Jatuh Cinta (8)

Setelah selesai sholat Magrib aku berusaha menghubungi Emma, tapi beberapa kali aku menghubunginya ia tak menjawab panggilanku.

“Istri lo tahu kalo lo sering jenguk Ana?” Tanya Diana sambil merapikan hijabnya.

“Tahu, waktu kedua kalinya gue jenguk Ana. Tapi untuk beberapa kali berikutnya dia nggak tahu karena gue pikir dia nggak terlalu peduli. Jadi, gimana tentang kondisi Ana menurut lo, Di?”

“Gw belum bisa menyimpulkan apapun. Tapi gue rasa kasus Ana akan sangat menarik buat gue pelajari.”

Sambil mendengarkan penjelasan Diana, mataku terus terpaku pada Ana yang berada dalam ruangan mengaji di sebelah masjid yang masih dalam satu bangunan. Rambutnya ditutup dengan kerudung putih yang kedua ujungnya ia biarkan menjuntai tanpa ia lipat di pundaknya. Kepalanya menunduk nampak seperti sedang memandangi qur’an yang ada di tangan kanannya.

Sementara Ustadz Ihsan sedang menyampaikan kuliah maghrib-nya kepada para penghuni rumah singgah ini, beberapa dari mereka nampak mendengarkan dan menyimak ceramah sang ustadz dan yang lainnya sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Kegiatan mengaji, mendengar tausiyah, dan zikir bersama merupakan salah satu kegiatan andalan yang diusung Bu Rina dan Pak Danny untuk menyembuhkan para penghuni Damai Jiwa. Banyak penghuni rumah singgah ini sembuh total dan kembali kepada keluarga mereka dalam keadaan sehat wal ‘afiat bahkan beberapa dari mereka menjadi penghafal Qur’an karena kegiatan ini.

Bu Rina dan Pak Danny memiliki keyakinan yang kuat bahwa dengan membaca atau pun mendengarkan ayat suci al-qur’an dan memohon kepada Sang Pencipta, penyakit apapun bisa sembuh.

Ana yang sedang duduk di baris paling pojok belakang, nampak mendengarkan ceramah Ustadz Ihsan dengan seksama dengan bunga di tangan kiri dan sebuah buku Qur’an di tangan kanannya. Cara ia memandang objek yang ada di hadapannya nampak berbeda dari biasanya.

Pandanganku kemudian beralih pada Bu Patra dan Bu Lili yang duduk bersebelahan. Keduanya sama-sama kehilangan orang yang mereka sangat cintai, hanya beda kondisi. Bu Patra ditinggalkan oleh anak semata wayangnya yang sudah ia didik dan kasihi dengan segenap jiwa dan raganya karena ia harus membesarkannya seorang diri, sedangkan Bu Lili tidak bisa menerima kematian suaminya dan merasa tak mampu mendidik dua anak mereka.

Sarung tetap tak lepas dari tangan Bu Patra, meskipun begitu ia terlihat lebih tenang mendengarkan lantunan ayat suci dan tausiyah. Berbeda dengan Bu Patra, lantunan ayat suci dan tausiyah nampaknya belum mampu menyentuh hati, jiwa, dan pikiran Bu Lili. Pandangannya masih terlihat kosong dan nelangsa.

Ketika mataku kembali pada Ana, dadaku terasa berhenti sesaat melihat Ana yang sedang melihat ke arahku. Nampak jelas sekali matanya sedang melihat ke arahku. Pandangan matanya yang biasa terlihat kosong, kali ini terlihat sedikit hidup, seperti ingin berbicara menyampaikan sesuatu.

“Dam, udah malem nih. Pulang yuk!” Suara Diana mengembalikan detak jantungku menjadi normal.

Ana masih melihat ke arahku ketika aku dan Diana beranjak dari tempat duduk kami. Diana harus segera pulang dan aku tak bisa menahannya untuk menunggu kegiatan itu sampai selesai.

Atas inisiatif sendiri, Diana pamit pada Ana. Aku tak bisa pamit pada Ana karena ia berada di ruang khusus perempuan.

Ana tak lagi melihat ke arahku. Ia kembali menundukkan kepalanya. Ana kelihatan sangat terkejut ketika Diana menyentuh pundak kirinya. Tatapan mata Ana penuh dengan kemarahan dan sinis. Namun Diana terlihat sangat tenang dan mulutnya tak berhenti berucap entah hal apa yang ia katakan pada Ana. Aku hanya bisa melihat gerak bibirnya dan gerakan tangannya yang terus mengusap punggung Ana. Pelukan hangat dan tulus menjadi sentuhan penutup yang diberikan Diana untuk Ana.

Pada saat Diana beranjak dari sisi Ana, Ana kembali melihat ke arahku. Namun tidak dengan pandangan sinis seperti sebelumnya. Lebih kepada tatapan kesedihan yang mendalam.

“Makasih ya Di untuk hari ini.”

“Nggak usah bilang makasih gitu, Dam.” Diana merespon kata-kataku santai. “Gue ‘kan dibayar buat ngelakuin itu.” Diana mengakhiri kata-katanya dengan tertawa kecil.

Hari ini terasa panjang sekali. Banyak kejadian beragam yang kulewati. Setelah membersikan badan, aku berbaring sebentar sambil membaca beberapa lembar berkas penting yang harus kupelajari. Namun pikiranku tiba-tiba teringat pada bocah jalanan yang dipukul ibunya.

“Pak, tadi Ibu nelpon tanya Bapak sudah pulang atau belum.” Ucap Mbak Nur setelah meletakkan secangkir teh hangat untukku.

Seketika itu juga ku letakkan lembaran kertas yang baru saja kupegang dan kuambil ponsel untuk menghubungi Emma yang belum juga merespon pesan yang aku kirim sore tadi.

Selama beberapa menit aku harus menunggu Emma menerima panggilanku.

“Hai, Em.”

Kita bicara nanti aja ya, Mas.” Nada suara Emma terdengar serius. “Besok aku sudah pulang kok.”

Sebelum aku mengakhiri kata-kataku, di ujung telepon Emma sudah memutus sambungan teleponnya. Aku tak tak ingin berprasangka apa pun tentang sikap Emma.

Kembali pada lembaran kertas, pikiranku malah kembali ke rumah singgah dan beberapa hal yang terjadi hari ini. Ana kembali membawaku pada hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan yang selama ini tak lagi menjadi bagian dalam hidupku.

Sejak aku bekerja di perusahaan kopi ternama sebagai konsultan, tenaga dan pikiranku hanya habis terkuras oleh pekerjaanku. Siang malam aku hanya memikirkan bagaimana caranya membuat ide dan memecahkan masalah yang hilang timbul di perusahaan. Gaji yang kudapatkan memang sepadan dengan kerja kerasku. Namun sejak melihat keadaan Ana dan rumah singgah, aku baru menyadari bahwa banyak hal yang hilang dari hidupku meskipun itu bukan hal buruk.

Ana dan rumah singgah seperti membuka tentang dunia yang mungkin tak akan pernah kulihat atau terbayangkan bahwa aku akan menyaksikan langsung keadaan kejiwaan seseorang yang terganggu karena peliknya hidup yang harus mereka hadapi. Hidup di jalanan luntang-lantung atau sengaja dimasukkan ke rumah sakit jiwa adalah satu-satunya pilihan untuk mereka.

Menurut cerita Bu Rina, Ana ditemukan di jalan oleh Pak Danny yang tak sengaja melihat Ana yang sedang diganggu oleh beberapa lelaki jalanan. Awalnya Pak Danny mengira Ana merupakan teman dari laki-laki jalanan tersebut. Akan tetapi ketika memerhatikan Ana dan para lelaki tersebut dari kejauhan lebih lama, Pak Danny yakin bahwa Ana bukan salah satu bagian dari mereka. Ana yang galak mampu mengusir para berandalan itu. Namun Ana tetap seorang wanita yang kapan pun bisa dikalahkan oleh para lelaki begajulan ketika ia sedang lengah.

Pak Danny turun dari mobil dan mencoba mendekati Ana. Bertanya beberapa hal sederhana, namun tak ada satu kata pun keluar dari bibir Ana yang pucat. Alih-alih mendapat jawaban, Pak Danny malah diludahi oleh Ana. Namun melihat kondisi Ana, Pak Danny menganggap hal itu bukan apa-apa. Ia tetap mecoba pendekatan lebih dalam terhadap Ana untuk mau dievakuasi ke rumah singgah. Kemudian usaha Pak Danny berhasil di hari ke-3 ketika membawa Bu Rina ikut bersamanya. Meskipun membutuhkan beberapa waktu dan usaha yang tak mudah, pendekatan Bu Rina pada Ana berhasil membawa Ana ke rumah singgah Damai Jiwa.

Hingga sekarang, belum ada salah satu keluarga atau kerabat pun yang mencari Ana. Dan aku, yang bukan siapa-siapa Ana, justru orang pertama yang menemukan Ana. Hal itu membuat Bu Rina sangat senang bahwa ada orang yang mengenal Ana dan sedikit masa lalunya.

***

“Hai, Em. I miss you.” Sapaan pertamaku untuk Emma setelah dua minggu kami tak saling bertemu. Lalu aku memeluknya erat.

Emma tak merespon sapaanku, akan tetapi membiarkan tubuhnya kupeluk. Wajahnya kelihatan lelah dan tak bersemangat.

“Mau makan apa, Em?” Makan kebab kesukaanmu, yuk! Aku udah lama deh nggak makan kebab!”

Emma masih tak merespon kata-kataku. Dari bandara sampai sepanjang perjalanan pulang, mulut Emma seperti terbungkam. Diam seribu bahasa.

“Em?!” Aku memanggilnya dengan lembut.

“Kita bicara di rumah aja, Mas.” Akhirnya Emma menyahut, dengan nada suara yang sedikit tinggi.

(bersambung….)