(Masih) Teman Kecil Multilingual

Awal Agustus, siswa privat saya, Ali, yang berasal dari Kuwait sedang berada di Indonesia. Baca di Teman kecil Multilingual untuk cerita tentang Ali sebelumnya.  Hampir 2 tahun kami tak bertemu, karena di tahun 2014 ia dan orangtuanya tak datang ke Indonesia. Usianya sekarang sudah 5 tahun 8 bulan.

Ketika untuk pertama kalinya bertemu lagi, saya melihat anak itu tumbuh lebih tinggi. Selama di Indonesia, ia dan keluargaya masih menyewa di apartemen yang sama hanya lantainya yang berbeda. Setelah beberapa hari berada di Indonesia, ayahnya (melalui ibunya) meminta saya untuk mengajar Ali seperti sebelumnya.

Metode kegiatan belajar mengajarnya masih sama seperti 2 tahun lalu, yaitu ke tempat-tempat wisata. Namun kali ini kami tidak hanya ke tempat wisata, tapi Ali belajar menulis dan membaca Bahasa Inggris di apartemen yang ia tinggali untuk persiapan masuk Sekolah Dasar di negara ia tinggal.

Setelah pulang ke Kuwait 2 tahun lalu, ia sudah disekolahkan di TK yang kegiatan belajarnya menggunakan bahasa Inggris dan Arab di Kuwait. Tahun ini, meskipun usianya baru 5 tahun, ia sudah diterima masuk SD di sekolah yang sama pada saat ia belajar di TK.

Berbeda dengan sistem liburan di Indonesia, libur panjang di Kuwait selama kurang lebih 3 bulan, yaitu dari bulan Ramadhan sampai beberapa hari sebelum idul qurban. Ia bersekolah dari Sabtu sampai Kamis.

Tidak seperti pertemuan pertama kami 2 tahun lalu yang mana Ali nampak takut dan malu ketika melihat saya, kali ini ia tidak takut dan malu lagi. Ia menggandeng tangan saya ketika saya mengulurkan tangan. Ia langsung berceloteh tanpa saya tanya. Namun hanya beberapa kata yang saya pahami tentang apa yang ia katakan karena ia berujar dalam Bahasa Arab sepanjang jalan perjalanan pertama kami. Ia seperti sedang bercerita semua yang ia lihat dan membedakan semua itu dengan keadaan di Kuwait. Saya hanya mendengarkan dengan seksama apa yang ia katakan, walaupun terkadang ia masih malu-malu bercerita bertatap muka dengan saya. Tapi celotehnya membuat saya senang karena ia tidak menganggap saya orang asing.

Oleh karena keterbatasan waktu saya, juga Ali dan keluarga hanya satu bulan berada di Indonesia, kami hanya berpergian di daerah Jakarta.

 

2 tahun lalu, saya agak sulit mengajak Ali berinteraksi dalam bahasa Inggris. Namun kali ini ia sudah bisa berbicara dan merespon saya dalam bahasa Inggris. Itu karena ia belajar di sekolah yang berbasis bahasa inggris. Ini membuat pekerjaan saya jadi lebih mudah. Pekerjaan? Tidak tidak, saya tidak pernah menganggap kebersamaan saya dengan bocah Kuwait ini sebagai pekerjaan. Saya selalu merasa fun bersamanya.

Saya mengajaknya berbicara (tentunya dalam bahasa Inggris, meskipun ia lebih banyak bicara dengan bahasa Arab dan bahasa Indonesia yang sangat kaku), ia menceritakan apa yang ia lihat dan ketahui, saya menceritakan apa yang saya rasakan ketika ‘menjelajah’ suatu tempat bersamanya. Kami saling berbagi. Seperti berteman akrab 🙂

Dua minggu sebelum Ali dan keluarganya pulang, kami tak lagi berpergian ke tempat wisata. Ali harus belajar menulis dan membaca untuk persiapan ke Sekolah Dasar. Jadi, kami belajar di apartemen.

Ada yang menarik ketika saya mengajari Ali membaca dan menulis dalam bahasa Inggris. Biasanya, ketika saya mengajar siswa Indonesia, saya menerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, atau sebaliknya. Tapi kali ini yang saya ajari adalah siswa yang bahasa sehari-harinya bahasa Arab.  Dan, yang menariknya adalah saya dan Ali sama-sama belajar. Sementara Ali belajar membaca dan menulis, saya mengingat kembali kosakata basaha Arab yang saya pelajari di Sekolah Mengengah Pertama dan Atas. Saya menyebut kata atau kalimat dalam bahasa Inggris, sedangkan Ali menyebut kata dalam bahasa Inggris dan Arab. Gambar-gambar dalam buku bahasa Inggris yang kami gunakan seperti menjadi jembatan komunikasi kami.

Tidak terlalu sulit mengajarkan Ali berbicara, membaca, dan mendengarkan dalam bahasa Inggris, karena ia terbiasa berkomunikasi dalam beberapa bahasa. Yang sulit adalah, memintanya untuk menulis. Ia selalu mengalihkan pekerjaan itu dengan menceritakan pengalaman-pengalamannya di sekolah dan tempat yang ia tinggali atau sengaja menjatuhkan pensil ke lantai hingga pensil itu patah dan harus diserut sampai tajam kembali 😅😅😅

Tas yang saya beri dua tahun lalu masih Ali gunakan, bahkan ia menggunakannya pada saat di sekolah TK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *