Parasite (2019)

Melihat postingan seorang teman di beranda Facebook saya beberapa waktu lalu tentang sedikit pendapatnya yang menyatakan film Parasite sangat baik dan menarik, saya yang bukan pecinta film Korea penasaran untuk menonton film ini.

Bukan hanya itu, dari salah satu berita yang saya dengar film ini mendapatkan apresiasi bagus dari kalangan pecinta dan sineas film dunia.

Untuk membuktikan apakah film ini memang benar-benar menarik, saya baru menonton Parasite tadi malam. Dan berikut ini pendapat saya tentang film yang memiliki judul asli Gisaengchung.

Secara garis besar, Parasite menceritakan tentang keluarga miskin yang berusaha mencari uang atau keuntungan dengan memanfaatkan orang kaya yang polos dengan cara cerdik dan culas.

Film garapan Bong Joon-ho ini menyuguhkan cerita yang biasa saja di awal cerita, dan hampir saya sudahi untuk menontonnya. Namun di pertengahan film yang memiliki durasi selama dua jam lebih ini, cerita mulai nampak menarik dengan sederetan kejutan yang tak bisa saya tebak akan berakhir seperti apa.

Rangkaian cerita film Parasite sesungguhnya sangat sederhana, akan tetapi diracik dengan sangat apik dari segala sisi. Cerita yang disuguhkan pun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun sarat makna dari beberapa adegan yang disajikan.

Unsur dark comedy dan satir juga dihadirkan dalam cerita yang memenangkan penghargaan Palm d’Or di Festival Film Cannes 2019 ini. Uniknya dalam cerita film ini memasukkan simbol bau dan sandi morse yang menjadi penentu jalannya cerita.

Terakhir, yang paling menarik dalam film ini menurut saya adalah pesan yang disampaikan melalui dialog antara ayah, Ki-taek (Song Kang-ho) dan anak, Ki-Woo (Choi Woo-shik), di durasi sekitar satu jam tiga puluh sembilan menit-an tentang membuat rencana atau perencanaan.

Jadi, apakah Parasite memang menarik untuk ditonton? Jawabannya pasti ya.