The Book of Henry (2017)

The Book of Henry dibintangi oleh Jaeden Lieberher, Naomi Watts, Jacob Tremblay dan Maddie Ziegler. Film ini disutradarai oleh Colin Trevorrow dan ditulis oleh Gregg Hurwitz. The Book of Henry rilis di Los Angeles Film Festival (LAFF) pada 14 Juni 2017 dan rilis di Amerika pada 16 Juni 2017.

Dari judulnya jelas bahwa film ini menceritakan tentang buku si Henry (11 tahun). Meski umurnya masih sangat muda tapi ia adalah anak yang sangat jenius dan menyebut dirinya dewasa sebelum waktunya.

Kisah film ini tentang Henry (jaeden Lieberher), adiknya, Peter (Jacob Tremblay), ibunya, Susan (Naomi Watts) seorang single parents, tetangga perempuannya juga teman sekelasnya Christina (Maddie Ziegler) yang hidup dengan ayah tirinya, Glenn Sickleman.

Henry bukan hanya jenius, tapi ia juga sangat peka dengan lingkungan sekitarnya. Ia tidak akan bisa diam bila melihat seseorang (terutama perempuan) tersakiti. Di satu momen dan momen lainnya, ia memperhatikan Christina nampak selalu tidak bahagia. Sejak saat itu ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.

Di satu malam Henry tak bisa tidur. Jendela kamarnya berhadapan dengan jendela kamar Christina dan Glenn. Dari situ ia tahu apa yang terjadi pada Christina, bahwa ia diperlakukan tidak baik dan kasar oleh ayah tirinya.

Henry mengadukan semua perlakuan Glenn pada salah satu konsular sekolah, namun tak ada yang bisa ia perbuat karena Glenn adalah seorang komisaris polisi dan anggota dewan yang terhormat. Luka lebam, kelelahan, dan penurunan performa di kelas yang ditunjukkan oleh Christina tak cukup bukti untuk mengadili Glenn.

Henry menelepon pekerja sosial namun hal itu tetap tidak berhasil. Jadi ia memutuskan menyelesaikan semuanya sendiri. Ia merancang strategi untuk membunuh Glenn dengan sangat detil, merekamnya di tape recorder dan menulis di bukunya.

Gambar. Henry berada di tempat istimewanya dengan segala rencana yang sudah ia buat

Pada suatu malam Henry tiba-tiba kejang dan seluruh tubuhnya terguncang. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit. Selama 3-4 bulan terakhir ia mengalami sakit kepala luar biasa tapi ia tak menunjukkan pada ibu dan adiknya.

Menurut analisa dokter terdapat tumor di kepalanya dan harus dioperasi. Setelah operasi, Henry hanya bertahan hidup selama beberapa hari. Ia tahu bahwa ia tak akan berada di dunia lagi. Dan itu benar-benar terjadi, Henry meninggal dunia, tentunya hal itu sangat mengguncang hati Susan dan Peter.

Satu hari sebelum meninggal, Henry menitip pesan pada Peter bahwa ia harus memberikan buku dan semua yang sudah Henry kerjakan pada ibunya, Susan.

Apakah Susan akan melakukan semua rencana yang secara detil ditulis dan direkam oleh Henry? Dan bagaimana nasib Christina? Hal itu yang akan menjadi bagian kisah menarik dari cerita The Book of Henry.

Gambar. Peter terlelap di pundak Henry pada saat Henry sejak bicara dengan ibunya. Buku tak lepas dari tangan Henry

Rangkaian cerita The Book of Henry sederhana. Namun, dari awal cerita saya sangat suka dengan kata-kata Henry. Digambarkan usianya yang baru 11 tahun tapi tapi kata-katanya sangat dalam, bermakna, dan pemikirannya dewasa sekali.

Dalam beberapa film, Jacob Tremblay melakukan trik sulap, dan ia selalu melakukan itu dengan gaya yang menggemaskan. Hal yang sama ia lakukan dalam salah satu bagian cerita film ini.

Sedangkan Maddie Ziegler menunjukkan bakat sesungguhnya yaitu menari balet dalam acara sekolah  yang menjadi bagian akhir cerita film ini.

