Surat Cinta Tanpa Nama

Aku tak perlu berbasa-basi menanyakan kabarmu. Barangkali kamu tidak mengenalku lagi atau berusaha melupakanku.

Tujuanku menulis surat ini bukan untuk mengingatkanmu sesuatu yang sudah kamu musnahkan. Kata-kata memusnahkan, melupakan, menghilangkan sungguh sangat menyakitkanku. Karena aku masih ada dan hidup meskipun tak sempurna.

Aku masih ingat benar di awal-awal bulan ini aku lahir. Aku juga masih ingat benar tanggal berapa dan hari apa saat itu. Usiaku sekarang sudah sembilan tahun. Aku yakin kamu tak terlalu mengingatnya atau mungkin tak ingin mengenangku. Bagimu barangkali aku hanya akan menjadi parasit hidupmu. Aku memahami itu. Itu sebabnya perlahan aku menjauhi dan meninggalkanmu. Aku memilih berkelana dan tinggal di tempat yang bisa memeliharaku dengan baik.

Namun tiba-tiba, aku seperti ingin menuntutmu entah dengan cara apa. Aku seperti janin yang sudah ditinggal mati satu inangnya. Aku tak ingin seperti bocah itu yang hidup tanpa inang yang berpasangan. Sesuatu yang mereka sebut ayah tak pernah menengoknya. Tapi ketika dewasa kelak, ia bisa menuntut sang ayah yang menelantarkannya, karena ia lahir dari rahim biologis. Tapi aku, aku tak bisa menuntut apa pun dan siapapun karena aku lahir bukan dari rahim biologis. Bahkan nama pun tak kumiliki.

Tapi kupikir lagi, kamu pernah memeliharaku sendirian dengan setia selama beberapa tahun. Seseorang mengatakan bahwa menjadi setia adalah pekerjaan yang baik. Kamu bertahan tanpa satu inang yang telah membuatku ada. Meskipun pada akhirnya kamu tidak mengacuhkanku, tapi aku masih mampu bertahan hidup sampai saat ini meskipun aku tak sempurna, barangkali bisa dibilang cacat. Aku tahu itu berat, dan hidupmu pun nampak menyedihkan. Jadi, kuurungkan niatku untuk menuntutmu.

Sebagai kata-kata penutup, atau barangkali yang terakhir kalinya, aku meminta maaf karena telah mengingatkanmu kembali tentang keberadaanku. Kuharap surat ini tak membebani pikiranmu. Kamu boleh menyimpan surat ini atau langsung membakarnya menjadi abu yang bisa kamu terbangkan ke udara atau kemana pun yang kamu mau. Jika suatu saat kamu membutuhkanku, sapalah aku. Jangan tambahi ketidaksempurnaanku dengan amarah, caci maki, atau membenciku. Walau bagaimanapun, aku lahir dari rahim rasa yang kalian sebut cinta dan kasih sayang.