Jatuh Cinta (5)

Aku sedikit kaget dengan pertanyaan Mbak Putu yang sesungguhnya pertanyaan itu cukup lumrah tapi membuat detak jantungku berhenti sepersekian detik. Hari ini keempat kalinya aku datang ke rumah singgah ini, dan baru hari ini seseorang menanyakan hubunganku dengan Ana.

“Kalo bukan keluarga atau saudaranya, lalu Mas Damar ini siapanya Mbak Ana?” Mbak Putu masih penasaran karena aku tak langsung menjawab pertanyaannya. “Mas Damar mantan pacarnya Mbak Ana ya, hehe?!” Mbak Putu menggodaku.

“Saya temen lamanya Ana.” Akhirnya aku menjawab. “Kami sudah lama sekali nggak bertemu dan berkomunikasi. Dan sebulan lalu saya anter temen saya ke sini, nggak sengaja liat Ana. Lalu memastikan apakah dia Ana temen saya, ternyata sama persis.”

“Terus Mas Damar kenal sama keluarga Mbak Ana?”

“Kenal, tapi sejak mereka pindah ke Bandung, saya udah nggak tahu lagi tentang mereka. Jadi, saya juga bingung mau kasih kabar ke siapa tentang keadaan Ana.”

“Oh jadi karena itu Mas Damar menyempatkan menjenguk Mbak Ana?”

Aku tak menjawab pertanyaan Mbak Putu. Berpikir apa sebenarnya alasanku menjenguk wanita yang sudah lama hilang dari hidupku. Apa yang membawaku datang ke tempat ini untuk keempat kalinya dan mungkin akan lebih dari ini.

“Mas Damar, aku permisi dulu ya. Sepertinya ada pasien yang berkelahi.”

Secepat kilat Mbak Putu beranjak dari duduknya, dan berlari ke arah selatan dimana tempat keributan terjadi. Sedangkan Bu Patra masih nyaman berada di sampingku sambil memainkan kain sarung yang selalu ia bawa kemanapun. Mang Idin bilang kain sarung itu selalu dianggap kain sarung milik anak laki-lakinya.

Sebelum aku pulang, langkahku menuju ruangan dimana Ana dikurung untuk melihat keadaan terbarunya. Kali ini ia tidak sedang di atas tempat tidur, tapi duduk menghadap jendela. Ya, tepat di hadapanku. ia menatap jendela tapi dengan pandangan kosong. Kami saling bertatapan, akan tetapi pandangan Ana tak searah dengan tatapanku padanya.

Tanganku menempel pada kaca jendela dan jari telunjukku mengetuk kaca itu beberapa kali untuk menghidupkan pandangan mata Ana. Tak lama kemudian, Ana seperti merespon ketukan itu dan beranjak dari tempat tidur, jalan perlahan menuju ke arah kaca jendela, ke arahku.

(bersambung … )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *