Lalu ia mencari tahu apa yang terjadi pada Ishaan. Ia memeriksa semua buku Ishaan, dan memperhatikan setiap tulisan yang salah (dilingkari) oleh guru. Hampir semua tulisan yang ia tulis terbalik. Kemudian, ia mengunjungi rumah Ishaan dan menganalisis semua buku miliknya. Ia terkejut ketika ia melihat bahwa Ishaan sangat pandai melukis. Ia katakan pada orangtua Ishaan bahwa anak itu memiliki penyakit disleksia. Namun ayahnya tak suka dan percaya dengan asumsi itu. Ayahnya menyakini bahwa Ishaan adalah anak yang malas, oleh karena itu ia menjadi anak yang tertinggal secara akademis. Pada hari berikutnya, Nikumb mengajar di kelas Ishaan, ia menjelaskan tentang orang yang memiliki disleksia. Ishaan mengira bahwa Nikumb sedang menyinggungnya. Tapi ia salah, bahwa yang sedang Nikumb bicarakan Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, Thomas Alva Edison, Pablo Picaso, Agatha Christie,  Walt Disney, dan Abishek Bachan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki disleksia tapi menjadi orang termashur di dunia. Setelah kelas selesai, Nikumb mengatakan pada Ishaan bahwa dirinya juga memilki penyakit disleksia, tapi tidak menyebutkannya di kelas. Sejak saat itu Ishaan mulai berubah. Ia belajar membaca dan menulis dengan cara menyenangkan diajari oleh Nikumb, sampai ia mampu menulis dan membaca dengan benar. Ia sudah bisa memakai dasi dan mengikat tali sepatu dengan benar, juga menyisir rambutnya dengan rapi. Di akhir tahun sekolah, Nikumb mengadakan kompetisi melukis yang boleh diikuti oleh siapapun, termasuk guru dan kepala sekolah. Pada hari kompetisi, Ishaan tak kunjung datang ketika semua orang sudah mulai melukis. Nikumb sangat gelisah dan khawatir. Tak ada seorangpun yang tahu dimana Ishaan berada. Beberapa waktu kemudian Ishaan akhirya datang, Nikumb langsung memberikannya selembar kertas untuk melukis. Mereka berdua mulai melukis dengan gaya lukisan masing-masing. Setelah semua selesai, waktunya juri mengumumkan siapa yang akan mendapatkan predikat lukisan terbaik. Dengan gaya kreatif yang menonjol Ishaan menjadi juara pertama, sedangkan Nikumb dengan lukisan gambar wajah Ishaan memperoleh juara kedua. Pada akhirnya, setelah banyak pembuktian, orangtua Ishaan, terutama ayahnya, mengerti tentang keadaan Ishaan dan menerima semua itu. Pada saat pengambilan hasil belajar selama Ishaan di sekolah asrama, hasil Ishaan sangat memuaskan dan  itu membuat orangtuanya bangga dengan senyum suka cita.

Film ini sangat emosional. Di akhir film, beberapa anak mengaku bahwa mereka menahan air mata mereka keluar (karena malu mendapat ejekan teman-temannya) ketika menyaksikan kesedihan Ishaan. Sedangkan salah satu teman (guru laki-laki) saya tak bisa menahan air matanya berlinang, dan membiarkan anak-anak mengejeknya. Dasar anak-anak 😀

Note: Disleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7-8 tahun. Ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami meskipun normal atau di atas rata-rata.

Bukan Hanya Sekadar

Menonton film adalah salah satu hal yang menyenangkan bagi saya. Karena di dalamnya saya bisa mendengar kata-kata, melihat tokoh dengan karakter yang berbeda-beda dan unik, melihat sesuatu yang belum pernah saya lihat melalui setting lokasi yang indah dan menakjubkan, mendengar melodi back sound dan lagu yang dapat menambah emosi cerita di dalamnya, dan hal yang paling penting adalah pesan yang disampaikan oleh sang penulis cerita, sutradara, dan seluruh tim melalui cerita yang disajikan. Menonton seperti suatu candu. Kalau sebulan belum nonton film terbaru di bioskop, entah kenapa saya selalu gelisah. Tapi tiga bulan terakhir saya sudah jarang ke bioskop. Biasanya minimal sebulan sekali saya harus wajib kudu nonton di bioskop, tapi belakangan saya ke sana cuma kalau ada film yang sudah saya incar sebelumnya. Sebagai gantinya, saya lebih sering menonton film di YouTube, tapi tentunya bukan film-film baru. Tak peduli tahun berapa film itu dimainkan, tak peduli siapa pemainnya, yang penting adalah bisa menghilangkan candu saya. Dari sekian banyak pilihan film yang ada di YouTube, 15 – 20 menit pertama yang menentukan apakah saya akan menonton film itu sampai akhir atau tidak.

Dangerous Minds (1995), dari judulnya sudah terlihat sangat menarik. Film ini dimainkan oleh Michelle Pfieffer yang berperan sebagai Louanne Johnson, seorang mantan pengajar kelautan dan kemudian melamar di sebuah sekolah dan langsung diterima untuk mengajar siswa-siswa senior high school yang super duper nakal, berperilaku sangat buruk, dan liar. Pada awalnya ia seperti tertekan dan menyerah dengan situasi kelas dengan para siswa remaja yang sangat amat kacau. Di hari pertama ia mengajar, tak ada satu pun siswa yang memperhatikannya. Mereka asyik dengan kesenangan mereka sendiri. Ia hampir menyerah. Tapi kemudian ia mempelajari sebuah buku untuk menghadapi anak-anak “luar biasa” itu. Kemudian ia merubah penampilannya dengan berpakaian dibuat se-santai mungkin dan tidak kaku. Ia menerapkan cara belajarnya dengan menggunakan puisi-puisi. Satu per satu beberapa puisi dibahas di kelas itu, sampai akhirnya ia bisa menarik perhatian, merubah sesuatu menjadi lebih baik, dan dicintai siswa-siswanya.

Moondance Alexander (2007). Terlihat tak ada yang menarik dengan judul film ini. Tapi yang membuat saya ingin menonton film ini adalah ketika saya melihat pemeran utama seorang remaja perempuan yang baru saya ketahui namanya adalah Kay Panabaker yang memerankan Moondance Alexander terlihat sangat manis dan atraktif menurut saya. Jalan cerita dan konflik dalam film ini sebenarnya biasa aja, yaitu tentang dua orang remaja perempuan yang sombong, suka meremehkan orang lain dan tak menyukai Moondance. Moondance, nama unik itu lah, dengan karakter semangat dan jiwa positif yang menarik saya untuk menontonnya sampai selesai. Selain itu, film ini cukup menghibur dan memberi inspirasi dari semangat yang Moondance miliki. Film ini terinspirasi dari kasih nyata.

Cashback (2004/2006). Ketika membaca judulnya saya pikir ide utama cerita dalam film ini berhubungan dengan uang, penjualan, pembelian atau bisnis. Memang ada hubungannya sedikit dengan semua itu, tapi itu bukan konflik utama dalam film ini. Berawal dari seorang laki-laki yang bernama Ben yang sangat patah hati setelah putus dengan pacarnya, Suzy. Ia tak bisa menghilangkan Suzy dari pikirannya. Semenjak itu ia mengalami insomnia, sampai akhirnya ia melamar pekerjaan di supermarket yang mempekerjakannya pada shift malam. Ben memiliki cita-cita menjadi seorang artis, tepatnya seorang pelukis. Ia senang sekali melukis. Ia memiliki imajinasi liar tentang tubuh perempuan dan ia selalu terkesan dengan kecantikan tubuh perempuan. Hal itu bermula ketika sewaktu kecil ia melihat seorang perempuan (entah ibunya atau teman ibunya) yang sengaja telanjang bulat sehabis mandi lewat di depan mata kepalanya berjalan menuju kamarnya, ditambah lagi teman laki-lakinya yang senang melihat majalah orang dewasa yang dimiliki orangtuanya. Ketika ia memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu di supermarket tempat ia bekerja, pada saat itu ia selalu menelanjangi semua wanita yang sedang berbelanja kemudian menggambar setiap lekuk tubuh mereka dengan indah. Awalnya saya agak risih melihat perempuan ditelanjangi dan melihat mereka bugil, seperti melihat diri sendiri ditelanjangi oleh laki-laki yang memiliki kelainan jiwa. Tapi kemudian saya berpikir dan melihat hal itu dari beberapa sisi bahwa itu bisa dibilang sebagai suatu seni dan keindahan yang dirasakan oleh Ben, bukan seksualitas atau pornografi. Walau plot ceritanya agak nggak nyambung dan lompat-lompat, tapi saya cukup terhibur oleh beberapa adegan dan ending yang indah ketika akhirnya Ben ditawari oleh suatu agen untuk memamerkan lukisan-lukisannya dan berhasil mewujudkan mimpinya. Kemudian disusul dengan menemukan cinta baru, yaitu teman kerjanya di supermarket tersebut. Rasa cinta itu ia tunjukkan melalui lukisan si perempuan dari berbagai sudut wajah dengan indah yang terpajang dalam pamerannya.

