Jatuh Cinta (13)

“Jadi, mmm ….” Aku memulai penjelasan sedikit ragu. “Ana itu orang yang pernah sangat jatuh cinta sama aku.”

“Terus dia gila gara-gara kamu tolak atau kamu tinggalin, atau kamu apain?”

“Nah itu yang sampe saat ini aku nggak tahu apa penyebab dia bisa gila. Karena setelah aku cuekin dia, sakiti dia, aku permalukan dia, dia nggak pernah gangguin aku lagi. Aku pun nggak peduli dan nggak mau tahu tentang dia lagi saat itu.”

“Terus tujuan kamu jengukin dia selama ini karena apa?”

Pertanyaan Emma barangkali merupakan pertanyaan yang akan ditanyakan oleh siapapun dengan melihat keadaanku yang sudah menikah dan bukan siapa-siapa Ana. Pertanyaan yang akan terdengar biasa saja, namun pertanyaan itu membuatku berpikir keras. Barangkali aku sendiri pun tak tahu mengapa aku harus menjenguknya lagi dan lagi, bahkan hingga menyewa seorang psikiater secara profesional.

“Kapan-kapan aku boleh dong jenguk dia.”

“Hah, kamu mau ke rumah singgah?”

Why not!?” Seru Emma dengan pasti. “Siapa tahu dengan ketemu aku, dia bisa ingat semuanya dan jiwanya kembali normal.” Emma melanjutkan kata-katanya, namun dengan nada yang terdengar sedikit ragu.

Entah ini akan jadi ide bagus atau buruk mengingat reaksi Ana pertama kali melihatku bersama Diana. Aku tak menyangka Emma akan tertarik untuk datang ke rumah singgah dan bertemu seseorang di masa laluku yang sesungguhnya tak ingin kubuka lagi. Namun justru Emma akan masuk ke dalamnya. Dan entah akan sedalam apa.

Emma dibantu Mbak Nur menyiapkan makan malam untuk kami. Di atas meja makan, sambil kami menyantap makanan, Emma bercerita banyak hal tentang apa yang ia lakukan di Pangkal Pinang. Membicarakan tentang pekerjaan adalah hal selalu kami lakukan.

Dua minggu tak saling bertemu kami larut dalam pembicaraan apapun dari hal yang ringan sampai hal yang berat. Membicarakan tentang Ana, Diana, dan rumah singgah Damai Jiwa tak luput menjadi salah satu perbincangan kami.

“Gimana kalo besok kita ke sana?” Ajakan itu tiba-tiba keluar dari mulut Emma. “Kamu libur ‘kan? Oh ya sekalian ajak Diana kalo dia libur juga.”

“Besok?!” Pernyataan Emma membuatku sedikit kaget. “Kamu nggak capek? Kamu yakin?” Aku meyakinkannya.

Emma menganggukkan kepalanya dua kali sambil mengangkat kedua alisnya dan tersenyum kecil.

(bersambung….)