Gambar. Christina (Maddie Ziegler) menampilkan bakatnya pada acara sekolah

Salah satu kalimat yang sangat saya suka adalah ketika ia berbicara pada ibunya sebelum tidur tentang kekerasan terhadap seorang perempuan yang dilakukan oleh pasangannya yang terjadi di mini market dan ia tidak bisa melakukan apapun karena ibunya melarangnya. Di akhir percakapan pada adegan itu:

Henry: “Violent isn’t the worst thing in the world.

Susan: ” What is then?

Henry: “Apathy.”

Pada dasarnya film ini merupakan film keluarga. Ide cerita film ini sangat ringan. Jadi, tentunya, film ini layak ditonton oleh seluruh keluarga.

Nilai: 4/5

Like Stars On Earth

Diary klub membaca anak; menonton film Like Stars on Earth.

Sabtu, 27 Februari 2016. Sabtu ini kegiatan Reading Club tidak hanya diikuti oleh anak-anak Reading Club tapi juga anak-anak yang lain.

Semua bergabung dalam kegiatan ini karena saya memutuskan untuk memutarkan sebuah film yang sangat bagus dan menarik untuk anak-anak dan guru (barangkali juga orangtua) tonton. Meskipun kegiatan ini menonton film, tapi anak-anak akan tetap membaca, membaca teks terjemahan film berbahasa India ini untuk tahu isi cerita di dalamnya. film itu berjudul Like Stars On Earth. Dibintangi oleh mega star bollywood Aamir Khan, salah satu aktor favorit saya, yang juga memproduseri film ini.

Film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki berusia 8 tahun (Ishaan Nandkishore Awasthi) yang mengidap penyakit disleksia. Pada awalnya kedua orangtua Ishaan, terutama ayahnya, tidak mengetahui tentang kelainan yang dimiliki oleh anaknya. Ia tidak suka membaca dan menulis. Kedua hal itu seperti selalu menghantuinya. Karena ia tak mampu membaca dan menulis kalimat-kalimat dengan benar seperti teman-teman yang  lainnya. Hasil ujian dan pekerjaannya di sekolah tak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan. Ia selalu gagal dan menjadi bahan tertawaan teman-temannya serta amarah guru-gurunya. Berbeda dengan kakaknya yang selalu mendapatkan prestasi terbaik di sekolahnya. Mesku begitu, Ishaan sangat mahir melukis. Ia memiliki kepekaan seni yang tinggi daripada anak pada umumnya. Itu tidak pernah disadari oleh orang sekitarnya bahkan orangtuanya sendiri. Sampai akhirnya orangtuanya sangat marah dan kecewa dengan hasil belajar Ishaan di sekolah, hingga ayahnya memutuskan untuk memasukkannya ke sekolah asrama. Ishaan mengalami kesedihan yang mendalam. Ia sangat tidak bahagia dengan kehidupannya di sekolah asrama. Namun, kehidupan Ishaan mulai berubah ketika datang seorang guru seni pengganti yaitu Ram Shankar Nikumb (Aamir Khan). Ia juga mengajar di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus. Cara ia mengajar berbeda dengan guru-guru lainnya. Ia begitu baik, perhatian, dan berusaha dekat dengan semua anak. Diperhatikannya Ishaan tidak bahagia tiap kali ia mengajar. Lalu ia mencari tahu apa yang terjadi pada Ishaan. Ia memeriksa semua buku Ishaan, dan memperhatikan setiap tulisan yang salah (dilingkari) oleh guru. Hampir semua tulisan yang ia tulis terbalik. Kemudian, ia mengunjungi rumah Ishaan dan menganalisis semua buku miliknya. Ia terkejut ketika ia melihat bahwa Ishaan sangat pandai melukis. Ia katakan pada orangtua Ishaan bahwa anak itu memiliki penyakit disleksia. Namun ayahnya tak suka dan percaya dengan asumsi itu. Ayahnya menyakini bahwa Ishaan adalah anak yang malas, oleh karena itu ia menjadi anak yang tertinggal secara akademis. Pada hari berikutnya, Nikumb mengajar di kelas Ishaan, ia menjelaskan tentang orang yang memiliki disleksia. Ishaan mengira bahwa Nikumb sedang menyinggungnya. Tapi ia salah, bahwa yang sedang Nikumb bicarakan Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, Thomas Alva Edison, Pablo Picaso, Agatha Christie,  Walt Disney, dan Abishek Bachan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki disleksia tapi menjadi orang termashur di dunia. Setelah kelas selesai, Nikumb mengatakan pada Ishaan bahwa dirinya juga memilki penyakit disleksia, tapi tidak menyebutkannya di kelas. Sejak saat itu Ishaan mulai berubah. Ia belajar membaca dan menulis dengan cara menyenangkan diajari oleh Nikumb, sampai ia mampu menulis dan membaca dengan benar. Ia sudah bisa memakai dasi dan mengikat tali sepatu dengan benar, juga menyisir rambutnya dengan rapi. Di akhir tahun sekolah, Nikumb mengadakan kompetisi melukis yang boleh diikuti oleh siapapun, termasuk guru dan kepala sekolah. Pada hari kompetisi, Ishaan tak kunjung datang ketika semua orang sudah mulai melukis. Nikumb sangat gelisah dan khawatir. Tak ada seorangpun yang tahu dimana Ishaan berada. Beberapa waktu kemudian Ishaan akhirya datang, Nikumb langsung memberikannya selembar kertas untuk melukis. Mereka berdua mulai melukis dengan gaya lukisan masing-masing. Setelah semua selesai, waktunya juri mengumumkan siapa yang akan mendapatkan predikat lukisan terbaik. Dengan gaya kreatif yang menonjol Ishaan menjadi juara pertama, sedangkan Nikumb dengan lukisan gambar wajah Ishaan memperoleh juara kedua. Pada akhirnya, setelah banyak pembuktian, orangtua Ishaan, terutama ayahnya, mengerti tentang keadaan Ishaan dan menerima semua itu. Pada saat pengambilan hasil belajar selama Ishaan di sekolah asrama, hasil Ishaan sangat memuaskan dan  itu membuat orangtuanya bangga dengan senyum suka cita.

