Berdongeng (House of Secrets)

Diary klub membaca anak; manfaat berdongeng dan anak-anak belajar itu.

Sabtu, 16 Januari 2016. Kegiatan ekstrakurikuler Reading Club di semester genap ini sudah mulai berjalan. Beberapa hari sebelum hari ini, saya meminta anak-anak untuk membawa buku bacaan apapun. Boleh novel, majalah, komik, atau bacaan apapun. Namun, sebagian anak lupa membawa buku mereka.

Seperti setiap pertemuan (Reading Club) pertama sebelum-sebelumnnya, saya selalu memulai kegiatan ini dengan membaca buku yang mereka bawa. Pertama, kami membaca salah satu buku secara estafet, lalu saya bertanya pada mereka apa yang mereka dapatkan dari tulisan-tulisan yang mereka baca, setelah itu mereka membaca buku mereka masing-masing.

Hari ini saya membawa buku yang sedang saya baca. Berencana membacanya bersama anak-anak ketika mereka juga membaca buku yang mereka bawa. Namun, oleh karena hanya beberapa anak yang membawa buku, jadi saya memutuskan untuk membaca salah satu buku yang dibawa oleh salah satu anak. Yaitu sebuah novel yang lumayan tebal. Novel terjemahan yang berjudul House of Secrets menarik perhatian saya untuk kami baca secara estafet. Novel anak ini ditulis oleh Chris Columbus & Ned Vizzini, dan diterjemahkan oleh Lulu Fitri Rahman.

Sebelum kami membaca novel itu, saya memberi tahu detil novel itu siapa penulisnya, jenis novel apa dan diperuntukkan untuk siapa, dan hal-hal kecil yang sering diabaikan sebelum membaca isi ceritanya. Penting bagi anak-anak tahu ketika mereka ingin membeli sebuah buku, buku jenis apa yang seharusnya mereka baca dan cocok untuk mereka. Nama J.K Rolwing tertera di cover novel ini. Anak-anak tidak tahu siapa J.K Rowling hingga saya katakan bahwa ia penulis buku Harry Potter.

Kemudian kami mulai membaca novel itu dimulai dari saya. Masing-masing membaca satu paragraf. Satu putaran sudah berjalan dan kembali giliran saya membaca lagi. Ketika saya sedang membaca, anak-anak meminta saya untuk membacanya terus. Mereka lebih senang mendengarkan saya membaca daripada mendengarkan diri mereka sendiri atau teman yang membacanya. Baiklah, dengan senang hati saya membacakan cerita itu untuk mereka. Anak-anak nampak saksama, antusias, dan serius mendengarkan isi cerita novel fantasi dan misteri itu.

Beberapa posisi duduk anak mulai berubah, dari duduk menjadi tiduran dan tengkurap. Saya seperti sedang mendongengi mereka. Tidak hanya membacakan isi cerita, namun saya juga menanyakan pada mereka arti kata-kata yang jarang mereka temui.

Kata-kata ini menambah kosakata (bahasa Indonesia) baru bagi mereka. Mereka juga belajar mendengar intonasi kalimat-kalimat yang saya lontarkan. Bagi saya, pun, membuat saya belajar membaca sambil bercerita dengan intonasi, artikulasi, dan ekspresi yang tepat. Selain mendengarkan cerita, saya juga membebaskan mereka untuk berimajinasi mengenai cerita yang saya bacakan seolah cerita itu masuk ke dalam daya khayal mereka. Dengan mendengar cerita, anak-anak belajar fokus pada apa yang ada di hadapan mereka.

Banyak orang ingin berbicara dan didengar, tapi sedikit sekali orang yang benar-benar bisa mendengar dengan baik. Untuk membuat orang lain mendengar itu sangat sulit. Dengan mendongengi mereka bisa jadi salah satu cara membuat mereka menjadi pendengar yang baik untuk komunikasi mereka pada siapa pun.