Jatuh Cinta (bagian 12)

Cerita sebelumnya Jatuh Cinta (bagian 11)

Sambil berlalu, mata kami bertiga secara spontan melihat ke arah laki-laki itu. Langkah kaki ini seperti ragu untuk melangkah. Mata kami saling menatap satu sama lain seperti mengisyaratkan untuk mengurungkan niat untuk pergi dan mencari tahu siapa laki-laki itu yang membuat Ana mengeluarkan suaranya.

Dari awal aku bertemu Ana di rumah singgah ini, satu huruf pun tak pernah kudengar dari mulut Ana. Hanya gestur, sikap dingin, dan ekspresi yang ia tunjukkan.

Diana mengangkat alisnya melihat ke arahku.

“Gimana nih Dam? kita jadi pulang sekarang atau nanti?” Tanya Diana sedikit berbisik.

Aku paham benar maksud pertanyaan Diana. Aku menoleh ke arah Emma. Emma hanya mengangkat bahunya dengan sedikit senyuman di wajahnya seolah menyerahkan keputusan padaku.

Aku berpikir sejenak. Di satu sisi ini adalah kesempatan berarti buat Diana, mungkin bagi aku juga Emma untuk tahu lebih jauh lagi tentang Ana. Namun di sisi lain hari semakin gelap, sedangkan besok kami harus kembali bekerja. Jadi kuputuskan untuk pergi meninggalkan Ana dengan laki-laki bule itu.

Dengan mantap kami melangkah keluar. Aku pamit pada Bu Rina dan Pak Danny yang sedang bersama dua anak mereka.

“Terimakasih Mas Damar, Mbak Emma, Mbak Diana udah mau jenguk Ana dan bantu kami.” Kata Bu Rina dengan senyuman sambil menundukkan sedikit kepalanya dan mengangkat tangan dengan kedua telapak yang tertutup tanda berterimakasih.

Pak Danny pun melakukan hal yang sama. Sedangkan anak mereka, Nadya dan Adam mencium tangan kami.

“Sama-sama Bu Rina, pak Danny.” Jawabku. “Oh ya, maaf Bu, saya mau tanya laki-laki bule itu siapa ya?” Pertanyaan itu muncul untuk menghilangkan rasa penasaranku. “Karena laki-laki itu, tadi pertama kalinya saya mendengar suara Ana bilang “hai”.

“Oh itu Ivan, teman suami waktu sama-sama belajar di Barcelona.”

“Iya Mas Damar, dia teman saya.” pak Danny membenarkan. “Ivan sedang liburan di Indonesia dan ini yang ketiga kalinya datang ke sini melihat penghuni rumah singgah ini. Pas dia lihat Ana, dia tertarik banget buat tahu lebih jauh tentang Ana.” Ujar Pak Danny dengan aksen Inggrisnya.

“Oh ya ya ya. Baiklah kalo gitu kami pamit dulu.”

Perjalanan pulang dari rumah singgah entah mengapa terasa seperti ada yang kurang. Tak ada Bu Patra yang selalu menyambutku. Hanya doa yang bisa kupanjatkan untuk kesembuhannya.

“Eh Dam, di depan situ ada apa ya rame-rame?” Tanya Diana.

“Kayaknya ada yang kecelakaan deh.” Emma merespon sambil mendekatkan kepalanya ke kaca mobil.

Aku melaju mobil pelan-pelan untuk melihat keadaan tersebut yang berada di sebelah kiri jalan yang kami lewati. Niatku ingin terus melaju. Namun seseorang mengulurkan tangannya mengisayaratkan membutuhkan pertolongan.

“Mas, kita berhenti dulu!” Seru Emma

“Gimana, Di? Gak apa-apa kita berhenti dulu?” Aku bertanya pada Diana. “Lo gak takut kemalaman?”

“Gak apa-apa, Dam. Berhenti aja. Santai aja.”

“Mas, tolong ibu ini.” Seorang pria paruh baya berkata dengan nada memelas. “Kasihan dari tadi belom ada yang mau bantu bawa ke rumah sakit.”

“Ibu…. ibu …. jangan mati! jangan tinggalin Lulu.” Suara seorang anak kecil menangis meraung melihat keadaan ibunya yang bersimbah darah.

“Lulu?!”

“Kak Diana, tolong ibu, Kak?”

Beberapa kali mendapat penanganan dari Diana, Lulu masih ingat dengan Diana meskipun dalam kondisi di malam hari.

Beberapa laki-laki menggotong ibunya Lulu ke dalam mobil. Emma dan Diana sudah duduk di bangku belakang mobil untuk menopang tubuh wanita yang terbilang masih muda tersebut. Diana memegang kepala ibu Lulu dan Emma menopang kakinya. Sedangkan Lulu duduk samping Diana yang masih menangisi ibu yang selama ini telah mencubitnya, memukulnya, dan memarahinya jika ia tak mau mengemis di jalan.

Aku berusaha menyetir dengan tenang. Keadaan jalan cukup ramai.

“Mas, ibu ini kejang-kejang…” Lapor Emma dengan sedikit tegang dan panik.

“Dam, bisa lebih cepat lagi gak bawa mobilnya?” Nada suara Diana juga terdengar panik.

Dari depan aku mendengar suara nafas ibu Lulu yang berat seperti orang yang sedang sesak nafas. Kemudian suara itu hilang perlahan.

(bersambung ….)