Jatuh Cinta (10)

Setelah selesai sholat Magrib aku berusaha menghubungi Emma, tapi beberapa kali aku menghubunginya ia tak menjawab panggilanku.

“Istri lo tahu kalo lo sering jenguk Ana?” Tanya Diana sambil merapikan hijabnya.

“Tahu, waktu kedua kalinya gue jenguk Ana. Tapi untuk beberapa kali berikutnya dia nggak tahu karena gue pikir dia nggak terlalu peduli. Jadi, gimana tentang kondisi Ana menurut lo, Di?”

“Gw belum bisa menyimpulkan apapun. Tapi gue rasa kasus Ana akan sangat menarik gue pelajari.”

Sambil mendengarkan penjelasan Diana, mataku terus terpaku pada Ana yang berada dalam ruangan mengaji di sebelah masjid yang masih dalam satu bangunan. Rambutnya ditutup dengan kerudung putih yang kedua ujungnya ia biarkan menjuntai tanpa ia lipat di pundaknya. Kepalanya menunduk nampak seperti sedang memandangi qur’an yang ada di tangan kanannya.

Sementara Ustadz Ihsan sedang menyampaikan kuliah maghrib-nya kepada para penghuni rumah singgah ini, beberapa dari mereka nampak mendengarkan dan menyimak ceramah sang ustadz dan yang lainnya sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Kegiatan mengaji, mendengar tausiyah, dan zikir bersama merupakan salah satu kegiatan andalan yang diusung Bu Rina dan Pak Danny untuk menyembuhkan para penghuni Damai Jiwa. Banyak penghuni rumah singgah ini sembuh total dan kembali kepada keluarga mereka dalam keadaan sehat wal ‘afiat bahkan beberapa dari mereka menjadi penghafal Qur’an karena kegiatan ini.

Bu Rina dan Pak Danny memiliki keyakinan yang kuat bahwa dengan membaca atau pun mendengarkan ayat suci al-qur’an dan memohon kepada Sang Pencipta, penyakit apapun bisa sembuh.

Ana yang sedang duduk di baris paling pojok belakang, nampak mendengarkan ceramah Ustadz Ihsan dengan seksama dengan bunga di tangan kiri dan sebuah buku Qur’an di tangan kanannya. Cara ia memandang objek yang ada di hadapannya nampak berbeda dari biasanya.

Pandanganku kemudian beralih pada Bu Patra dan Bu Lili yang duduk bersebelahan. Keduanya sama-sama kehilangan orang yang mereka sangat cintai, hanya beda kondisi. Bu Patra ditinggalkan oleh anak semata wayangnya yang sudah ia didik dan kasihi dengan segenap jiwa dan raganya karena ia harus membesarkannya seorang diri, sedangkan Bu Lili tidak bisa menerima kematian suaminya dan merasa tak mampu mendidik dua anak mereka.

Sarung tetap tak lepas dari tangan Bu Patra, meskipun begitu ia terlihat lebih tenang mendengarkan lantunan ayat suci dan tausiyah. Berbeda dengan Bu Patra, lantunan ayat suci dan tausiyah nampaknya belum mampu menyentuh hati, jiwa, dan pikiran Bu Lili. Pandangannya masih terlihat kosong dan nelangsa.

Ketika mataku kembali pada Ana, dadaku terasa berhenti sesaat melihat Ana yang sedang melihat ke arahku. Nampak jelas sekali matanya sedang melihat ke arahku. Pandangan matanya yang biasa terlihat kosong, kali ini terlihat sedikit hidup, seperti ingin berbicara menyampaikan sesuatu.

“Dam, udah malem nih. Pulang yuk!” Suara Diana mengembalikan detak jantungku menjadi normal.

(bersambung …)