Film ini sangat emosional. Di akhir film, beberapa anak mengaku bahwa mereka menahan air mata mereka keluar (karena malu mendapat ejekan teman-temannya) ketika menyaksikan kesedihan Ishaan. Sedangkan salah satu teman (guru laki-laki) saya tak bisa menahan air matanya berlinang, dan membiarkan anak-anak mengejeknya. Dasar anak-anak 😀

Note: Disleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7-8 tahun. Ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami meskipun normal atau di atas rata-rata.

Bukan Hanya Sekadar

Menonton film adalah salah satu hal yang menyenangkan bagi saya. Karena di dalamnya saya bisa mendengar kata-kata, melihat tokoh dengan karakter yang berbeda-beda dan unik, melihat sesuatu yang belum pernah saya lihat melalui setting lokasi yang indah dan menakjubkan, mendengar melodi back sound dan lagu yang dapat menambah emosi cerita di dalamnya, dan hal yang paling penting adalah pesan yang disampaikan oleh sang penulis cerita, sutradara, dan seluruh tim melalui cerita yang disajikan. Menonton seperti suatu candu. Kalau sebulan belum nonton film terbaru di bioskop, entah kenapa saya selalu gelisah. Tapi tiga bulan terakhir saya sudah jarang ke bioskop. Biasanya minimal sebulan sekali saya harus wajib kudu nonton di bioskop, tapi belakangan saya ke sana cuma kalau ada film yang sudah saya incar sebelumnya. Sebagai gantinya, saya lebih sering menonton film di YouTube, tapi tentunya bukan film-film baru. Tak peduli tahun berapa film itu dimainkan, tak peduli siapa pemainnya, yang penting adalah bisa menghilangkan candu saya. Dari sekian banyak pilihan film yang ada di YouTube, 15 – 20 menit pertama yang menentukan apakah saya akan menonton film itu sampai akhir atau tidak.

