Bicaralah dan Ungkapkan

Berita kematiannya tak membuatku terkejut.  Sejak ia memutuskan untuk tidak berkenan membuat percakapan denganku lagi, kami tak lagi saling berkomunikasi, dan aku selalu berusaha menjejali pikiranku bahwa ia sudah mati.

Ia pergi dalam diam, dan beberapa waktu setelah itu, setelah aku tak lagi memiliki banyak kekuatan, aku mengikuti caranya, pergi dalam diam pula.

Hujan selalu berusaha mendekatiku dan membisikkan tentang kisah-kisah indah itu, tapi aku lebih baik diam, dalam hati dan pikiran, tak ada pilihan lain selain diam dan menghapus semua memori dengan keterdiaman.

Dengan sisa kekuatan yang kumiliki,aku selalu berusaha mendiamkan jiwaku, ketakutanku, kebahagiaanku, dan kesedihanku.

Aku baru sadar bahwa ada percakapan yang memiliki resiko, dan diam adalah cara terbaik untuk menghindari segala resiko yang akan muncul.

Namun, kadang, lebih banyak kata dalam diam daripada membuat suatu percakapan.

Dalam diam terdapat banyak rahasia yang tak terungkap.

Banyak rasa dan ungkapan yang bersembunyi dalam diam.

Ketika aku mengetahui berita kematiannya, aku hanya diam.

Semua yang ada pada diriku sudah terkunci dan terdiam.

Hanya ia yang memegang kunci itu, kunci yang sama.

Sekarang, ia sudah mati, dan aku hanya bisa diam, lalu akan mati bersama kebisuan ini.