Ali’s Wedding (2017)

Ali’s Wedding merupakan film drama komedi Australia. Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata seorang Muslim Irak yang tinggal di Australia bersama keluarganya. Cerita tersebut diangkat berdasarkan kisah nyata yang ditulis oleh Osamah Sami yang juga memerankan tokoh utama dalam film ini.

Ali’s Wedding disutradarai oleh Jeffrey Walker, dan ditulis oleh Andrew Knight dan Osamah Sami. Ali’s Wedding rilis di Adelaide Film Festival pada Oktober 2016, rilis di Sydney Film Festival pada 8 Juni 2017, dan rilis di Amerika pada 8 Juni 2018.

Ali’s Wedding mengisahkan tentang seorang pemuda, Ali Albarsi (Osamah Sami), yang merupakan seorang muslim keturunan Irak yang tinggal dan besar di Australia bersama ayah dan keluarganya. Ali telah membuat dua kebohongan pada ayahnya yang telah menaruh banyak harapan terbaik padanya sebagai anak pertama. Ali mengatakan:

A lie begins in the soul and travels the world.

Ia berkilah bahwa kebohongan yang ia buat demi nama baik ayah dan keluarganya. Istilahnya white Lies.

Ayah Ali, Sheikh Mahdi (Don Hany), merupakan seorang ulama juga pemimpin komunitas muslim di Australia yang sangat dihormati oleh anggota komunitasnya.

Kebohongan pertama Ali adalah berbohong tentang hasil ujian untuk masuk jurusan kedokteran Universitas Melbourne. Ia berkata kepada sang ayah bahwa ia mendapatkan skor tinggi dan diterima di universitas tersebut. Padahal kenyataannya adalah ia mendapatkan nilai yang sangat rendah dan tak lulus masuk universitas itu.

Dan kebohongan yang kedua adalah, dalam keadaan terpaksa, Ali menerima pertunangannya dengan Yomna (Maha Wilson), yang merupakan anak orang terpandang, Haj Karim (Rodney Afif), yang sama-sama keturunan Irak seperti keluarganya. Kedua belah pihak sudah mengatur pertunangan tersebut tanpa Ali ketahui di saat Ali sedang sangat jatuh cinta pada seorang wanita keturunan Australia-Libanon, Dianne (Helena Sawires). Ali melakukan kebohongan demi kebohongan itu untuk kebahagiaan ayahnya dan nama baik keluarga.

Ketika akhirnya sang ayah mengetahui kenyataan bahwa Ali telah berbohong tentang nilai yang ia dapatkan, dan bukan hanya ayahnya yang dibohongi, namun kepada semua komunitas, Ali meminta maaf di depan para anggota komunitas. Di depan podium Ali berkata:

“The Prophet has said that lying is a sin, which burn away at the soul as fire burn through wood. Hence, I stand before you, and before God, offering my repentance.”

Cerita Ali’s wedding merupakan jalinan cerita yang mengkombinasikan unsur komedi, drama romantis, agama (Islam), multikultural, cinta sejati, realita, dan rumor. Unsur Islam dalam film ini sangat dominan, namun bukan Islam murni, saya pikir. Karena di dalamnya sudah mencampurkan adat istiadat dan kebudayaan negara tertentu, salah satunya adalah adegan ciuman yang dilarang dalam Islam. Islam tidak melarang ummatnya untuk berciuman, namun Islam memiliki aturan untuk itu. Jika film ini bukan film Islami, barangkali adegan ciuman dalam film ini merupakan bagian romantisme cerita, dan tidak bisa dikaitkan dengan ajaran Islam secara keseluruhan.

Secara keseluruhan cerita, saya sangat menikmati menonton film ini. Rasa haru, lucu, merasakan cinta sejati bercampur menjadi satu.

Satu adegan terbaik bagi saya adalah pada saat Ali sedang membaca Qur’an surat Yasin ayat 81-83 di atas menara, yang mana pada saat itu suasana hati Ali sedang berkecamuk. Terjemahan surat itu adalah:

Dan bukanlah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, mampu menciptakan kembali yang serupa itu (jasad mereka yang sudah hancur)? Benar, dan Dia Maha Pencipta, Maha Mengetahui. (ayat 81)

Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadi lah sesuatu itu. (ayat 82)

Maka Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kami dikembalikan. (ayat 83)

Satu adegan yang membuat saya cukup merasa terharu adalah ketika Ali dan ayahnya, Mahdi, berbicara dari hati ke hati antara anak dan ayah.

Mahdi: I have been a very bad father. If I have not communicated to you how much you are loved… then I am the failure. I am a bad Muslim. Because you are loved without condition. …………………………  What do you want to be?”

Ali: “I just want to make you proud, Dad.”

Mahdi: “Then be proud of yourself.”

Dan satu hal yang paling menarik dalam cerita ini adalah cerita Mahdi tentang kisah keledai dengan seorang ayah dan anak laki-lakinya yang sangat familier buat saya. Di atas kursi kebesarannya, Mahdi menceritakan itu di depan anggota komunitas:

During Abbasiyah Dynasty, a man and his son rode on donkey. But once they reached the town of Kandahar the people abused them. They said, “Poor donkey. You make him carry two fit men.” So the father rode and the son walked. But when they arrived at the next time, people cried, “Look at this fellow. He drags his young defenseless boy through the dessert heat, and he enjoys the ride of a lifetime.” So, in the next time, the son rode and the father walked. But people shouted at the boy, “You are young, you are healthy. You make your elderly father suffer. He is marching in the heat.” So together the father and his son decided to walk with their donkey. As they passed through the next time, people laughed, “Look at these two idiots. Why they don’t ride their donkey?” Father said, “Stuff this.” And the boy carried the donkey on their back.

Dan inti dari cerita tersebut adalah,

“Jangan pernah mendengarkan apa kata atau komentar orang tentang hal-hal yang telah kita lakukan (selama tidak merugikan siapapun). Karena beberapa manusia tak bisa berhenti berkomentar atas apapun.”

Nilai: 3.8/5