K-pop Oh K-pop

“Kak Sasa, aku pulang duluan ya?”

“Tunggu sebentar, Ril! Nggak sampe 1 jam kok. Pliiiiiis.”

“Yah Kak Sasa, nanti aku ketinggalan Live nya di Instagram. Waktu itu aku udah ngelewatin Live mereka. Kali ini pokoknya aku nggak mau ketinggalan lagi.”

Seril mengabaikan kata-kata kakaknya. Ia meninggalkan ruangan ekstrakrikuler dan berjalan menuju telepon sekolah yang memang disediakan untuk para siswa SMP tersebut untuk menghubungi orangtua mereka mencari jemputan online.

Sasa dan Seril adalah kakak beradik yang beda usianya hanya terpaut 1 tahun. Sasa berusia 14 tahun, sedangkan usia Seril 13 tahun. Keduanya kerap bertengkar, berselisih paham, dan merasa iri satu sama lain. Mereka memiliki sifat dan karakter yang bertolak belakang satu sama lain. Meski begitu, dalam beberapa hal mereka tak ingin dipisahkan.

“Halo Bun, aku pulang sekarang aja. Kak Sasa masih lama.”

Setelah meletakkan gagang telepon, Seril berjalan menuju pintu gerbang sekolah.

Awan gelap hampir menutup matahari yang akan hilang dari pandangan. Tak sampai 10 menit, ojek online yang sudah dipesan datang menjemput Seril.

***

Sasa sampai di rumah dengan keadaan basah kuyup.

“Seriiiiiiiil, gara-gara kamu nih aku jadi keujanan. Basah kuyup gini. Mana dingin banget lagi. Kamu jahat banget si.” Sasa menggerutu sambil membuka sepatu dan kaos kakinya.

“Kalo aja kamu sabar nungguin aku, aku nggak bakal basah kuyup gini.” Sasa masih melanjutkan ocehan nya. “Kita naik go-car dan aku nggak akan keujanan gini. Kalo aku sakit gimana? Kamu mau gantiin aku belajar? Atau ngerjain PR-PR ku? Nanti aku bilangin Bunda!” Mulutnya belum berhenti menggerutu, sambil menuju kamarnya.

“Ril, kamu kenapa?” Tanya Sasa di ujung pintu kamar.

Seril mengusap air matanya. Raut mukanya sedih. Bibirnya merengut. Tangannya memegang telepon seluler dengan layar Instagram Live yang masih menyala.

“Kamu kenapa, Ril?” Nada suara Sasa menurun. Raut wajahnya menunjukkan penyesalan atas kata-kata yang ia ucapkan.

Dalam keadaan masih basah kuyup, Sasa mendekati adiknya.

“Kamu sedih gara-gara omonganku? Udah Ril jangan sedih gitu dong. Aku janji deh nggak akan bilang ke Bunda. Nggak apa-apa kok, Ril. Udah ya jangan sedih lagi.” Sasa nampak luluh melihat air mata Seril. Kekesalannya pada Seril hilang seketika.

Seril tidak merespon kata-kata Sasa.

Ril, kamu kenapa? Ngomong dong, Ril!!!” Paksa Sasa sambil menggoyang-goyang bahu Seril.

“Aku sedih,” Seril mulai membuka suaranya masih dengan raut muka sedih. “Tadi aku nonton Live-nya Seventeen jadi penonton kedua. Aku seneng dan bangga banget, eh tapi pas sinyal wi-fi-nya nggak bagus, tiba-tiba aku jadi penonton ke-seribu sekian. Aku jadi sedih banget, Kak.”

“Seriiiiiiil, aku kira kamu kenapa. Kamu emang nyebelin banget!!!” Nada suara Sasa kembali meninggi, lalu berlalu dari sisi Seril, keluar kamar dengan membanting pintu.

***

Baca cerita selanjutnya Misteri Hilangnya Squishy Kesayangan