Dangerous Minds (1995), dari judulnya sudah terlihat sangat menarik. Film ini dimainkan oleh Michelle Pfieffer yang berperan sebagai Louanne Johnson, seorang mantan pengajar kelautan dan kemudian melamar di sebuah sekolah dan langsung diterima untuk mengajar siswa-siswa senior high school yang super duper nakal, berperilaku sangat buruk, dan liar. Pada awalnya ia seperti tertekan dan menyerah dengan situasi kelas dengan para siswa remaja yang sangat amat kacau. Di hari pertama ia mengajar, tak ada satu pun siswa yang memperhatikannya. Mereka asyik dengan kesenangan mereka sendiri. Ia hampir menyerah. Tapi kemudian ia mempelajari sebuah buku untuk menghadapi anak-anak “luar biasa” itu. Kemudian ia merubah penampilannya dengan berpakaian dibuat se-santai mungkin dan tidak kaku. Ia menerapkan cara belajarnya dengan menggunakan puisi-puisi. Satu per satu beberapa puisi dibahas di kelas itu, sampai akhirnya ia bisa menarik perhatian, merubah sesuatu menjadi lebih baik, dan dicintai siswa-siswanya.

Moondance Alexander (2007). Terlihat tak ada yang menarik dengan judul film ini. Tapi yang membuat saya ingin menonton film ini adalah ketika saya melihat pemeran utama seorang remaja perempuan yang baru saya ketahui namanya adalah Kay Panabaker yang memerankan Moondance Alexander terlihat sangat manis dan atraktif menurut saya. Jalan cerita dan konflik dalam film ini sebenarnya biasa aja, yaitu tentang dua orang remaja perempuan yang sombong, suka meremehkan orang lain dan tak menyukai Moondance. Moondance, nama unik itu lah, dengan karakter semangat dan jiwa positif yang menarik saya untuk menontonnya sampai selesai. Selain itu, film ini cukup menghibur dan memberi inspirasi dari semangat yang Moondance miliki. Film ini terinspirasi dari kasih nyata.

Cashback (2004/2006). Ketika membaca judulnya saya pikir ide utama cerita dalam film ini berhubungan dengan uang, penjualan, pembelian atau bisnis. Memang ada hubungannya sedikit dengan semua itu, tapi itu bukan konflik utama dalam film ini. Berawal dari seorang laki-laki yang bernama Ben yang sangat patah hati setelah putus dengan pacarnya, Suzy. Ia tak bisa menghilangkan Suzy dari pikirannya. Semenjak itu ia mengalami insomnia, sampai akhirnya ia melamar pekerjaan di supermarket yang mempekerjakannya pada shift malam. Ben memiliki cita-cita menjadi seorang artis, tepatnya seorang pelukis. Ia senang sekali melukis. Ia memiliki imajinasi liar tentang tubuh perempuan dan ia selalu terkesan dengan kecantikan tubuh perempuan. Hal itu bermula ketika sewaktu kecil ia melihat seorang perempuan (entah ibunya atau teman ibunya) yang sengaja telanjang bulat sehabis mandi lewat di depan mata kepalanya berjalan menuju kamarnya, ditambah lagi teman laki-lakinya yang senang melihat majalah orang dewasa yang dimiliki orangtuanya. Ketika ia memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu di supermarket tempat ia bekerja, pada saat itu ia selalu menelanjangi semua wanita yang sedang berbelanja kemudian menggambar setiap lekuk tubuh mereka dengan indah. Awalnya saya agak risih melihat perempuan ditelanjangi dan melihat mereka bugil, seperti melihat diri sendiri ditelanjangi oleh laki-laki yang memiliki kelainan jiwa. Tapi kemudian saya berpikir dan melihat hal itu dari beberapa sisi bahwa itu bisa dibilang sebagai suatu seni dan keindahan yang dirasakan oleh Ben, bukan seksualitas atau pornografi. Walau plot ceritanya agak nggak nyambung dan lompat-lompat, tapi saya cukup terhibur oleh beberapa adegan dan ending yang indah ketika akhirnya Ben ditawari oleh suatu agen untuk memamerkan lukisan-lukisannya dan berhasil mewujudkan mimpinya. Kemudian disusul dengan menemukan cinta baru, yaitu teman kerjanya di supermarket tersebut. Rasa cinta itu ia tunjukkan melalui lukisan si perempuan dari berbagai sudut wajah dengan indah yang terpajang dalam pamerannya.

