Bicaralah dan Ungkapkan

Berita kematiannya tak membuatku terkejut.  Sejak ia memutuskan untuk tidak berkenan membuat percakapan denganku lagi, kami tak lagi saling berkomunikasi, dan aku selalu berusaha menjejali pikiranku bahwa ia sudah mati.

Ia pergi dalam diam, dan beberapa waktu setelah itu, setelah aku tak lagi memiliki banyak kekuatan, aku mengikuti caranya, pergi dalam diam pula.

Hujan selalu berusaha mendekatiku dan membisikkan tentang kisah-kisah indah itu, tapi aku lebih baik diam, dalam hati dan pikiran, tak ada pilihan lain selain diam dan menghapus semua memori dengan keterdiaman.

Dengan sisa kekuatan yang kumiliki,aku selalu berusaha mendiamkan jiwaku, ketakutanku, kebahagiaanku, dan kesedihanku.

Aku baru sadar bahwa ada percakapan yang memiliki resiko, dan diam adalah cara terbaik untuk menghindari segala resiko yang akan muncul.

Namun, kadang, lebih banyak kata dalam diam daripada membuat suatu percakapan.

Dalam diam terdapat banyak rahasia yang tak terungkap.

Banyak rasa dan ungkapan yang bersembunyi dalam diam.

Ketika aku mengetahui berita kematiannya, aku hanya diam.

Semua yang ada pada diriku sudah terkunci dan terdiam.

Hanya ia yang memegang kunci itu, kunci yang sama.

Sekarang, ia sudah mati, dan aku hanya bisa diam, lalu akan mati bersama kebisuan ini.

Andai Kamu Besar Nanti

Airmata Ibu tak bisa berhenti mengalir ketika memandangi ragaku terbujur kaku dibungkus selimut putih dengan selang yang menempel di salah satu bagian wajahku. Selang itu membantu mempertahankan nafasku agar tetap berada dalam jasadku. Selang yang lainnya menempel di tanganku untuk memberi tubuhku cairan sebagai pengganti makanan daya tahan tubuh yang hilang.
Selama beberapa minggu jasadku terbaring di ranjang ruangan yang penuh dengan alat-alat medis yang tak kukenal namanya. Hidupku dibantu oleh alat-alat itu.
Ibu tak pernah beranjak dari sisiku. Ia terus menjaga dan melihat perkembanganku meski rasa kantuk menyerangnya, meski tubuhnya sudah tak tangguh lagi. Ia telah memberikan segalanya padaku. Doa yang teriring dengan airmatanya terus dipanjatkan untukku yang tak berdaya membalas semuanya.
Orang-orang silih berganti melihatku sambil mendoakanku dari balik kaca bening ruangan itu.
Tiba-tiba aku tak lagi merasakan sakit itu. Semuanya seperti sudah lepas dari jasadku. Aku seperti sudah terbebas dari semua rasa sakit yang menggerogoti seluruh jaringan sel anggota tubuhku. Namun aku mulai mencari tahu tentang keberadaanku, dan siapa yang membawaku ke tempat asing ini.
Kemudian di depanku tampak seorang makhluk suci, bersih, dan lembut sedang tertidur pulas meringkuk di tempatnya. Ia terlihat sangat nyaman di tempat sempit itu. Aku tak berhenti memandang makhluk mungil itu. Ia mulai bergerak dan membuka matanya yang sangat jernih dan ia melihatku. Mata kami saling bertemu.
“Hai,” aku menyapa dan tersenyum padanya. Ia tak merespon sapaanku. Mata indahnya masih saja menatapku.
“Tenang, jangan terlalu banyak bergerak. Kamu akan menggelitik perut ibumu, dan akan membuatnya sedikit tak nyaman. Aku takkan menyakitimu,” Kataku.
Ia terlihat nyaman, menikmati dan merasakan buaian kasih perempuan itu.
“Siapa dia?” Sorot matanya seperti bertanya padaku.
“Dia akan menjadi ibumu, seseorang yang akan sangat menyayangi dan menjagamu dengan tulus, mendoakanmu di setiap langkahmu, dan ia akan selalu menjadi penerang jiwamu di saat duniamu terang atau pun gelap.”
“Dan siapa dia?” Mata bening itu menunjukkan rasa ingin tahu yang dalam.
“Dia akan menjadi ayahmu, seseorang yang akan menuntun jalanmu, selalu menjaga dan melindungimu juga ibumu. Mereka berdua akan menjadi pelengkap jiwamu.”
Makhluk menggemaskan itu perlahan bergerak memutar posisinya 90 derajat. Rasanya aku ingin menyentuh jari-jari mungilnya, merasakan halus dan lembut kulitnya, dan mencium wangi surga dari aroma tubuh dan jiwanya yang masih murni.
Tapi tiba-tiba sesuatu mulai menarikku dari tempat itu.
“Sayangi dan kasihi mereka seperti mereka menyayangi dan mengasihimu pada saat ini, selalu bahagiakan dan doakan mereka,” pintaku sebelum aku pergi meninggalkan tempat itu.
Sayup-sayup aku mendengar dengungan lantunan ayat suci terngiang-ngiang di telingaku. Lalu beberapa orang memanggil-manggil namaku dan terdengar isakan-isakan mereka. Ayah berbisik di telingaku. Perlahan-lahan ia menuntunku untuk melafalkan kalimat yang terasa sukar sekali aku ucapkan. Sambil terus dituntun Ayah, aku mengikuti ucapan itu dengan terbata-bata seperti bayi yang baru belajar berbicara.
Akhirnya, di atas pembaringan itu, dengan setulus cintanya, Ibu mencium pipi pucatku untuk terakhir kalinya.
Sementara di tempat lain, perempuan yang baru saja menjadi ibu, dengan setulus kasih sayangnya mencium pipi merona makhluk mungil itu untuk pertama kalinya. Dalam senyumnya terselip doa dan cinta yang tak pernah terputus untuk makhluk mungil yang dibalut selimut berwarna dan indah di gendongannya.

Haven’t Met You Yet

I’m not surprised, not everything lasts
I’ve broken my heart so many times, I stopped keeping track
Talk myself in, I talk myself out
I get all worked up, then I let myself down

I tried so very hard not to lose it
I came up with a million excuses
I thought, I thought of every possibility

And I know someday that it’ll all turn out
You’ll make me work, so we can work to work it out
And I promise you, kid, that I give so much more than I get
I just haven’t met you yet

I might have to wait, I’ll never give up
I guess it’s half timing, and the other half’s luck
Wherever you are,whenever it’s right
You’ll come out of nowhere and into my life

And I know that we can be so amazing
And, baby, your love is gonna change me
And now I can see every possibility

And somehow I know that it’ll all turn out
You’ll make me work, so we can work to work it out
And I promise you, kid, I give so much more than I get
I just haven’t met you yet

They say all’s fair
In love and war
But I won’t need to fight it
We’ll get it right and we’ll be united

And I know that we can be so amazing
And being in your life is gonna change me
And now I can see every single possibility

And someday I know it’ll all turn out
And I’ll work to work it out
Promise you, kid, I’ll give more than I get
Than I get, than I get, than I get

Oh, you know it’ll all turn out
And you’ll make me work so we can work to work it out
And I promise you, kid, to give so much more than I get
Yeah, I just haven’t met you yet

I just haven’t met you yet
Oh, promise you, kid
To give so much more than I get
I said love, love, love, loveLove, love, love, love
(I just haven’t met you yet)Love, love, love, loveLove, love
I just haven’t met you yet

Song by Michael Buble

Siklus Alamiah

Sejauh mana pun kamu pergi dan membuang masa lalu, itu tak akan pernah pergi meninggalkamu.

Sekuat apa pun kamu berusaha mejauhi semua yang berhubungan dengan masa lampau, kamu tidak akan pernah berhasil dan sia-sia.

Ketika kamu mengabaikan beberapa pesan singkat atau tidak menerima panggilan dari orang-orang di masa lalu untuk memutus semua rantai kata yang sudah terjalin hingga membuatmu menjadi sangat jahat, itu juga tak akan pernah berhasil.

Sebuah rindu tak akan pernah hilang dari jiwa-jiwa yang hidup.

Mereka hanya ingin mengulang semua hal indah yang pernah terlewati bersama.

Mereka hanya ingin berbagi semua rasa yang mereka rasakan.

Mereka hanya ingin bercerita tentang kisah hidup mereka.

Mereka hanya ingin mengatakan betapa mereka merindukanmu, kicauanmu, senyum dan gelak tawamu.

Dan sekuat apa pun kamu menahannya hingga membuang rasa rindu itu, bahwa sesungguhnya kau pun merasakan hal yang sama, bahwa sesungguhnya kamu merindukan mereka.

Ketika rindu itu akan membekukan kehidupanmu, sesungguhnya kamu merindukan rindu itu.

Ketika tak ada kata yang bisa terucap, maka batinlah yang mampu melakukan pekerjaannya sendiri.

Meski tanpa kata, ketika kamu merindukan aku, bahwa aku pun merasakan hal yang sama. Ketika mereka merindukan dan mengingatku, aku pun merindukan dan mengingat mereka. Ketika kamu merasakan sakit itu, aku pun merasakan kesakitan itu.

Kami semua merasakan hal yang sama ketika sendiri, sepi, dan kehilangan.

Kasih dan benci melebur menjadi satu. Kadang menjadi doa. Kadang menjadi harapan. Kadang membiarkan itu menjadi apa pun.

Alam, angin, udara, kemiripan, peristiwa, jalan, tempat, dan perputaran roda waktu yang membawa semua itu pada kepekaan jiwa kita.

Mereka menjadi “jembatan” dan penghubung yang tak akan pernah runtuh untuk perjalanan hidup semua makhluk bumi.

“Jembatan” itu akan selalu terbentang untuk menghubungkan masa itu dengan masa ini.

Mereka mampu memperbaiki dan menyatukan hubungan waktu lalu dan waktu kini menjadi lebih indah dari sebelumnya, jika kita menginginkannya.

Meskipun semua media komunikasi telah kamu jauhi, meskipun kamu telah “membutakan” matamu, “menulikan” telingamu, dan memalingkan wajahmu, namun akan selalu ada sesuatu atau seseorang yang secara alami akan menghampirimu, kemudian mengatakan dan membisikkan sesuatu melalui celah-celah jiwamu.

Sekuat dan sejauh mana pun kamu berusaha berlari menjauhi suatu masa, kamu tak akan pernah menemukan garis akhir untuk mengakhirinya.

Karena sesungguhnya kita sudah terhubung satu sama lain.

Nyata (30 Desember 2012)

connie talbot

Connie Talbot merupakan salah satu penyanyi berbakat. Sejak ia menjadi fenomenal ketika mengikuti ajang pencarian bakat Britain’s Got Talent tahun 2007, hampir seluruh dunia mengenalnya. Dengan suaranya yang indah menyanyikan lagi Over The Rainbow pada saat itu ia baru berusia enam tahun, ia memikat banyak orang dan membuat mereka jatuh cinta padanya, termasuk saya. Ia sangat menggemaskan dengan dua gigi depan yang tanggal tapi penuh dengan senyuman dan sangat berbakat dalam dunia musik. Walaupun ia tidak memenangkan kompetisi itu, tapi setelah acara itu usai, ia menjadi gadis cilik yang sangat sibuk karena undangan ke beberapa negara di Asia, kemudian menyusul ke bagian negara yang lain. Sejak saat itu saya mengikutinya melalui YouTube. Dari wawancaranya dan tampil menjadi bintang tamu di beberapa negara seperti Hongkong, Jepang, China, Filipina, Korea, Singapore, Taiwan, Amerika, Jerman, sampai semua kegiatan yang ia lakukan di negara-negara tersebut saya perhatikan semua pola tingkahnya di YouTube, tak ada satupun yang terlewatkan semua tentangnya. Pada usia 8 tahun, ia menyanyikan lagu I Will Always Love You milik Whitney Houston dengan sangat menakjubkan dalam suatu acara di Jerman dan ia membuat semua penonton yang berada dalam acara itu berdecak kagum mendengar suara emasnya dan mendapat standing applause dari mereka. Bahkan ia bisa bernyanyi lebih bagus daripada Sarah Connor ketika berduet menyanyikan lagu Ave Maria pada saat ia berusia 9 tahun.

Selain suaranya yang memikat banyak pendengar,  saya juga menyukai attitude, behavior, dan manner yang ia miliki. Ia juga memiliki beberapa pencapaian prestasi di usianya yang masih sangat muda beberapa di antaranya: mendapat lima emas dan platinum dari albumnya di usia yang sangat muda, album pertamanya Over The Rainbow sempat berada di urutan nomor satu di tangga lagu Taiwan, Korea, dan Amerika, ia juga ditunjuk menjadi duta untuk Toys For Tots Foundation pada usia sembilan tahun dan menjadi duta termuda di antara duta-duta sebelumnya. Saya memperhatikan gadis yang sekarang sudah berusia 12 tahun ini tidak seperti penyanyi cilik lain (yang juga memiliki kemampuan bernyanyi sama bagus dengannya) yang saya lihat di YouTube. Sebagai orang Barat, ia sangat ramah, sopan, dan memiliki tata krama seperti orang Timur, begitu juga dengan ibunya. Mungkin, karena itu namanya besar di Asia. Cara ia beryanyi layaknya seperti anak-anak dan sangat natural, tak ada yang ia buat-buat seperti orang dewasa ketika ia menyanyikan lagu dewasa. Yang paling menakjubkan adalah ia tak pernah mengikuti les menyanyi. Ia hanya bernyanyi dengan caranya sendiri tanpa mengikuti gaya penyanyi siapa pun dan bernyanyi dengan indah untuk membuat orang bahagia mendengar nyanyiannya.

Semakin bertambah usianya, suaranya dan performanya semakin matang. Tuhan benar-benar memberikan karunia padanya suara yang indah dan orangtua yang bisa membimbingnya dengan baik. Dalam tiap wawancaranya di beberapa negara, ia sangat rendah hati, sangat berhati-hati dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya, tidak menganggap dirinya istimewa dan fenomenal dalam bernyanyi dan selalu membawa keceriaan. Ia bersikap layaknya gadis cilik pada umumnya. Mendengar aksen British dan melihat gaya femininnya saat bernyanyi membuat saya tak berhenti melihat lebih jauh gadis yang hampir menyelesaikan studinya di Blackwood Primary School, Streetly. Mungkin saat ini saya sedang terkesan dengan suaranya, kerendahan hatinya, sikap naturalnya, senyumnya, tawanya dan semuanya yang ada dalam dirinya. Ketika saya membaca informasi tentangnya bahwa ia akan datang untuk pertama kalinya ke Indonesia dalam rangka menjalankan world tour asia untuk mempromosikan albumnya yang ke-empat Beautiful World yang diambil dari single lagu original-nya yang berjudul Beautiful World, yang ia tulis pada saat ia berumur tujuh tahun. Tentunya saya tak ingin membuang kesempatan untuk menyaksikannya secara langsung. Ada satu hal yang selalu saya ingat ketika saya mengalami hal ini.

Pada saat awal kuliah sastra delapan tahun silam, salah satu dosen saya menyampaikan kuliahnya (tapi saya lupa mata kuliah apa), lalu ia bertanya pada kami (mahasiswanya) tentang orang-orang yang hanya kita lihat di televisi, media elektronik atau media massa apakah mereka benar-benar ada di bumi ini jika kita tak pernah melihatnya secara langsung. Connie Victoria Elizabeth Talbot, atau dikenal Connie Talbot, seorang gadis cilik beranjak remaja ber-kebangsaan Inggris yang hanya bisa saya lihat di YouTube, ia nyata dan ada ketika saya menyaksikannya secara langsung bernyanyi di Central Park Jakarta pada tanggal 30 Desember 2012, sehari sesudah ia menjadi bintang tamu dan tampil di acara musik Dahsyat dan Idola Cilik RCTI.

Bukan Hanya Sekadar

Menonton film adalah salah satu hal yang menyenangkan bagi saya. Karena di dalamnya saya bisa mendengar kata-kata, melihat tokoh dengan karakter yang berbeda-beda dan unik, melihat sesuatu yang belum pernah saya lihat melalui setting lokasi yang indah dan menakjubkan, mendengar melodi back sound dan lagu yang dapat menambah emosi cerita di dalamnya, dan hal yang paling penting adalah pesan yang disampaikan oleh sang penulis cerita, sutradara, dan seluruh tim melalui cerita yang disajikan. Menonton seperti suatu candu. Kalau sebulan belum nonton film terbaru di bioskop, entah kenapa saya selalu gelisah. Tapi tiga bulan terakhir saya sudah jarang ke bioskop. Biasanya minimal sebulan sekali saya harus wajib kudu nonton di bioskop, tapi belakangan saya ke sana cuma kalau ada film yang sudah saya incar sebelumnya. Sebagai gantinya, saya lebih sering menonton film di YouTube, tapi tentunya bukan film-film baru. Tak peduli tahun berapa film itu dimainkan, tak peduli siapa pemainnya, yang penting adalah bisa menghilangkan candu saya. Dari sekian banyak pilihan film yang ada di YouTube, 15 – 20 menit pertama yang menentukan apakah saya akan menonton film itu sampai akhir atau tidak.

Dangerous Minds (1995), dari judulnya sudah terlihat sangat menarik. Film ini dimainkan oleh Michelle Pfieffer yang berperan sebagai Louanne Johnson, seorang mantan pengajar kelautan dan kemudian melamar di sebuah sekolah dan langsung diterima untuk mengajar siswa-siswa senior high school yang super duper nakal, berperilaku sangat buruk, dan liar. Pada awalnya ia seperti tertekan dan menyerah dengan situasi kelas dengan para siswa remaja yang sangat amat kacau. Di hari pertama ia mengajar, tak ada satu pun siswa yang memperhatikannya. Mereka asyik dengan kesenangan mereka sendiri. Ia hampir menyerah. Tapi kemudian ia mempelajari sebuah buku untuk menghadapi anak-anak “luar biasa” itu. Kemudian ia merubah penampilannya dengan berpakaian dibuat se-santai mungkin dan tidak kaku. Ia menerapkan cara belajarnya dengan menggunakan puisi-puisi. Satu per satu beberapa puisi dibahas di kelas itu, sampai akhirnya ia bisa menarik perhatian, merubah sesuatu menjadi lebih baik, dan dicintai siswa-siswanya.

