Kenapa Harus Bule? (2018)

Film Kenapa Harus Bule? merupakan film Indonesia yang bergenre drama komedi. Film ini rilis pada 22 Maret 2018. Kenapa Harus Bule? disutradarai oleh Andri Cung.

Ibu gue pernah bilang, “Hidup itu adalah serangkaian keputusan yang kita pilih. Setiap hari kita harus membuat pilihan. Mulai dari pilihan yang simpel, seperti mau makan apa, mau pake baju apa, mau pake bulu mata model apa, mau pake high heels seberapa centi, sampai ke pilihan besar, seperti kapan mau nikah, mau punya anak berapa…”

Kata-kata tersebut adalah kalimat pembuka dari cerita Kenapa Harus Bule? yang diucapkan oleh Pipin Kartika (Putri Ayudya). Pipin adalah wanita yang sangat terobsesi untuk memiliki seorang kekasih atau pasangan bule. Di usianya yang memasuki usia 30 tahun, ia mulai frustasi karena belum juga menemukan tambatan hati yang ia inginkan. Banyak laki-laki lokal putih ganteng yang sudah menjadi pacarnya tapi semuanya tak cocok. Akhirnya Pipin yang merasa tak terlalu cantik dan berkulit eksotis bertekad untuk mencari bule sebagai pasangan hidupnya demi memperbaiki keturunan.

Untuk mendapatkan seorang bule, Pipin pindah ke Bali. Di sana, ia memiliki seorang teman yang kemayu, Arik (Michael Kho), yang siap membantunya mendapatkan bule dan juga pekerjaan. Kemudian Arik mengenalkan temannya, Buyung (Natalius Chendana), pada Pipin di salah satu restoran. Karena Pipin menginginkan laki-laki bule, Arik berpura-pura mengenalkan Buyung dengan nama Ben dan mengatakan bahwa Ben adalah blasteran Australia. Dan pada waktu yang bersamaan, di samping tempat duduk Pipin, seorang bule Italia, Gianfranco (Cornelio Sunny), menyapanya. Pipin yang sedikit genit dan agresif menyambut hangat sapaan tersebut, hingga mereka bertukar nomor telepon.

Pada pertemuan berikutnya antara Pipin dan Ben atau Buyung, akhirnya Pipin mengetahui siapa Buyung sebenarnya pada saat sepupu Buyung, Dona, memanggil namanya. Dalam beberapa saat Pipin belum ingat bahwa Buyung adalah teman semasa kecilnya. Setelah Pipin mengingat semuanya, Pipin hanya ingin berteman dengan Buyung. Lalu Buyung yang baik hati menawarkan pekerjaan padanya.

Berkenalan dan berkencan dengan Gianfranco membuat Pipin berbunga-bunga. Ia senang karena ahkirnya bisa berpacaran dengan seorang bule. Ditambah lagi si bule memiliki sebuah vila yang bagus. Namun justru dari sini lah masalah Pipin dimulai. Si bule memanfaatkan hubungannya dengan Pipin. Mulai dari pura-pura tak membawa dompet pada saat makan, menyuruh Pipin mencuci piring dan membersihkan rumahnya, mendorong vespa yang mogok, sampai harus membayar bensin vespa si bule. Kemudian pada akhirnya ia tahu bahwa vila tersebut bukan milik Gianfranco.

Pipin patah hati, sedih, dan frustasi. Arik yang kemayu menasehatinya dengan cara pandangnya. Salah satu kata yang ia lontarkan adalah:

Mau kawin kek atau gak kawin, semua orang selalu punya cara buat gunjingin kita.”

Meskipun begitu, Pipin tetap bersikeras mendapatkan pasangan bule dengan alasan selera. Sementara Pipin masih patah hati, Buyung mulai mendekatinya. Lalu ia menyatakan suka dan cinta pada Pipin. Sayangnya Pipin menolaknya dan memutuskan kembali pada Gianfranco dan menerima kembali dengan sebuah cincin yang diberikan si bule tanda ia serius berhubungan dengan Pipin. Dengan menerima si bule kembali, Pipin telah membuat kesalahan yang kedua kalinya.

Alur cerita Kenapa Harus Bule? maju. Cerita film ini menarik karena mengangkat beberapa isu, diantaranya adalah membandingkan perilaku laki-laki lokal dengan laki-laki bule, laki-laki yang memiliki kelainan orientasi seksual, emansipasi dan kodrat, serta abusive relationship. Salah satu hal itu ditunjukkan dalam dialog antara Pipin dan Arik di durasi 26:00 sampai menit ke 29:45. Salah satu kata-kata Arik yang menohok tentang bule adalah:

Bangsa kita masih dijajah secara mental. Kalo liat bule aja langsung pada nunduk, seolah bangga. Kayaknya martabatnya naek gitu kalo bergaul sama bule.”

Karakter yang dimainkan oleh para pemeran film ini sangat baik dan natural. Secara keseluruhan cerita Kenapa Harus Bule? bukan hanya menghibur tapi juga memberikan cara pandang dari banyak sisi tentang suatu hubungan antara perempuan dan laki-laki. Ya walaupun di dunia nyata banyak juga perempuan indonesia yang menikah dengan bule dan hidup mereka happy dan seimbang secara emansipasi dan kodrat.

Nilai: 3.5/5