Hotel Mumbai (2019)

Hotel Mumbai merupakan film drama, sejarah, thriller yang diangkat dari kisah nyata. Film yang berdurasi selama dua jam tiga menit ini rilis di Amerika Serikat pada 29 Maret dan rilis di Indonesia pada 6 April 2019.

Pada 26 November 2008, di Hotel Taj Mumbai, India, terjadi serangan teroris yang dilakukan sekelompok pemuda di salah satu hotel besar dan mewah tersebut. Mengatasnamakan jihad mereka menembaki semua orang tanpa ampun dan menyandera beberapa orang yang mereka anggap orang-orang yang tidak sejalan dengan keyakinan mereka.

Ketika seluruh ruangan hampir “disapu” dengan tembakan para teroris, kepala restoran hotel, Oberoi Hermant (Anupam Kher) dan salah satu stafnya, Arjun (Dev Patel), membantu menyelamatkan seluruh tamu yang sedang menikmati makanan mereka supaya merasa aman dan mengevakuasi mereka ke satu ruangan lounge yang aman.

Salah satu diantara tamu, seorang pasangan suami istri, David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi), memiliki seorang bayi yang sedang berada di kamar hotel bersama pengasuhnya, Sally (Tilda Cobham-Hervey), nyaris menjadi sasaran salah satu teroris tersebut.

Dari dalam lemari sambil menggendong sang bayi yang sedang menangis, dengan hati-hati dan dipenuhi rasa takut, Sally berhasil memberi tahu David dan Zahra keadaan mereka.

Arjun membantu David keluar dari ruangan tersebut untuk menyelamatkan Sally dan sang bayi. Namun pada pertengahan jalan menuju kamar, beberapa teroris memergoki mereka hingga mereka harus menyelamatkan diri mereka sendiri karena keduanya sama-sama tak bersenjata dan dalam keadaan sama sekali tak aman.

Film garapan Anthony Maras dan ditulis oleh John Colee dan Anthony Maras ini berhasil menampilkan drama dari sebuah tragedi secara apik. Dari awal sampai akhir film, penonton dibawa ke situasi mencekam dan menegangkan seolah merasakan semua yang terjadi di dalam hotel tersebut. Rasa takut dan mengharukan menjadi ritme dari rangkaian kisah Hotel Mumbai.

Beberapa isu diangkat dalam kisah ini. Diantaranya adalah agama dan rasis. Para teroris pemuda ini melakukan aksinya karena ditunggangi oleh orang yang selalu mengatasnamakan jihad dan memaksa para pemuda ini melakukan serangan yang membabi buta.

Kurangnya ilmu, himpitan ekonomi keluarga mereka, dan keputusasaan yang membuat para pemuda tersebut menjadi target orang-orang yang tak bertanggung jawab. Dengan iming-iming surga dan uang mampu membuat mereka melakukan aksi yang sangat brutal dan tak berperikemanusiaan.

Selain isu diatas, beberapa simbol yang menjadi stereotype di tengah masyarakat adalah bahasa, kumis dan janggut, turban (pagri) juga menjadi bagian dalam film ini.

Karena banyaknya adegan kekerasan, film ini hanya bisa ditonton untuk penonton yang berusia di atas 17 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *