Jatuh Cinta (1)

Selama sepanjang waktu aku jatuh cinta padamu, tapi aku tak menyadari itu, dan lebih buruk lagi tak menyadari betapa kamu pun sangat jatuh cinta padaku.

Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku saat itu. Alasan yang klasik memang, tapi sungguh aku tak bisa meninggalkan itu. Bosku selalu bergantung padaku. Itu artinya sukses tidaknya perusahaan ada di tanganku.

Jika mendengar hal ini, aku yakin kamu tak akan percaya. Saat itu hanya Emma yang ada di hadapanku dan sangat mengerti keadaanku. Hanya Emma yang dapat membuat hidupku tetap stabil. Pekerjaan itu membuatku gila, sekaligus membuatku tak bisa lepas dari pekerjaan itu. “Kamu tak akan mengerti, Ana.” Tanganku menyentuh pundak wanita yang pernah sangat mencintaiku, tapi aku tak pernah melihat dan menyadari itu. Wanita berambut panjang nan indah ini bernama Ana, yang jiwanya tak lagi bersama raganya.

“Ana, aku pulang dulu ya. Baik-baik di sini.” Pamitku pada Ana yang sedari awal aku bicara tak ada sedetik pun matanya melihat ke arahku.

Bunga yang sudah layu dan kering tak pernah lepas dari tangan Ana. Tak pernah lebih dari satu menit ia melepaskan tangannya dari tangkai bunga kering itu. Jika bunga itu sudah hancur, perawat akan membuangnya dan mengganti bunga yang baru. Pernah suatu hari bunganya hilang diambil pasien lain, Ana mengamuk dan memukul tangannya sendiri hingga penuh lebam karena tak ada yang mengawasi saat kejadian itu berlangsung.

Aku bangkit dari samping Ana yang nampak tak menanggapi ribuan kata yang keluar dari mulutku dan keberadaanku. Kuusap kepalanya sebagai usaha terakhirku membuatnya menyadari bahwa aku akan beranjak meninggalkannya. Hal itu tak pernah luput kulakukan padanya.

Pelan langkah kakiku meninggalkan Ana yang masih saja memainkan bunga kering dan layu itu dengan pandangan menunduk melihat lantai atau pun tanah dan kadang kepalanya menengadah melihat langit atau pepohonan atau apa pun yang ada di udara. Aku menoleh ke arahnya, ia tak menghiraukan kepergianku sama sekali. Seorang pasien perempuan setengah tua selalu menggodaku tiap kali ia melihatku dengan mengusap-ngusap daguku, dan merengek berkata, “Ganteng, soleh, pinternya Mami jangan tinggalin Mami sendiri, Nak ….”

Pemandangan dan perilaku aneh dari para penghuni rumah singgah ini sudah biasa bagiku. Aku selalu menyebut tempat ini rumah singgah, tapi bukan rumah sakit jiwa atau apa pun. Awalnya aku sangat ketakutan dan tak ingin datang ke tempat ini lagi. Tapi wajah Ana, wajahnya yang pucat, lesu, kuyu, dan kosong selalu singgah di pikiranku dalam keadaan sesibuk apapun. Merasakan kesakitan yang ia sendiri tak tahu dimana rasa sakitnya.

“Habis dari mana, Mas? Kok jam segini baru sampe rumah? Macet ya?” Pertanyaan itu selalu keluar dari mulut Emma tiap kali aku tiba di rumah pada waktu yang tidak seperti biasanya.

Meski begitu Emma tak pernah sekalipun berprasangka buruk terhadapku. Ia selalu mempercayai apapun yang aku katakan selama hal itu masuk akal baginya. Hal itu lah yang menjadi salah satu alasan kenapa aku menikahi Emma.

Emma adalah wanita yang kuat di mataku. Bukan hanya cantik secara fisik, tapi ia juga wanita yang cerdas. Masuk dalam kategori sosok wanita yang sempurna dan idaman para lelaki. Kami tak lama berpacaran. Sejak mengenalnya dari awal, aku langsung tertarik padanya dan sebulan kemudian memutuskan untuk melamar dan menikahinya.

Dalam keadaan sesulit apapun, Emma tak pernah meninggalkan aku sendiri. Dia selalu ada untukku bahkan ketika ia sedang lelah dan pusing dengan masalah kerjaannya. Namun satu yang Emma tak suka, ketidakjujuran. Sekali aku berbohong, maka ia bisa sangat marah semarah-marahnya, dan aku pernah melakukannya sekali.

“Aku habis jenguk temenku yang sakit.”

“Sakit apa?” Emma nampak ingin tahu.

“Sakit jiwa.”

“Oh, kasian.” Emma berkata dengan ekspresi datar. Kemudian melanjutkan, “Oh iya Mas Damar, kayaknya aku jadi ditugaskan ke Pangkal Pinang pekan depan.”

Kupikir Emma akan menanyakan lebih jauh. “Jadinya berapa lama?”

“Mungkin seminggu.”

(bersambung….)