Bad Seeds (2018)

Bad Seeds merupakan film drama komedi Perancis. Judul asli film ini adalah Mauvaises Herbes. Film Bad Seeds disutradarai dan ditulis oleh Kheiron yang juga menjadi bintang utama dalam film ini.

Selain Kheiron, beberapa aktor menjadi pemain pendukung dalam film ini. Mereka adalah, Catherine Deneuve, André Dussollier, Louison Blivet, Adil Dehbi, Hakou Benosmane, Youssouf Wague, Ouassima Zrouki, Joseph Jovanovic, Ayment Wardane, dan lain-lain.

Bad Seeds mengisahkan tentang mantan anak jalanan yang bernama Waël yang hidup sebatang kara sejak perang meluluh-lantahkan kotanya dan para tentara yang telah membunuh keluarganya.

Waël kecil (Ayment Wardane) hidup di jalanan seorang diri dengan meminta-minta untuk bertahan hidup. Meskipun badannya kecil namun ia tak pernah kehabisan akal meskipun tak ada satu orang pun di jalan yang memberinya uang. Ya walaupun ujung-ujungnya ide yang muncul di kepalanya adalah akal bulus.

Hal itu terbawa hingga Waël dewasa (Kheiron). Ia bersama ibu adopsinya, Monique (Catherine Deneuve), yang juga menjadi partnert in crime menipu dan mencuri barang orang lain. Aksi mereka selalu berhasil ketika Waël berpura-pura mencuri tas Monique pada saat seseorang berjalan ke arah Monique, pada saat si target mengejar Waël, Monique beraksi mengambil barang milik si target.

Namun satu hari aksinya gagal ketika seorang laki-laki tua, Victor (André Dussollier), berjalan menuju Monique dan ia mengenali Monique sedangkan Waël tak tahu tentang itu dan tetap menjalankan aksinya. Victor berhasil mengejar Waël dan aksi mereka tertangkap basah oleh Victor.

Untuk lepas dari tuntutan karena telah menipu Victor, Victor memberi “hukuman” pada Waël untuk bersedia menjadi guru pengganti dari enam anak bermasalah; Shana (Louison Blivet), Fabrice (Adil Dehbi), Karim (Hakou Benosmane), Ludo (Youssouf Wague), Nadia (Ouassima Zrouki), dan Jimmy (Joseph Jovanovic), di sekolah milik Victor. Sedangkan Monique diminta menjadi sekretaris Victor tanpa dibayar sepeserpun.

Di sekolah tersebut, menjadi seorang guru pengganti telah merubah perilaku Waël menjadi jauh lebih baik dan bermakna bagi orang lain, serta menggunakan otaknya yang cerdas dengan cara yang baik. Bukan hanya ia yang merubah perilakunya menjadi lebih baik, akan tetapi anak-anak yang ia ajarkan dengan caranya.

Ada beberapa film yang memiliki judul yang hampir sama bahkan sama persis meskipun dengan jalan cerita yang jauh berbeda. Dan itu hal yang biasa untuk penulis atau pun sutradara memilih judul film yang akan digunakan. Sama hal nya dengan film ini yang memiliki judul yang hampir sama dengan film Amerika The Bad Seed (2018), akan tetapi keduanya memiliki judul yang hampir sama dan dari sisi apa pun film ini jauh berbeda.

Alur cerita Bad Seeds maju mundur. Ide dan isu cerita yang diangkat oleh film ini sebenarnya sangat umum yaitu tentang anak-anak yang bermasalah yang butuh seseorang yang bisa mengubah hidup mereka menjadi lebih baik dan bermakna. Akan tetapi film ini menjadi sangat menarik untuk ditonton karena dikemas dengan sangat apik.

Banyak sisi-sisi menarik yang disuguhkan ke dalam cerita film ini meskipun hanya sepersekian detik saja sebagai bentuk pesan yang ingin disampaikan oleh film ini.

Lucu, sedikit sedih, terharu, gemas, menyenangkan, dan hal-hal baik saya rasakan pada saat menonton Bad Seeds.

Barisan kalimat sederhana yang diucapkan oleh Waël pada saat ia menggambar sebuah kepala binatang dengan satu sisi mirip kelinci dan sisi lainnya mirip bebek barangkali menjadi salah satu bagian dari inti cerita film ini. Nadia yang selalu merasa benar dan tak ingin dikalahkan menyebut gambar tersebut adalah kelinci sedangkan lima teman yang lainnya melihat gambar itu adalah bebek. Dengan bijak Waël mengatakan pada mereka,

Ini bukan tentang fakta, tapi tentang intepretasi dan cara pandang.”

Layakkah film ini untuk ditonton? Tentu sangat layak.

Nilai: ∗∗∗∗∗/5