Teman kecil Multilingual

Belajar bahasa Inggris di tempat wisata edukatif tentunya sangat menyenangkan bagi siswa dan pengajar.

Di satu Minggu, di awal Maret, salah satu sahabat saya menghubungi dan memberi kabar bahwa teman suaminya, seorang berkebangsaan Kuwait, membutuhkan guru privat bahasa inggris untuk anaknya yang berusia 3 tahun. Akan tetapi cara belajar kami berbeda dari biasanya. Kami belajar dengan konsep belajar outing atau tepatnya kami belajar di tempat-tempat wisata. Metode ini tidak seperti belajar pada umumnya yang hanya menulis, fokus pada buku atau benda tertentu, dan duduk di tempat. Ia menawarkan saya untuk mengajar si anak orang Kuwait tersebut. Tanpa pikir panjang saya langsung menerima tawaran itu. Saya sangat tertarik dengan metode belajar fun seperti ini.

Keesokan harinya, saya langsung datang ke apartemen di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara, di mana mereka tinggal selama berada di Indonesia. Sang Ayah (asli Iran, namun tinggal di Kuwait bersama istri dan keluarganya) membukakan pintu untuk saya. Ia memakai baju khas Arab, mengucapkan salam pada saya, lalu mempersilakan saya masuk ke salah satu kamar.

Tak lama setelah saya duduk di kursi yang sudah disediakan, Sang Ibu (asli orang Indonesia (Jombang)) datang menemui saya. Kami membicarakan masalah metode pembelajaran, apa yang harus saya lakukan dengan anaknya, dan menyusun jadwal kami. Setelah semuanya terlihat jelas, Sang Ibu meninggalkan saya dengan secangkir kopi, secangkir teh, dan cookies.

Sedari awal, saya belum melihat Sang Anak yang akan menjadi siswa termuda saya. Rasa penasaran muncul di benak saya, karena baru kali ini saya mengajar privat seorang anak berusia di bawah 5 tahun, dan berkebangsaan luar negara.

Saya menuggu selama beberapa menit. Sambil membaca novel, saya memikirkan banyak hal tentang anak itu. Biasanya, anak yang masih berusia 3 tahun cenderung manja, susah diatur, tak mau diam, sangat aktif, nakal, dan sebagainya.

Dan tak lama kemudian, Sang Ibu menemui saya lagi dan mengatakan bahwa hari itu juga saya dan Sang Anak akan pergi ke Seaworld, Ancol, Jakarta. Namun, saya masih belum juga melihat anak itu. Rupanya Sang Anak baru bangun tidur ketika saya datang dan sedang bersiap-siap.

Sang Ibu mengajak saya keluar kamar dan barulah saya melihat anak laki-laki berumur 3 tahun 2 bulan itu. Meskipun usianya baru 3 tahun, tapi perawakannya seperti anak berusia 4 atau 5 tahun. Ia menyumput di belakang meja makan. Bocah itu terlihat sangat pemalu. Ia memandang saya malu-malu namun terpancar sedikit ketakutan di matanya yang indah. Bagi saya, itu hal wajar yang ditunjukkan oleh anak-anak pada umumnya. Wajahnya yang tampan membuat saya langsung jatuh cinta padanya.

“Hello.” Saya menyapanya dan mendekatinya.

Ia menjauh dan bersembunyi di balik baju ibunya.

“What’s your name?” Saya bertanya sambil mengulurkan tangan, dan berusaha untuk membuatnya tak takut pada saya.

Ia masih malu dan diam, tapi matanya tak berhenti menatap saya. Ibunya menjawab pertanyaan saya. Nama panggilan bocah tampan pemalu itu adalah Ali.

Kami turun ke lobby diantar oleh ayahnya. Di dalam lift, Ali masih saja terlihat takut pada saya. Di balik jubah putih ayahnya, ia bersembunyi dan memegang erat jari telunjuk ayahnya. Sang Ayah, dengan berbahasa Arab, tak henti mengatakan pada bocah tampan itu bahwa saya adalah gurunya, baik, akan mengajarinya banyak hal, dan tak usah merasa takut, ya kurang lebih seperti itu saya menangkap kata-kata ayahnya.

Sang Sopir (Sopir pribadi yang sudah dipercaya selama mereka berada di Indonesia) sudah menunggu di depan pintu lobby. Saya dan Ali siap berangkat.

Selama dalam perjalanan dan selama bersamanya hari itu, saya terus mengajaknya berbicara, tentunya dalam bahasa Inggris. Sayangnya tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya, namun hanya matanya yang terlihat berbicara dan merespon kata-kata saya. Sesekali matanya hanya melirik pada saya. Saya mengerti, barangkali ia masih merasa aneh dan takut bepergian bersama saya. Saya pun merasa aneh mendapati diri saya bepergian bersama anak kecil tanpa orangtuanya dan mereka membiarkan anak sekecil ini dibiarkan keluar bersama orang yang baru mereka kenal.