Ketika menonton sebuah film tentunya saya mencari kesenangan dan hiburan yang menghibur atau memberikan sesuatu pada jiwa saya. Tanpa saya sadari film-film yang tokoh utamanya berprofesi sebagai penulis, editor, jurnalis, atau berhubungan dengan majalah, buku, sastra atau sejenisnya selalu membawa saya untuk menontonnya tanpa kompromi siapa pemainnya, terkenal atau tidak, dan lain-lain. Dan tanpa saya sadari juga film-film yang saya tonton diangkat berdasarkan dari sebuah novel. Sungguh ini bukan kesengajaan saya memilih film-film itu. Saya hanya menonton sebuah film jika dari awal tidak membosankan dan menarik saya untuk menyaksikan ceritanya lebih jauh, tak peduli film lama atau baru, tak peduli siapa pun pemainnya.  

Beauty and The Briefcase (2010), cerita ini diangkat berdasarkan novel Diary of Working Girl yang ditulis Daniella Brodsky. Pemeran utama film adalah Hillary Duff yang berperan sebagai Lane Daniels, penulis (freelance) yang menulis tentang dunia fashion, yang berambisi bisa bergabung bekerja di majalah Cosmopolitan. Ketika temannya memberi kabar bahwa ia memiliki kesempatan untuk bekerja di majalah besar itu, mimpinya seperti menjadi nyata. Tapi sayang Kate White (perempuan yang mewawancarainya) tak satu pun menyetujui tema artikel yang ia tawarkan untuk majalah besar itu. Sampai pada beberapa percakapan mereka membicarakan masalah cinta dan dunia bisnis. Tiba-tiba Lane memiliki ide tentang tema bagaimana menemukan cinta dengan bergabung dalam dunia bisnis, dimana yang bekerja di dalamnya rata-rata adalah laki-laki. Karena ide spontannya itu, akhirnya Lane diterima bekerja di Cosmo dan harus menulis artikel tentang itu, lalu menemukan cinta “man in suit”. Hal yang harus ia lakukan adalah menyamar bekerja di perusahaan bisnis untuk menemukan cinta dari setiap “checklist item” yang ia buat untuk menemukan “the magic man”, yang kemudian akan ia jadikan artikelnya masuk ke halaman majalah Cosmo. Dengan percaya diri ia melamar di perusahaan keuangan dan diterima. Lane senang sekali karena ia bertemu banyak laki-laki di dalamnya dengan gaya dan karakter yang berbeda-beda. Beberapa laki-laki ia ajak kencan untuk menemukan “the magic man”, tentunya dengan “checklist item” yang ia tulis. Tapi usahanya gagal. Tak ada satupun yang pas. Sampai akhirnya penyamarannya terbongkar. Kemudian ia menulis semua tentang yang ia alami di perusahaan itu tanpa menemukan “the magic man”. Ia pikir ia telah mengecewakan Cosmo atas artikel yang ia tulis tidak sesuai yang diharapkan. Tapi ternyata pikirannya salah, bahwa artikel itu yang dicari oleh majalah Cosmo. Karena tulisannya lah, ia menjadi cover majalah Cosmopolitan. Berhubungan dengan checklist item and “the magic man”, Kate menyadarkan Lane bahwa Tom (managing director di perusahaan bisnis itu),  laki-laki yang sama sekali tak ada dalam checklist item-nya, justru dia lah  the true “magic man” yang Lane cari.

Lying To Be Perfect (2010)

Pemeran utamanya tidak terlalu familiar buat saya, tapi saya sangat tertarik dengan judulnya. Ternyata film ini juga diangkat berdasarkan novel, yaitu novel Cinderella Pact. Film ini bercerita tentang seorang editor, Nola Devlin, yang bekerja di suatu perusahaan majalah, berbadan gemuk dan berpenampilan lusuh hingga diabaikan dan diremehkan oleh rekan kerjanya. Sampai pada suatu hari ia berada di depan komputernya dan merubah dirinya sendiri menjadi seorang kolumnis penasehat yang cantik, pintar, juga sempurna yang ia beri nama Belinda Apple, karakter yang sangat bertolak belakang dengan dirinya. Nola merekomendasikan Apple di tempat ia bekerja. Apple membalas email-email yang berhubungan dengan seputar masalah perempuan dan selalu memberi solusi hingga membawa perubahan bagi setiap perempuan yang meminta nasehatnya, hingga akhirnya menciptakan sesuatu yang ia beri judul Cinderella Pact. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa Belinda Apple adalah Nola, termasuk dua temannya yang juga berbadan gemuk. Tak tahan dengan tubuh gemuknya yang selalu dipandang sebelah mata oleh orang sekitarnya, kemudian ia dan 2 orang temannya berusaha menurunkan berat badannya dengan manggunakan konsep Cinderella Pact, dan mereka berhasil. Di sisi lain, keberadaan Belinda Apple mulai dipertanyakan dan Nola harus memilih alter egonya di saat ia sudah berhubungan dengan seorang laki-laki yang ia cintai dan mencintainya.

Film yang baru-baru ini saya tonton adalah The Wishing Well (2009). Pemainnya tidak terlalu familiar buat saya, tapi saya tertarik untuk menontonya karena berhubungan dengan dunia redaktur. Film ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Cynthia Tamerline, seorang reporter majalah Celeb yang kemudian dikirim untuk mencari berita tentang kota kecil di Illinois. Di sana ada suatu tempat yang dipercaya bisa mengabulkan permintaan yang disebut Wishing well. Permintaan bisa terkabul hanya ketika seseorang membuat permintaan yang benar, kemudian melempar koin ke dalam sumur. Awalnya Cynthia tidak memercayai itu, sampai ia bertemu dengan gadis kecil manis, sangat manis, yang bernama Abby, yang sering meminta permintaan di sekitar sumur. Setelah Cynthia mencoba meminta permintaan dan melemparkan koin ke dalam sumur, tiba-tiba sesuatu yang ia tidak inginkan terjadi. Entah bagaimana tiba-tiba ia bekerja magang di koran lokal milik ayah Abby. Ketika ia ingin pulang dan meminta pertolongan dengan menelpon teman-temannya dari majalah Celeb (tempat ia bekerja) tak seorangpun mengenalinya. Sampai akhirnya ia harus bekerja di perusahaan koran lokal itu. Sebenarnya jalan cerita film ini agak kurang jelas, pada saat tiba-tiba Cynthia berada dalam pesawat dalam keadaan tertidur dan kembali lagi ke kotanya, setelah beberapa hari ia berada di kota kecil itu. Tapi itu nggak jadi masalah buat saya. Penulis atau sutradara bisa membuat jalan cerita atau plot apa pun selama cerita itu masih berhubungan satu sama lain dan memberikan sesuatu pada penonton. Sesuatu yang dapat saya ambil dari tokoh Cynthia adalah dimana pun ia bekerja (dengan bidang yang ia geluti (menulis)), meski bukan tempat kerja yang ia inginkan, ia bisa bekerja dengan sangat baik dan membawa perubahan bermakna bagi orang lain. Sebenarnya inti dari keseluruhan cerita ini adalah tentang kepercayaan dan keyakinan.

Under The Tuscan Sun (2003), film ini diangkat dari novel dengan judul buku yang sama, tapi karakter dan kejadiannya sudah difiksikan agar lebih dramatis. Di dalamnya menceritakan tentang seorang penulis yang bercerai dengan suaminya, kemudian sahabatnya memberi saran padanya untuk mengambil liburan dan memberikannya tiket ke Italia. Awalnya ia tidak menerima tiket itu, tapi akhirnya ia menerimanya dan melakukan perjalanan ke Italia dan tinggal di salah satu kota yang ada di sana. Ia membeli vila tuscany berharap ia memulai suatu perubahan dan mendapakan kehidupan yang lebih baik. Jalan cerita film ini sangat ringan dengan konflik yang sederhana dan cukup menghibur. Setting lokasi menjadi hal yang menarik perhatian saya dengan pemandangan yang ada di kota tersebut dan mendengar beberapa kata dan kalimat yang diucapkan dalam bahasa Italia menambah pengetahuan bahasa asing saya, walau tak banyak.

Film bergenre drama atau romansa selalu menarik untuk ditonton. Diantara banyak judul bertema cinta, saya mencoba memilih film Love Comes Softly (2003). Ternyata film ini juga diangkat dari sebuah novel. Film yang dimainkan oleh si cantik Katherine Heigl yang berperan sebagai Marty Claridge, menceritakan tentang perempuan muda yang telah menemukan pasangan hidupnya, menikah dan sangat bahagia, tapi tiba-tiba ia harus menjadi janda karena suaminya meninggal (karena kecelakaan jatuh dari kuda). Kemudian ia harus menikah lagi dengan seorang duda yang sudah memiliki anak perempuan yang tidak menyukainya, dan Marty pun sebenarnya tak mencintai laki-laki itu. Tapi ia beruntung laki-laki itu sangat baik dan menghormatinya. Awalnya sangat sulit ia melewati hidup barunya, terlebih lagi anak perempuan suaminya tidak menyukainya. Tapi ia bisa melalui semua itu, sampai pada beberapa peristiwa akhirnya sang anak tiri menyukai dan menghormatinya. Dan cinta mulai tumbuh pelan-pelan dan lembut ke dalam hati mereka. “Sometimes love is a firework, sometimes love just comes softly”

If Only (2004). Entah mengapa ketika saya membaca judul ini saya langsung tertarik ingin menontonnya. Terlebih lagi ketika saya tahu yang memainkan film ini Jennifer Love Hewitt yang berperan sebagai Samantha Andrews. Sebenarnya saya bukan penggemar beratnya, tapi saya suka dengan senyumnya yang khas dan wajah ‘lancip’nya. Ketika saya menonton ceritanya lebih jauh ternyata cukup menarik. Film ini tentang tragedi cinta. Bercerita tentang sepasang kekasih yang bernama Samantha dan Ian. Beruntung buat Ian, ketika ia seperti bermimpi atau mungkin nyata kehilangan kekasihnya Samantha dalam sebuah kecelakaan, sebuah mobil menabrak mobil yang ditumpanginya dan ia meninggal dunia, tapi itu tidak benar-benar terjadi. Ketika Ian (seperti) mendapatkan waktu itu kembali, ia memperbaiki hubungannya dengan Samantha yang mulai ia abaikan karena pekerjaannya. setelah itu ia menunjukkan betapa ia mencintai kekasihnya, dan tidak akan membiarkannya pergi meninggalkannya. Waktu seperti berulang, kejadian yang pernah ia lewati terulang kembali, semua terjadi sama persis. Sejak saat itu Ian benar-benar berusaha membuat seseorang yang ia cintai bahagia. Tanpa disangka dan diduga, di akhir cerita ternyata kecelakaan di jam yang sama saat terjadi kecelakaan yang dialami Samantha terjadi lagi. Tapi kali ini justru yang meninggal adalah Ian bukan Samantha, karena saat itu Ian ikut bersama Samantha. Kesedihan mendalam menghinggapi Samantha, karena Ian sudah menunjukkan betapa ia sangat mencintainya. Sungguh ending cerita yang tak terduga.

