Just a Breath Away (2018)

Apa jadinya suasana kota yang awalnya berjalan normal namun tiba-tiba dilanda kabut tebal yang menyelimuti seluruh kota?

Hal tersebut menimpa kepada penduduk Paris dalam film Just a Breath Away. Mereka harus hidup tanpa informasi, listrik, makanan dan minuman, dan yang pasti adalah tak ada bantuan yang akan datang membantu mereka karena sulitnya akses masuk yang disebabkan tebalnya kabut yang semakin tinggi. Jikalau mereka ingin keluar dari situasi itu, mereka harus mampu melawan tebalnya asap.

Sebuah keluarga yang berusaha bertahan dalam keadaan tersebut adalah Mathieu (Romain Duris), Anna (Olga Kurylenko), dan Sarah (Fantine Harduin). Sarah merupakan anak perempuan yang lahir tidak seperti anak perempuan pada umumnya. Ia harus melewati masa hidupnya di dalam sebuah kapsul besar yang dirancang seperti sebuah kamar. Suatu penyakit mengharuskannya tinggal di dalam kapsul besar. Setiap berapa jam sekali, baik Mathieu atau Anna harus mengganti baterai kapsul itu. Hidup Sarah sangat bergantung pada daya beterai kapsul tersebut.

Karena tebalnya asap yang memasuki rumah apartemen Mathieu dan Anna, demi bertahan hidup, mereka harus lari ke tempat yang lebih tinggi dan meninggalkan Sarah. Mereka menuju rumah apartemen sepasang kakek nenek; Lucien (Micheal Robin) dan Colotte (Anna Gaylor), yang tinggal di lantai paling atas apartemen itu. Di dalam rumah itu, mereka memikirkan cara bagaimana bertahan dan harus saling bergantian keluar rumah dengan memakai masker untuk mengganti baterai kapsul Sarah yang berada di lantai bawah.

Ketika kabut semakin tebal dan meninggi, tak ada jalan lain selain keluar dari kota itu. Mathieu dan Anna berusaha dan berjuang untuk bisa bertahan demi membawa Sarah keluar dari kapsul. Hal yang harus Mathieu dan Anna lakukan adalah mencari jaket khusus untuk Sarah. Rintangan demi rintangan harus mereka lewati dalam tebalnya kabut asap yang menyelimuti seluruh kota, gelap, dan tak ada satu makhluk pun yang hidup kecuali anjing buas yang siap memangsa mereka kapanpun.

Just a Breath Away merupakan film drama fiksi-sains Perancis. Judul asli film ini adalah Dans La Brume. Film ini disutradarai oleh Daniel Roby dan ditulis oleh Guillaume Lemans, Jimmy Bemon, dan Mathieu Delozier. Film yang berdurasi kurang lebih satu jam dua puluh delapan menit ini rilis di Indonesia pada 27 Juni 2018.

Alur cerita Just a Breath Away maju. Rangkaian cerita film ini cukup sederhana dan sedikit emosional di bagian adegan-adegan terakhir. Namun sayangnya ada beberapa hal yang tidak dijelaskan dengan jelas. Seperti, apa penyakit Sarah dan apa yang membuat asap tebal menyelimuti seluruh kota. Akan tetapi, pertanyaan di atas terjawab di akhir cerita yang sepertinya sang penulis menyelipkan pesan tersirat di dalamnya.

Bagi saya, beberapa dialog dalam satu adegan antara Anna dan Sarah yang berbicara dengan menggunakan handie-talkie cukup emosional dan mendalam ketika mereka sedang menghadapi masa tersulit di durasi satu jam dua menit dalam film ini:

Sarah: “Apakah Ibu memikirkan sesuatu?”

Anna: “Seperti apa?

Sarah: “Seperti kematian. Apakah kita akan menghilang dari keberadaan kita sekarang atau sesuatu yang lain?”

Anna: “Apa yang kau pikirkan?

Sarah: “Aku pikir ini belum berakhir.”

Anna: “Ya, itu yang aku pikirkan.”

Sarah: “Apakah Ibu percaya Tuhan? Pencipta langit dan bumi?”

Anna: “Aku ilmuwan. Dalam fisika, diciptakan setiap aksi pasti ada interaksi. Dan asap ini bukanlah hal yang biasa tapi reaksi alami terhadap sesuatu.”

 

Nilai: 4/5