Like Stars On Earth

Diary klub membaca anak; menonton film Like Stars on Earth.

Sabtu, 27 Februari 2016. Sabtu ini kegiatan Reading Club tidak hanya diikuti oleh anak-anak Reading Club tapi juga anak-anak yang lain.

Semua bergabung dalam kegiatan ini karena saya memutuskan untuk memutarkan sebuah film yang sangat bagus dan menarik untuk anak-anak dan guru (barangkali juga orangtua) tonton. Meskipun kegiatan ini menonton film, tapi anak-anak akan tetap membaca, membaca teks terjemahan film berbahasa India ini untuk tahu isi cerita di dalamnya. film itu berjudul Like Stars On Earth. Dibintangi oleh mega star bollywood Aamir Khan, salah satu aktor favorit saya, yang juga memproduseri film ini.

Film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki berusia 8 tahun (Ishaan Nandkishore Awasthi) yang mengidap penyakit disleksia. Pada awalnya kedua orangtua Ishaan, terutama ayahnya, tidak mengetahui tentang kelainan yang dimiliki oleh anaknya. Ia tidak suka membaca dan menulis. Kedua hal itu seperti selalu menghantuinya. Karena ia tak mampu membaca dan menulis kalimat-kalimat dengan benar seperti teman-teman yang  lainnya. Hasil ujian dan pekerjaannya di sekolah tak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan. Ia selalu gagal dan menjadi bahan tertawaan teman-temannya serta amarah guru-gurunya. Berbeda dengan kakaknya yang selalu mendapatkan prestasi terbaik di sekolahnya. Mesku begitu, Ishaan sangat mahir melukis. Ia memiliki kepekaan seni yang tinggi daripada anak pada umumnya. Itu tidak pernah disadari oleh orang sekitarnya bahkan orangtuanya sendiri. Sampai akhirnya orangtuanya sangat marah dan kecewa dengan hasil belajar Ishaan di sekolah, hingga ayahnya memutuskan untuk memasukkannya ke sekolah asrama. Ishaan mengalami kesedihan yang mendalam. Ia sangat tidak bahagia dengan kehidupannya di sekolah asrama. Namun, kehidupan Ishaan mulai berubah ketika datang seorang guru seni pengganti yaitu Ram Shankar Nikumb (Aamir Khan). Ia juga mengajar di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus. Cara ia mengajar berbeda dengan guru-guru lainnya. Ia begitu baik, perhatian, dan berusaha dekat dengan semua anak. Diperhatikannya Ishaan tidak bahagia tiap kali ia mengajar. Lalu ia mencari tahu apa yang terjadi pada Ishaan. Ia memeriksa semua buku Ishaan, dan memperhatikan setiap tulisan yang salah (dilingkari) oleh guru. Hampir semua tulisan yang ia tulis terbalik. Kemudian, ia mengunjungi rumah Ishaan dan menganalisis semua buku miliknya. Ia terkejut ketika ia melihat bahwa Ishaan sangat pandai melukis. Ia katakan pada orangtua Ishaan bahwa anak itu memiliki penyakit disleksia. Namun ayahnya tak suka dan percaya dengan asumsi itu. Ayahnya menyakini bahwa Ishaan adalah anak yang malas, oleh karena itu ia menjadi anak yang tertinggal secara akademis. Pada hari berikutnya, Nikumb mengajar di kelas Ishaan, ia menjelaskan tentang orang yang memiliki disleksia. Ishaan mengira bahwa Nikumb sedang menyinggungnya. Tapi ia salah, bahwa yang sedang Nikumb bicarakan Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, Thomas Alva Edison, Pablo Picaso, Agatha Christie,  Walt Disney, dan Abishek Bachan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki disleksia tapi menjadi orang termashur di dunia. Setelah kelas selesai, Nikumb mengatakan pada Ishaan bahwa dirinya juga memilki penyakit disleksia, tapi tidak menyebutkannya di kelas. Sejak saat itu Ishaan mulai berubah. Ia belajar membaca dan menulis dengan cara menyenangkan diajari oleh Nikumb, sampai ia mampu menulis dan membaca dengan benar. Ia sudah bisa memakai dasi dan mengikat tali sepatu dengan benar, juga menyisir rambutnya dengan rapi. Di akhir tahun sekolah, Nikumb mengadakan kompetisi melukis yang boleh diikuti oleh siapapun, termasuk guru dan kepala sekolah. Pada hari kompetisi, Ishaan tak kunjung datang ketika semua orang sudah mulai melukis. Nikumb sangat gelisah dan khawatir. Tak ada seorangpun yang tahu dimana Ishaan berada. Beberapa waktu kemudian Ishaan akhirya datang, Nikumb langsung memberikannya selembar kertas untuk melukis. Mereka berdua mulai melukis dengan gaya lukisan masing-masing. Setelah semua selesai, waktunya juri mengumumkan siapa yang akan mendapatkan predikat lukisan terbaik. Dengan gaya kreatif yang menonjol Ishaan menjadi juara pertama, sedangkan Nikumb dengan lukisan gambar wajah Ishaan memperoleh juara kedua. Pada akhirnya, setelah banyak pembuktian, orangtua Ishaan, terutama ayahnya, mengerti tentang keadaan Ishaan dan menerima semua itu. Pada saat pengambilan hasil belajar selama Ishaan di sekolah asrama, hasil Ishaan sangat memuaskan dan  itu membuat orangtuanya bangga dengan senyum suka cita.

Film ini sangat emosional. Di akhir film, beberapa anak mengaku bahwa mereka menahan air mata mereka keluar (karena malu mendapat ejekan teman-temannya) ketika menyaksikan kesedihan Ishaan. Sedangkan salah satu teman (guru laki-laki) saya tak bisa menahan air matanya berlinang, dan membiarkan anak-anak mengejeknya. Dasar anak-anak 😀

Note: Disleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7-8 tahun. Ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami meskipun normal atau di atas rata-rata.