Jatuh Cinta (16)

Aku berlari secepat yang aku bisa. Ramainya suara dari arah taman terdengar semakin jelas. Dari jarak beberapa meter dari taman, kulihat kerumunan berpusat di sekitar tempat Ana, Emma, dan Diana duduk. Laju langkah makin kupercepat.

Semakin dekat, semakin jelas apa yang sedang terjadi. Dan lega rasanya bahwa Ana dan Emma serta Diana dalam keadaan baik-baik saja.

Pastinya telah terjadi sesuatu. Ketika aku sampai di tempat kejadian, salah satu pasien di sebelah tempat yang mereka duduki sudah ditangani oleh pengurus rumah singgah. Beberapa penjenguk masih terlihat syok membubarkan diri.

Sambil mengambil nafas panjang, mataku menangkap pemandangan yang tak biasa tepat di depanku. Dengan Ekspresi wajah ketakutan, Ana sedang memeluk Emma.

“Udah, nggak apa-apa, An.” Kata Diana sambil mengusap punggung Ana. “Semuanya udah diurus Mang Idin, Pak Danny, juga yang lainnya.”

Sambil memeluk, meskipun dengan ekspresi wajah yang datar dan sedikit kaku, tangan kanan Emma juga mengusap punggung Ana. Aku duduk di samping Emma dan wajah Ana persis berada di depan wajahku. Ketika mata kami saling bertemu, Ana melepas pelukannya dan kembali pada perilaku biasanya.

“Jadi, apa yang terjadi?” Aku bertanya.

“Kami juga nggak tahu gimana awalnya. Tiba-tiba terdengar pasien laki-laki berteriak-teriak dan mengamuk. Di sekitar sini hanya ada Mbak Putu. Mbak Putu tidak memiliki cukup tenaga untuk menenangkan. Sedangkan beberapa pengunjung yang ada rata-rata perempuan yang nggak memiliki cukup kekuatan fisik atau pun mental untuk menenangkan laki-laki itu. Aku dan Emma harus menjaga Ana dan kami pun tentunya ketakutan.” Diana bercerita.

“Dan pelukan itu?” Aku bertanya sambil melihat ke arah Emma dan Ana.

Diana hanya tersenyum penuh makna tanpa memberi penjelasan apapun.

“Artinya?” Aku masih menginginkan penjelasan.

“Gue jelasin nanti.”

Belum ada pernyataan dari Diana bahwa pekerjaannya sudah selesai. Jadi aku meninggalkan mereka bertiga.

“Halo Om Damar.”

Aku berpikir sebentar mengingat siapa nama anak laki-laki yang baru saja menyapaku.

“Rio, Om. Masih ingetkan?!”

“Oh ya ya. Kamu anak Bu Lili ya.”

Rio menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Bocah laki-laki itu kemudian duduk di sampingku. Kami berbincang banyak tentang keadaannya dan kakaknya juga ibunya. Cerita Rio masih sama. Meskipun aku tahu dalam hatinya begitu sedih, namun bocah itu nampak terlihat tegar.

“Demi kesembuhan Ibu, Om.” Katanya dengan penuh tekad.

“Dam, kita udah selesai.” Kata Diana datang bersama Emma menginterupsi kami.

Aku meninggalkan Rio setelah memperkenalkannya pada Diana dan Emma.

“Jadi, bisa cerita sekarang, Di?” Cecarku masih dengan pertanyaan yang belum Diana jawab.

(bersambung …)