Paradoks

Tak heran bila anak itu berperilaku sangat buruk. Anak selalu menjadi peniru yang ulung dari orangtuanya. Namun banyak orangtua yang tak ingin disalahkan atas perilaku buruk anaknya. Mereka hanya mengakui dan membanggakan hal baik dari anak mereka yang diturunkan dari orangtuanya. Dalam teorinya anak selalu salah, orangtua yang selalu benar dan enggan mengakui kesalahan dan mengoreksi perilaku mereka sendiri. Pada hakikatnya, dalam hidup ini tidak ada yang benar atau salah, yang ada hanya lah yang baik dan buruk. Jika hal baik bisa menurun dan menular, maka hal buruk menjadi setara. Terlihat tak mudah menjadi orangtua.

Setelah menikah, tak terlihat aura sumringah yang terpancar dari mata dan rona wajah perempuan itu seperti hal nya perempuan-perempuan yang baru menikah pada umumnya. Tak heran, di pernikahan yang belum genap dua tahun dia berani mengajukan cerai. Sebelumnya, dia sangat amat menginginkan sebuah pernikahan. Tak bisa tertutupi, wajahnya mulai nampak segar menjelang hari-hari perceraian.

Dia bercerita, beberapa teman dekat menghubunginya jika mereka sedang memiliki masalah atau bosan dengan rutinitas sehari-hari yang mereka lewati. Tak heran bila dia mampu meraba maksud mereka sebelum mereka benar-benar berbagi. Walau begitu dia tetap mendengarkan keluh kesah mereka, memberi sesuatu yang membuat mereka merasa tak sendiri dan kembali nyaman atas hidup mereka. Tak terlalu buruk, itu membuatnya bersyukur bahwa masalahnya tak seberapa besar dibanding masalah-masalah mereka. Pelajaran hidupĀ  dia dapat dari kisah-kisah mereka yang terlihat sangat buruk. Seorang sahabat akan selalu berbagi hal-hal baik dan menyenangkan meskipun segudang masalah ada di baliknya.

Kadang, begitu saja, dia teringat betapa akurnya mereka karena memiliki banyak kesamaan. Dia begitu manis, terkadang terlalu ‘kematangan’. Tak heran bila mereka begitu merindukannya dan kadang tak menyukainya. Kadang mereka ingin berdamai, menghapus semua hal buruk di antara mereka, tapi hal buruk itu masih sangat melekat di ingatan. Tak pernah ada alasan bagi mereka untuk saling membenci, tapi mereka hanya tak bisa…. Seharusnya mereka bisa menghapus kata “tapi” dan menggantinya dengan “kami hanya ingin berbagi hal-hal baik satu sama lain”.

Pernyataan-pernyataan itu seolah-olah bertentangan (berlawanan), namun pada kenyataannya mengandung kebenaran.