Jatuh Cinta (14)

“Di, kenalin ini istri gue, Emma.” Aku memperkenalkan Emma pada Diana tak lama setelah ia masuk ke dalam mobil yang sedang kubawa.

“Hai Mbak Emma, saya Diana.” Sapa Diana dari bangku tengah dengan semangat.

“Nggak usah pake Mbak, Emma aja.” Balas Emma santai.

Jika dilihat dari umur, usia Emma dan Diana hanya beda satu tahun. Diana lebih tua satu tahun diatas Emma. Meskipun aku dan Diana se-angkatan SMA, akan tetapi usiaku satu tahun lebih tua diatas Diana.

“Oh jadi ini yang namanya Diana?”

“Loh emang kenapa Mbak, eh maksud saya Emma.” Diana masih agak kaku memanggil Emma tanpa embel-embel Mbak. “Damar cerita apa tentang aku? Yang bagus bagus ‘kan?

Diana yang pembawaannya selalu ceria mampu membawa dirinya menyatu dengan karakter Emma dengan cepat. Keduanya saling berbagi pengalaman pekerjaan mereka yang diselingi dengan canda tawa. Aku sebagai laki-laki yang berada di antara dua perempuan yang sama-sama workaholic alias gila kerja tak akan kebagian untuk bercerita atau menginterupsi mereka. Ditambah lagi mereka memiliki hobi yang sama, yaitu memanah.

“Loh, Mas, kenapa berenti?” Emma bertanya di tengah perbincangan serunya bersama Diana.

“Kamu lihat anak perempuan itu, nggak?” Aku menunjuk seorang anak perempuan yang pernah aku temui sedang berada di lampu merah menengadah tangannya kepada para pengguna jalan yang sedang menunggu lampu hijau menyala.

“Oh anak itu.” Diana langsung merespon.” Duuuh gue nyerah deh negur ibu si anak.”

“Jadi lo tahu anak itu?”

Ternyata bukan cuma aku yang geram dengan perilaku si ibu terhadap anak perempuannya, Diana sudah lebih dulu menangani kasus gadis kecil yang bernama Lulu itu. Tidak menangani kasusnya secara profesional, namun beberapa kali Diana mendekati Lulu ketika ibunya tak ada di sekitarnya dan menanyakan banyak hal pada bocah yang berusia 9 tahun itu.

Ketika aksinya tertangkap basah oleh sang ibu, Diana juga melakukan pendekatan beberapa kali kepada sang ibu. Tentunya bukan perlakuan baik yang Diana terima. Tak jarang ia mendapat caci maki dari si ibu karena telah mencampuri urusan hidupnya.

Usaha Diana tidak hanya melakukan pendekatan pada Lulu, bahkan ia memberi uang jajan untuk Lulu selama beberapa waktu agar ia tak lagi mau jika disuruh mengemis, berjualan, atau apa pun yang ia lakukan di jalan. Uang tetap Lulu terima, mengemis pun tetap ia lakoni. Alasannya karena ibunya selalu mencubit dan memukulnya jika ia tak mengemis.

Banyak pekerjaan yang harus Diana kerjakan, Lulu dan ibunya pun tak lagi jadi perhatiannya. Diana sempat mengadukan kasus Lulu ke beberapa lembaga atau pun institusi yang menangani kasus seperti Lulu, namun entah bagaimana Lulu dan ibunya masih berkeliaran di jalan.

“Kita mau turun nyamperin Lulu atau gimana, Dam?” Tanya Diana.

“Nggak usah lah, Mas.” Tukas Emma. “Lain waktu aja. Tujuan kita ‘kan bukan buat ngurusin anak itu untuk sekarang.”

Omongan Emma ada benarnya. Tapi kupikir, ini kesempatan untuk membantu anak itu bersama Diana yang ternyata sudah pernah menangani kasusnya.

“Iya, Dam,” Diana menyetujui kata-kata Emma. “Lain kali aja, karena gue tahu kasus Lulu nggak semudah yang lo bayangkan kalo kita bantu dia sekarang. Tujuan kita ‘kan ketemu Ana, bukan anak itu.”

Baiklah dua suara perempuan memiliki pendapat yang sama. Itu artinya aku tak punya pilihan selain menuruti kata-kata mereka.

“Gue janji deh, bakal meluangkan waktu untuk menyelasaikan kasus Lulu.” Diana masih melanjutkan kata-katanya.

Arus jalan raya yang kami lewati cukup lancar. Tak sampai tiga puluh menit kami sampai di rumah singgah. Hari Minggu ini keadaan rumah singgah cukup ramai. Beberapa penghuni rumah singgah mendapatkan kunjungan sanak keluarga mereka.

Seperti biasa, kami disambut dengan hangat oleh Bu Rina yang saat itu ditemani oleh laki-laki bule yang aku yakini ia adalah Pak Danny. Beberapa kali ke rumah singgah, belum pernah sekalipun aku bertemu langsung dengan Pak Danny. Mengetahui tentangnya hanya melalui cerita dan melihat sosoknya dari foto-foto yang dipajang di ruangan Bu Rina

“Apa kabar, Mas Damar?” Sapa Bu Rina. “Mbak Diana.” Bu Rina menyalami Diana. Rupanya ia masih ingat dengan Diana. “Dan ini? Mbak siapa?” Tanya Bu Rina yang juga menyalami Emma meskipun ia belum mengenalnya.

“Ini Emma, Bu. Istri saya.”

“Oh ya ya, Mbak Emma. Saya Bu Rina dan ini suami saya Pak Danny.” Bu Rina mengenalkan Pak Danny pada kami seketika Pak Danny berada di samping Bu Rina setelah melayani beberapa tamu yang akan pulang.

“Oh ini Mas Damar temennya Ana, ya?” Dengan aksen bahasa Inggris yang masih terdengar jelas meskipun bahasa Indonesianya terdengar sangat bagus, Pak Danny sudah tahu siapa aku.

“Silakan silakan…” Pak Danny mepersilakan kami.

“Saya lihat Ana sedang duduk di tempat favoritnya.” sambung Bu Rina.

Baru kali ini aku datang ke Damai Jiwa di hari Minggu. Suasana rumah singgah ini cukup ramai jika dibandingkan hari biasa.

“Mas, rumah singgah ini selalu serame ini?” Emma bertanya dengan wajah datar akan tetapi menunjukkan ekspresi sedikit tak nyaman. Setahuku ini kali pertama Emma datang ke tempat semacam ini.

“Nggak. Kalo aku aku dateng di hari biasa nggak serame ini kok. Tenang, mereka yang ada di luar ruangan terbilang aman kok.” Aku berusaha meyakinkan Emma yang mulai terlihat jelas ekspresi rasa takutnya.

Berjalan menuju tempat favorit Ana, aku merasa ada yang kurang. Tak ada sambutan khas Bu Patra yang biasa menyapaku.

Dari jarak tiga meter aku sudah melihat Ana yang sedang duduk sambil memainkan bunga yang ada di tangannya. Ia duduk sendirian.

“Hai, Ana. Apa kabar?” Aku menyapanya dengan posisi jongkok supaya ia melihat wajahku.

Alih-alih melihat ke arahku dan membalas sapaanku, Ana malah melihat ke arah Emma yang sedang berdiri di sampingku. Padangannya sama sinisnya seperti ia pertama kali melihat Diana. Mendapat pandangan se-sinis itu, reaksi Emma sedikit kaget sambil mengerutkan kedua aliasnya.

Beberapa detik kemudian, padangannya melihat ke arahku, dan lagi, ia menamparku. Kali ini lebih sakit dari tamparannya sebelumnya. Bukan hanya di satu pipi, akan tetapi keduanya.

(bersambung ….)