Ketika menonton sebuah film tentunya saya mencari kesenangan dan hiburan yang menghibur atau memberikan sesuatu pada jiwa saya. Tanpa saya sadari film-film yang tokoh utamanya berprofesi sebagai penulis, editor, jurnalis, atau berhubungan dengan majalah, buku, sastra atau sejenisnya selalu membawa saya untuk menontonnya tanpa kompromi siapa pemainnya, terkenal atau tidak, dan lain-lain. Dan tanpa saya sadari juga film-film yang saya tonton diangkat berdasarkan dari sebuah novel. Sungguh ini bukan kesengajaan saya memilih film-film itu. Saya hanya menonton sebuah film jika dari awal tidak membosankan dan menarik saya untuk menyaksikan ceritanya lebih jauh, tak peduli film lama atau baru, tak peduli siapa pun pemainnya.  

Beauty and The Briefcase (2010), cerita ini diangkat berdasarkan novel Diary of Working Girl yang ditulis Daniella Brodsky. Pemeran utama film adalah Hillary Duff yang berperan sebagai Lane Daniels, penulis (freelance) yang menulis tentang dunia fashion, yang berambisi bisa bergabung bekerja di majalah Cosmopolitan. Ketika temannya memberi kabar bahwa ia memiliki kesempatan untuk bekerja di majalah besar itu, mimpinya seperti menjadi nyata. Tapi sayang Kate White (perempuan yang mewawancarainya) tak satu pun menyetujui tema artikel yang ia tawarkan untuk majalah besar itu. Sampai pada beberapa percakapan mereka membicarakan masalah cinta dan dunia bisnis. Tiba-tiba Lane memiliki ide tentang tema bagaimana menemukan cinta dengan bergabung dalam dunia bisnis, dimana yang bekerja di dalamnya rata-rata adalah laki-laki. Karena ide spontannya itu, akhirnya Lane diterima bekerja di Cosmo dan harus menulis artikel tentang itu, lalu menemukan cinta “man in suit”. Hal yang harus ia lakukan adalah menyamar bekerja di perusahaan bisnis untuk menemukan cinta dari setiap “checklist item” yang ia buat untuk menemukan “the magic man”, yang kemudian akan ia jadikan artikelnya masuk ke halaman majalah Cosmo. Dengan percaya diri ia melamar di perusahaan keuangan dan diterima. Lane senang sekali karena ia bertemu banyak laki-laki di dalamnya dengan gaya dan karakter yang berbeda-beda. Beberapa laki-laki ia ajak kencan untuk menemukan “the magic man”, tentunya dengan “checklist item” yang ia tulis. Tapi usahanya gagal. Tak ada satupun yang pas. Sampai akhirnya penyamarannya terbongkar. Kemudian ia menulis semua tentang yang ia alami di perusahaan itu tanpa menemukan “the magic man”. Ia pikir ia telah mengecewakan Cosmo atas artikel yang ia tulis tidak sesuai yang diharapkan. Tapi ternyata pikirannya salah, bahwa artikel itu yang dicari oleh majalah Cosmo. Karena tulisannya lah, ia menjadi cover majalah Cosmopolitan. Berhubungan dengan checklist item and “the magic man”, Kate menyadarkan Lane bahwa Tom (managing director di perusahaan bisnis itu),  laki-laki yang sama sekali tak ada dalam checklist item-nya, justru dia lah  the true “magic man” yang Lane cari.

Lying To Be Perfect (2010)

Pemeran utamanya tidak terlalu familiar buat saya, tapi saya sangat tertarik dengan judulnya. Ternyata film ini juga diangkat berdasarkan novel, yaitu novel Cinderella Pact. Film ini bercerita tentang seorang editor, Nola Devlin, yang bekerja di suatu perusahaan majalah, berbadan gemuk dan berpenampilan lusuh hingga diabaikan dan diremehkan oleh rekan kerjanya. Sampai pada suatu hari ia berada di depan komputernya dan merubah dirinya sendiri menjadi seorang kolumnis penasehat yang cantik, pintar, juga sempurna yang ia beri nama Belinda Apple, karakter yang sangat bertolak belakang dengan dirinya. Nola merekomendasikan Apple di tempat ia bekerja. Apple membalas email-email yang berhubungan dengan seputar masalah perempuan dan selalu memberi solusi hingga membawa perubahan bagi setiap perempuan yang meminta nasehatnya, hingga akhirnya menciptakan sesuatu yang ia beri judul Cinderella Pact. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa Belinda Apple adalah Nola, termasuk dua temannya yang juga berbadan gemuk. Tak tahan dengan tubuh gemuknya yang selalu dipandang sebelah mata oleh orang sekitarnya, kemudian ia dan 2 orang temannya berusaha menurunkan berat badannya dengan manggunakan konsep Cinderella Pact, dan mereka berhasil. Di sisi lain, keberadaan Belinda Apple mulai dipertanyakan dan Nola harus memilih alter egonya di saat ia sudah berhubungan dengan seorang laki-laki yang ia cintai dan mencintainya.

Film yang baru-baru ini saya tonton adalah The Wishing Well (2009). Pemainnya tidak terlalu familiar buat saya, tapi saya tertarik untuk menontonya karena berhubungan dengan dunia redaktur. Film ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Cynthia Tamerline, seorang reporter majalah Celeb yang kemudian dikirim untuk mencari berita tentang kota kecil di Illinois. Di sana ada suatu tempat yang dipercaya bisa mengabulkan permintaan yang disebut Wishing well. Permintaan bisa terkabul hanya ketika seseorang membuat permintaan yang benar, kemudian melempar koin ke dalam sumur. Awalnya Cynthia tidak memercayai itu, sampai ia bertemu dengan gadis kecil manis, sangat manis, yang bernama Abby, yang sering meminta permintaan di sekitar sumur. Setelah Cynthia mencoba meminta permintaan dan melemparkan koin ke dalam sumur, tiba-tiba sesuatu yang ia tidak inginkan terjadi. Entah bagaimana tiba-tiba ia bekerja magang di koran lokal milik ayah Abby. Ketika ia ingin pulang dan meminta pertolongan dengan menelpon teman-temannya dari majalah Celeb (tempat ia bekerja) tak seorangpun mengenalinya. Sampai akhirnya ia harus bekerja di perusahaan koran lokal itu. Sebenarnya jalan cerita film ini agak kurang jelas, pada saat tiba-tiba Cynthia berada dalam pesawat dalam keadaan tertidur dan kembali lagi ke kotanya, setelah beberapa hari ia berada di kota kecil itu. Tapi itu nggak jadi masalah buat saya. Penulis atau sutradara bisa membuat jalan cerita atau plot apa pun selama cerita itu masih berhubungan satu sama lain dan memberikan sesuatu pada penonton. Sesuatu yang dapat saya ambil dari tokoh Cynthia adalah dimana pun ia bekerja (dengan bidang yang ia geluti (menulis)), meski bukan tempat kerja yang ia inginkan, ia bisa bekerja dengan sangat baik dan membawa perubahan bermakna bagi orang lain. Sebenarnya inti dari keseluruhan cerita ini adalah tentang kepercayaan dan keyakinan.

Under The Tuscan Sun (2003), film ini diangkat dari novel dengan judul buku yang sama, tapi karakter dan kejadiannya sudah difiksikan agar lebih dramatis. Di dalamnya menceritakan tentang seorang penulis yang bercerai dengan suaminya, kemudian sahabatnya memberi saran padanya untuk mengambil liburan dan memberikannya tiket ke Italia. Awalnya ia tidak menerima tiket itu, tapi akhirnya ia menerimanya dan melakukan perjalanan ke Italia dan tinggal di salah satu kota yang ada di sana. Ia membeli vila tuscany berharap ia memulai suatu perubahan dan mendapakan kehidupan yang lebih baik. Jalan cerita film ini sangat ringan dengan konflik yang sederhana dan cukup menghibur. Setting lokasi menjadi hal yang menarik perhatian saya dengan pemandangan yang ada di kota tersebut dan mendengar beberapa kata dan kalimat yang diucapkan dalam bahasa Italia menambah pengetahuan bahasa asing saya, walau tak banyak.

Film bergenre drama atau romansa selalu menarik untuk ditonton. Diantara banyak judul bertema cinta, saya mencoba memilih film Love Comes Softly (2003). Ternyata film ini juga diangkat dari sebuah novel. Film yang dimainkan oleh si cantik Katherine Heigl yang berperan sebagai Marty Claridge, menceritakan tentang perempuan muda yang telah menemukan pasangan hidupnya, menikah dan sangat bahagia, tapi tiba-tiba ia harus menjadi janda karena suaminya meninggal (karena kecelakaan jatuh dari kuda). Kemudian ia harus menikah lagi dengan seorang duda yang sudah memiliki anak perempuan yang tidak menyukainya, dan Marty pun sebenarnya tak mencintai laki-laki itu. Tapi ia beruntung laki-laki itu sangat baik dan menghormatinya. Awalnya sangat sulit ia melewati hidup barunya, terlebih lagi anak perempuan suaminya tidak menyukainya. Tapi ia bisa melalui semua itu, sampai pada beberapa peristiwa akhirnya sang anak tiri menyukai dan menghormatinya. Dan cinta mulai tumbuh pelan-pelan dan lembut ke dalam hati mereka. “Sometimes love is a firework, sometimes love just comes softly”

If Only (2004). Entah mengapa ketika saya membaca judul ini saya langsung tertarik ingin menontonnya. Terlebih lagi ketika saya tahu yang memainkan film ini Jennifer Love Hewitt yang berperan sebagai Samantha Andrews. Sebenarnya saya bukan penggemar beratnya, tapi saya suka dengan senyumnya yang khas dan wajah ‘lancip’nya. Ketika saya menonton ceritanya lebih jauh ternyata cukup menarik. Film ini tentang tragedi cinta. Bercerita tentang sepasang kekasih yang bernama Samantha dan Ian. Beruntung buat Ian, ketika ia seperti bermimpi atau mungkin nyata kehilangan kekasihnya Samantha dalam sebuah kecelakaan, sebuah mobil menabrak mobil yang ditumpanginya dan ia meninggal dunia, tapi itu tidak benar-benar terjadi. Ketika Ian (seperti) mendapatkan waktu itu kembali, ia memperbaiki hubungannya dengan Samantha yang mulai ia abaikan karena pekerjaannya. setelah itu ia menunjukkan betapa ia mencintai kekasihnya, dan tidak akan membiarkannya pergi meninggalkannya. Waktu seperti berulang, kejadian yang pernah ia lewati terulang kembali, semua terjadi sama persis. Sejak saat itu Ian benar-benar berusaha membuat seseorang yang ia cintai bahagia. Tanpa disangka dan diduga, di akhir cerita ternyata kecelakaan di jam yang sama saat terjadi kecelakaan yang dialami Samantha terjadi lagi. Tapi kali ini justru yang meninggal adalah Ian bukan Samantha, karena saat itu Ian ikut bersama Samantha. Kesedihan mendalam menghinggapi Samantha, karena Ian sudah menunjukkan betapa ia sangat mencintainya. Sungguh ending cerita yang tak terduga.