Saya termasuk penyuka film horor, tapi saya tidak terlalu suka dengan film yang berbau misteri, detektif atau sejenisnya. Tapi ketika melihat The Ninth Gate (1999), saya langsung tertarik untuk menontonnya. Pada adegan awal, seorang lelaki tua mencoba membunuh dirinya sendiri dengan menggantung diri setelah menulis sesuatu di atas kertas. Itu menjadi awal yang menarik untuk ditonton lebih jauh. Ketika layar memunculkan nama cast dan sebagainya dengan back sound musik agak menyeramkan, yang pertama kali muncul adalah nama Johnny Depp, dan ternyata film ini juga diangkat dari sebuah novel. Itu membuat saya jadi makin tertarik untuk menontonnya. Padahal ceritanya belum tentu bagus, menarik atau mungkin membosankan dengan durasi waktu 2 jam 13 menit 15 detik. Jujur, ketika saya tahu pemainnya Johnny Depp, yang saya nikmati dan perhatikan bukan ceritanya, tapi Depp nya. Di antara beberapa film nya yang pernah saya tonton, ia memakai kostum “aneh” dengan karakter yang “aneh” juga. Tapi di film ini ia tidak memakai kostum apa pun, ia memakai pakaian layaknya manusia biasa. Awalnya kelihatan aneh ketika melihatnya tidak memakai “kostum”, saya seperti tak melihat Depp. Tapi dengan ciri khas yang ada dalam dirinya, tanpa ia memakai “kostum”, saya bisa melihat dirinya yang sesungguhnya. Ah apapun bentuk Depp, apa pun perannya, bagaimana pun aksinya, sex appeal yang ada dalam dirinya selalu membuat saya terpesona. Kadang ada beberapa gerak tubuh yang membuat saya tersenyum dan tertawa walaupun ia tidak sedang melucu. Entahlah, mungkin beberapa perempuan di dunia yang suka menonton aksinya di film-filmnya merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Oke, cukup membahas tentang Depp. Setelah puas memperhatikan The charming Johnny Depp, barulah saya memperhatikan jalan ceritanya. Bagi saya yang nggak terlalu suka film yang berbau misteri, tapi bukan horor, cerita ini cukup menarik perhatian saya tanpa sedikitpun merasa bosan dan ngantuk selama 2 jam 13 menit 15 detik di depan laptop, durasi waktu yang cukup lama dibanding film lainnya yang pernah saya tonton. Setiap adegan membuat saya penasaran tentang akhir penyelidikan sebuah buku (The Ninth Gate yang hanya dicetak beberapa eksemplar saja) yang dilakukan oleh Corso (Depp), ya walaupun klimaks dan akhir ceritanya justru malah biasa saja menurut saya.

Itu hanya beberapa film yang saya tonton selama 3 bulan terakhir. Pastinya masih banyak film-film bagus yang bisa saya tonton dan nikmati. Menonton film bagi saya adalah hiburan dan terapi yang paling murah dan nyaman. Di dalamnya saya juga bisa melihat orang-orang cerdas dan kreatif ketika mereka mampu membuat penonton puas melihat yang sudah mereka buat. Ketika menonton sebuah film seperti ada yang menggerakkan sesuatu dalam diri saya secara emosional. Hal itu bisa membuat saya jadi cengeng, tertawa (mungkin terbahak-bahak sampe kencing-kencing, hehe nggak deng), tersenyum, terharu, berkaca-kaca, teriak sekencang-kencangnya ketika saya ketakutan melihat adegan yang sangat horor, atau mungkin ingin muntah ketika menyaksikan adegan yang menjijikkan. Menonton film seperti memberi sensasi dan atmosfir yang berbeda daripada kegiatan lain. Seperti ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika melihat refleksi dari beberapa tokoh dalam setiap jalan cerita. Kadang menonton sebuah film tertentu seperti sedang menyaksikan jalan hidup saya sendiri dan mendapat sentilan juga sindiran dari beberapa adegan dan kata yang diucapkan oleh para pemainnya. Tapi terkadang menonton film bisa jadi hanya sekadar, mungkin hanya sekadar melihat ciri khas aktris atau aktor tertentu (seperti mendengar dan melihat tawa dan senyum khas Julia Roberts atau melihat gigi kelinci dan mendengar suara khas Kristen Steward ketika sedang berbicara dengan nada tinggi), atau sekadar senang melihat anak kecil yang manis, pintar, banyak akal, lucu dan menggemaskan, atau sekadar menghilangkan rasa bosan yang mendera oleh karena rutinitas tiap hari, atau bisa jadi bukan hanya sekadar. Akhir cerita yang menyenangkan dan mendapatkan kata-kata atau kalimat istimewa dan indah seperti mengembalikan kebahagiaan batin yang hilang. 😀