Moondance Alexander (2007). Terlihat tak ada yang menarik dengan judul film ini. Tapi yang membuat saya ingin menonton film ini adalah ketika saya melihat pemeran utama seorang remaja perempuan yang baru saya ketahui namanya adalah Kay Panabaker yang memerankan Moondance Alexander terlihat sangat manis dan atraktif menurut saya. Jalan cerita dan konflik dalam film ini sebenarnya biasa aja, yaitu tentang dua orang remaja perempuan yang sombong, suka meremehkan orang lain dan tak menyukai Moondance. Moondance, nama unik itu lah, dengan karakter semangat dan jiwa positif yang menarik saya untuk menontonnya sampai selesai. Selain itu, film ini cukup menghibur dan memberi inspirasi dari semangat yang Moondance miliki. Film ini terinspirasi dari kasih nyata.

Cashback (2004/2006). Ketika membaca judulnya saya pikir ide utama cerita dalam film ini berhubungan dengan uang, penjualan, pembelian atau bisnis. Memang ada hubungannya sedikit dengan semua itu, tapi itu bukan konflik utama dalam film ini. Berawal dari seorang laki-laki yang bernama Ben yang sangat patah hati setelah putus dengan pacarnya, Suzy. Ia tak bisa menghilangkan Suzy dari pikirannya. Semenjak itu ia mengalami insomnia, sampai akhirnya ia melamar pekerjaan di supermarket yang mempekerjakannya pada shift malam. Ben memiliki cita-cita menjadi seorang artis, tepatnya seorang pelukis. Ia senang sekali melukis. Ia memiliki imajinasi liar tentang tubuh perempuan dan ia selalu terkesan dengan kecantikan tubuh perempuan. Hal itu bermula ketika sewaktu kecil ia melihat seorang perempuan (entah ibunya atau teman ibunya) yang sengaja telanjang bulat sehabis mandi lewat di depan mata kepalanya berjalan menuju kamarnya, ditambah lagi teman laki-lakinya yang senang melihat majalah orang dewasa yang dimiliki orangtuanya. Ketika ia memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu di supermarket tempat ia bekerja, pada saat itu ia selalu menelanjangi semua wanita yang sedang berbelanja kemudian menggambar setiap lekuk tubuh mereka dengan indah. Awalnya saya agak risih melihat perempuan ditelanjangi dan melihat mereka bugil, seperti melihat diri sendiri ditelanjangi oleh laki-laki yang memiliki kelainan jiwa. Tapi kemudian saya berpikir dan melihat hal itu dari beberapa sisi bahwa itu bisa dibilang sebagai suatu seni dan keindahan yang dirasakan oleh Ben, bukan seksualitas atau pornografi. Walau plot ceritanya agak nggak nyambung dan lompat-lompat, tapi saya cukup terhibur oleh beberapa adegan dan ending yang indah ketika akhirnya Ben ditawari oleh suatu agen untuk memamerkan lukisan-lukisannya dan berhasil mewujudkan mimpinya. Kemudian disusul dengan menemukan cinta baru, yaitu teman kerjanya di supermarket tersebut. Rasa cinta itu ia tunjukkan melalui lukisan si perempuan dari berbagai sudut wajah dengan indah yang terpajang dalam pamerannya.

Ketika menonton sebuah film tentunya saya mencari kesenangan dan hiburan yang menghibur atau memberikan sesuatu pada jiwa saya. Tanpa saya sadari film-film yang tokoh utamanya berprofesi sebagai penulis, editor, jurnalis, atau berhubungan dengan majalah, buku, sastra atau sejenisnya selalu membawa saya untuk menontonnya tanpa kompromi siapa pemainnya, terkenal atau tidak, dan lain-lain. Dan tanpa saya sadari juga film-film yang saya tonton diangkat berdasarkan dari sebuah novel. Sungguh ini bukan kesengajaan saya memilih film-film itu. Saya hanya menonton sebuah film jika dari awal tidak membosankan dan menarik saya untuk menyaksikan ceritanya lebih jauh, tak peduli film lama atau baru, tak peduli siapa pun pemainnya.  

Beauty and The Briefcase (2010), cerita ini diangkat berdasarkan novel Diary of Working Girl yang ditulis Daniella Brodsky. Pemeran utama film adalah Hillary Duff yang berperan sebagai Lane Daniels, penulis (freelance) yang menulis tentang dunia fashion, yang berambisi bisa bergabung bekerja di majalah Cosmopolitan. Ketika temannya memberi kabar bahwa ia memiliki kesempatan untuk bekerja di majalah besar itu, mimpinya seperti menjadi nyata. Tapi sayang Kate White (perempuan yang mewawancarainya) tak satu pun menyetujui tema artikel yang ia tawarkan untuk majalah besar itu. Sampai pada beberapa percakapan mereka membicarakan masalah cinta dan dunia bisnis. Tiba-tiba Lane memiliki ide tentang tema bagaimana menemukan cinta dengan bergabung dalam dunia bisnis, dimana yang bekerja di dalamnya rata-rata adalah laki-laki. Karena ide spontannya itu, akhirnya Lane diterima bekerja di Cosmo dan harus menulis artikel tentang itu, lalu menemukan cinta “man in suit”. Hal yang harus ia lakukan adalah menyamar bekerja di perusahaan bisnis untuk menemukan cinta dari setiap “checklist item” yang ia buat untuk menemukan “the magic man”, yang kemudian akan ia jadikan artikelnya masuk ke halaman majalah Cosmo. Dengan percaya diri ia melamar di perusahaan keuangan dan diterima. Lane senang sekali karena ia bertemu banyak laki-laki di dalamnya dengan gaya dan karakter yang berbeda-beda. Beberapa laki-laki ia ajak kencan untuk menemukan “the magic man”, tentunya dengan “checklist item” yang ia tulis. Tapi usahanya gagal. Tak ada satupun yang pas. Sampai akhirnya penyamarannya terbongkar. Kemudian ia menulis semua tentang yang ia alami di perusahaan itu tanpa menemukan “the magic man”. Ia pikir ia telah mengecewakan Cosmo atas artikel yang ia tulis tidak sesuai yang diharapkan. Tapi ternyata pikirannya salah, bahwa artikel itu yang dicari oleh majalah Cosmo. Karena tulisannya lah, ia menjadi cover majalah Cosmopolitan. Berhubungan dengan checklist item and “the magic man”, Kate menyadarkan Lane bahwa Tom (managing director di perusahaan bisnis itu),  laki-laki yang sama sekali tak ada dalam checklist item-nya, justru dia lah  the true “magic man” yang Lane cari.

Lying To Be Perfect (2010)

Pemeran utamanya tidak terlalu familiar buat saya, tapi saya sangat tertarik dengan judulnya. Ternyata film ini juga diangkat berdasarkan novel, yaitu novel Cinderella Pact. Film ini bercerita tentang seorang editor, Nola Devlin, yang bekerja di suatu perusahaan majalah, berbadan gemuk dan berpenampilan lusuh hingga diabaikan dan diremehkan oleh rekan kerjanya. Sampai pada suatu hari ia berada di depan komputernya dan merubah dirinya sendiri menjadi seorang kolumnis penasehat yang cantik, pintar, juga sempurna yang ia beri nama Belinda Apple, karakter yang sangat bertolak belakang dengan dirinya. Nola merekomendasikan Apple di tempat ia bekerja. Apple membalas email-email yang berhubungan dengan seputar masalah perempuan dan selalu memberi solusi hingga membawa perubahan bagi setiap perempuan yang meminta nasehatnya, hingga akhirnya menciptakan sesuatu yang ia beri judul Cinderella Pact. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa Belinda Apple adalah Nola, termasuk dua temannya yang juga berbadan gemuk. Tak tahan dengan tubuh gemuknya yang selalu dipandang sebelah mata oleh orang sekitarnya, kemudian ia dan 2 orang temannya berusaha menurunkan berat badannya dengan manggunakan konsep Cinderella Pact, dan mereka berhasil. Di sisi lain, keberadaan Belinda Apple mulai dipertanyakan dan Nola harus memilih alter egonya di saat ia sudah berhubungan dengan seorang laki-laki yang ia cintai dan mencintainya.

Film yang baru-baru ini saya tonton adalah The Wishing Well (2009). Pemainnya tidak terlalu familiar buat saya, tapi saya tertarik untuk menontonya karena berhubungan dengan dunia redaktur. Film ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Cynthia Tamerline, seorang reporter majalah Celeb yang kemudian dikirim untuk mencari berita tentang kota kecil di Illinois. Di sana ada suatu tempat yang dipercaya bisa mengabulkan permintaan yang disebut Wishing well. Permintaan bisa terkabul hanya ketika seseorang membuat permintaan yang benar, kemudian melempar koin ke dalam sumur. Awalnya Cynthia tidak memercayai itu, sampai ia bertemu dengan gadis kecil manis, sangat manis, yang bernama Abby, yang sering meminta permintaan di sekitar sumur. Setelah Cynthia mencoba meminta permintaan dan melemparkan koin ke dalam sumur, tiba-tiba sesuatu yang ia tidak inginkan terjadi. Entah bagaimana tiba-tiba ia bekerja magang di koran lokal milik ayah Abby. Ketika ia ingin pulang dan meminta pertolongan dengan menelpon teman-temannya dari majalah Celeb (tempat ia bekerja) tak seorangpun mengenalinya. Sampai akhirnya ia harus bekerja di perusahaan koran lokal itu. Sebenarnya jalan cerita film ini agak kurang jelas, pada saat tiba-tiba Cynthia berada dalam pesawat dalam keadaan tertidur dan kembali lagi ke kotanya, setelah beberapa hari ia berada di kota kecil itu. Tapi itu nggak jadi masalah buat saya. Penulis atau sutradara bisa membuat jalan cerita atau plot apa pun selama cerita itu masih berhubungan satu sama lain dan memberikan sesuatu pada penonton. Sesuatu yang dapat saya ambil dari tokoh Cynthia adalah dimana pun ia bekerja (dengan bidang yang ia geluti (menulis)), meski bukan tempat kerja yang ia inginkan, ia bisa bekerja dengan sangat baik dan membawa perubahan bermakna bagi orang lain. Sebenarnya inti dari keseluruhan cerita ini adalah tentang kepercayaan dan keyakinan.

Under The Tuscan Sun (2003), film ini diangkat dari novel dengan judul buku yang sama, tapi karakter dan kejadiannya sudah difiksikan agar lebih dramatis. Di dalamnya menceritakan tentang seorang penulis yang bercerai dengan suaminya, kemudian sahabatnya memberi saran padanya untuk mengambil liburan dan memberikannya tiket ke Italia. Awalnya ia tidak menerima tiket itu, tapi akhirnya ia menerimanya dan melakukan perjalanan ke Italia dan tinggal di salah satu kota yang ada di sana. Ia membeli vila tuscany berharap ia memulai suatu perubahan dan mendapakan kehidupan yang lebih baik. Jalan cerita film ini sangat ringan dengan konflik yang sederhana dan cukup menghibur. Setting lokasi menjadi hal yang menarik perhatian saya dengan pemandangan yang ada di kota tersebut dan mendengar beberapa kata dan kalimat yang diucapkan dalam bahasa Italia menambah pengetahuan bahasa asing saya, walau tak banyak.

Film bergenre drama atau romansa selalu menarik untuk ditonton. Diantara banyak judul bertema cinta, saya mencoba memilih film Love Comes Softly (2003). Ternyata film ini juga diangkat dari sebuah novel. Film yang dimainkan oleh si cantik Katherine Heigl yang berperan sebagai Marty Claridge, menceritakan tentang perempuan muda yang telah menemukan pasangan hidupnya, menikah dan sangat bahagia, tapi tiba-tiba ia harus menjadi janda karena suaminya meninggal (karena kecelakaan jatuh dari kuda). Kemudian ia harus menikah lagi dengan seorang duda yang sudah memiliki anak perempuan yang tidak menyukainya, dan Marty pun sebenarnya tak mencintai laki-laki itu. Tapi ia beruntung laki-laki itu sangat baik dan menghormatinya. Awalnya sangat sulit ia melewati hidup barunya, terlebih lagi anak perempuan suaminya tidak menyukainya. Tapi ia bisa melalui semua itu, sampai pada beberapa peristiwa akhirnya sang anak tiri menyukai dan menghormatinya. Dan cinta mulai tumbuh pelan-pelan dan lembut ke dalam hati mereka. “Sometimes love is a firework, sometimes love just comes softly”

