Nim’s Island (2008)

Film Nim’s Island rilis di bulan April tahun 2008. Film ini diangkat dari cerita dengan judul yang sama, Nim’s Island, yang ditulis oleh Wendy Orr. Nim’s Island disutradarai oleh Jenifer Flackett dan Mark Levin. Nim’s Island merupakan film anak-anak dan keluarga.

Film ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan berusia 11 tahun, Nim (Abigail Breslin), yang tinggal bersama ayahnya di pulau Asia Pasifik yang hanya mereka penghuninya dengan beberapa binatang peliharaan mereka; Galileo si burung pelikan, Selki si anjing laut, Chica si kura-kura, dan Fred si kadal. Ayah Nim, Jack Rusoe (Gerard Butler), adalah seorang ahli biologi laut. Ia terobsesi dengan nanoplankton, partikel terkecil laut.

Jack harus pergi selama 2 hari untuk misi ilmiah demi menemukan protozoa nim, nama yang diambil dari nama anaknya, Nim. Selama Jack pergi, Nim hanya tinggal bersama binatang-binatang peliharaanya. Ia juga berbalas menulis surat pada penulis Alex Rover. Alex Rover adalah penulis petualangan yang bukunya sedang Nim baca dan ia sangat menggemari buku tersebut.

Sudah 2 hari Jack tak pulang dan tak ada kabar. Angin dan badai ekstrim membuat keadaan semakin memburuk. Nim sangat khawatir dengan keadaan ayahnya. Di tambah lagi dengan kedatangan kapal pesiar Buccaneer yang akan singgah di pulau itu. Lalu Nim memutuskan untuk mengirim pesan pada Alex Rover untuk datang dan membantunya.

Alex Rover adalah tokoh pahlawan yang ditulis oleh Alexandra Rover (Jodie Foster) yang tinggal di San Fransisco. Tokoh Alex Rover yang ia buat, selalu ada bersamanya. Seperti sisi lain yang hidup membayangi setiap apa yang sedang atau akan Alexandra lakukan. Namun tidak seperti tokoh yang Alex Rover yang tangguh dan memiliki jiwa petualang yang Alexandra tulis, justru Alexandra memiliki karakter yang sebaliknya. Ia tak pernah keluar rumah dan menyentuh udara luar. Tangannya harus selalu bersih dan cairan pencuci tangan selalu ada di sekitarnya. Perilaku seperti itu disebut Agoraphobia.

Saat Nim sangat membutuhkan pertolongan, Alexandra mau tak mau harus menolongnya. Dirinya tidak ingin melakukan hal itu, akan tetapi tokoh Alex Rover selalu memaksanya untuk keluar rumah dan datang membantu Nim. Akhirnya Alexandra mau melakukan perjalanan ke pulau dimana Nim tinggal. Di bagian ini seperti menunjukkan sisi ironis dan sisi bagus menjadi seorang penulis. Sisi ironisnya adalah, ketika penulis mampu menulis buku yang menginspirasi banyak orang dengan tokoh yang ia buat tapi justru tak bisa menginspirasi dirinya sendiri dalam dunia nyata. Sedangkan sisi baiknya adalah, ketika tokoh yang dibuat penulis sangat menyatu dengan dirinya mampu menjadi “teman” yang seolah-olah hidup sebagai pengingat dan penyemangat.

 

Bagi Alexandra yang memiliki penyakit Agoraphobia tentu tak mudah melakukan perjalanan yang jaraknya setengah dunia dari tempat tinggalnya. Banyak rintangan yang harus ia lewati. Walau demikian, ia berhasil menemukan Nim. Namun tanpa disangka ternyata Nim tak menerima kedatangan Alexandra. Sebab yang ia tahu, Alex Rover adalah seorang laki-laki.

Cerita Nim’s Island simpel tapi menarik. Film ini baik ditonton untuk anak-anak dan keluarga. Sisi ilmiah dan pesan moral tentang alam disampaikan melalui film ini. Bahwa Nim dan Jack bisa hidup dari alam tanpa kemewahan yang ditawarkan dunia. Mereka menjaga alam dengan baik. Juga bertindak dengan tegas terhadap perilaku yang merusak alam, seperti yang dilakukan oleh penumpang kapal Buccaneer yang membuat sampah dan membuat kekotoran di pulau itu. Hanya dibantu binatang peliharaannya, Nim mengusir mereka dengan caranya sendiri dari apa yang ia baca dari buku

Jack: “We take care of our island, Nim. Our island’s gonna take care of us.”

Nim: “And that’s the way we wanna keep it our own perfect, secret world.” 

Selain tentang mencintai alam, yang saya dapatkan dalam Nim’s Island bahwa secara tidak langsung film ini mengajarkan cara membaca. Pada adegan Nim sedang membaca buku Alex Rover dan e-mail, film ini menggambarkannya dengan bentuk visual. Maknanya bahwa ketika kita membaca sesuatu, bayangkan apa yang kita baca ke dalam bentuk nyata, seolah-olah hidup. Dengan begitu, hal itu mampu memudahkan kita menangkap isi bacaan.

Nilai: 5/5

I’m not saying a scientist’s life is for everyone, but it is the life for us.” Nim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *