Eye Contact

Diary klub membaca anak; melakukan games menyenangkan bagi anak.

Sabtu, 30 April 2016. Anak-anak bilang pada saya bahwa mereka bosan membaca. Selama 5 pertemuan berturut-turut mereka sudah membaca dengan sangat baik. Mereka ingin bermain games. Saya memenuhi keinginan mereka.  Permainan kali ini saya sebut eye contact (kontak mata).

Saya meminta mereka untuk membuat lingkaran besar. Ketika saya tanya kenapa mereka harus melingkar, tak ada yang tahu mengapa 😀 Jawabannya padahal sangat simpel, yaitu supaya mereka bisa melihat satu sama lain. Cara bermainnya, saya memberi mereka satu bola basket. Bola basket dilempar dari satu orang ke yang lainya.

Sebelum melempar, si pelempar harus melihat mata teman yang ingin diberi (penangkap) lemparan, kemudian menyebut kata-kata yang saya minta untuk si penangkap bola. Yaitu, kata sifat, kata kerja, kata benda, keterangan waktu, keterangan tempat, nama binatang, dan nama buah, satu per satu. Kata-kata itu mereka sebutkan ketika mereka melempar bola ke penangkap bola. Menyebutkan apa yang ada dalam pikiran pelempar kepada si penangkap bola. Bola dan si pelempar bola adalah pusat dalam permainan ini. Tujuan saya memainkan permainan ini adalah untuk melatih fokus mereka pada apa yang ada di depan mereka dan menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan ke orang lain secara langsung, dengan menatap mata orang tersebut.

Ketika permainan berlangsung ternyata susah sekali membuat anak-anak saling fokus satu sama lain. Beberapa pelempar tidak melihat mata si penangkap bola. Berulang kali saya mengingatkan pusatkan perhatian mereka pada bola dan pelempar. Namun beberapa anak sibuk berkomentar tentang kata-kata yang keluar dari mulut pelempar tentang si penangkap bola.

Saya pikir permainan ini tidak berjalan dengan baik. Yang salah adalah, saya tidak memberi aturan sebelum mulai permainan. Misal, dengan memberi sanksi ringan bagi mereka yang asik sendiri dengan ocehan dan pikiran mereka dan melarang mereka mengatakan hal negatif tentang teman mereka yang dijadikan olok-olok dan bahan tertawaan.

Seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, aturan-aturan tertentu bisa mengendalikan sikap dan diri mereka sendiri. Lain waktu mereka bisa memainkan permainan ini lagi dan berharap dapat melakukannya lebih baik dari ini. 🙂