Laila Majnun

Laila Majnun merupakan sebuah mahakarya sastra Islam yang  ditulis oleh Nizami Ganjavi. Kisah ini sangat terkenal di negara Arab pada abad ke-7. Namun kisah ini menjadi sangat populer ketika ditulis dengan rangkaian kata yang indah dan puitis oleh seorang pujangga Persia, Nizami Ganzavi, pada abad ke-12. Kisah yang ditulis oleh Nizami ini telah menginspirasi banyak sastrawan dunia, salah satunya adalah Shakespeare dengan karya Romeo and Juliet-nya.

Laila Majnun mengisahkan tentang kegilaan, kesintingan, keedanan seorang laki-laki yang bernama Qais pada seorang perempuan yang bernama Laila. Mereka berdua saling mencintai, tapi takdir berkata lain.

Dikisahkan di tanah Arab telah lahir seorang anak laki-laki yang sangat didambakan oleh seorang pemimpin kabilah seorang Sayid, yaitu Qais. Seorang anak laki-laki laksana sebuah berlian yang kecemerlangannya dapat mengubah malam menjadi siang. Qais diasuh dengan penuh kasih sayang dan kelembutan hingga menjadi laki-laki yang besar, sehat, kuat, cerdas, dan tampan.

Di sekolah, Qais adalah seorang murid yang tekun dan memiliki semangat yang tinggi dalam belajar. Oleh karena itu ia menjadi murid terbaik mengalahkan teman-temannya yang lebih dahulu mengenyam pendidikan.

Namun hidup Qais mulai berubah ketika datang seorang murid baru yang sangat amat cantik jelita bernama Laila. Laila membuat semua laki-laki yang berada di sekolah tersebut jatuh hati padanya, termasuk Qais. Akan tetapi rasa dan hasrat yang dimiliki Qais terhadap Laila lebih besar daripada laki-laki lain. Tidak bertepuk sebelah tangan, Laila pun merasakan hal yang sama pada Qais. 2 remaja itu pun saling jatuh cinta.

Hingga terdengar oleh orang-orang bahwa Qais dan Laila jatuh cinta, Qais dan Laila tidak bisa lagi dengan leluasa saling bertemu, memandang, dan bercakap-cakap. Bahkan perlahan mereka tak bisa saling bertemu. Laila dikurung dan dijaga di dalam tendanya. Hal itu membuat Qais tak dapat menemukan jalan untuk bertemu Laila. Ia menjadi kebingungan dan linglung. Kemudian mulai kehilangan hati dan pikirannya.

Perpisahannya dengan Laila juga menyebabkan perpisahannya dengan semua orang yang dicintainya: orangtuanya, sanak saudara, para sahabat, dan rumahnya. Jika Laila menyembunyikan kesedihannya, Qais justru terang-terangan menangis menunjukkan kedukaannya pada dunia. Kadang ia meraung-raung dan bersedu sedan. Ia mulai hilang akal dan pikiran. Berjalan tanpa arah tujuan sambil bibirnya yang mengalirkan kidung cinta. Hingga orang bertemu dengannya berteriak, “Itu dia si ‘Majnun”, yang artinya si orang gila.

Dengan perilakunya yang aneh dengan tiba-tiba bersedih, menangis, lalu bersenandung syair-syair cinta yang ditujukan untuk Laila, Qais telah berubah menjadi Majnun. Qais yang tampan, rupawan, dan cerdas telah hilang akal. Kewarasan Qais telah hancur. Tidak hanya kehilangan Laila, ia juga kehilangan jiwanya. Berjalan gontai dan tak tentu arah dengan tubuh dan baju yang lusuh serta mulut yang tak henti bersenandung dan bersyair indah. Meskipun tak waras, banyak orang yang menyukai syair-syair yang dilantukan oleh Majnun.

