Jatuh Cinta (15)

Emma nampak terpengarah dengan apa yang ia lihat. Sedangkan Diana yang berada di sampingnya menunjukkkan ekpsresi wajah dengan sedikit menganga kemudian menutup mulutnya beberapa detik kemudian karena tersadar ini bukan pertama kalinya ia melihatku ditampar Ana.

Respon Emma cukup reaktif melihatku ditampar Ana. Aku yakin ia lupa bahwa Ana adalah perempuan yang sedang mengalami gangguan kejiwaan. Datang dan bertemu orang-orang seperti di rumah singgah ini adalah hal baru bagi Emma. Tangannya hampir terangkat menuju ke arah Ana. Diana dengan sigap mencegahnya sambil menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa ia tak perlu melakukan apapun.

“Hai Ana.” Diana menyapa Ana seolah mereka sudah berteman baik. “Masih inget aku ‘kan, Diana.”

Seketika pandangan Ana beralih pada Diana selama beberapa detik, dan berpindah memandang Emma yang sedari awal melihat Ana dengan ekspresi yang tak bisa kubaca lantaran kelihatan berubah-ubah. Baru kali ini aku melihat Emma segugup dan secanggung itu.

Di momen ini aku menemukan sesuatu yang tak pernah kulihat dari cara Ana memandang seseorang atau tepatnya orang baru yang ia temui. Pandangan Ana tiba-tiba berubah terhadap Emma, tak sesinis ketika sebelumnya. Ketika Ana memandang Emma, ia seperti melihat sosok yang sudah lama ia kenal dan berusaha untuk mengingatnya.

“Eeee Mas Damar, Mbak Diana ….” Mbak Putu menyapa kami dan hanya tersenyum pada Emma. “Udah lama Mas?”

“Baru beberapa menit, Mbak Putu.” Jawabku.

“Mbak Ana nggak berbuat aneh-aneh ‘kan, Mas? Tadi saya harus urus Bu Patra …”

“Bu Patra kenapa, Mbak Putu?” Aku memotong perkataan Mbak Putu.

“Bu Patra sakit. Dari kemaren suhu badannya tinggi.”

“Sudah diperiksa dokter, Mbak Putu?” Diana menunjukkan rasa simpatinya pada wanita yang baru sekali ia temui.

Pandangan Ana tak lagi melihat ke arah Emma sejak Mbak Putu menghampiri kami. Sikapnya kembali pada perilaku yang biasa ia lakukan. Namun aku tak melihatnya memegang bunga seperti yang kusangka dari kejauhan tadi, melainkan sebuah tasbih yang melingkar di jari-jarinya.

Setelah menyapa kami, Mbak Putu meninggalkan kami untuk mengawasi pasien lain sekaligus menyapa beberapa tamu yang menjenguk.

“Ana, ini Emma, istriku.” Kataku pada Ana.

Ana langsung merespon kata-kataku dengan melihat ke arah Emma. Lagi, tidak dengan pandangan sinis. Beberapa kali menjenguk Ana, tentang Emma selalu kuceritakan di sela-sela ocehanku untuknya. Barangkali itu yang membuatnya merasa tak asing ketika mendengar nama Emma.

Sesi “wawancara” Diana dengan Ana kali ini ditemani bersama Emma. Pada awalnya Emma tak ingin bergabung di sesi itu. Namun rasa penasaran membuatnya memilih bersama Diana daripada bersamaku. Dan aku membiarkannya selama ia “aman” bersama Ana.

Aku duduk di bangku kosong yang tak jauh dari tempat duduk Ana. Meskipun perilakunya masih tetap sama, namun Ana nampak terlihat lebih tenang dari sejak terakhir aku melihatnya. Meskipun ada orang di sisi kiri dan kanan Ana, pandangannya masih sesekali ke bawah dan sesekali ke atas. Akan tetapi bunga bukan lagi pegangannya. Badannya bergerak ke kiri dan kanan dengan mulut berkomat-kamit seperti orang yang sedang berzikir.

Aku meninggalkan mereka bertiga dan berjalan menuju ruang dimana Bu Patra dirawat. Mbak Putu dengan senang hati menuntunku ke ruang tersebut. Beberapa bagian tempat dari rumah singgah ini kulewati karena ruangan itu terletak agak jauh dari tempat yang dilalui orang banyak atau keramaian.

“Silakan, Mas Damar.”

Meskipun sempat agak ragu untuk melangkah masuk ke ruangan yang berisi hanya dua pasien yang sedang sakit ini, dengan pasti langkahku menuju kasur Bu Patra. Wanita yang selalu menyapaku tiap kali aku datang dan pulang sedang berbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya. Matanya tertutup rapat, tubuh kurusnya diselimuti kain bercorak, dan sarung yang selalu ia bawa ada di sampingnya.

Aku berdiri tepat di samping tempat tidurnya. Kuusap lengan kanan dan punggungnya secara lembut dan perlahan. Tubuh lemah itu bergerak pelan. Bu Patra membuka matanya. Kata-kata yang biasa terucap dari mulutnya untukku tak terdengar. Ia hanya memandangku lemah.

“Cepet sembuh ya, Bu Patra.” Kataku sambil mengusap rambutnya yang sudah ditumbuhi beberapa uban.

Tak ada respon apapun dari Bu Patra. Ia hanya tetap memandangku sampai aku meninggalkannya.

Beberapa langkah meninggalkan ruangan, terdengar suara keributan dan beberapa pengurus rumah singgah berlari ke arah taman. Kuharap ini bukan Ana yang mengamuk karena kehadiran Emma.

(bersambung …)