Belajar Ber-story telling

Diary Klub membaca anak; bagaimana anak berlajar berstory-telling.

Sabtu, 23 April 2016. Sama seperti minggu-minggu sebelumnya, saya masih memberikan kisah islami anak pada anak-anak Reading Club. Saya masih membagi mereka menjadi berkelompok. Hanya saja cara kami melakukan kegiatan ini sedikit berbeda dari minggu sebelumnya.

Minggu sebelumnya saya meminta mereka membaca cerita yang saya beri kemudian mereka membuat pertanyaan untuk teman yang lainnya, namun kali ini mereka tidak ingin melakukan itu lagi. Kemudian saya memberi pilihan lain yaitu merangkum bacaan yang saya beri.

Pilihan terbanyak adalah merangkum. Merangkum dengan kata-kata mereka sendiri, bukan menyalin atau menulis ulang, lalu di akhir rangkuman mereka harus menulis hal apa yang mereka dapatkan dari kisah tersebut.

Saya memberi dua buah kisah pada mereka. Yang pertama adalah Kisah Nabi Musa dan Qorun Orang Kaya Yang Pelit dan yang kedua adalah Kisah Nabi Uzair dan Keledainya. Dua kisah ini tak bisa mereka selesaikan dalam satu waktu. Jadi pada Sabtu, 16 April 2016, mereka hanya merangkum kisah yang pertama.

Sedangkan kisah yang kedua kami lanjutkan pada pertemuan kali ini. Rupanya anak-anak mulai bosan dengan membaca cerita. Tapi dengan sedikit paksaan mereka mau melanjutkan kisah yang kedua tentang Nabi Uzair dan Keledainya. Meski begitu, mereka tetap melakukan pekerjaan mereka dengan sangat baik.

Di pertemuan ini, jumlah anak-anak ternyata ganjil. 1 anak tidak mendapatkan teman kelompok dan tak ada yang memilihnya. Anak ini memang tidak terlalu cerdas secara akademis, kadang tidak bisa mengontrol emosi, masih kesulitan dalam membaca dan menulis meskipun sudah duduk di kelas 5. Namun belakangan ia mulai menunjukkan sikap yang baik pada teman-temannya dan kemajuan daya tangkap yang signifikan. Ketika ia saya minta membaca sendirian (tidakĀ  berkelompok seperti teman yang lainnya), ia sama sekali tidak keberatan. Berulang kali saya katakan padanya, bacalah secara pelan-pelan dan teliti supaya ia paham isi bacaan tersebut.

Sementara anak-anak yang lain sedang merangkum, ia masih sungguh-sungguh membaca. Karena ia hanya sendirian, jadi saya tidak memintanya untuk merangkum, tapi memintanya untuk menceritakan kembali bacaan yang ia baca. Diluar dugaan saya, ia berhasil menceritakan secara detil dua lembar setengah tentang kisah nabi Uzair dan keledainya, meskipun dengan terbata-bata. Ia melakukan itu lebih baik daripada anak-anak yang lain.

Setelah anak-anak selesai merangkum, saya menunjuk satu anak untuk menceritakan sepotong cerita itu kemudian dilanjutkan oleh yang lainnya, begitu seterusnya sampai akhir cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *