Di Ujung Senja

Aku tak ingin beranjak dari tempat ini meski berada di tengah hiruk pikuk suasana yang carut marut.

Aku masih ingin melihat bocah-bocah kecil itu membawa tas berat yang berisi ilmu-ilmu yang akan membawa mereka mencapai impian mereka.

Aku masih ingin melihat bocah-bocah itu bertumbuh, gigi-gigi susu yang reges dan tumbang akan tumbuh menjadi gigi dewasa dengan tawa dan senyum yang paling tulus.

Aku masih ingin melihat pakaian yang mereka pakai menyusut (sebenarnya bukan pakaiannya yang menyusut tapi tulang-tulang mereka yang lunak tumbuh menjadi panjang dan kokoh).

Aku masih ingin melihat keajaiban otak bocah-bocah istimewa itu berkembang dan menjelajah dunia bersama mereka.

Aku masih ingin melihat kenakalan-kenakalan mereka yang sangat alami.

Aku masih ingin melihat pohon-pohon itu berbuah dan tumbuh besar hingga dapat memberi kerindangan untuk mereka.

Aku tidak ingin peduli dengan ‘tikus pengerat’ dan teman-temannya yang berlalu lalang di depanku.

Aku hanya ingin melihat bocah-bocah itu berlari mengejar cita-citanya.

Sementara itu waktu terus berjalan.

Di ujung Timur matahari mulai menampakkan cahayanya dan akan terus berputar memberikan kehidupan pada seluruh makhluk hidup yang ada di bumi.

Namun aku masih bingung untuk memutuskan beranjak atau tidak dari tempat ini, hingga senja datang.

Harapan itu muncul di ujung senja, dan terlukis sangat indah.

Kemudian Aku mulai beranjak dan tenggelam bersama senja untuk memulainya lagi esok hari bersama sang fajar dan mentari.