Kiss the Lovely Face of God

Penulis Kiss the Lovely Face of God adalah Mustafa Mastoor yang berasal dari Iran. Buku ini saya temukan di salah toko buku yang sedang mengadakan diskon beberapa tahun silam.

Pertama kali membaca judul buku ini saya langsung jatuh cinta. Meskipun nama penulisnya sangat tak familiar bagi saya. Melihat bagian depan dan belakang buku ini penulisnya bukan dari penulis barat, melainkan dari bagian negara timur. Itu juga yang membuat saya semakin tertarik untuk membaca buku ini. Buku ini tentunya buku terjemahan. Diterjemahkan oleh Bundahakim dan dipublikasikan oleh Ufuk Publishing House. Kiss the Lovely Face of God terbit pertama kali pada tahun 2000. Namun diterjemahkan di Indonesia terbit pada tahun 2010.

Buku yang berisi 20 bab ini mengangkat cerita tentang pertanyaan “Apakah Tuhan ada?”. Pertanyaan itu terdengar cukup berat. Karena hampir setiap orang mempertanyakan apakah Tuhan benar-benar ada. Ketika saya baca buku ini tak seberat yang saya kira. Sang penerjemah buku ini menerjemahkan cerita ini dengan bahasa yang enak dan jelas. Cerita yang mengambil latar belakang di Iran ini menceritakan tentang seorang mahasiswa jenjang doktoral, Yunes, yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya tentang analisis sosiologis kematian Doktor Muhsin Parsa.

Doktor Parsa adalah seorang ilmuwan fisika yang cerdas dan rasional mati bunuh diri. Menjadi menarik perhatian Yunes karena semasa hidup Doktor Parsa memperhitungkan segala sesuatunya secara ilmiah dan eksak.

Dalam memecahkan misteri ini Yunes dibantu oleh sahabatnya yang baru pulang dari Amerika, Merhdad. Kepulangannya ke Iran karena ia sedang ada masalah karena istrinya yang terkena kanker. Yunes memiliki seorang kekasih, Sayeh, yang diceritakan sudah berijab dengannya namun belum resmi menikah karena orangtua Sayeh belum merestui mereka sebelum Yunes menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Sayeh sendiri adalah mahasiswa master yang sedang menyelesaikan thesisnya yang berjudul “Dialog Tuhan dengan nabi Musa”.

Seiring berjalannya waktu Yunes mempertanyakan apakah Tuhan itu ada. Jika Tuhan ada mengapa masih ada banyak penderitaan di muka bumi ini, ketidakadilan, dan hal buruk lainnya. Hingga suatu hari ia memperdebatkan itu pada Sayeh. Sayeh yang sangat taat tentu percaya bahwa Tuhan itu ada.

Konflik dimulai ketika Sayeh sangat marah bahwa ia merasa bahwa kekasihnya, Yunes, tak lagi beriman pada Tuhan. Ditambah lagi Yunes yang masih belum mendapatkan jejak-jejak terang yang menunjukkan tentang penyebab kematian Doktor Parsa. Supaya ia bisa cepat menyelesaikan disertasinya, segala tempat dan hal yang bisa memberikan informasi tentang Doktor Parsa ia datangi dan cari tahu secara detil. Ia datang ke kantor polisi untuk melihat berkas-berkas tentang kematian Doktor Parsa, ke rumah orangtua Doktor Parsa, juga teman-temannya.

Belakangan Yunes menemukan bahwa sebelum kematiannya, Doktor Parsa sedang meneliti tentang makna dan hubungan kuantitatif istilah-istilah humaniora dan pemahaman-pemahaman perasaan kemanusiaan. Singkatnya Doktor Parsa ingin mengukur istilah-istilah humaniora dalam parameter eksak. Dari beberapa fakta yang ditemukan kemudian mengerucut bahwa ternyata Doktor Parsa jatuh cinta pada salah satu mahasiswinya Mehtab Keraneh. Setelah ditelusuri lebih jauh, benar adanya bahwa Doktor Parsa bunuh diri karena jatuh cinta. Doktor Parsa, seorang ilmuwan, gagal mengukur tentang apa yang dikatakan orang tentang cinta secara eksak. Ia tak sunggup dan memilih mengakhiri hidupnya dengan menjatuhkan diri dari lantai gedung yang ia tinggali.

Dengan keterangan tersebut, itu artinya penelitian yang sedang Yunes kerjakan tak ada sama sekali landasan sosiologisnya. Hidup Yunes makin menjadi suram ketika Sayeh masih marah padanya soal keimanan Yunes yang masih mempertanyakan “adakah Tuhan?”

Kiss The Lovely Face of God adalah buku yang sangat menarik. Rangkaian kata sang penulis (tentunya juga sang penerjemah) yang mengalir dengan isi cerita yang berbobot membuat saya tak ingin berhenti membaca buku ini. Di dalamnya juga terdapat kata-kata puitis dan romansa indah yang ditulis oleh Parsa untuk Mehtab Keraneh. Juga kata-kata Ali (sahabat Yunes yang lainnya) yang menggambarkan melalui cerita dan kejadian bahwa Tuhan itu benar-benar ada dengan menjelma pada apapun dan siapapun. Perumpanaan cerita-cerita tersebut membuat Yunes akhirnya percaya bahwa Tuhan itu ada dimana-mana.

Di akhir cerita ada satu kalimat yang membuat saya bahwa ini memang buku bagus, adalah ketika Yunes memberi pesan pada anak kecil yang sedang main layang-layang di taman kemudian ia membantu menerbangkannya, Yunes berpesan pada sang anak:

Jangan menariknya terlalu kuat atau mengulurkan dengan tiba-tiba, menjaga layang-layang yang sudah mengudara lebih sulit dari menerbangkannya.”