Carat Bong

“Kak Sasaaa, mana tutup atas Carat Bong-ku? Pasti kamu kan yang buang!” Seril menuduh Sasa membuang bagian atas kertas Carat Bong yang di dalamnya terdapat petunjuk penggunaan Carat Bong tersebut.

“Apaan sih, Ril? Selalu deh nuduh aku tanpa bukti!”

“Terus siapa lagi yang ngelakuin kalo bukan kamu?”

“Bentuknya kayak gimana juga aku nggak tau, Ril.” Kata Sasa dengan nada meninggi. “Mbak Nun kali tuh buang.”

“Mbak Nuuuun….” Suara Seril mengisi seluruh ruang rumah. “Liat kertas putih nggak? Yang ada di dalem sini?”

“Kertas putih apa, Dek?” Tanya Mbak Nun, dengan tangan basah karena ia sedang mencuci piring.

“Ini…” Tangan Seril menunjuk sebuah kotak yang berisi light stick yang berada di atas meja belajarnya. “Pasti Mbak Nun buang yah.”

“Lah mana Mbak Nun tau.” Jawab Mbak Nun polos.

“Mbak Nun kan yang nyapu nyapu.”

“Sampah ya aku sapu. Semua kertas yang ada di bawah ya aku sapu.” Mbak Nun membela diri.

“Yah Mbak Nun. Aku nggak mau tau, Mbak Nun harus cari kertas itu sampe ketemu. Itu harganya mahal loh, 600 ribu. Pokoknya cari!” Perintah Seril dengan nada merajuk dan marah.

Mbak Nun langsung beranjak dari kamar.

“Pasti kamu deh yang buka boksnya terus nggak dimasukin lagi!” Seril mulai menuduh Sasa lagi.

“Ya Tuhan, Seril aku tuh nggak mainin Caratbong kamu.” Jawab Sasa dengan nada tinggi. Ia berkeras bahwa bukan ia yang mengeluarkan kertas itu dari boksnya. “Bukannya kamu yang terakhir buka buat unboxing?”

“Itu kan 2 hari lalu.”

Kakak adik itu saling menuduh dan tunjuk menunjuk dengan suara keras. Sasa tetap bersikeras bahwa ia tidak membuka kotak Carat Bong itu, sedangkan Seril bersikeras bahwa Sasa lah pelakunya. Satu sama lain tak ingin disalahkan.

“Lagian cuma kertas aja kok kamu sampe segitunya?”

“Itu kan isinya petunjuk pemakaiannya, Kak Sasa.”

“Tapi kamu udah tau cara gunainnya kan?!”

Meskipun mereka masih dalam keadaan saling menyalahkan, namun keduanya masih berada di satu tempat yang sama. Masih dengan wajah kesal, Seril dengan telepon selulernya. Sedangkan Sasa masih asik dengan Dorky-Diaries-nya John Green. Keduanya hanya bisa diam 10 menit, setelah itu adu mulut lagi. Pastinya Seril yang memulai.

“Ini bukan, Dek?” Tanya Mbak Nun dengan menunjukkan kertas panjang kira-kira 30cm dan lebar 10cm.

Kertas itu sudah kotor dan terkena minyak di bagian bawahnya.

“Iya, itu.” Jawab Seril bersemangat, lalu bangun dari duduknya “Yah kok kena minyak sih Mbak Nun.” Suara Seril menurun ketika melihat kertas itu kotor dan berminyak.

“Namanya juga ada di tempat sampah Dek, ya kotor lah.” Respon Mbak Nun.

“Lagian kenapa sih Mbak Nun buang. Ini kan mahal!!!” Nada suara Seril sinis.

“Mana Mbak Nun tau. Aku pikir itu sampah. Orang ada di lantai kok.” Mbak menjawab tak kalah tinggi nada suaranya.

Mbak Nun nampak tak terima disalahkan seperti itu. Namun ia tetap berusaha menahan emosi kemaharannya dan tetap menuruti kemauan Seril.

“Ya udah aku bersihin dulu ya.” Kata Mbak Nun.

Mbak Nun pergi meninggalkan kamar sambil mengoceh kesal. Ia merasa bukan salahnya membuang secarik kertas itu ke tempat sampah yang jelas jelas kertas itu berada di atas lantai dan nampak seperti kertas yang sudah tak terpakai atau sengaja dibuang.

Menyapu dan membersihkan seisi rumah sudah menjadi tugas Mbak Nun setiap hari. Selama bertahun-bertahun bekerja di rumah itu, ia tahu benar mana yang terlihat seperti sampah dan bukan. Secarik kertas itu memang nampak seperti kertas yang sudah tak terpakai. Makanya, tanpa bertanya pada Sasa dan Seril, ia berani menyapu dan membuangnya ke tempat sampah. Hari itu, hanya karena secarik kertas yang nampak seperti tak terpakai, ia dimarahi majikannya yang usianya jauh lebih muda daripadanya dan harus mengais isi sampah.

***

Catatan: Carat Bong adalah nama merek Light Stick yang dikeluarkan oleh band K-pop Seventeen.

Baca cerita sebelumnya K-pop Bikin Kepo

Baca cerita selanjutnya Gara-gara Carat Bong