Kabir Singh (2019)

Cinta itu seperti lautan. Amat dalam dan besar. Tak bisa kau taklukkan. Namun bisa kau rasakan kekuatannya. Bisa terasa kacau maupun tenang. Kacau bagi mereka yang tak mengerti cinta. Tenang, bagi mereka yang terpisah oleh waktu dan keadaan, tapi sesungguhnya tak ada yang dapat memisahkan mereka.”

Baris kalimat tersebut menjadi narasi pembuka film Kabir Singh dengan adegan seorang laki-laki dan perempuan sedang berpelukan di ranjang.

Dengan membaca narasi tersebut, bisa terbaca tema apa yang diangkat ke dalam film Bollywood ini. Yep, Kabir Singh mengangkat kisah cinta sejati dan romansa yang kental.

Kabir Singh mengisahkan seorang mahasiswa kedokteran ahli bedah semester akhir, Kabir Rajdheer Singh (Shahid Kapoor), yang cerdas akan tetapi keras kepala dan tak dapat mengendalikan emosinya. Kabir bukan hanya mahasiswa yang cerdas, namun ia juga bintang lapangan sepak bola dan hampir semua mahasiswa tunduk pada perintahnya, semacam senioritas dan junioritas.

Karena terlibat perkelahian di lapangan sepak bola, seorang dekan sangat marah pada Kabir. Ia kecewa karena kecerdasan Kabir tak mampu mengatasi masalah manajemen kemarahannya. Hal itu membuat Kabir harus memilih antara meminta maaf atau meninggalkan kampus.

Awalnya Kabir memilih meninggalkan kampus. Akan tetapi, kemudian ia berubah pikiran ketika melihat salah satu mahasiswa semester satu, Preeti Sikka (Kiara Advani).

Preeti yang cantik, pendiam, dan lugu mampu membuat Kabir jatuh cinta. Alih-alih menyatakan diri sebagai orang yang akan menjaga Preeti kepada ayah Preeti, Kabir justru menjadi sebagai lebih daripada bodyguard bagi Preeti setiap kesempatan. Kabir sangat jatuh cinta pada Preeti begitu juga dengan Preeti.

Mereka semakin dekat dan sangat ‘dekat’ hingga Preeti tak ingin berpisah dengan Kabir ketika Kabir memutuskan melanjutkan sekolahnya ke Woodstock.

Minggu berganti minggu, musim telah berganti, dan tahun berganti tahun, rasa cinta mereka tetap sama meskipun berhubungan jarak jauh. Kabir memutuskan untuk menikahi Preeti.

Dan masalah dimulai ketika ayah Preeti yang konservatif melihat Kabir dan Preeti berciuman. Ayah Preeti sangat marah dan memutuskan hubungan mereka lalu menjodohkan Preeti dengan wanita lain.

Preeti yang ingin memperjuangkan cintanya, memberi waktu 6 jam pada Kabir untuk menemuinya. Namun Kabir yang kalut dan tak bisa mengontrol kemarahannya tenggelam dalam minuman alkohol dan obat terlarang. Dua hari ia koma, dan Preeti menikah dengan laki-laki lain.

Membaca sekilas cerita diatas, cerita Kabir Singh nampak seperti cinta romansa India yang pernah ada. Rangkaian cerita Kabir Singh memang kelihatan klise. Namun bagi saya yang menarik dalam film ini adalah karakter Kabir Singh dan akting Shahid Kapoor yang epik sekali.

Dengan durasi selama hampir tiga jam atau tepatnya dua jam lima puluh satu menit dua puluh lima detik tak membuat saya mengantuk atau pun bosan. Saya menikmati menonton setiap adegan dari film yang disutradarai dan ditulis oleh Sandeep Vanga ini.

Dari menit awal hingga tiga puluh sembilan menit dan menit-menit seterusnya hingga akhir cerita, saya sangat menikmati aksi kekonyolan-kekonyolan karakter Kabir Singh. Shahid Kapoor sangat baik memainkan karakter Kabir Singh yang cerdas, ‘gila’, cool tapi lucu (tanpa harus kelihatan lucu), eksentrik, pemarah, kacau, pecandu alkohol dan narkotika, bersikap apa adanya, bossy, classy, nampak kalem tapi liar.

Beberapa nyanyian bernafaskan cinta dan patah hati menambah kedalaman cerita Kabir Singh. Beberapa satir dan pesan moral yang nyata juga tertuang dalam film ini.

Namun terlepas dari bagusnya karakter Kabir Singh dan akting Shahid Kapoor, adegan romansa yang ada dalam film ini digambarkan lebih bergairah. Yang mana hal tersebut keluar dari kultur India atau ke-timur-an. Adegan ciuman cukup intens disuguhkan dalam film ini.

Dua kutipan dialog menjadi kalimat favorit saya dari film Kabir Singh:

Untuk lahir, jatuh cinta, dan mati, adalah 3 peristiwa penting dalam kehidupan. Sisanya hanya tanggapan saja.” – Kabir Rajdheer Singh –

Dalam pepatah Inggris kuno: “Bukan perpisahan yang menyakitkan, tapi kenangan yang ada.” Mulailah melanjutkan hidup.” – Karan Rajdheer Singh (ayah Kabir) –