Saya termasuk penyuka film horor, tapi saya tidak terlalu suka dengan film yang berbau misteri, detektif atau sejenisnya. Tapi ketika melihat The Ninth Gate (1999), saya langsung tertarik untuk menontonnya. Pada adegan awal, seorang lelaki tua mencoba membunuh dirinya sendiri dengan menggantung diri setelah menulis sesuatu di atas kertas. Itu menjadi awal yang menarik untuk ditonton lebih jauh. Ketika layar memunculkan nama cast dan sebagainya dengan back sound musik agak menyeramkan, yang pertama kali muncul adalah nama Johnny Depp, dan ternyata film ini juga diangkat dari sebuah novel. Itu membuat saya jadi makin tertarik untuk menontonnya. Padahal ceritanya belum tentu bagus, menarik atau mungkin membosankan dengan durasi waktu 2 jam 13 menit 15 detik. Jujur, ketika saya tahu pemainnya Johnny Depp, yang saya nikmati dan perhatikan bukan ceritanya, tapi Depp nya. Di antara beberapa film nya yang pernah saya tonton, ia memakai kostum “aneh” dengan karakter yang “aneh” juga. Tapi di film ini ia tidak memakai kostum apa pun, ia memakai pakaian layaknya manusia biasa. Awalnya kelihatan aneh ketika melihatnya tidak memakai “kostum”, saya seperti tak melihat Depp. Tapi dengan ciri khas yang ada dalam dirinya, tanpa ia memakai “kostum”, saya bisa melihat dirinya yang sesungguhnya. Ah apapun bentuk Depp, apa pun perannya, bagaimana pun aksinya, sex appeal yang ada dalam dirinya selalu membuat saya terpesona. Kadang ada beberapa gerak tubuh yang membuat saya tersenyum dan tertawa walaupun ia tidak sedang melucu. Entahlah, mungkin beberapa perempuan di dunia yang suka menonton aksinya di film-filmnya merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Oke, cukup membahas tentang Depp. Setelah puas memperhatikan The charming Johnny Depp, barulah saya memperhatikan jalan ceritanya. Bagi saya yang nggak terlalu suka film yang berbau misteri, tapi bukan horor, cerita ini cukup menarik perhatian saya tanpa sedikitpun merasa bosan dan ngantuk selama 2 jam 13 menit 15 detik di depan laptop, durasi waktu yang cukup lama dibanding film lainnya yang pernah saya tonton. Setiap adegan membuat saya penasaran tentang akhir penyelidikan sebuah buku (The Ninth Gate yang hanya dicetak beberapa eksemplar saja) yang dilakukan oleh Corso (Depp), ya walaupun klimaks dan akhir ceritanya justru malah biasa saja menurut saya.

Itu hanya beberapa film yang saya tonton selama 3 bulan terakhir. Pastinya masih banyak film-film bagus yang bisa saya tonton dan nikmati. Menonton film bagi saya adalah hiburan dan terapi yang paling murah dan nyaman. Di dalamnya saya juga bisa melihat orang-orang cerdas dan kreatif ketika mereka mampu membuat penonton puas melihat yang sudah mereka buat. Ketika menonton sebuah film seperti ada yang menggerakkan sesuatu dalam diri saya secara emosional. Hal itu bisa membuat saya jadi cengeng, tertawa (mungkin terbahak-bahak sampe kencing-kencing, hehe nggak deng), tersenyum, terharu, berkaca-kaca, teriak sekencang-kencangnya ketika saya ketakutan melihat adegan yang sangat horor, atau mungkin ingin muntah ketika menyaksikan adegan yang menjijikkan. Menonton film seperti memberi sensasi dan atmosfir yang berbeda daripada kegiatan lain. Seperti ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika melihat refleksi dari beberapa tokoh dalam setiap jalan cerita. Kadang menonton sebuah film tertentu seperti sedang menyaksikan jalan hidup saya sendiri dan mendapat sentilan juga sindiran dari beberapa adegan dan kata yang diucapkan oleh para pemainnya. Tapi terkadang menonton film bisa jadi hanya sekadar, mungkin hanya sekadar melihat ciri khas aktris atau aktor tertentu (seperti mendengar dan melihat tawa dan senyum khas Julia Roberts atau melihat gigi kelinci dan mendengar suara khas Kristen Steward ketika sedang berbicara dengan nada tinggi), atau sekadar senang melihat anak kecil yang manis, pintar, banyak akal, lucu dan menggemaskan, atau sekadar menghilangkan rasa bosan yang mendera oleh karena rutinitas tiap hari, atau bisa jadi bukan hanya sekadar. Akhir cerita yang menyenangkan dan mendapatkan kata-kata atau kalimat istimewa dan indah seperti mengembalikan kebahagiaan batin yang hilang. 😀