If Only (2004). Entah mengapa ketika saya membaca judul ini saya langsung tertarik ingin menontonnya. Terlebih lagi ketika saya tahu yang memainkan film ini Jennifer Love Hewitt yang berperan sebagai Samantha Andrews. Sebenarnya saya bukan penggemar beratnya, tapi saya suka dengan senyumnya yang khas dan wajah ‘lancip’nya. Ketika saya menonton ceritanya lebih jauh ternyata cukup menarik. Film ini tentang tragedi cinta. Bercerita tentang sepasang kekasih yang bernama Samantha dan Ian. Beruntung buat Ian, ketika ia seperti bermimpi atau mungkin nyata kehilangan kekasihnya Samantha dalam sebuah kecelakaan, sebuah mobil menabrak mobil yang ditumpanginya dan ia meninggal dunia, tapi itu tidak benar-benar terjadi. Ketika Ian (seperti) mendapatkan waktu itu kembali, ia memperbaiki hubungannya dengan Samantha yang mulai ia abaikan karena pekerjaannya. setelah itu ia menunjukkan betapa ia mencintai kekasihnya, dan tidak akan membiarkannya pergi meninggalkannya. Waktu seperti berulang, kejadian yang pernah ia lewati terulang kembali, semua terjadi sama persis. Sejak saat itu Ian benar-benar berusaha membuat seseorang yang ia cintai bahagia. Tanpa disangka dan diduga, di akhir cerita ternyata kecelakaan di jam yang sama saat terjadi kecelakaan yang dialami Samantha terjadi lagi. Tapi kali ini justru yang meninggal adalah Ian bukan Samantha, karena saat itu Ian ikut bersama Samantha. Kesedihan mendalam menghinggapi Samantha, karena Ian sudah menunjukkan betapa ia sangat mencintainya. Sungguh ending cerita yang tak terduga.

Saya termasuk penyuka film horor, tapi saya tidak terlalu suka dengan film yang berbau misteri, detektif atau sejenisnya. Tapi ketika melihat The Ninth Gate (1999), saya langsung tertarik untuk menontonnya. Pada adegan awal, seorang lelaki tua mencoba membunuh dirinya sendiri dengan menggantung diri setelah menulis sesuatu di atas kertas. Itu menjadi awal yang menarik untuk ditonton lebih jauh. Ketika layar memunculkan nama cast dan sebagainya dengan back sound musik agak menyeramkan, yang pertama kali muncul adalah nama Johnny Depp, dan ternyata film ini juga diangkat dari sebuah novel. Itu membuat saya jadi makin tertarik untuk menontonnya. Padahal ceritanya belum tentu bagus, menarik atau mungkin membosankan dengan durasi waktu 2 jam 13 menit 15 detik. Jujur, ketika saya tahu pemainnya Johnny Depp, yang saya nikmati dan perhatikan bukan ceritanya, tapi Depp nya. Di antara beberapa film nya yang pernah saya tonton, ia memakai kostum “aneh” dengan karakter yang “aneh” juga. Tapi di film ini ia tidak memakai kostum apa pun, ia memakai pakaian layaknya manusia biasa. Awalnya kelihatan aneh ketika melihatnya tidak memakai “kostum”, saya seperti tak melihat Depp. Tapi dengan ciri khas yang ada dalam dirinya, tanpa ia memakai “kostum”, saya bisa melihat dirinya yang sesungguhnya. Ah apapun bentuk Depp, apa pun perannya, bagaimana pun aksinya, sex appeal yang ada dalam dirinya selalu membuat saya terpesona. Kadang ada beberapa gerak tubuh yang membuat saya tersenyum dan tertawa walaupun ia tidak sedang melucu. Entahlah, mungkin beberapa perempuan di dunia yang suka menonton aksinya di film-filmnya merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Oke, cukup membahas tentang Depp. Setelah puas memperhatikan The charming Johnny Depp, barulah saya memperhatikan jalan ceritanya. Bagi saya yang nggak terlalu suka film yang berbau misteri, tapi bukan horor, cerita ini cukup menarik perhatian saya tanpa sedikitpun merasa bosan dan ngantuk selama 2 jam 13 menit 15 detik di depan laptop, durasi waktu yang cukup lama dibanding film lainnya yang pernah saya tonton. Setiap adegan membuat saya penasaran tentang akhir penyelidikan sebuah buku (The Ninth Gate yang hanya dicetak beberapa eksemplar saja) yang dilakukan oleh Corso (Depp), ya walaupun klimaks dan akhir ceritanya justru malah biasa saja menurut saya.

Itu hanya beberapa film yang saya tonton selama 3 bulan terakhir. Pastinya masih banyak film-film bagus yang bisa saya tonton dan nikmati. Menonton film bagi saya adalah hiburan dan terapi yang paling murah dan nyaman. Di dalamnya saya juga bisa melihat orang-orang cerdas dan kreatif ketika mereka mampu membuat penonton puas melihat yang sudah mereka buat. Ketika menonton sebuah film seperti ada yang menggerakkan sesuatu dalam diri saya secara emosional. Hal itu bisa membuat saya jadi cengeng, tertawa (mungkin terbahak-bahak sampe kencing-kencing, hehe nggak deng), tersenyum, terharu, berkaca-kaca, teriak sekencang-kencangnya ketika saya ketakutan melihat adegan yang sangat horor, atau mungkin ingin muntah ketika menyaksikan adegan yang menjijikkan. Menonton film seperti memberi sensasi dan atmosfir yang berbeda daripada kegiatan lain. Seperti ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika melihat refleksi dari beberapa tokoh dalam setiap jalan cerita. Kadang menonton sebuah film tertentu seperti sedang menyaksikan jalan hidup saya sendiri dan mendapat sentilan juga sindiran dari beberapa adegan dan kata yang diucapkan oleh para pemainnya. Tapi terkadang menonton film bisa jadi hanya sekadar, mungkin hanya sekadar melihat ciri khas aktris atau aktor tertentu (seperti mendengar dan melihat tawa dan senyum khas Julia Roberts atau melihat gigi kelinci dan mendengar suara khas Kristen Steward ketika sedang berbicara dengan nada tinggi), atau sekadar senang melihat anak kecil yang manis, pintar, banyak akal, lucu dan menggemaskan, atau sekadar menghilangkan rasa bosan yang mendera oleh karena rutinitas tiap hari, atau bisa jadi bukan hanya sekadar. Akhir cerita yang menyenangkan dan mendapatkan kata-kata atau kalimat istimewa dan indah seperti mengembalikan kebahagiaan batin yang hilang. 😀

 

Colours of The Wind

You think you own whatever land you land on
The earth is just a dead thing you can claim
But I know every rock and tree and creature
Has a life, has a spirit, has a name

You think the only people who are people
Are the people who look and think like you
But if you walk the footsteps of a stranger
You’ll learn things you never knew you never knew

Have you ever heard the wolf cry to the blue corn moon
Or asked the grinning bobcat why he grinned
Can you sing with all the voices of the mountain
Can you paint with all the colours of the wind
Can you paint with all the colours of the wind

Come run the hidden pine trails of the forest
Come taste the sun-sweet berries of the earth
Come roll in all the riches all around you
And for once never wonder what they’re worth

The rainstorm and the river are my brothers
The heron and the otter are my friends
And we are all connected to each other
In a circle, in a hoop that never ends

Have you ever heard the wolf cry to the blue corn moon
Or asked the grinning bobcat why he grinned
Can you sing with all the voices of the mountain
Can you paint with all the colours of the wind
Can you paint with all the colours of the wind

How high does the sycamore grow
If you cut it down then you’ll never know
And you’ll never hear the wolf cry to the blue corn moon
For whether we are white or copper skinned
We need to sing with all the voices of the mountain
We need to paint with all the colours of the wind

You can own the earth and still
All you own is earth until
You can paint with all the colours of the wind

By Connie Talbot

The Proposal

Dear The invisible,

Dengan segenap cinta dan kasih, kiranya Anda bisa tinggal lebih lama menemani jasad itu. Dia baru saja kehilangan semuanya. Sejak raga itu ditinggalkan oleh ruh-ruhnya yang sudah lama mendiami jasadnya, tak ada lagi pergerakan dalam masa hidupnya saat ini.

Pertama, hati yang tak dijaga dengan baik telah dibawa oleh ruh yang sangat kuat yang ingin memiliki hatinya. Ruh jasad itu sangat lemah, sehingga tak bisa mengambil kembali hati itu, tapi justru malah terbawa oleh ruh-ruh lain. Jasad itu benar-benar kehilangan salah satu anggota utamanya. Tak ada emosi, tak ada gairah, tak ada kepekaan, tak ada identitas yang pasti,  hilangnya rasa percaya diri dan seluruh energi positif,  tak ada rasa apa pun yang tersisa dalam jasad itu. Kemudian disusul dengan isi kepala yang rusak. Yang menjadi pusat penggerak semua elemen jasad itu tak lagi berfungsi dengan baik. Dia terkena suatu virus yang sangat cepat penyebarannya ke seluruh bagian saraf lainnya.

Jasad ini perlahan mulai kehilangan daya sarafnya. Memorinya hanya berputar-putar pada dimensi waktu yang sama, tak ada pergerakan untuk dimensi waktu ke depan. Akibat dari itu, lalu merambat ke urat saraf anggota tubuh yang lainnya. Kakinya mulai terasa berat untuk melangkah. Ketika jasad-jasad lain bersama ruhnya berlari dengan cepat mencapai puncak kesuksesan, tapi jasad itu hanya diam di tempat. Tak peduli dengan waktu yang berlari begitu cepat. Tak peduli pada raungan-raungan jiwa yang ingin berkelana. Sungguh, dia sangat jauh tertinggal.

Lambat laun jasad itu terlihat seperti roda sepatu roda yang berkarat. Perlahan rodanya akan macet karena hanya disimpan di suatu tempat dan tak pernah digunakan. Jasad itu hanya berbaring seperti mayat hidup. Semua hal yang menyatu dalam tubuhnya perlahan mulai pergi meninggalkan jasad itu, kecuali seonggok daging dan tulang yang terjebak di dalamnya. Mereka tak tahan karena diabaikan oleh sang jasad yang dengan perlahan akan mati membusuk digerogoti oleh energi negatif dan dikuasai oleh ruh-ruh jahat.

Hanya hembusan nafas yang masih setia menemaninya. Itu pun karena ia tak punya pilihan lain, harus tetap tinggal bersama jasad itu sampai malaikat maut datang mencabutnya.

Namun, di masa-masa krisis itu kau datang membawa sejuta angan dan asa. Tuhan mengirimmu untuk memberikan dan membangkitkan ruh-ruh baru datang ke jasad itu mengganti ruh lama yang telah pergi. Dengan gemulai kau menari di depan kepala yang isinya sudah hampir rusak.

Kau memperbaiki semua jaringan-jaringan saraf yang hampir tak berbentuk lagi. Kau membuat jasad itu menggeliat dengan rangsangan-rangsanganmu yang lembut membangkitkan gairah dan membuat sekumpulam daging yang ada dalamnya terlihat segar kembali dan membuat ruh-ruh lain cemburu dan ingin mendekati jasad itu, walau hanya sekadar bercengkrama.

Oleh karena itu sudi kiranya kau singgah lebih lama lagi menemani jasad itu, memberi gairah-gairah baru dan energi-energi positif, membuka jendela-jendela yang sudah lama tertutup, membangun dinding – dinding baru, menggali mutiara yang tertutupi oleh bebatuan, mengasah batu berlian yang sudah ada, merangkai dan mendekorasi ornamen-ornamen indah, dan membuat ruh-ruh lebih bergairah menggeliat dalam jasad itu.

Sekali lagi, tinggal lah lebih lama lagi sampai jasad itu benar-benar kokoh menyatu dengan ruh baru, dan menemaninya sampai masa ini telah usai. Sampai dia bertemu dengan pelengkap jiwanya hingga menjadi kesatuan jiwa dan raga yang seimbang, mengisi rongga-rongga yang kosong, melengkapi kehidupan yang satu dengan yang lainnya.

Tak ada ucapan yang paling baik selain kata terima kasih atas layatan yang sudah Anda lakukan pada jasad itu.

From: The host

Di Antara Sebuah Refleksi

 

Selama hampir 1 windu dia berada di pengasingannya. Dia tak mampu merasakan hangatnya matahari yang bersinar terang menghangatkan semua makhluk hidup yang ada di bumi. Cahaya bulan dan bintang yang begitu indah menghiasi langit gelap pun tak mampu menerangi langkahnya dalam gelap. Mata pikirannya masih tertutup oleh ilusi yang tak jelas. Jarum jam terus berdetak dan berputar, baru lah dia mulai menyadari waktu, siang dan malam. Dia mulai menyadari keterdiamannya, “kemandulannya”, kebodohannya, ketumpulannya, kedangkalannya, betapa dirinya tak berguna sebagai insan yang yang diberi kesempurnaan hidup oleh Yang Maha Hidup.

Dia mulai beranjak, melakukan hal kecil apa pun yang bisa merubah sedikit jalan pikirannya yang masih lemah. Pikirannya membantu jiwa dan dirinya bangkit. Sore itu dia mulai berani melangkah keluar dari tempat pengasingannya. Angin menyapu halus kulit tangan dan wajahnya. Dia mulai menghirup udara sejuk, meresapinya hingga masuk ke seluruh rongga-rongga tubuhnya yang sudah sangat haus udara segar dan bebas. Dia terlihat mulai merasakan suatu kehidupan. Dia memperhatikan pohon-pohon yang sudah tinggi, tumbuh besar dan berbuah. Bunga-bunga itu tampak tak ingin kalah, mereka seolah ingin memamerkan keindahannya dengan mekar yang sempurna dan harum hingga membuat semua orang yang melihatnya ingin memetik dan mencium wanginya.

 Di tempat lain seorang bayi menangis dengan keras, entah apa yang ia inginkan, tak ada yang mengerti bahasanya karena ia belum mampu berbicara. Ibunya memeluknya erat dan menciumnya, mengayunkan gendongannya, mengusap punggungnya dengan lembut, kasih dan sayangnya hingga akhirya ia berhenti menangis dan merasa nyaman di pelukan sang bunda.

Bocah-bocah itu tersenyum lebar dengan tulus dengan gigi-gigi susu yang baru tumbuh. Mereka begitu tekun belajar banyak hal dengan caranya sendiri tanpa siapapun yang mengetahuinya, merangkak demi mencapai tempat yang ingin ia singgahi hingga akhirnya mereka mampu berjalan sendiri tanpa dituntun lagi oleh orangtuanya.

Bocah laki-laki itu sedang belajar mengayuh sepedanya tanpa roda di samping kiri dan kanannya. Beberapa kali terjatuh dan terluka, tapi ia pantang menyerah untuk mencobanya lagi, sampai akhirnya ia mampu dengan lancar mengayuh sepedanya.

 Perempuan itu sudah berumur 78 tahun, tapi semangat hidupnya sangat tinggi, ia masih sangat sehat, giginya masih utuh dan bagus dan ia masih dapat melakukan semuanya sendiri. Mereka menyapanya dengan ramah. Tuhan telah memberkahi hidup mereka, kehidupan dan dunia yang sangat indah.

Dia pun mulai dapat merasakan keberkahan-Nya. Mereka memberikan senyuman tulus padanya, dan dia membalas senyuman itu, senyuman yang tersembunyi selama beberapa waktu. Kakinya masih melangkah menyurusi garis jalan itu.

Di persimpangan jalan dia melihat bendera kuning dipasang di depan salah satu rumah. Terdengar suara tangisan cukup keras, juga terdengar suara-suara isakan. Mereka begitu kehilangan orang yang mereka sayang. Selang waktu beberapa menit sebuah keranda mayat keluar, melewatinya, tepat di depan matanya. Pikirannya mulai menerawang memandangi keranda yang berisi makhluk yang tak lagi bernyawa digotong dan dibawa ke peristirahatannya yang terakhir. Suara tangisan dan isakan masih terdengar. Mereka terlihat sangat kehilangan. Bagi mereka tak akan ada lagi perjumpaan, canda tawa dan berbagi kasih dan sayang dengan makhluk yang ada dalam keranda itu untuk selamanya. Semua yang berasal dari-Nya, akan kembali pada-Nya. Tuhan dapat mengambil milik-Nya kapan pun Dia mau, dan tak akan ada seorang pun yang tahu kehendak-Nya.

Matanya berkaca-kaca melihat apa yang baru saja dia lihat, bahwa rasa syukur telah dia abaikan selama ini. Semua yang dia lihat seperti membangunkannya dari mimpi buruknya selama ini. Dengan kekuatan yang dahsyat dia berusaha melepaskan pikiran, perasaan yang terkutuk dan melupakan semua yang terjadi dalam mimpi buruk itu. Dia mulai membuka matanya, tapi masih terdiam, mengumpulkan nyawa-nyawa yang masih berpendar, menenangkan diri hingga dia merasa bahwa jiwanya sudah benar-benar terkumpul menyatu dengan raganya.

Sebuah untaian kata dari bagian awal mimpi buruknya itu (It’s funny when you cannot sleep while others have created many stories in their sleep. You feel that you’re a sleepless – living man in this sleeping – dead world. You are dreaming while your eyes open. It’s horrible dream, a nightmare, when you experience this. Pictures of your departing life appear and reappear creating a gallery broken memories at the corner of your mind) mengikutinya mengalir ke dalam pikiran dan jiwa sadarnya. Selama beberapa waktu kata-kata itu masih menggelayut di pikirannya.
Sampai akhirnya dia melambung jauh, terbang tinggi, lalu menutup matanya dengan damai.

Barakallah

Telah tercurahkan rahmat-Nya bagi dua Insan itu. Beribu siang dan malam sudah dilewati dalam kesendirian dan kesepian tanpa belahan jiwanya. Berjuta permohonan dan ampunan dipanjatkan, akhirnya hari yang dinantikan telah datang. Para handai taulan menyambut hari bahagia itu. Seorang anak adam dan hawa yang saling bertautan dipertemukan untuk menjadi pasangan dalam menjalankan ibadah bersama-sama.Tabuh rebana mengiringi senandung pujian-pujian untuk baginda Rasulullah SAW setelah semua proses sakral terlaksana. Semua berdendang dalam keriangan. Air mata menjadi bagian dalam proses itu. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia yang tak dapat dibendung. Rasa syukur tak henti -hentinya dipanjatkan. Doa-doa tulus keluar dari mulut para tetamu untuk sang ‘raja’ dan ‘ratu’ sehari itu. Rona kebahagiaan terpancar dari wajah dua makhluk Tuhan itu. Senyum turut menghiasi singgasana mereka. Merah, hijau, jingga dan ungu menambah keanggunan yang tak pernah habis sepanjang hari itu. Para muda mudi dengan balutan pakaian putih diiringi tabuhan gendang dan rebana bersuka cita mengumandangkan solawat bagi Allah dan kekasih-Nya. Riak-riak kebahagian bergemuruh dalam balutan kain-kain cantik itu. Gerbang untuk melaksanakan ibadah dengan sempurna telah dibuka. Baarokallohu laka, wa baroka alayk, wa jama’a baynakuma fii khair.