Segala cara dilakukan oleh keluarga dan sahabat untuk mengembalikan kewarasan Majnun, namun tak satu pun berhasil. Sebagai obat yang bisa menyembuhkan Majnun, ayahnya mencoba melamar Laila, sayangnya ditolak oleh keluarga Laila dengan alasan bahwa keluarga Laila tak ingin mempunya menantu tak waras. Bahkan seorang pangeran bernama Naufal yang sangat prihatin melihat keadaan Majnun yang kurus kering dan lusuh masai ingin menolongnya bertemu dengan Laila. Dengan segala perkataan dan janji Naufal, Majnun yang sejak awal susah sekali dibujuk keluar dari gua, akhirnya bersedia dan menjadi waras. Namun kemudian menjadi kembali  gila ketika Naufal tak berhasil berperang melawan kubu Laila.

Sementara Majnun yang tak bisa jua menemukan akal sehatnya, Laila dilamar oleh Ibnu Salam. Ia terpaksa menikahi laki-laki tersebut demi menjaga aib keluarga. Namun sepanjang menikah dengan Laila, Ibnu Salam tak pernah menyentuh Laila. Hati Laila masih tertuju pada si Majnun.

Mendengar berita pernikahan Laila, Majnun langsung jatuh pingsan. Hidupnya makin terpuruk dan tak peduli pada apapun yang ada di dunia ini. Tubuhnya semakin kurus. Wajahnya semakin pucat. Ia memutuskan untuk menjauh dari peradaban dan memilih tinggal di sebuah gunung dan hidup dengan binatang-binatang yang ada di sekitarnya.

Tak ada lagi yang bisa merayunya untuk pulang, bahkan ayahnya sendiri yang sudah tua renta. Semua orang merindukan Qais yang dulu sebelum menjadi Majnun. Ia benar-benar sudah tertawan dan diperbudak oleh cinta. Kemudian keadaan Majnun semakin amat terpuruk, ketika ia mendengar orangtuanya meninggal.

Beberapa tahun kemudian, suami Laila, Ibnu Salam, meninggal. Meskipun tak pernah mencintai Ibnu Salam, Laila tetap berkabung atas kematian suaminya. Meski begitu, ia masih berharap dapat bertemu dengan Majnun, kekasih hatinya.

Dalam tradisi sukunya, Laila harus menunggu masa berkabung selama 2 tahun. Harus menjalankan hal tersebut, Laila menangis dan tak bisa menahan kesedihan hatinya selama 2 tahun karena tak bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Akhirnya Laila menyerah pada kehidupan dan meninggal sebelum bisa menemui Majnun.

Mendengar kabar kematian Laila, Majnun mendatangi tempat dimana Laila dikubur. Di tempat itu, berkali-kali ia menghabiskan waktunya dengan menyesal dan menangisi Laila yang sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Berangsur-angsur tubuh Majnun menjadi lemah. Dengan sekuat tenaga ia membawa dirinya ke pusara Laila. Lalu berdoa pada Tuhan untuk membiarkannya bertemu dengan kekasih hatinya, Laila. Majnun menutup matanya dan berbaring di atas makam Laila, mendekapkan tubuhnya kepada tanah makam itu dengan segenap tenaganya yang tersisa. Tak lama kemudian, akhirnya Majnun meninggal tergeletak di atas makam Laila.

Hanya dalam kematian, Laila dan Majnun diizinkan untuk bersanding.

Sungguh kisah cinta yang tragis!

Gambar. Cover belakang buku Laila Majnun

Kisah Laila Majnun sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, salah satunya adalah ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa buku menuliskan kisah Laila Majnun dengan versi cerita yang berbeda. Namun inti ceritanya tetap sama.

Kisah Laila Majnun saya baca dari buku yang diterbitkan oleh penerbit OASE Mata Air Makna. Sang penerjemah, Dede Aditya Kaswar, menerjemahkan dengan kata-kata yang menarik dan puitis. Banyak pembendaharaan kata yang ditulis dengan kata yang variatif yang membuat imajinasi di kepala pembaca. Dari setiap rangkaian kata yang tertulis membuat saya sangat mencintai dan terbawa perasaan oleh kisah cinta tragis ini.

Syair-syair indah yang dilantukan Majnun saya tulis di Syair Majnun dalam Laila Majnun

Nilai: 5/5