Reading Club

Diary klub membaca anak; hari pertama.

Sejujurnya, saya baru mendengar kata reading club ketika saya kuliah sastra (bahasa inggris) di awal-awal semester beberapa tahun lalu. Saat itu, salah satu dosen saya menyuruh saya dan 3 teman untuk datang ke kampus di hari off kuliah yaitu hari Sabtu. Ia menamai kegiatan ini reading club. Kami diberi pinjaman novel berbahasa inggris untuk dibaca kemudian kami diharuskan menceritakan kembali isi cerita novel itu dalam jangka waktu yang ditentukan. Lalu di tiap pertemuan kami diberi tugas untuk menulis esay berbahasa inggris dengan tema-tema yang ia berikan.

Pada saat itu, membaca (apalagi dengan semua materi yang berbahasa inggris) adalah kegiatan yang sangat berat dalam hidup saya. Sejak kecil saya tidak terbiasa membaca. Bapak atau Ibu saya tidak mengharuskan kami (anak-anaknya) untuk suka membaca. Saya lebih senang menonton TV dan tak ada masalah dengan tidak membaca selain membaca buku pelajaran.

Ketika kuliah mengambil jurusan sastra, saya serta mahasiswa lainnya diwajibkan membaca karena itu adalah satu-satunya cara untuk memahami semua isi materi yang diberikan para dosen. Membaca selalu menjadi kegiatan yang berat bagi kami yang tak terbiasa membaca. Selain karena malas, bacaan kami pun hampir semuanya berbahasa inggris, sastra pula. Namun bagi saya tak ada pilihan lain selain wajib kudu melahap semua buku dan materi yang diberikan para dosen.

Sering kali usaha membaca saya sia-sia karena saya tak mendapatkan inti ide dari bacaan yang saya baca. Sampai pada akhirya ketika mengerjakan skripsi, membaca adalah rutinitas yang tak bisa dilepaskan. Sejak saat itu saya mulai belajar ‘membaca’ dengan benar dan buku menjadi teman setia saya sampai saat ini, tak bisa dipisahkan, dan sangat jatuh cinta :).

Pastinya ada alasan mengapa saya jatuh cinta pada buku. Banyaknya manfaat dan ilmu pengetahuan yang didapat barangkali alasan yang paling tepat.

Kecintaan pada buku dan membaca ingin saya tularkan pada anak-anak didik saya di sekolah atau di mana pun. Ketika saya tak lagi memiliki jadwal mengajar les privat di hari Sabtu, akhirnya saya mengusulkan pada kepala sekolah untuk mengadakan ekskul reading club di sekolah tempat di mana saya mengajar. Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswa perempuan kelas 4, 5, dan 6 yang tak mengikuti ektrakurikuler di hari Sabtu.

Antusias anak-anak nampak terlihat ketika saya mengatakan tentang kegiatan ini dan menyuruh mereka membawa buku atau novel kesukaan mereka atau yang sedang mereka baca.

reading club 2

Di hari perdana ini, masing-masing anak membawa novel kesukaan meraka. Beberapa dari mereka ternyata sudah ada yang mengoleksi novel lebih dari 20 novel. Sebelum mereka bertanya apa itu reading club, saya menjelaskan pada mereka kegiatan apa saja yang akan kami lakukan dalam kegiatan ini. Yang mereka tahu tentang reading club adalah hanya membaca.

Jika hanya membaca tentunya akan sangat membosankan. Saya katakan pada mereka bahwa akan ada permainan, story-telling, berbagi cerita, menulis, berdiskusi, belajar bahasa inggris, membuat kerajinan tangan, menonton film, bermain drama, tentunya semuanya berhubungan dengan apa yang mereka baca.

Untuk permulaan kegiatan reading club ini, kami melakukan membaca estafet. Sebelum membaca, kami harus memilih satu novel. Masing-masing anak meletakkan novel yang mereka bawa di depan mereka lalu menyebutkan judulnya masing-masing. Lalu kami melakukan vote novel siapa yang ingin mereka baca. Satu per satu saya tanya dan akhirnya novel milik Virzani (kelas 5) yang berjudul Always yang kami baca secara estafet. Masing-masing anak menyimak bacaan yang dibacakan teman-temannya.

Meskipun hanya satu jam, namun kegiatan ini berlangsung menyenangkan. Saya berharap kegiatan ini berlanjut sampai nanti dan nanti hingga mereka merasakan bahwa membaca bukan hal yang berat melainkan kegiatan yang sangat ringan dan memberi banyak manfaat juga pengetahuan tiada batas.