Jatuh Cinta (12)

Aku menunggu Emma di ruang tengah sambil menonton TV. Sampai detik ini benar-benar tak ada satu huruf pun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menganggukkan atau menggelengkan kepalanya ketika aku menanyakan sesuatu.

“Jadi, Ana itu sebenarnya siapa, Mas?” Emma memulai pertanyaan “menembak” ketika ia mendaratkan tubuhnya di atas sofa tepat di sampingku. “Selama ini kamu kok nggak pernah cerita sama aku?” Nada suara Emma sedikit meninggi sambil mengerutkan kedua alisnya.

“Kamu nggak pernah tanya kok sejauh ini!”

“Tanya?” Suaranya makin meninggi. “Kita ini suami istri, Mas. Nggak perlu aku tanya pun seharusnya kamu cerita semuanya ke aku.”

“Ok ok, aku cerita sekarang…”

“Kalo aku udah marah gini kamu baru cerita deh. KEBIASAAN!”

“APA? KEBIASAAN?!” Aku tersulut emosi. “Aku selalu cerita apapun ke kamu. Selama kita menikah, bahkan sebelum menikah pun, nggak ada satu hal pun yang coba aku sembunyikan dari kamu.”

“Oh yah!” Emma meragukanku.

“Kamu denger penjelasan aku dulu dong.” Aku tak mau kalah dan disalahkan. “Jadi Ana itu ….”

“Udah udah aku nggak mau denger penjelasan kamu.” Emma memotong kata-kataku.

Emma meninggalkanku dan berjalan ke kamar masih dengan penuh kemarahan. Kemudian membanting daun pintu. Setelah itu terdengar bunyi sesuatu yang pecah dan suara barang lainnya. Emma tak pernah semarah ini sebelumnya. Aku menyusulnya dengan langkah cepat.

Aku membuka pintu dan mendapati Emma sedang duduk di tepi tempat tidur dengan posisi membelakangi pintu. Aku merasa dirinya masih penuh dengan amarah meskipun tak melihat raut wajahnya. Pecahan gelas berhamburan di sekitar samping tempat tidur.

“Em …” Panggilku dengan hati-hati sambil melangkah pelan mendekati Emma.

“Happy Birthday!” Emma membalikkan badannya dan berkata sambil tersenyum lebar.

Detak jantungku yang sedari tadi berdegup kencang hampir berhenti karena dua kata itu. Aku berdiri tertegun melihat ekspresi Emma yang berubah 190 derajat.

Emma bangun dari duduknya dan memberikan bingkisan yang ia pesan beberapa hari lalu yang aku letakkan di samping meja dan aku sendiri lupa dengan barang itu. Parahnya lagi aku lupa dengan hari ulang tahunku sendiri.

“Maaf ya Mas Damar, aku sengaja nggak ngucapin happy birthday kemaren karena kayaknya kamu lagi sibuk sama yang namanya Ana ya.” Emma berkata sambil senyum-senyum, lalu memelukku.

“Jadi kamu nggak bener-bener marah sama aku?” Aku masih belum yakin dengan apa yang baru saja terjadi.

“Ya enggak lah.” Jawab Ana dengan ekspresi wajah penuh kepuasan karena berhasil mengerjaiku.

“Pak Damar, Bu Emma, baik-baik aja ‘kan?” Tanya Mbak Nur yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan wajah ketakutan.

“Kita baik-baik aja kok Mbak Nur. Maaf ya Mbak Nur udah bikin geger rumah ini.” Emma berkata masih dengan senyuman puas. “Oh ya Mbak Nur, tolong bersihin ini ya. Tadi saya nggak sengaja nyenggol gelas ini. Bener deh nggak sengaja. Hati-hati ya Mbak Nur bersihinnya.”

Kami kembali duduk di sofa. Aku membuka bingkisan rahasia yang ternyata adalah kado untukku yang sengaja Emma rahasiakan dariku. Emma memberiku hadiah sebuah kamera. Rupanya ia tahu apa yang sedang aku inginkan beberapa bulan belakangan.

“Jadi, Ana itu siapa?” Emma kembali bertanya.

Kali ini ia bertanya dengan ekspresi wajah yang serius dan menginginkan jawaban dariku saat itu juga.

(bersambung …)