Jatuh Cinta (6)

Ana berjalan dengan langkah pelan menuju ke arah kaca jendela, ke arahku. Mata kosongnya bertemu dengan mataku. Jantungku berdetak lebih cepat ketika Ana berdiri tepat di hadapanku yang dibatasi oleh kaca. Tak lama setelah itu, ia membungkukkan badannya yang ramping, mengambil setangkai batang bunga yang sudah kering, kemudian hilang dari padanganku.

“Ana, aku pulang dulu, ya!?” Entah dengan siapa aku berbicara.

Tak pernah ada dalam pikiranku bahwa aku akan bertemu Ana lagi. Terlebih lagi dalam keadaan seperti ini. Terakhir kali kami tak sengaja bertemu, aku dalam keadaan sangat membencinya karena perilakunya yang begitu menyebalkan. Ia tak henti mencoba meyakinkanku dengan cara apapun bahwa ia sangat mencintaiku. Mungkin aku terlalu berlebihan menanggapi sikapnya, tapi hal itu sangat amat menggangguku di saat aku sedang fokus pada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.

Aku mencacinya, memakinya, mempermalukannya di depan orang banyak, melihatnya penuh kebencian, memalingkan wajahku darinya, dan berharap ia akan membenciku, tak menggangguku lagi, dan pergi dari hidupku untuk selamanya.

Usahaku nampaknya berhasil. Ana benar-benar menghilang dari kehidupanku. Entah karena sikapku atau hal yang lain, aku tak peduli. Hidupku merasa damai dan lega saat itu. Pekerjaanku berjalan lancar dan karirku terus melesat, hingga aku bertemu wanita yang aku dambakan, sosok wanita yang nampak sempurna yang pantas kujadikan sebagai istri, Emma Farhana.

Setelah tiga tahun tak mendengar kabar tentang Ana sama sekali, namun sore itu, pada saat menemani Bima ke rumah singgah Damai Jiwa, aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat. Sosok Ana yang terakhir kulihat sangat berbeda ketika aku melihatnya di rumah singgah itu. Pandangan dan jiwanya kosong. Tak bisa kupungkiri aku merasa iba melihat kondisinya.

“Halo Di, apa kabar?” Sapaku dari ujung ponselku pada Diana teman SMA ku.

“Hey Damar, kemana aja lo baru nelpon gue lagi.”

“Ada kok, nggak kemana-mana. Di, gw butuh bantuan lo nih.” Tanpa berbasa-basi lagi aku mengutarakan tujuanku menelepon Diana.

Ah elo sekalinya nelpon gue kalo ada maunya aja.” Nada suara Diana sedikit marah tapi juga terdengar bercanda. “Ada butuh apa emangnya, Dam?”

“Menurut informasi yang gue denger, jam terbang praktek lo ngurusin orang yang jiwanya sakit udah banyak, ‘kan, Di, jadi gue mau minta bantuan lo secara profesional buat sembuhin seseorang. Tenang, masalah bayaran juga profesional kok.”

Sejak reuni beberapa tahun lalu, aku dan Diana tak pernah bertemu lagi sejak saat itu. Bahkan ketika aku melangsungkan pernikahan, ia tak datang karena kesibukan yang tak bisa ia tinggalkan. Semasa SMA banyak yang mengira kami berpacaran karena hubungan pertemananku dengannya terlalu dekat. Saat itu, kami memang benar-benar berteman.

Dengan jadwalnya yang cukup padat, aku harus siap mengikuti waktunya kapan ia memiliki waktu kosong. Dan itu tak masalah bagiku selama tak mengganggu jam kerjaku.

“Pak, ini ada paket buat Bu Emma.” Mbak Nur memberiku sebuah paket kotak yang berukuran sedang.

Aku cukup penasaran apa isi di dalamnya.

Emma tak mengatakan padaku bahwa ia sedang memesan sesuatu.

Biasanya ia selalu bilang padaku bila sedang atau akan membeli barang via online. Tapi kali ini ia tak mengatakannya padaku.

(bersambung ….)

Baca juga: https://rinalmatien.com/2020/05/22/jatuh-cinta-7/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *