Jatuh Cinta (8)

“Ayolah, Dam, cerita sama gue, Ana itu siapa lo?” Sifat ingin tahu Diana masih belum berubah.

Meskipun pertanyaan itu membuatku sedikit risih, namun Diana mampu mencairkan suasana canggung kami karena sudah lama tak saling komunikasi dan keadaan kami yang sudah berbeda.

“Ceritanya panjang, Di. Nanti kalo lo udah ketemu Ana, pasti gue ceritain. Atau mungkin lo bisa cari tahu sendiri!” Balasku menggoda untuk semakin mancairkan suasana.

“Bu Rina, kenalkan, ini Diana temen SMA saya. Pekerjaan Diana sebagai psikiater yang sudah menangani banyak pasien. Boleh yah dia liat keadaan Ana?”

Monggo, silakan, Mas Damar. Saya malah seneng kalo ada yang memperhatikan dan menghibur pasien di sini.” Sambil berkata tangan Bu Rina terbuka menyambut kami. “Silakan, Mbak Diana.”

Seperti biasa, Bu Rina selalu menyambut siapapun yang datang dengan niat baik. Dan hal yang membuatku sangat respek padanya adalah sejak pertama kali aku datang ke tempat ini, ia tak pernah ingin tahu tentang apa hubunganku dengan Ana yang bukan kerabat atau pun keluarga Ana.

Bukan hanya Bu Rina yang menunjukkan sikap respek pada siapapun, tapi Pak Danny dan anak-anak mereka pun menunjukkan hal yang sama.

“Lo udah sering ke sini, Dam?” Diana berkata dengan sedikit berbisik.

“4 atau 5 kali, gue nggak ngitungin. Kenapa?

“Nggak, Bu Rina kelihatannya ramah sekali kayak lo sama beliau udah kenal lama?”

“Bu Rina dan Pak Danny itu seperti penyelamat jiwa yang tersesat penghuni rumah singgah ini. Seperti perantara yang dikirim Tuhan, Di.”

“Gantengnya, solehnya, pinternya Mami….” Selain Bu Rina yang selalu menyambutku dengan hangat, Bu Patra pun tak pernah absen menyambut kedatanganku dengan mengusap-usap daguku.

Diana hanya melirik, ekspresinya sedikit kaget dan tersenyum meledek melihat perlakuan Bu Patra terhadapku. Bagi seorang psikiater seperti Diana yang sudah menangani banyak kasus manusia, ia masih tetap saja sedikit ketakutan dan terperanjak melihat pasien yang proaktif.

Aku membalas senyum meledeknya dan ia tahu itu.

“Lo tau ‘kan, Dam, gue selalu praktek di dalam ruangan dengan pasien yang terbilang tenang bahkan sadar seratus persen.” Diana membela diri.

Dari kejauhan aku sudah melihat Ana duduk di sudut kanan taman, tempat favoritnya. Langkahku menuju ke tempat Ana kali ini sungguh sangat terhibur melihat reaksi Diana yang cukup ekspresif terhadap sikap penghuni rumah singgah ini.

“Hai Ana, apa kabar? Ini aku Damar.”

Respon Ana kali ini berbeda, meskipun tetap tanpa suara. Selama beberapa detik mata Ana melihat ke arahku dan Diana dengan pandangan sinis, tidak seperti biasanya. Kemudian kembali memandang dan memainkan setangkai bunga matahari yang sudah layu.

“Hai Ana, aku Diana.” Dengan suara lembut Diana menyapa Ana sambil berusaha membuat matanya bertemu dengan mata Ana.

Ana kembali dengan reaksi pandangannya yang sinis. Reaksinya kali ini benar-benar ekspresif. Tak lama setelah itu, tangannya menampar pipi kiriku. Tidak sakit, tapi sedikit perih.

(bersambung….)