Di hari ke-2, ia masih saja bersembunyi di balik jubah ayahnya ketika melihat saya di Lobby apartemen. Di dalam mobil, saya masih terus berusaha mengajaknya bicara. Meskipun masih malu dan takut, beberapa kata akhirnya keluar dari mulutnya. Ia menjawab pertanyaan saya dalam bahasa Indonesia. Senang rasanya bisa membuatnya mengeluarkan suaranya. Namun aksen bahasa Indonesia-nya terdengar aneh. Kadang, ketika ia sedang kesulitan menyatakan dalam bahasa Indonesia dan tak tahu harus mengatakan dalam bahasa Inggris, ia berkata dalam bahasa Arab dan saya sama sekali tak mengerti, begitu juga dengan Sang Sopir.

Bagi saya, Ali terlahir sebagai anak yang sangat istimewa dengan diberi kelebihan bahasa berbeda yang ia dapatkan. Dengan ayahnya (yang ia panggil Babah), ia berbicara menggunakan bahasa Arab, dengan ibunya (Yang ia panggil Mama), ia berbicara dengan bahasa Indonesia dan Arab, dengan nenek-kakeknya (dari ibunya) terkadang menggunakan bahasa Jawa, dan dengan saya juga guru-gurunya di sekolah tempat ia belajar di 3 tempat, berbicara menggunakan bahasa Inggris. Semua orang yang bertemu dan bersama Ali sangat menyukai dan menyayanginya karena ketampanan, pesona, dan tingkahnya yang menggemaskan.

Setiap hari kami bertemu dan bepergian ke tempat wisata yang berbeda-beda yang berlokasi di Jakarta dan Bogor. Tidak seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya, Ali termasuk anak yang kalem, tak manja, tak banyak aksi dan menikmati hari-harinya bersama saya.

Meskipun usianya baru 3 tahun, ia sudah mampu menyebut semua kata dengan fasih, meskipun terkadang saya tak mampu menangkap kalimat yang ia ucapkan, dan butuh kerja keras untuk memahami perlahan apa yang ingin ia katakan.

Pada awalnya saya sulit memahami kata-katanya dengan aksen Arab yang kental. Akan tapi seiring pertemuan kami, perlahan saya bisa mengikuti maksud ucapannya. Saya memaklumi caranya berujar, karena ia adalah anak multilingual. Kadang, ia terlihat acuh tak acuh ketika saya mengajaknya berbicara atau sedang menunjukkan sesuatu yang kami lihat dan tonton, tapi diam-diam ia menyerap dengan baik ucapan saya ke dalam memorinya.

Di tiap tempat wisata yang kami kunjungi, kereta menjadi daya tariknya tersendiri. Tiap kali melihat kereta ia selalu berteriak “Traiiiin” dengan fasihnya. Tiap kali naik kereta atau tunggangan apa pun, ia selalu melambaikan tangannya pada orang-orang yang ada di sekitar dengan mengucapkan “hello” dan “bye bye”. Awalnya memang saya yang mengajari itu, tapi seterusnya hal itu seperti menjadi kebiasaannya. Orang-orang pun tersenyum dan dengan senang hati membalas lambaian tangannya meskipun mereka tak mengenalnya. Ketika hujan turun ia akan berteriak “It’s raining” berkali-kali.

Saya begitu menikmati pekerjaan ini dan kebersamaan bersama bocah menggemaskan itu. Kadang, saya tidak menganggap ini adalah sebuah pekerjaan, saya menyebut kegiatan ini dengan “having fun“. Saya tidak menganggap saya sebagai guru dan ia siswa saya. Saya menganggap ini adalah sebuah pertemanan. Saya ingin membuatnya fun, hingga ia tidak menyadari bahwa sesungguhnya kami sedang belajar banyak hal dari semua hal saya tunjukkan dan yang ia lihat.

Meskipun hanya kurang dari 2 bulan bersamanya, namun saya memiliki kesan mendalam pada teman kecil multilingual saya. Sebelum ia pulang, saya memberinya sebuah tas lucu yang berbentuk kura-kura di bagian luarnya dan terdapat tulisan “you are my best friend”. Untuk memberinya sesuatu tak mudah. Sahabat saya bilang, tak bisa sembarangan memberinya sesuatu. Jika ingin memberinya baju, tak boleh ada tulisan-tulisan aneh atau bergambar binatang-binatang yang diharamkan dalam Islam. Ketika berada dalam apartemen yang mereka tinggali, saya merasakan suasana ke-Timur-an, dari segi pakaian, makanan, minuman, bau, adab dan beberapa hal yang terasa melekat dalam keluarga kecil ini.

Akhir April, ia sudah kembali ke Kuwait. Ibunya bilang, Ali sangat senang dan menyukai tas pemberian saya.  Ketika memakai tas itu, ia selalu menanyakan saya dan kapan ke rumahnya untuk bertemu dengannya. Dari sana, ibunya memberi kabar itu melalui pesan singkat bersamaan pada saat saya sedang merindukannya dan teringat momen-momen bersama bocah itu.

Setiap tahun (jika tak ada halangan), Ali dan orangtuanya datang ke Indonesia. Kedatangan mereka ke sini adalah untuk urusan ukhrowi dan bisnis. Tiap tahun, Sang Ayah menyumbangkan dana untuk membangun mesjid di daerah-daerah di Indonesia.

Baca juga: (Masih) Teman Kecil Multilingual dan (Partner) Teman Kecil Multilingual